TRANSMIGRASI QUEEN AZURA

TRANSMIGRASI QUEEN AZURA
Bab 73


__ADS_3

Setelah mengungkapkan semua isi hatinya Nadine segera pergi dari sana. Meninggalkan Alexander yang menatapnya penuh kesedihan. Alexander kembali mengingat semua kilasan-kilasan memori ketika dia menyiksa Nadine dengan tidak manusiawi.


FLASHBACK


"Ampuni aku Al, jangan lakukan ini aku mohon padamu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jangan biarkan mereka menyentuhku Alex. Aku mohon, aku bukan wanita murahan. Aku adalah istrimu Alex, bagaimana bisa kau tega membiarkan mereka menyentuhku Alex. ALEX AKU MOHON JAUHKAN MEREKA DARIKU. HUHUHU." Teriakan histeris Nadine bahkan sama sekali tidak di dengarkan oleh Alexander. Pria itu justru pergi begitu saja meninggalkan Nadine yang menangis meraung-raung meminta agar dirinya tidak di sentuh oleh anak buah Alexander. Nadine merasa hidupnya hancur saat 2 pria itu menyentuh tubunya.


"Alex ku mohon jangan bunuh bayiku, dia anakmu Alex. Dia adalah anak kita aku yakin itu, aku mohon jangan menyakitinya. Cukup sakiti aku saja jangan anakku Alex. Dia tidak bersalah. Aku mohon padamu Alex, aku mohon." Nadine memohon sambil bersujud di kaki Alexander, tapi Alexander seakan tuli dengan semua permohonan Nadine itu. Pada akhirnya dia tetap menyuruh dokter itu untuk mengaborsi janin Nadin. Dia sama sekali tidak peduli, apakah Nadine akan merasa sedih setelah ini atau tidak. Alexander tidak akan membiarkan anak haram itu terlahir seperti halnya Alicia dan Arion.


"Alex aku mohon jangan menyiksa Alicia dan Arion lagi. Mereka adalah anak kandungmu, darah dagingmu. Aku mohon, Jangan menyakiti mereka berdua lagi. Cukup sakiti aku saja, jangan kedua anakku. Mereka tidak tau apa-apa, mereka tidak bersalah. Semua ini adalah salahku Alex, aku mohon ampuni mereka. HUHUHU."


"Baik, aku akan mengampuni mereka tapi kau harus membayar atas semua kesalahan mereka berdua. Apakah kau mau?" ucap Alexander sambil menyeringai keji.


"Ya aku mau, lakukan apa saja tapi ku mohon bebaskan mereka berdua. Mereka masih kecil, mereka merasakan kesakitan Alex." Isak tangis Nadine tidak terbendung lagi, hatinya perih saat melihat bagaimana Alexander menyiksa kedua malaikat kecilnya itu.


"Baik, untuk hukuman aku akan menggantikan penyiksaan mereka berdua untukmu saja. Satu lagi, setelah ini aku ingin kau jangan pernah pedulikan kedua anakmu lagi. Kalau perlu siksa mereka agar aku tidak akan menyakiti mereka." ucap Alexander, sambil mencengkram dagu Nadine dengan erat.


"Baik akan ku lakukan tapi bebaskan kedua anakku. Aku tidak peduli kalau setelah ini kedua anakku akan membenciku karena aku mengabaikan dan selalu membentak mereka. Asalkan kau berhenti menyakiti mereka berdua. Alicia dan Arion adalah hidupku, jadi akan aku lakukan apapun untuk mereka bahagia." setelah mengatakan hal itu, Alexander segera membebaskan anak-anak Nadine dan menggantikan penyiksaan yang seharusnya di terima kedua anaknya menjadi di terima oleh Nadine ibu mereka. Sesayang itu Nadine pada kedua anaknya, dia mungkin selalu mengabaikan bahkan terkadang membentak keduanya. Tapi hanya itu satu-satunya cara untuk menghindarkan kedua anaknya dari bahaya.

__ADS_1


"Aku mohon jangan siksa aku lagi Alex, hentikan ini sangat menyakitkan. Tolong kasihanilah aku Alex, aku mohon. Aaaa stop Alex, ini terlalu sakit. Aku tidak bisa menahan ini lagi, aku mohon berbelas kasihlah padaku Alex. Jangan tempelkan besi panas itu lagi Alex, aaaa stop punggungku sangat sakit Alex. Aku janji tidak akan mengganggu Sofia lagi, Alex aku sedang hamil kasihanilah aku HUHUHU."


"Kau pikir karena tangisanmu itu aku akan menghentikan semua ini? Semua rasa sakitku ini tidak sebanding dengan penderitaan yang sudah kau berikan untukku." Alexander terus menyiksa Nadine Tampa henti.


Duk


"Itu adalah balasan karena sudah berani hadir dalam hidupku." Kaki Alexander mendarat sempurna di perut Nadine hingga akhirnya darah kental mengalir dengan deras di sela paha Nadine.


Melihat darah yang mengalir deras dari sela pahanya membuat Nadine semakin histeris.


"TIDAK, JANGAN ANAKKU LAGI ALEXANDER. TIDAK..." Nadine berteriak histeris sebelum akhirnya kegelapan merenggut kesadarannya.


Alexander terus mengingat semua kenangan menyakitkan dalam hidupnya. Saat-saat dia menyiksa istri yang mencintainya dengan tulus dengan begitu kejinya. Saat-saat dia menyiksa kedua anaknya Tampa ampun. Atau saat dia membunuh anak yang berada di dalam kandungan istrinya. Semua kenangan itu terus melintas dalam benaknya layaknya sebuah film. Ternyata sejahat itulah dirinya, pantas saja Nadine begitu membencinya. Sekarang Alexander menyadari kalau semua kemalangan dalam hidupnya di sebabkan karena semua kebejatannya sendiri. Dia sudah terlalu berdosa pada Nadine dan juga kedua anaknya itu. Pantas saja kedua anaknya enggan memanggilnya ayah, Alexander sama sekali tidak pantas menyandang gelar itulah dalam hidupnya.


"Kau tau bung, terkadang penyesalan itu selalu di belakang dan di saat penyesalan itu hadir kita sudah tidak bisa lagi memperbaiki segalanya yang telah kita rusak di masa lalu. Sekarang nikmatilah semua rasa sakitmu, aku berharap semoga setelah ini kau bisa lebih menghargai dan menghormati wanita karena bagaimanapun kau juga di dilahirkan oleh seorang wanita bukan seorang pria. Wanitalah yang telah berjuang melahirkan dirimu hingga harus mengorbankan hidupnya sendiri. Jadi hargai mereka, jangan perlakukan mereka layaknya hewan. Aku harap jika kau berhasil selamat dari ini, perbaiki hidupmu lebih baik lagi. Minta maaflah pada Nadine dan kedua anakmu walaupun itu sudah terlambat dan mungkin sudah tidak termaafkan lagi." Nasehat bijak Richard, itu adalah kalimat terpanjang yang sudah di ucapkan oleh sahabat Alexander yang satu itu.


"Aku pergi dulu, dan ini makanlah. Dia akan menyuapimu makan, tapi tenang saja karena dia tidak akan melecehkan dirimu. Dia adalah pria normal jadi tidak usah khawatir." ucap Richard

__ADS_1


Di sisi lain, setelah mengutarakan uneg-uneg dalam hatinya. Nadine segera keluar dari ruang bawah tanah itu. Dia butuh udara segar untuknya bernapas.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Javier lalu duduk di sebelah Nadine.


"Apa kau mendengar semua perkataanku pada Alexander tadi?" Tanya Nadine Tampa memandang Javier.


"Ya aku mendengar semuanya. Maaf jika aku terkesan tidak sopan." ucap Javier sedikit menyesal karena dirinya sudah dengan lancang mendengarkan perkataan Nadine pada Alexander tadi.


"Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak marah." ungkap Nadine sambil memandang bunga-bunga yang bermekaran dengan indah di taman yang ada di markas Javier ini.


"Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa sudah jauh lebih baik?" Tanya Javier sambil mengusap rambut Nadine.


"Menangis lah kalau kau ingin menangis." sambung javier lembut sambil meraih tubuh Nadine ke dalam pelukannya.


"Semua akan baik-baik saja setelah ini, percayalah. Tidak peduli apa kata dunia dan seberapa jahat dunia padamu tapi aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu menjadi sahabat yang selalu melindungimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku berjanji." Ucap Javier sambil menepuk-nepuk punggung Nadine.


"Bukankah aku wanita menjijikan javi? Aku sudah seperti seorang pelacur, terlalu banyak pria yang menyentuhku sampai aku bahkan tidak ingat sudah berapa banyak. Kau tau aku sudah 4 kali hamil, 1 kali aku berhasil melahirkan anakku dengan selamat. Mereka adalah Alicia dan Arion. Sedangkan sisanya aku mengalami keguguran akibat Alexander. Aku ibu yang gagal karena tidak bisa melindungi mereka dari iblis berwujud manusia itu. Saat itu aku terlalu lemah karena terlalu mencintai dirinya sehingga membuatku terperosok dalam jurang yang sangat dalam. Javi, apakah kau tidak merasa jijik padaku? Apakah kau tidak malu memiliki sahabat yang di penuhi aib menjijikan sepertiku?" Tanya Nadine lirih, Nadine melepaskan pelukan Javier dan menatap mata pria yang katanya mencintai dirinya itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2