
"Kau baik-baik saja?" Tanya Nadine sambil berjongkok di hadapan Javier.
"Javi, semua sudah baik-baik sekarang. Jadi jangan takut lagi, dia tidak akan pernah bisa menyakitimu." Ucap Nadine sambil mengelus kepala Javier lembut. Awalnya Javier tersentak kaget, tapi setelah melihat Nadine ketakutannya berangsur membaik.
"Bukankah aku sangat bodoh, bagaimana bisa aku kalah dengannya. Lihatlah bahkan tubuhku saja lebih besar darinya, tapi aku bahkan tidak bisa melawannya. Aku merasa sangat lemah karena sudah kalah dengan trauma sialan itu." Lirih Javier sambil mengusap wajahnya kasar.
"kau tidak bodoh Javi, kau hebat. Jika kau lemah bagaimana selama ini kau bisa melindungi orang-orang di sekitarmu. Jadi jangan pernah menganggap bahwa dirimu lemah lagi." ucap Nadine sambil tersenyum hangat.
"Tapi aku bahkan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri saat trauma itu muncul." jawab Javier lirih, dia bahkan tidak berani memandang wajah Nadine.
"Lihat aku Javi, kau kuat. Kau sama sekali tidak lemah, camkan itu baik-baik. Suatu hari aku yakin trauma itu bisa menghilang dari dirimu. Jangan pernah menyerah, lakukan terapi dengan rajin agar mentalmu bisa menjadi jauh lebih kuat. Aku yakin kau pasti bisa, karena kau adalah pria yang kuat." ucap Nadine sambil mengusap pipi Javier dengan lembut.
"Huft, kau benar. Aku kuat, aku tidak boleh kalah lagi dengan trauma sialan itu. Aku harus bisa bangkit." ujar Javier sambil tersenyum manis.
"Yah, kau harus bangkit. Jangan biarkan trauma bodoh itu mengalahkan dirimu lagi. Aku yakin kau bisa, kau jauh lebih kuat di bandingkan trauma sialan itu. Jadi ayo lawan, jangan pernah merasa takut lagi. Jika kau merasa takut, percayalah aku akan selalu bersamamu dan melindungimu sama seperti kau melindungi diriku." imbuh Nadine sambil memegang kedua bahu Javier.
Setelah mendengar perkataan Nadine, berangsur-angsur mental Javier mulai sedikit pulih. Trauma yang tadi sempat membuatnya lemah berangsur-angsur membaik.
"Bagaimana dengan wanita gila itu?" Tanya Javier saat dia tidak melihat adanya wanita yang sudah membuat traumanya kambuh.
"Dia ada di belakangmu dan sekarang sedang pingsan. Aku tadi menendangnya dan dia terpental membentur dinding, setelah itu dia pingsan. Padahal aku menendangnya tidak begitu kuat tadi, aku bahkan hanya menggunakan 40% kekuatanku saja." ungkap Nadine sambil melihat Veronica yang saat ini terbaring tidak sadarkan diri setelah Nadine menendangnya.
"Aku yakin jika Nadine menendangnya dengan kekuatan penuh wanita itu pasti akan mati." Ucap Javier dalam hati, Javier bahkan meringis saat memikirkan bagaimana kuatnya tendangan Nadine hingga membuat wanita itu pingsan.
"Jika tidak kuat dia pasti tidak akan pingsan Nadine." ujar Javier sambil terkekeh kecil.
__ADS_1
"Tapi sungguh, aku tidak menendangnya dengan kuat tadi. Seharusnya itu tidak membuatnya pingsan." sungut Nadine.
"Iya aku percaya, lalu bagaimana dengan wanita itu? apa yang harus kita lakukan padanya?" Tanya Javier sambil menatap dalam mata Nadine.
"Suruh saja anak buahmu untuk datang ke sini dan mengambil wanita itu. Bawa dia ke hotel lalu sewa seorang pria untuk menidurinya. suruh pria itu untuk menidurinya di saat wanita itu sudah terbangun dari pingsannya. Tapi sebelum itu suntikan dia obat perangsang dengan dosis tinggi agar wanita itu semakin beringas. Juga rekam kegiatan mereka, nanti kita akan berikan rekaman itu pada ibu bodohmu juga pada suami bodoh wanita itu. Bukankah ibumu mengajakmu makan malam bersama wanita itu dan suaminya nanti. Di situlah kita akan membongkar kebusukan wanita itu. Aku akan datang bersamamu nanti. Karena ku rasa Kita harus menyadarkan ibu bodohmu itu dari pengaruh adik tercintanya itu. Aku heran dengan ibumu itu Javi, bagaimana bisa dia lebih menyayangi adiknya di bandingkan kau yang putra kandungnya sendiri." Ucap Nadine
"Bukankah sama seperti halnya dirimu, keluargamu lebih menyayangi Sofia si anak angkat di bandingkan dirimu yang putri kandung." cibir Javier.
hahahaha
"Kau benar, keluarga kita memang terlalu bodoh. Beruntung kita tidak sebodoh mereka, jika tidak aku tidak bisa membayangkan akan sebahagia apa Sofia dan juga bibi Veronicamu itu." ucap Nadine sambil tertawa kecil.
"Mereka mungkin akan semakin suka menindas kita jika kita sebodoh keluarga kita nadine." ungkap Javier.
"Kau benar."
"Kau tau Javi, mungkin bibimu itu mengidap suatu gangguan seksual makanya dia seperti ini. Apakah ibumu tidak pernah memeriksakan adiknya itu ke rumah sakit. Ku rasa dia membutuhkan bantuan dokter untuk mengobati kelainan seksualnya itu." imbuh Nadine sambil membantu Javier berdiri.
"Aku tidak tau, karena aku tidak pernah menanyakan hal itu pada ibuku." ucap Javier.
"Baiklah sekarang rapikan penampilanmu, lalu hubungi anak buahmu. Aku tidak ingin anak buahmu melihat kondisimu yang menyedihkan ini. Cukup aku saja yang melihat dan mengetahui. Mereka jangan." ucap Nadine sambil merapikan rambut Javier yang tampak berantakan.
"Baiklah."
Javier lalu mulai merapikan penampilannya yang tampak sangat berantakan. Setelah semuanya tapi Javier segera menelpon anak buahnya untuk menjemput Veronica di apartemen miliknya tidak lupa dia juga menyuruh mereka untuk menyewa seorang gigolo untuk memuaskan bibinya itu.
__ADS_1
"Haruskah kita mengangkatnya ke atas tempat tidur?" Tanya Nadine sambil terus menatap Veronica yang masih tidak sadarkan diri.
"Ku rasa tidak perlu." imbuh Javier sambil menatap geram wanita yang berstatus sebagai bibinya itu.
"Oke."
"Kau sudah makan malam?" Tanya Javier pada Nadine.
"Belum, aku belum sempat makan malam. Lagipula bagaimana bisa aku sempat makan malam jika kau menelponku sambil berteriak histeris seperti itu." Sungut Nadine
"Ayo, akan ku masakan kau sesuatu."
"Oke, tapi kita ikat wanita itu dulu. Aku takut dia akan kembali berbuat ricuh saat sudah sadar nanti." ucap Nadine sambil mengangkat tubuh Veronica dan mendudukkannya di kursi yang berada di dapur.
Melihat Nadine yang mengangkat Veronica seperti mengangkat anak berusia 5 tahun membuat Javier benar-benar terkejut. Ternyata Nadine tidak hanya tangguh tapi dia juga memiliki tenaga seperti seorang pria.
"Apakah kau memiliki tali?" Tanya Nadine pada Javier
"ah ya, tunggu sebentar." ucap Javier lalu pergi mengambil tali untuk Nadine.
Nadine dan Javier lalu mengikat tubuh Veronica di sebuah kursi, tidak lupa mulutnya juga mereka lakban agar wanita itu tidak berisik.
"Sekarang ayo buatkan aku makanan yang enak." ucap Nadine ceria, dia menggandeng tangan Javier dengan semangat. sedangkan Javier yang di perlakukan seperti itu hanya mengulas senyum simpul di wajahnya.
Bersambung
__ADS_1