TRANSMIGRASI QUEEN AZURA

TRANSMIGRASI QUEEN AZURA
Bab 58


__ADS_3

"Apakah kalian sudah menemukan orang yang akan memandikan jenazahnya?" Tanya Alexander cemas.


"Ya tuan kami sudah menemukannya."


"Baik segera mandikan Sofia, aku tidak ingin dia menjadi bahan ejekan orang-orang jahat jika terlalu lama di biarkan." Ucap Alexander sambil melirik Nadine.


Nadine tentu sangat tau jika orang yang di maksud oleh Alexander itu adalah dirinya.


Setelah 1 jam akhirnya mayat Sofia akan di makamkan. Karen menangis tersedu-sedu mengantar kepergian putrinya itu begitu juga dengan Alexander. Walau Sofia sudah menyakitinya tapi jauh di hati kecil Alexander dia masih sangat mencintai Sofia.


Saat akan pergi menuju mobilnya, Nadine justru harus kembali di pertemukan dengan mantan mertuanya.


"Nadine Nadine jangan pergi dulu." Teriak Widya sambil mengejar Nadine yang terus melangkah memasuki mobilnya.


"Argh sial." teriak Widya murka


"Udah sayang, biarkan saja." hibur Antonio


"Kita langsung ke pemakaman aja sekarang." ajak Widya pada sang suami.


Skip pemakaman.


Saat ini di pemakaman umum Sofia tengah di makamkan, terdengar jelas jeritan tangis Karen yang menggema. Wanita itu terus saja memeluk nisan sang putri, begitu juga dengan Alexander.


Tergambar jelas luka pada kedua orang itu, biar bagaimanapun mereka sangat menyayangi Sofia.


"Alex ayo kita pulang, kamu ngapain menangisi wanita menjijikkan itu. Buang-buang tenaga saja." Cibir Widya, dia masih sangat kesal dengan perbuatan Sofia yang berakhir mengkhianati putranya dan bahkan sudah membuat keluarga mereka menjadi bajak olok-olok banyak orang.


Tapi ajakan Widya hanya di anggap angin lalu oleh Alexander.


"Kamu sepertinya sangat bahagia melihat mereka menangis seperti itu." ujar Sagara melirik ke arah Nadine yang terus tersenyum bahagia.


"Aku pikir kamu bakalan ikut Oma dan Opa kamu pulang tadi, tapi ternyata kamu malah ikut juga ke sini." Sambung Sagara masih dengan melirik ekspresi wajah Nadine.


"Ah, ini adalah momen membahagiakan dalam hidupku. Aku tidak ingin melewatkan hari ini begitu saja. Lagipula aku belum memberikan bunga ini pada Sofia. Aku juga belum membakar petasan ini, jadi mana mungkin aku akan pulang." ucap Nadine santai sambil menunjukan petasan yang terdapat dalam tasnya.


Melihat petasan itu tentu saja Sagara sangat terkejut, pria itu melongo tidak percaya melihat petasan itu.


"Kau akan membakarnya? Di kuburan seperti ini?" Tanya Sagara tidak percaya.

__ADS_1


"Ya memangnya kenapa? Lagipula di sini tidak ada orang lain selain keluarga wanita itu. lagipula jika ingin merayakan sesuatu bukankah kita harus totalitas." Ucap Nadine sambil tersenyum sumringah.


"Kau gila." cibir Sagara.


"Hahahaha. Tapi tidak segila mantan selingkuhanmu itu." sindir Nadine sambil menatap remeh Sagara.


"bisakah kau tidak mengungkit hal itu terus menerus. Itu membuat hatiku sakit karena mengingat semua kebodohanku dulu." sungut Sagara.


"Lalu kapan kau akan membakar petasannya? Bagaimana jika para lansia itu terkena serangan jantung karena terkejut?"


Tanya Sagara pada Nadine yang sudah siap membakar petasan miliknya.


"Memang apa peduliku, lagipula mereka hanya orang tua Sofia dan mantan mertuaku saja. Jikapun mereka mati, itu artinya ajal mereka memang sudah tiba." Ucap Nadine santai.


"Selesai." Nadine lalu melempar 1 petasan tidak jauh dari makam Sofia dan hal itu sontak mengejutkan mereka semua. Alexander menatap Nadine dengan tatapan membunuhnya, sedangkan Karen menatap Nadine dengan tatapan marah. Tapi apakah Nadine peduli, jawaban tidak. Dengan santainya Nadine justru melangkah ke arah makam Sofia dan meletakan buket bunganya.


"Aku ucapkan selama untukmu, selamat menjalani hidup di neraka Sofia. Karena ya aku tidak yakin kau akan masuk surga. Aku sangat bahagia hari ini, kau tau ini adalah hari terbaik yang pernah ku miliki. Mendengar kabar kematianmu pagi tadi adalah kabar paling membahagiakan dalam hidupku. Kau lihat baju yang ku kenakan hari ini? Baju ini adalah simbol bahwa aku sangat bahagia dan bersyukur karena kau akhirnya mati." ucap Nadine


"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?" Tanya Nadine heran.


"Kenapa kau membakar petasan di tengah pemakaman Sofia, Nadine?" geram Alexander menatap tajam Nadine.


Alexander mengambil semua petasan itu dan membuangnya.


"yah kenapa membuangnya, astaga seharusnya jika kau tidak ingin bermain petasan yah sudah berikan saja pada orang yang mau." ucap Nadine cemberut.


"Nadine kau memang wanita yang tidak memiliki hati." Cibir Felix


"Hahaha untuk apa aku memberikan hatiku untuk orang-orang tidak berguna seperti kalian?" cibir Nadine sambil terkekeh kecil.


"Kau memang wanita jahat Nadine. Kau monster" Bentak Widya pada Nadine.


"Ya aku akui aku jahat, tapi aku tidak munafik seperti anda nyonya William. Ah jika aku adalah monster maka kau adalah ratu Monsternya." Ejek Nadine.


"Kau."


"akhh lepaskan tanganku ****** sialan." teriak Widya saat tangannya di cengkram erat oleh Nadine.


"Kau tau, aku sangat benci kulitku di sentuh oleh hama menjijikkan seperti kalian ini. Tapi beraninya kau ingin menamparku, ternyata nyalimi besar juga ya." ucap Nadine sambil mendorong Widya hingga tersungkur.

__ADS_1


"NADINE." teriak Alexander murka.


"Astaga, teriakanmu itu bisa membuat orang tuli. Apa kau tau." ucap Nadine sambil mengorek telinganya santai.


Sagara yang melihat tingkah Nadine tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa Nadine melakukan itu. Padahal 2 keluarga itu sedang sedih, bukanya menghibur Nadine justru membuat darah mereka mendidih.


"Bagaimana bisa aku melahirkan wanita jahat seperti dirimu ini Nadine. Andai saja aku tau kau akan sejahat ini aku akan menggugurkanmu sejak kau masih dalam kandunganku dulu." Geram karen.


mendengar perkataan Karen, sontak Michael dan ketiga kakak Nadine sangat terkejut. Michael tidak menyangka bagaimana bisa istrinya mengatakan hal itu pada putri kandung mereka.


"Kau tau nyonya Karen Winata, andai aku tau kau yang akan menjadi ibuku aku lebih memilih tidak pernah di lahirkan. Kau terlalu hina untuk menjadi ibuku. Aku heran, padahal kau sudah cacat sekarang tapi kau masih saja angkuh ya." kata Nadine datar.


"Kau memang anak durhaka Nadine, kau seharusnya menghormatiku karena akulah yang sudah melahirkanmu. Aku sudah meminjamkan rahimku selama 9 bulan untukmu harusnya kau bisa menghormati diriku." Ujar Karen murka.


"Bukankah kau hanya mengandungku selama 7 bulan saja? Aku baru tau ternyata selain angkuh kau juga gila hormat ya. Ah dan soal aku yang memakai rahimmu selama 7 bulan itu. Berapa aku harus membayar biaya penginapannya serta semua nutrisi yang selama ini ku peroleh. Kau boleh menghitungnya nanti akan ku bayar semuanya lunas." ucap Nadine santai sambil melipat tangannya di dada.


"Beruntung aku tidak memiliki anak sepertimu." Cibir Widya


"Aku juga beruntung tidak memiliki ibu berwajah dua sepertimu nyonya Widya."


"Kau memang wanita tidak punya akhlak, sekarang aku ragu kau bisa membesarkan kedua cucuku dengan baik." Hardik Widya dengan marah.


"cucu? Siapa cucu yang kau maksud nyonya?"


Tanya Nadine


"Tentu saja Arion dan Alicia." ucap Widya dengan percaya dirinya.


"hahahaha, jangan membuat aku tertawa nyonya Widya. Bukankah dulu anda mengatakan bahwa mereka adalah anak haramku dengan banyak pria lalu sekarang kenapa tiba-tiba kau mengakui bahwa mereka adalah cucumu. Ah, apakah karena putramu itu mandul jadi kau merasa terancam garis keturunan keluargamu akan terputus. Tapi nyonya mereka bukan anak putramu mereka hanyalah anakku saja." Kata Nadine sarkas


"Alex pasti akan merebut mereka berdua darimu nanti, lihat dan tunggu saja." ucap Widya menahan kesal pada Nadine.


"Baiklah akan ku tunggu, tapi jangan salahkan aku jika hari di mana putramu itu merebut kedua anakku maka di hari itu juga dia akan kehilangan banyak hal dalam hidupnya." tutur Nadine sambil mengamati semua ekspresi dari orang-orang di hadapannya ini.


"Oya nyonya Karen, ini hanya sekedar saran saja. Jangan terlalu sedih, nanti bisa-bisa kau terkena stroke. Saat ini saja kau sudah sangat merepotkan dengan kondisi kakimu yang cacat itu."


"Pergi kau dari sini, anak durhaka."


"aku memang akan pergi, karena tujuanku juga sudah terealisasi sekarang. Jadi ya aku tidak memiliki tujuan apa-apa lagi dengan keluarga kalian. goodbye." ucap Nadine sambil memberikan flying kiss pada mereka semua.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2