
"Sebaiknya kita hentikan dulu acara sedih-sedih ini, ayo antarkan aku pulang. Aku tidak ingin Alicia dan Arion semakin khawatir karena aku belum juga pulang." ucap Nadine
"Baiklah." Javier lalu mulai memakai kembali bajunya dan segera membereskan meja makan.
"Perlu bantuan?" Tanya Nadine
"Tidak perlu, kau hanya perlu duduk saja." ucap Javier mulai membawa semua piring kotor itu.
"Ayo kita pergi sekarang." ucap Javier sambil menggandeng tangan Nadine
"Tidak ingin mencucinya terlebih dahulu?"
"Tidak perlu, akan ada orang yang akan datang mencucinya sebentar. Oya kapan kau akan mengeksekusi mantan suamimu itu?" Tanya Javier sambil menatap Nadine
"Sebaiknya besok saja, aku terlalu lelah hari ini. Jadi aku ingin beristirahat sejenak sebelum memberikan kejutan paling indah untuk mantan suamiku itu. Oya, bisakah kau hancurkan seluruh markas Alexander hari ini saja. Jangan lupa di rekam juga ok, agar aku bisa memperlihatkan pada mantan suamiku itu bagaimana organisasi yang di bangga banggakannya hancur dalam waktu sekejap. Oya bisakah hancurkan juga perusahaan dan perusahaan ayah Javier. Aku malas untuk melakukannya sendiri. Lagipula aku memiliki sahabat yang hebat seperti dirimu, jadi kenapa tidak ku manfaatkan saja." imbuh Nadine dan di balas kekehan Javier. Sejujurnya Javier merasa bahagia, jika Nadine mau bergantung padanya. Dia tau bahwa Nadine wanita yang kuat dan hebat, tapi dia akan merasa sangat berguna jika sahabat wanitanya itu mau meminta bantuannya. Javier merasa sedikit berguna jika Nadine meminta bantuannya seperti ini.
"Baiklah." ucap Javier sambil mengelus rambut Nadine.
"Ah maafkan aku." ungkap Javier kikuk, apalagi setelah melihat tatapan mematikan sahabatnya itu. Bagaimana bisa dia lupa kalau sahabatnya ini sangat benci tatanan rambutnya di rusak.
"Aku berubah pikiran, kau cukup hancurkan saja perusahaan Alexander untuk bisnis gelapnya biar aku saja yang mengurusnya. Sudah lama juga aku tidak bermain-main, jadi aku perlu hiburan juga." tutur Nadine.
"Baiklah."
°°°°°
Setelah 1 jam lebih perjalanan, akhirnya Nadine dan Javier sampai di rumah Nadine.
"Alicia, Arion." panggil Nadine.
"MOMMY." teriak Arion dan Alicia serentak sambil berlari ke arah Nadine. Kedua anak itu langsung memeluk sang ibu sambil menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Mommy hiks, mommy nggak luka kan?" tanya Alicia sambil terisak.
"Mommy baik-baik aja kan? orang-orang itu tidak melukai mommy ka?" Tanya Arion cemas. Dia memandangi wajah sang ibu dengan perasaan khawatir.
"Mommy baik-baik aja sayang, kalian berdua jangan khawatir ok. Uncle Javier sudah menyelamatkan mommy dari orang-orang jahat itu." papar Nadine sambil tersenyum hangat.
"Uncle, makasih ya karena uncle sudah menyelamatkan mommy." tutur Arion sambil memeluk kaki javier.
"yes boy, uncle akan selalu menyelamatkan mommy kalian kalau dia dalam bahaya. Jadi jangan khawatir ok." ucap Javier sambil mengusap kepala Arion lembut.
"Daddy." panggil Alicia sambil merentangkan tangannya meminta untuk dirinya di gendong.
"Kenapa princess?" tanya Javier lembut langsung menggendong Alicia dan membawanya masuk ke dalam.
"Oma sama Opa mana sayang?" tanya Nadine karena tidak melihat keberadaan sang kakek dan nenek di rumah mereka.
"Oma lagi di lumah sakit jagain aunty Aya, sedangkan Opa lagi masak nasi goleng di dapul." ungkap Alicia sambil memeluk lehe Javier erat. Anak itu selalu lupa segalanya jika sudah bersama Javier.
Sesampai di dapur Nadine sangat terkejut saat melihat keadaan dapurnya yang tidak bisa di katakan baik. Kulit telur berhamburan di lantai, sayuran juga seperti itu.
"Opa ini kenapa dapurnya berantakan?" ucap Nadine shock.
"Kamu udah pulang?" ucap opa Nicholas sambil melangkah ke arah Nadine. Di rengkuhnya tubuh sang cucu kedalam pelukannya. Sungguh opa Nicholas sangat bahagia melihat sang cucu dalam kondisi baik-baik saja, pulang Tampa kurang satupun.
"Nadine baik-baik saja opa, jangan khawatir lagi ok. Sekarang opa minggir biar Nadine aja yang masak." ucap Nadine langsung membereskan kekacauan yang sudah di buat sang opa.
setelah selesai memasak makan siang, Nadine lantas memanggil sang opa juga kedua anaknya makan siang.
"Jadi bisa jelaskan sama opa siapa yang sudah menculik kamu?" Tanya opa Nicholas
"Alexander." ungkap Nadine, pernyataan Nadine itu sontak mengejutkan opa Nicholas dan juga Arion. Sedangkan Alicia, gadis kecil itu sama sekali tidak memperdulikan apa yang sang ibu dan sang opa bicarakan. Dia terlalu sibuk makan.
__ADS_1
"Alexander yang melakukannya? Tapi kenapa?" tanya opa Nicholas
sedangkan Arion hanya mengepalkan tangannya, dia semakin membenci pria yang berstatus sebagai ayah kandungnya itu.
"Nadine juga tidak tau, opa tidak perlu lagi merasa khawatir yang terpenting sekarang Nadine sudah baik-baik saja. Oya opa Nadine ingin menitipkan anak-anak sama opa sebentar. Nadine akan keluar bersama Javier setelah ini." ungkap Nadine, sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin di pertanyakan opa Nicholas tapi sepertinya Nadine tidak ingin sang opa lebih banyak bertanya. Opa Nicholas mengerti, mungkin Nadine tidak ingin membuat mereka khawatir.
"Baiklah, Javier opa titip cucu opa ya. Jaga dia, jangan biarkan orang itu kembali melukai Nadine." ucap opa Nicholas
"uncle makasih karena sudah melindungi mommy Arion ya." ucap Arion tulus. Anak itu sangat bersyukur setidaknya sang ibu memiliki pelindung sekarang. Walaupun Javier hanya sahabat ibunya saja, tapi dia tetap merasa bersyukur. Tapi jauh di hati kecil anak itu, dia berharap semoga Javier suatu saat nanti bisa menjadi suami sang ibu. Karena biar bagaimanapun sang ibu masih membutuhkan seseorang untuk melindunginya karena Arion belum bisa melindungi sang ibu saat ini.
setelah opa Nicholas dan kedua anaknya selesai makan, Nadine lalu pamit pergi bersama Javier. Dia harus segera menyelesaikan masalah menyangkut Alexander. Walaupun tadi ada sedikit drama dengan Alicia putrinya itu. Tapi syukurlah setelah bujuk rayu yang cukup panjang akhirnya anak itu mau juga di tinggal bersama opa Nicholas.
"Jadi kita akan kemana setelah ini?" Tanya Nadine pada Javier
"Kita ke perusahaan milikku saja, bukankah sudah saatnya kita menghancurkan bisnis keluarga mantan suamimu yang sombong itu." ucap Javier sambil tersenyum menyeringai.
"Kau benar, lalu bagaimana dengan Alexander. Apakah dia sudah sadar dari pingsannya?" Tanya Nadine sambil membuka bungkusan coklat miliknya.
"hm" gumam Javier lalu setelah itu mereka memilih diam.
setelah 2 jam perjalan akhirnya mereka sampai di perusahaan milik Javier.
Sejak turun dari mobil, mereka sudah menjadi perhatian semua orang. Pasalnya Javier selama ini tidak pernah dekat dengan wanita selain putrinya aletha. Tapi hari ini justru mereka melihat bos mereka itu membukakan pintu mobil untuk seorang wanita cantik. bahkan sampai mereka memasuki perusahaan, semua mata karyawan Javier terus memperhatikan mereka tapi Nadine maupun Javier hanya cuek.
Setelah mereka sampai di ruangan Javier, Bagas langsung datang ke ruangan Javier dengan membawa beberapa berkas.
Pria itu langsung ke perusahaan tadi setelah membereskan anak buah Alexander.
"Apa yang akan kau lakukan pada perusahaan Alexander dan juga perusahaan tuan William?" tanya Bagas setelah pria itu duduk di kursi yang ada di depan Javier.
Sedangkan Nadine, wanita itu duduk manis di sofa dengan tangannya yang bergerak lincah di atas keyboard laptop miliknya. Entah apa yang di lakukan Nadine saat ini, Javier juga tidak tau. Karena dia memiliki pekerjaan yang harus dia selesaikan sekarang. Dia harus segera menghancurkan kesombongan dari keluarga mantan suami Nadine itu.
__ADS_1
Bersambung