
"BERANINYA KAU MENGURUNGKU DI TEMPAT INI." Teriak Alexander murka.
"bisakah kau meninggalkan aku dengan pria bajingan ini Javier." Ucap Nadine pada Javier
"Baiklah." Javier lalu meninggalkan Nadine bersama Alexander.
"LEPASKAN AKU WANITA SIALAN." Murka Alexander.
"Melepaskanmu? Tapi sayangnya aku tidak berminat untuk melepaskanmu. Bukankah saat kau menyekapku kemarin kau juga tidak berniat untuk melepaskanku." Ucap Nadine sambil tersenyum sinis.
"BERANINYA KAU, AKU AKAN MEMBUNUHMU WANITA ULAR." Teriak murka Alexander.
"Membunuhku? bahkan untuk melepaskan dirimu dari ikatan itu saja kau tidak bisa. bagaimana caranya kau akan membunuhku?" ucap Nadine sambil berjalan mendekati Alexander. melihat Nadine yang semakin berjalan ke arahnya, membuat Alexander semakin bersikeras untuk melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya.
"ARGHH, WANITA MURAHAN. LEPASKAN AKU." Teriaknya lagi.
BUK
"beraninya pria murahan sepertimu mengataiku murahan. memangnya siapa kau sampai berani mengataiku seperti itu. apakah kau lupa Alexander, kalau wanita murahan yang sesungguhnya itu adalah istri tercinta mu yang mungkin saat ini sudah berada di neraka. Haruskah aku mengirimmu juga ke sana agar kau bisa bertemu dan bersama dengan istri tercinta mu itu lagi?" Tanya Nadine dingin.
"WANITA SIAL."
"mulutmu itu sangat ingin ku robek, aku heran padahal Kau adalah seorang pria tapi kau sangat suka mengumpat." cibir Nadine lalu mengeluarkan sebuah gunting dari dalam tas miliknya.
"APA YANG KAU LAKUKAN HAH! JANGAN BERANI BERANI MENDEKATIKU WANITA MENJIJIKAN."
"apakah kau takut padaku? hem, padahal aku sangat cantik. kenapa bisa kau takut padaku." ucap Nadine cemberut.
"hahaha, kalau dipikir-pikir kau cukup tampan juga. tapi alangkah lebih tampan lagi jika kau tidak memakai apapun di tubuhmu." ucap Nadine lalu mulai menggunting baju milik Alexander hingga baju itu robek.
"ups, maafkan aku. aku tidak sengaja, sayang sekali sekarang bajumu jadi rusak. baiklah karena ini sudah rusak, lebih baik kau melepaskannya saja sekalian." ucap Nadine sambil memasang wajah sedihnya.
"KAU MEMANG WANITA MENJIJIKAN, AKU SANGAT MEMBENCIMU." hardik Alexander
__ADS_1
"aku juga membencimu dan ya berhentilah berteriak telingaku sakit mendengar teriakanmu itu." ucap Nadine sambil mengusap-usap telinganya.
"nah sekarang kau jauh lebih terlihat tampan. Haruskah aku melepaskan juga celana milikmu itu? ah tapi mungkin nanti saja ada sesuatu yang lebih penting yang harus aku sampaikan padamu. jadi tolong pasang telingamu itu baik-baik dan aku harap jantungku masih berdetak dengan normal setelah mendengar hal ini." ucap Nadine sambil menyeringas sinis.
"kau tahu kenapa Javier sangat mudah menemukan dan menyelamatkan aku hari itu?" tanya Nadine sambil mengelus pipi Alexander.
"baiklah akan aku ceritakan padamu, tolong dengarkan baik-baik, karena aku hanya akan menceritakan hal ini sekali saja."
FLASHBACK
"Kak, entah kenapa aku merasa rumah kita seperti sedang diawasi."ucapkan kelaya dengan suara yang terdengar khawatir.
"Di awasi? kenapa kau sampai berpikir bahwa rumah kita sedang diawasi?" tanya Nadine sambil menatap kelaya penasaran.
"sudah beberapa hari ini aku melihat ada sebuah mobil berwarna hitam terparkir tidak jauh dari rumah kita dan beberapa hari yang lalu aku juga melihat dua orang pria yang terus melihat ke arah rumah kita."
"benarkah? ah mungkin saja itu hanya perasaanmu saja. tidak perlu cemas, semua akan baik-baik saja. tidak ada yang mengawasi kita, jadi kau tenang saja oke." ucap Nadine tenang.
"Tapi kak."
setelah malam harinya, Nadine mulai mencari tahu hal itu. alangkah terkejutnya Nadine saat mengetahui kalau ternyata orang-orang itu adalah suruhan Alexander untuk memata-matai rumahnya dengan tujuan untuk mengetahui kapan dia akan keluar rumah. mantan suaminya itu ingin menculiknya bahkan berniat ingin membunuh serta memperkosa dirinya. tentu saja Nadine tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Nadine harus segera membuat rencana, karena sepertinya kali ini dia tidak bisa membiarkan Alexander bebas lagi. pria itu terlalu berbahaya, membiarkannya terus bebas berkeliaran justru hanya akan membahayakan untuk Nadine dan kedua anaknya saja.
tapi dia tidak bisa melakukan hal ini sendirian, Nadine membutuhkan rekan dalam menghadapi Alexander kali ini. maka dari itulah Nadine meminta Javier untuk bekerjasama dengannya untuk menjebak Alexander.
"Ada apa?" tanya Javier heran, pasalnya ini adalah kali pertama Nadin datang ke apartemen miliknya dan dari mana Nadine mengetahui tempat tinggalnya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu, apakah kau sedang sibuk?" tanya Nadine pada Javier yang saat ini menatapnya dengan terkejut.
"tidak, Aku sama sekali tidak sibuk." ujar Javier sambil tersenyum kecil.
"baguslah, Alexander berniat menculikku, membunuhku dan memperkosaku." ucap Nadine tanpa basa-basi.
"APA!"teriak Javier terkejut.
__ADS_1
"bagaimana bisa dia ingin membunuhmu?" tanya javier geram, dia saat ini sangat ingin menguliti Alexander hidup-hidup. lihat saja jika Alexander berani melakukan hal itu, Javier bersumpah dia akan membuat Alexander mengemis kematian padanya. dia akan memberikan neraka paling menyakitkan untuknya, tidak peduli walaupun Alexander mengemis kematian tapi Javier tidak akan pernah memberikan hal itu. Javier akan membuat Alexander tersiksa dengan hidupnya sendiri.
"dia ingin membalas dendam padaku dan yah dia ingin membunuhku agar memudahkan dirinya merebut Arion dan Alicia." cap Nadine dengan santainya.
"ngomong-ngomong kau tidak ingin memberiku minum?" tanya Nadine heran, pasalnya saja kedatangannya tadi Javier sama sekali tidak menyuguhkan minuman apapun untuknya.
"ah maafkan Aku, kau ingin minum apa?" tanya Javier sedikit menyesal, bagaimana bisa dia sampai lupa menyuguhkan minuman untuk Nadine.
"teh saja, Aku ingin teh tanpa gula." ucap Nadine.
"apakah kamu memiliki cemilan untuk dimakan?"
"ibuku tadi membawakanku brownies, apakah kau mau?" tanya Javier
"ya aku mau." ucap Nadine sambil tersenyum tipis.
Javier lalu segera membuatkan Nadine teh dan mengambilkan brownies untuk Nadine.
"semoga kau menyukainya." ucap Javier.
"Terimakasih." ucap Nadine sambil memakan kue miliknya.
"ini enak, Aku sangat suka."ucap Nadine sambil tersenyum manis.
melihat senyuman Nadine membuat Javier bahagia. terlebih Nadine juga menyukai kue yang sudah disuguhkan itu.
"sekarang bisakah kita melanjutkan pembicaraan kita tadi Javier?" ya Nadine sambil menyesap teh miliknya.
"Ah baiklah."
"saat ini Alexander menyuruh beberapa anak buahnya untuk memata-matai rumahku, di saat aku lengah dia berencana akan menculikku. Mungkin dia akan memberiku obat tidur di minuman atau makananku saat aku makan di luar nantinya. Karena dia tidak mungkin melakukan itu jika di rumahku, satu-satunya kesempatan yang dia miliki hanya ketika aku sedang berada di luar rumah." papar nadine santai, bahkan tidak ada sama sekali ekspresi cemas di wajah ibu dua anak itu. reaksinya tidak seperti wanita lain yang saat menyadari bahwa dirinya akan diculik, lalu dibunuh tapi sebelum itu akan di perkosa terlebih dahulu. reaksinya justru seakan Alexander ingin mengajaknya pergi berlibur di akhir pekan. kadang Javier tidak mengerti dengan isi pikiran wanita di hadapannya ini, tapi justru itulah yang membuat Javier semakin tertarik pada sosok Nadine.
Bersambung.
__ADS_1
Maaf ya baru up pagi ini.🙏🙏🙏🙏🙏