Tuan 4 Dewa Mata Angin

Tuan 4 Dewa Mata Angin
Ch.61 Akhirnya Tidur Sekamar


__ADS_3

Setelah menerima kitab pusaka sekte, Xiao Shen semakin rajin berlatih teknik pedang. Ia semakin mendalami arti dari sebuah permainan pedang yang sesungguhnya, lewat tuntunan dari patriark Liu Youfu langsung dan juga roh pedang dewa pembalik langit. Keahlian dari seni pedang Xiao Shen saat ini bahkan bisa melampaui patriark Liu Youfu, ditambah teknik pedang Dewa giok yang ia pelajari semakin membuat teknik pedangnya tidak terkalahkan.


"Teknik pedang Dewa Giok ini aku tidak akan pernah mengerti cara mempelajarinya, untunglah ada roh Tian Yuan yang membantuku menjelaskan isi bukunnya" batin Xiao Shen yang kini sudah mencapai bab akhir dari pemahaman teknik pedang dewa giok.


Teknik pedang dewa giok adalah teknik antusisi dari seorang master pedang, teknik ini harus memiliki perasaan dan tenaga dalam yang tinggi untuk menggunakannya. Dikatakan dalam kitab itu kalau jurus dewa pedang giok mampu mematahkan segala jenis segel apabil mampu menguasai tahap akhirnya, tahap akhir dari teknik ini Cerminan Pedang Semesta, yang mana pengguna pedang harus bisa merasakan getaran dan pusat energi segel berada dan mematahkannya. Jadilah untuk menemani Xiao Shen berlatih nangong yang selalu menjadi korban keganasan teknik ini, untuk melatih antuisi dan perasaan peka Xiao Shen, nangong dan Xiao Shen sering berlatih di ruang jiwa pedang dewa pembalik langit, di sana nangong sering membuat segel Formasi ilusi 7 lapis tetapi dengan muda Xiao Shen mematahkannya. Padahal Xiao Shen baru mempelajari teknik pedang ini beberapa minggu yang lalu, tetapi bagi nagong masternya bagaikan seorang dewa pedang yang tak tertandingi.


Waktu keberangkatan ke desa pilar angin hanya tersisa 2 hari lagi, Xiao Shen semakin giat berlatih bersama nangong. Sementara nangong sudah sangat tersiksa menjadi sasaran keganasan teknik pedang Xiao Shen, ia ingin menolak untuk dijadikan teman latihan Xiao Shen tetapi Zhu Que selalu menekankan dengan kata-kata pedas.


Tap... Tap... Tap...


"Sebentar ada yang menuju kamarku"Xiao Shen yang saat itu sedang terlihat duduk besemedi di atas tempat tidurnya, padahal ia sedang berlatih teknik pedang di dimensi lain yaitu di dalam ruang jiwa milik pedang jiwa pembalik langit.


Tok... Tok.. Tok...


Bukkk... Buukkk...


"Shen gege bukakan pintunya sekarang untuk ku!!! Kalau tidak pintunya akan aku dobrak sekuat tenaga!!!" ancam suara yang mengedor-ngedor pintu Xiao Shen, suara itu adalah suara perempuan tidak salah lagi itu adalah Qin Yue. Xiao Shen segera kembali ke tubuhnya untuk membukan pintu bagi gadis itu, sebenarnya ini terasa aneh ada seorang gadis muda mendatangi kamar seorang pemuda lajang.


"Tunggu sebentar Yue'er aku akan membukakan pintu" Xiao Shen cepat-cepat membuka pintu untuk Qin Yue, ia takut kejadian yang sudah 3 kali terjadi terulang lagi. Pintu kamar milik Xiao Shen sudah 3 kali hancur dan 3 kali juga direnovasi, ini semua adalah perbuatan Qin Yue yang tidak sabaran apabila ingin bertemu Xiao Shen. Mereka berdua sudah seperti saudara yang saling menyayangi karna mereka hanya anak tunggal, mereka tidak pernah merasakan apa yang namanya kasih sayang saudara hingga mereka menjadi akrab seperti itu.


Klek... Ckell...


"Yue'er ada apa kau.... "


Buuuuukkkkkk...


"Huaaaakkkkkkk" sebuah pukulan sekuat tenaga Qin Yue telak mengenai perut Xiao Shen yang tidak memiliki persiapan menerima serangan itu, akibatnya Xiao Shen terlempar hingga 5 meter, beruntung ada dinding kamarnya menahan tubuhnya kalau tidak mungkin ia terlempar puluhan meter.


"Uhhkk Yue'er apa yang kau lakukan? Kau tau yang kau lakukan itu sakit" Xiao Shen memegang perutnya sambil berusaha berdiri.


"Huump" Qin Yue memalingkan wajah tidak mau menatap Xiao Shen.


"Eh ekspresi apa-apaan itu" bantah Xiao Shen bahkan tidak mengerti melihat tingkah Qin Yue, bagaimana ia bisa memasang tampang wajah tidak bersalah seperti itu setelah memukul perutnya.


"Shen gege bodoh... Pokoknya aku tidak mau berbicara padamu lagi humpp... " tanpa membalikkan wajahnya.


"Eh" Xiao Shen mengaruk kepalnya yang tidak gatal. "Lalu untuk apa kau ke sini kalau kau tidak ingin bicara padaku?" tanya Xiao Shen tidak mengerti, benar kata orang perempuan itu adalah makhluk yang paling sulit untuk dimengerti, kalau boleh memilih Xiao Shen lebih baik melawan seribu pasukan di medan perang, daripada menghadapi perempuan yang rumit seperti Qin Yue seperti saat ini.


"Bodo bodo Shen gege bodoh" tiba-tiba Qin Yue berlari ke arah Xiao Shen dengan ekspresi yang berubah, tiba-tiba marah tiba-tiba menangis.


"Ehh Yue'er kau mau apa" Xiao Shen sudah memasang ancang-ancang siap menerima pukulan Qin Yue.

__ADS_1


Bruuukkk...


"Eh" Xiao Shen menjadi bingung melihat tingkah Qin Yue, dikiranya Qin Yue hendak memukulnya lagi tapi tiba-tiba saja ia dipeluk oleh gadis muda itu.


"Shen gege bodoh dan ingkar akan janji kita, bukankah kita pernah berjanji tidak akan pernah berpisah, apalagi itu menuju ke tempat yang berbahaya. Shen gege pernah bilang akan membawa aku kemanapun Shen gege peegi, kenapa saat Shen gege ingin pergi kau bahkan tidak memberitahukanku" ratap Qin Yue sambil sekali-kali memukul dada bidang Xiao Shen pelan, ia menangis dengan sepuasnya di pelukan Xiao Shen, karna ia tau pemuda yang saat ini ia peluk akan pergi lama dan entah apa bisa kembali lagi.


"Yue'er kau mengetahui kepergianku ke desa pilar angin dari siapa?" Xiao Shen terkejut karna hal yang sangat ia rahasiakan dari orang lain terutama Qin Yue sudah diketahui oleh orang itu sendiri.


"Itu tidak penting, Shen Gege kenapa kau tega mau meninggalku? Apa kau sudah tidak sayang padaku?" tanya Qin Yue sambil mendongak menatap wajah tampan Xiao Shen. Ia mengetahui informasi keberangkatan Xiao Shen tanpa sengaja saat mendengar pembicaraan ayahnya dan kakeknya.


"Itu... Tidak aku tidak ada maksud untuk meninggalkanmu, aku hanya ingin pergi berlatih di luar sana sebentar" jawab Xioa Shen berusaha menjelaskan alasan terbaik agar Qin Yue tidak sedih lagi.


"Kau berlatih tidak mengajak ku, Shen gege jahat ingkar janji" Qin Yue melepas pelukannya dan membelakangi Xiao Shen.


"Yue'er aku pergi tidak untuk selamanya kau harus yakin padaku. Kita pasti bisa bertemu lagi kedepannya, apakah kau meragukanku?" Xiao Shen berusaha membujuk Qin Yue untuk melihatnya.


"Tapi aku... Hiks aku takut Shen gege kenapa-napa!!" derai tangis Qin Yue kembali berhamburan dan ia kembali memeluk Xiao Shen.


"Kau percaya padaku kan, aku ini jenius sekte mana mungkin aku akan celaka dengan dengan semudah itu" hibur Xiao Shen sambil mengelus rambut Qin Yue perlahan.


"Shen gege... hiks" Qin Yue memukul-mukul pelan dada Xiao Shen, ia tau ini tidak pantas dilakukan oleh gadis muda sepertinya. Tetapi mau bagaimana lagi pikirannya hendak menolak hal itu tapi tubuhnya tidak bisa berbohong, Qin Yue merasa sangat kehilangan apabila Xiao Shen pergi meninggalkan sekte. Ia menjadi ingat kenangannya bersama Xiao Shen selama berlatih bersama teknik pedang, Qin Yue makin tidak ingin Xioa Shen pergi meninggalkannya sendiri. "Shen gege bodoh tidak mengerti diriku" batin Qin Yue yang terus menangis sesenggukan.


"Yue'er aku pergi tidak akan lama aku berjanji padamu, setelah misi dan latihan ku selesai maka aku akan langsung kembali ke sekte dan menemuimu" Xiao Shen masih berusaha membujuk Qin Yue agar tenang.


"Baiklah aku berjanji padamu" Xiao Shen tersenyum dan segera menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Qin Yue.


"Shen gege awas ingkar janji aku tidak akan pernah memaafkan mu lagi" ujar Qin Yue mulai kembali tersenyum.


"Iya aku janji".


"Kau sebaiknya pulang nanti ayahmu mencarimu, ia pasti kuatir sekarang" ingat Xiao Shen memperbaiki posisi duduknya.


"Shen gege bisakah aku minta tolong padamu sesuatu?" Qin Yue menundukkan kepalanya.


"Apa itu?".Xiao Shen berusaha melihat wajah Qin Yue yang menunduk.


"Hmhm itu... Itu... Masalah tadi aku... "


"Yue'er kenapa wajahmu merah? Apakah kau sakit?" Xiao Shen kuatir dan segera meraba dahi Qin Yue.


"Tidak tidak aku tidak sakit!!" jawab Qin Yue menjauh dari Xiao shen.

__ADS_1


"Eh kenapa sikapmu tiba-tiba aneh?" Xiao Shen melihat perubahan sikap Qin Yue.


"Shen gege ini payah sekali, masa begitu saja tidak peka?" batin Qin Yue kesal.


"Maksudku masalah aku memelukmu dan menangis tadi jangan sampai tersebar luas, kalau berita ini tersebar luas maka kau tau akibatnya Shen gege" ancam Qin Yue sambil mengeluarkan aura pembunuhannya.


"Ak... Aku mengerti" Xiao Shen mengaruk pipinya tidak gatal.


"Shen gege apakah aku bisa mengajukan 1 permintaan lagi padamu?" Qin Yue semakin menunduk kepalnya dalam-dalam.


"Hmhm tentu saja, apa itu?".


"Malam ini bolehkah aku menginap dan tidur bersamamu di kamarmu ini?" Qin Yue tidak berani menatap Xiao Shen.


"Ehhh... Itu aku... " Xiao Shen terkejut sekaligus bingung, bagaimana mungkin mereka berdua bisa satu kamar "Tapi bagaimana dengan paman Bin?, ia bisa kuatir kalau kau tidak pulang sampai pagi?" alasan Xiao Shen berusaha menolak permintaan Qin Yue secara halus.


"Shen gege tenang saja, aku sudah minta izin tadi untuk menginap di rumah temanku" jawab Qin Yue sembari mulai berani menatap Xiao Shen yang kebingungan.


"Tapi aku... Maksudku aku tidak memiliki tempat tidur lain selain ini".


"Shen gege tenang saja, aku akan tidur di tempat tidur sementara Shen gege tidur di lantai. Bagaimana adilkan pembagiannya, Shen gege aku mohon sekali ini saja sebelum Shen gege pergi" rengek Qin Yue.


"Tapi... Aku"


"Tidak ada tapi-tapi pokoknya harus setuju kita berdua tidur serumah malam ini".


"itu... "


"Horeee Shen gege setuju, makasih Shen gege... Ayo tidur hari sudah malam sekali hoaaaammm aku ngantuk sekali" Qin Yue menguap.


"Terserah kau saja aku akan pergi berlatih saja" Xiao Shen berbalik badan hendak pergi.


"Shen gege tidak boleh kemana mana, temani aku tidur, Shen gege tidur di lantai itu saja" perintah Qin Yue.


"Huuuhh kenapa dia yang memerintahku? Bukannya ini rumah dan kamarku" batin Shen De. "Baik-baik nyonya besar".


"Bagus ayo tidur... "


"Ya selamat malam".


"Selamat malam Shen gege... "

__ADS_1


***


Author kok jadi ambigu ya mikirin Xiao Shen dan Qin Yue tidur sekamar, eittss pikiran macam apa itu huss huss pergi-pergi... 😂 (Author harap mereka dua khilaf wkwk)


__ADS_2