
"Silahkan duduk." Ucap Nadine sambil mempersilahkan Javier untuk duduk di sampingnya.
"eh i iya." Javier segera duduk di samping Nadine, keringat dingin membasahi keningnya.
"Sekarang katakan apa yang kau inginkan?" Tanya Nadine tampa basa basi.
"Huft, apa kau membenciku?" Tanya Javier lirih. Dia bahkan tidak berani menatap wajah Nadine.
"aku tidak membencimu hanya saja aku tidak menyukaimu." jujur Nadine
"Maafkan aku." lirih Javier
"Kenapa?" Nadine bertanya dengan datar, ada sedikit kebingungan di hati Nadine sebenarnya.
"Aku minta maaf atas sikapku selama ini, aku selalu memaksamu untuk menerima cintaku. Aku selalu bertingkah seperti pria murahan yang selalu berusaha menggodamu. Aku selalu bertingkah menjijikkan sehingga membuatmu muak padaku. Maafkan aku." ujar Javier dengan tatapan nanar, tapi kemudian kembali mengubah raut wajahnya menjadi hangat kembali.
"Maukah kau memaafkan aku? aku janji tidak akan mengganggumu lagi dengan tingkah menjijikkanku seperti kemarin." ucap Javier tulus.
"Apa kau bersungguh-sungguh?" Tanya Nadine
"Kau tau aku sangat benci dengan pria yang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain sepertimu. Selalu memaksa orang lain untuk menerima apa yang kau inginkan. kau tau itu sangat menjijikkan, dan membuatku sangat muak. Padahal kau cukup tampan, tapi sayang attitudemu sangat tidak mendukung wajahmu itu. Tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan, kau juga tidak bisa memaksa orang lain untuk mengikuti keinginanmu hanya karena kau suka." ucapan pedas Nadine sangat menusuk relung hati Javier, tapi Javier tidak marah sama sekali karena diapun sangat menyadari kalau kelakuannya kemarin sangat memuakkan.
"Ya aku tau, maka dari itu aku datang kesini untuk meminta maaf padamu. Aku berjanji tidak akan memaksamu lagi untuk menuruti keinginanku. Aku berjanji tidak akan mengatakan sesuatu yang memuakkan lagi padamu." Ujar Javier tulus di balas dengan kekehan oleh Nadine.
"Apa kau yakin?" Tanya Nadine remeh.
"Ya aku bersumpah, tidak akan mengusikmu lagi dengan tingkah memuakkanku. Aku juga tidak akan memaksamu lagi untuk menerimaku dalam hidupku."
"Baiklah, aku memaafkanmu."
"Semudah itu?" tanya Javier sedikit tidak percaya.
"Kau ingin aku tidak memaafkanmu Javier?" Tanya Nadine penuh selidik.
"ah tidak tidak, maafkan aku."
"Yah dan sekarang berhenti meminta maaf." ucap Nadine sambil menyesap teh miliknya.
"Silahkan diminum."
"ah ya." Javier lalu ikut menyesap tehnya, ada perasaan bahagia di hatinya. Nadine mau memaafkan dirinya.
__ADS_1
"Nadine apakah aku boleh menjadi temanmu?" Tanya Javier
"Teman?" Nadine memandang remeh Javier, senyum sinis tersungging di wajah cantiknya.
Melihat senyum sinis itu, membuat Javier gelagapan.
"Ah lupakan saja, tidak usah di pikirkan." ucap Javier gugup.
"Baiklah aku mau menjadi temanmu, tapi hanya teman dan tidak lebih dari itu. Aku harap setelah ini kau tidak bersikap menyebalkan seperti sebelumnya. Ku beritahu, aku tidak menyukaimu jadi berhenti Berharap lebih padaku." ujar Nadine tampa basa basi lagi.
"Ya aku mengerti, dengan menjadi temanmu saja aku merasa sudah sangat bahagia." ucap Javier sambil tersenyum hangat.
"Ya, sudah bukan? Sekarang pulanglah karena aku sangat sibuk." ucap Nadine masih sedikit ketus.
"Baiklah." ujar Javier lesu,
"Tapi bolehkan aku bertemu Alicia?" Tanya Javier penuh harap. Dia sangat merindukan gadis kecil itu.
"Baiklah, tunggu di sini aku akan menyuruh Alicia menemuimu. Aku harap kau tidak meracuni otak putriku itu." Ketus Nadine yang di balas kekehan kecil oleh Javier.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Alicia datang menemui Javier. Gadis kecil itu tampak sangat bahagia, dia sudah sangat merindukan Javier.
"Daddy kok tadi tidak antal Cia sekolah." ucap Alicia dengan bibir cemberut.
"Gitu ya Daddy, Daddy kangen tidak sama Cia?" tanya Alicia antusias.
"Tentu saja Daddy kangen, makanya Daddy ke sini buat nemuin Cia."
"Bukannya Daddy ke sini buat ketemu mommy ya." ucap Alicia sambil tersenyum jahil.
"Bisa aja kamu." Javier terkekeh mendengar godaan dari putri kecilnya ini.
"Daddy kapan Daddy sama mommy nikah?" tanya Alicia pada Javier.
"Cia sayangkan sama mommy?" Bukannya menjawab pertanyaan Alicia, Javier justru kembali bertanya.
"Cia sayang dong, sayang banget malah." ujar Alicia ceria.
"Kalau Cia sayang mommy, Cia jangan pernah paksa mommy buat nikah sama Daddy ya." nasehat Javier.
"Kenapa?" Tanya Alicia heran.
__ADS_1
"Cia tau, kadang kita nggak boleh maksa seseorang untuk mengikuti apa yang kita mau. Karena itu tidak akan membuat orang itu bahagia, sama seperti mommy. Kalau Daddy sama Cia maksa mommy buat nikah sama Daddy, mommy nggak akan bahagia. Mommy akan merasa tertekan dan sedih. Apa Cia mau mommy sedih karena kita paksa buat nikah sama Daddy?" Tanya Javier
"Jadi mommy sedih kalau Cia minta mommy buat nikah sama Daddy?" tanya Alicia sendu
"Iya mommy sedih sayang, jadi Cia jangan pernah tanya mommy soal itu lagi ya."
"Tapi Cia pengen Daddy jadi daddy-nya Cia. Aunty Aya bilang supaya Daddy bisa jadi Daddy Cia, Daddy halus nikah sama mommy." ucap Alicia dengan mata berkaca-kaca.
"hiks bagaimana ini." Alicia menangis tergugu, anak itu masih belum memahami banyak hal. Yang ada di pikirannya saat ini bagaimana caranya agar dia memiliki ayah seperti teman-temannya. Terkadang dia merasa iri pada temannya yang memiliki orang tua yang lengkap. Dia memang masih memiliki ayah kandung, tapi Alicia tidak ingin berharap banyak pada pria itu. Alicia takut padanya, trauma anak itu belum hilang atas semua perlakuan buruk sang ayah.
"Daddy akan selalu jadi daddy-nya Cia, tampa Daddy harus nikah sama mommy sekalipun. Daddy juga akan selalu sayang sama Cia sama Arion juga. Jadi Cia nggak boleh sedih lagi ok." Ujar Javier sambil mengusap air mata di pipi Alicia.
"Sini Daddy peluk."
Alicia lalu melangkah mendekati Javier dan masuk ke dalam pelukan hangat pria itu.
"Tapi Cia pengen banget bisa tinggal baleng sama Daddy sama mommy juga." lirih Alicia.
"Cia bisa kok main ke rumah Daddy, nanti Cia bisa bobo sama kakak Aletha. Cia harusnya senang, karena Cia punya dua rumah sekarang. Ada rumah mommy dan ada rumah Daddy. Mommy dan Daddy akan tetap jadi mommy dan Daddy Cia walaupun kita tinggal beda rumah sayang." hibur Javier sembari mengusap punggung Alicia lembut
"Jadi lumah Daddy lumah Cia juga? Cia boleh ikut Daddy juga ke sana ya?" Tanya Alicia dengan senyum yang mulai terbit di wajah cantiknya.
"Iya dong, Cia boleh kok nginap di rumah Daddy sesekali. Jadi jangan sedih lagi ok." Ucap Javier sembari mengacak gemas rambut Alicia.
"ih Daddy lambut Cia lusak kan." sebal Alicia.
"maaf maaf, Oya Cia mau janji nggak sama Daddy."
"Janji apa Daddy?"
"Jangan paksa mommy buat nikah lagi sama Daddy, karena itu akan buat mommy sedih sayang. Lagipula sekarang mommy dan Daddy juga udah jadi teman." ucap Javier sambil tersenyum hangat.
"Jadi Daddy dan mommy sekalang belteman? Kayak Cia dan Lubi?" tanya Alicia girang, anak itu segera turun dari pangkuan Javier dan melompat-lompat kecil. Dia senang karena ibu dan ayahnya sekarang menjadi teman.
"Lubi siapa?"
"no Lubi Daddy tapi lllubbi." tekan Alicia
"ah Ruby, dia teman Cia?"
"uhm dia teman balunya Cia." ucap Alicia ceria.
__ADS_1
Sekarang perasaan Javier sudah jauh lebih tenang, Nadine mau memaafkan dirinya. Javier berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan pernah memaksa Nadine lagi. Dengan menjadi teman wanita itu saja sudah lebih dari cukup untuknya. Javier akan selalu mendukung Nadine selayaknya teman, tampa mengharapkan sebuah imbalan lebih dari wanita yang sangat dia cintai itu.
Bersambung