Tuan 4 Dewa Mata Angin

Tuan 4 Dewa Mata Angin
Ch.30 Kedaimaian Yang Sementara


__ADS_3

"ehh itu..." tetua Liu Bin mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"di mana dia ayah? Aku ingin bertemu dengan teman baruku" rengek Qin Yue lagi.


"ah itu dia di... "


"Yue'er ayahmu baru kembali dari medan perang, dan masih kelelahan sebaiknya kau tidak menahannya disini" ujar patriark Liu Youfu lembut.


"ah kakek benar sebaiknya aku menanyakan ayah besok saja, ayah ayo kita pulang aku akan memasakan ayah makanan yang enak-enak" ujar Qing Yue tersenyum sumringah


"baiklah Yue'er, kau kembalilah dulu ayah masih ada yang harus ayah bahas bersama kakekmu sebentar".


"baik ayah aku pergi dulu ya".


"hmhmhm".


Qin Yue berlari masuk kembali ke dalam sekte dengan riang gembira, menyisakan patriark Liu Youfu, tetua Liu Bin, tetua Sun Lang dan para pendekar pedang giok hijau lainnya.


"patriark ada yang ingin aku bicarakan padamu" ujar tetua Liu Bin, walau patriark mereka adalah ayahnya tetapi dirinya harus tetap formal di hadapan anggota sekte lain.


"baiklah bersihkan diri kalian terlebih dahulu dan setelah itu segera berkumpul di aula pertemuan, dan tetua Liu Bin ada hal yang harus kita bicarakan" ujar patriark Liu Youfu.


"baik patriark" jawab mereka serempak.


Lalu satu persatu anggota sekte kembali ke sekte dan beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh, patriark Liu Youfu dan dan tetua Liu Bin pun kembali ke sekte dan berjalan menuju ke arah ruang penyimpanan senjata sekte.


"Bin'er ayah tau yang kau pikirkan tentang pertanyaan anakmu tadi, tapi kau tenang saja aku akan menolongmu menjelaskannya kepada Yue'er".


"terima kasih ayah sebenarnya bukan hanya soal itu yang membuatku bingung, tetapi masih ada hal lain yang membuat aku kebingungan" jelas tetua Liu Bin.


"apa itu?" tanya patriark Liu Youfu mengerutkan dahinya.


"jadi begini ayah" tetua Liu Bin menceritaka semua kejadian yang terjadi di sekte selendang bulan merah, tidak terkecuali tentang warisan hewan dewa kura-kura hitam dan pendekar muda misterius.


"hmhmhm" patriark Liu Youfu menganguk-anguk kepalanya.


"ayah bagaimana menurut ayah tentang hal ini?".


"huuuhh... Hewan dewa itu diluar kemampuan kita, tapi pendekar muda itu bagaimana mungkin bisa sehebat yang kau ceritakan itu?" ujar patriark Liu Youfu sambil menganguk-anguk kepalanya.

__ADS_1


"entahlah ayah aku juga bingung dengan hal itu, sebenarnya aku curiga kalau pendekar itu adalah seorang senior yang menggunakan suatu teknik khusus yang membuatnya awet muda".


"itu tidak mungkin hanya orang yang sudah mencapai tingkat dewa yang bisa menggunakan teknik terlarang seperti itu, dan orang yang sudah mencapaikan tingkat itu akan mendapatkan penolakan dari 2 dunia dan akan diusir untuk naik ke dunia dewa" jelas patriark Liu Youfu.


"ah ada hal seperti itu juga di dunia ini, aku sungguh kurang membaca buku di paviliun sekte" ujar tetua Liu Bin merasa kurang berilmu.


"hahaha kau terlalu fokus untuk berkultivasi dan melupakan ilmu lain, seperti kata pepatah mempelajari satu ilmu memang membuatmu fokus untuk mendapatkan hasil yang baik. Tetapi apabila kau mempelajari ilmu lain untuk menunjang ilmumu yang lain, maka ilmu yang akan kau pelajari akan lebih bermanfaat dan menghasilkan hasil yang lebih baik" nasehat patriark Liu Youfu.


"baiklah ayah aku akan mengingatnya" ujar tetua Liu Bin.


"Sebaiknya kau kembali dulu untuk beristirahat dan membersihkan dirimu terlebih dahulu, setelah itu berkumpul di di aula pertemuan untuk membahas hal ini".


"baiklah ayah aku pamit dulu".


"hmhmhm".


--


--


--


"tetua Jiao Jiu apakah anda yakin orang yang membantai seluruh aliran hitam itu adalah seorang pendekar muda, dan hanya dirinya seorang diri yang mengalahkan mereka semua?" tanya salah satu tetua sekte Kuil Cahaya Ilahi yang hadir di pertemuan itu.


"benar sekali tetua aku tidak mungkin berbohong untuk masalah ini, aku curiga kalau pendekar itu adalah seorang senior yang menggunakan suatu teknik khusus yang membuatnya awet muda" ujar tetua Jiao Jiu menyampaikan dugaanya.


"apakah ada hal seperti itu di dunia ini?" tanya salah satu tetua yang lain.


"tidak mungkin dari apa yang aku ketahui hanya orang yang sudah mencapai tingkat dewa yang bisa menggunakan teknik terlarang seperti itu, dan orang yang sudah mencapaikan tingkat itu akan mendapatkan penolakan dari 2 dunia dan akan diusir untuk naik ke dunia dewa secara paksa" jelas tetua lainnya.


"tetua benar tidak mungkin ada hal yang seperti itu di dunia ini" tambah patriark Hu Shou Xin yang sedari tadi hanya diam mendengarkan diskusi para tetua itu akhirnya angkat suara.


"patriark lalu bagaimana masalah hewan dewa ini, apa tindakan kita selanjutnya untuk menanggapinya?" tanya salah satu tetua lagi.


"entahlah aku juga bingung, tetapi hal yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah melindungi kota Songjiang dan sekte selendang bulan merah. Selain itu kita juga harus meminta bantuan sekte lain agar rencana perlindungan ini berhasil" jelas patriark Hu Shou Xin.


"patriark benar kita hanya bisa melindungi sekte bulan merah sekarang, lalu siapa yang bertugas disana untuk menjaga sekte selendang bulan darah secara rahasia?" tanya salah satu tetua lagi.


"patriark saya mau menjalankan misi ini" ujar tetua Jiao Jiu mengajukan dirinya.

__ADS_1


"kau serius tetua Jiu? ".


"tentu saja patriark, saya rasa ini menjadi tanggung jawab saya setelah kejadian itu" jawab tetua Jiao Jiu.


"kalau begitu saya serahkan misi ini pada tetua Jiao Jiu, dan silahkan bawa pendekar secukupnya untuk menemani tetua" titah patriark Hu Shuo Xin.


"baik patriark".


saya rasa pertemuan ini kita akhiri sampai di sini saja dulu, dan sisanya akan aku bahas bersama tetua Jiao Jiu" ujar patriark Hu Shou Xin mengakhiri pertemuan kecil itu.


"baik patriark kami mohon undur diri" ujar mereka serempak, lalu satu persatu meninggalkan aula pertemuan sekte hingga menyisakan patriark Hu Shou Xin dan tetua Jiao Jiu.


"tetua Jiao Jiu misi kali ini sangat berbahaya, tugasmu bukan hanya melindungi para penduduk dan dan juga sekte selendang bulan merah. Tetapi juga akan mempertaruhkan nyawamu untuk melawan pasukan aliran hitam, aku minta kepadamu untuk berhati-hati dan tidak memaksakan dirimu menjalankan misi ini" ujar patriark Hu Shou Xin panjang lebar


"baiklah patriark saya akan mempersiapkan semuanya secepatnya dab sebaik mungkin, selain itu saya masih ada permintaan pada patriark" ujar tetua Jiao Jiu lagi.


"apa itu tetua Jiu?".


"itu patriark bisakah saya membawa pedang api suci?" tanya tetua Jiao Jiu takut-takut.


"hmhm sebenarnya aku bisa saja mengizinkanmu membawanya, tetapi kita harus meminta persetujuan dari para tetua sekte yang lain" ujar patriark Hu Shou Xin sambil menatap kosong ke luar halaman aula pertemuan.


"saya mengerti patriark akan hal itu, tetapi setelah melihat kekuatan aliran hitam saat ini yang tidak terduga. Jadi aku rasa harus ada persiapan yang matang untuk menghadapi mereka semua, akhir-akhir ini aliran hitam jarang berbuat ulah karna fokus berkultivasi mengembangkan kemampuan mereka" ujar tetua Jiao Jiu panjang lebar.


"aku paham maksud tetua tetapi tetap saja hal ini harus disetujui oleh seluruh tetua, aku sendiri sebagai patriark tidak bisa mengambil keputusan sendiri" jelas patriark Hu Shou Xin.


"baiklah patriark saya mengerti".


"baik kau tenang saja akan hal itu, aku pasti berusaha membantumu menjelaskan pada para tetua semoga mereka menyetujuinya".


"terima kasih patriark, kalau begitu saya mohon undur diri terlebih dahulu untuk menyusun rencana selanjutnya".


"baiklah istirahatlah dahulu kau sangat lelah setelah pertempuran dan perjalan panjang ini".


"baik patriark saya pergi terlebih dahulu"


"hmhmhm".


tetua Jiao Jiu meninggalkan ruang pertemuan sekte untuk kembali ke tempatnya, dirinya harus menyusun rencana yang matang untuk rencana kali ini.

__ADS_1


"pendekar muda misterius apakah kau murid senior Feng?" tanya patriark Hu Shou Xin dalam hati.


__ADS_2