
"Apa yang kau.... "
"Hiyyyyaaaa.... "
Buuuaakkkkkkkk....
Uuhhhkkkkkkk....
Xiao Shen terlempar ke belakang beberapa puluh meter hingga menyentuh pembatas arena dan menabraknya dengan keras, ia terlalu terpaku berbicara dengan Zhu Que hingga tidak memperhatikan datangnya serangga musuh.
"Aduh... Aduh itu lumayan sakit" rintih Xiao Shen pelan sambil memegangi perutnya yang terkenal gagang pedang giok darah, beruntung itu hanya gagang pedangnya saja bayangkan kalau itu mata pedangnya, bisa-bisa seluruh isi perut Xiao Shen keluar dan ia mati di tempat.
"Bocah kenapa kau menurunkan kewaspadaanmu, kau sedang memikirkan apa?" Zhu Que heran karna tidak biasannya Xiao Shen lengah saat bertarung.
"Ah tidak apa-apa... Aku hanya terlalu fokus berbicara padamu saja" jawab Xiao Shen sambil mulai mengalirkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan rasa sakit di perutnya. "Pengobatan surga, Nyanyian 7 dewi surga". Xiao Shen menyembuhkan rasa sakit perutnya hanya dalam waktu hitungan detik, hal itu karna jurus tingkat tapal dewa yang ia gunakan dan ia pelajari dari gurunya Feng Huang.
Tiba-tiba Xiao Shen teringat akan gurunya di hutan larangan 9 dewa, ia kembali mengingat masa yang ia lalui bersama gurunya di hutan larangan 9 dewa. "Guru bagaimana keadaan guru sekarang?, murid sangat merindukan guru sekarang" batin Xiao Shen.
"Bocah bagaimana rasanya?" Mo Xiao bertanya sambil tersenyum menang karna berhasil melukai Xiao Shen dengan parah menurutnya, ia tidak menyadari bahwa Xiao Shen sudah sembuh dari sakit akibat pukulannya.
"Kakak Shen...!!! Kakak harus bangun hiks... Kakak harus kuat, bagaimana mungkin kakak meninggalkan ku begitu cepat setelah kita baru saja bertemu hiks" Qin Yue histeris melihat Xiao Shen menabrak tembok pembatas arena pertandingan dengan keras, ia mengirang Xiao Shen langsung meninggal atau pun sekarat. Biar bagaimana pun Xiao Shen juga manusia tidak mungkin sanggup bertahan dari serangan seperti itu, serangan seperti itu sanggup membunuh gajah raksasa dalam sekali serang.
"Yue'er kau harus tenang, Pemuda Shen itu tidak akan mati semudah itu" nasehat tetua Sun Lang. "Apa kau ingat saat pertemuan kalian berdua di hutan ketika pertempuran itu, dia tidak mungkin kalah dengan semudah itu kau harus percaya padanya".
"Tapi paman Lang... Dia tidak bergerak sama sekali dan tadi ia sudah menabrak tembok. Pembatas arena dengan keras sekali".
"Kau tenang saja Yue'er, paman yakin dia baik-baik saja" walaupun di hati kecil tetua Sun Lang ia juga kuatir akan keselamatan Xiao Shen saat ini.
"Baiklah paman hiks... Kak Shen kau harua baik-baik saja kalau tidak aku tidak akan memaafkanmu selama-lamanya hiks..." gumam Qin Yue di sela-sela air matanya.
__ADS_1
"Dasar anak muda, baru saja bertemu sudah seperti ini" batin tetua Sun Lang. " Aaihhh kenapa aku berpikiran yang bukan-bukan sekarang, seharusnya aku berpikir tentang keselamatan pemuda ini dan tidak berpikir aneh-aneh seperti itu" tetua Sun Lang mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebenarnya ada hubungan apa putri tetua Liu Bin dengan pemuda bernama Xiao Shen ini?, apakah keduanya mempunyai hubungan khusus sampai ia terlihat kuatir sekali pada pemuda itu?" tanya salah satu murid sekte pada teman lainnya.
"Kau benar aku juga penasaran akan hubungan antara keduanya" jawab murid yang lain.
"Kalian benar-benar tidak sayang nyawa kalian apa, bagaimana kalau pembicaraan kalian tadi didengar oleh tetua Liu Bin dan anaknya bisa dipenggal kepala kalian" peringat murid lain pada teman.
"Aiihhhh kau benar... Sudahlah kita janganb membahas masalah itu lagi, mari kita menjauh lagi dari sini aku sudah tidak sanggup menahan hawa pedang senior Mo Xiao".
"Kau benar ayo kita menjauh ke arah pohon di sana" tunjuk salah satu murid sekte pedang giok hijau.
"Ya kau benar mari ke sana".
--
--
--
"Uhhhkkk aku tidak apa-apa senior, kalau begitu mari kita lanjutkan pertarungan ini" Xiao Shen bangit berdiri sambil mengibas-ngibas bajunya yang tersentuh debu dan tanah.
"Kau... Ka... Kau bagaimana mungkin masih baik-baik saja?" Mo Xiao terkejut bukan main melihat Xiao Shen baik-baik saja, hanya bajunya yang terlihat koyak sedikit di bagian perut.
"Ah itu entahlah aku tidak tau, mungkin ini pertolongan dewi Kwan Im" jawab Xiao Shen sembarangan.
"Mustahil!!! Kau pasti menggunakan perisai atau artefak sihir tingkat tinggi untuk menahan seranganku tadi, bagaimana pun petarung tingkat raja tahap menengah pun akan terluka apabila terkena serangan seperti itu" Mo Xiao tidak terima dengan alasan Xiao Shen yang terdengar konyol dan tidak masuk akal baginya.
"Terserah senior ingin percaya apa tidak yang, jelas aku tidak berbohong sama sekali terkait hal itu karna aku tidak memakai perisai atau artefak sihir apapun" jawab Xiao Shen sambil mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
"Sialan benar-benar bocah menyebalkan, aku ku beri pelajaran kau".
"Senior maaf sebelumnya, bukankah kau sudah muak denganku? Kenapa kau tidak menyerangku habis habisa saja?" tantang Xiao Shen.
"Kurang ajar kau benar... Cari mati rupanya bocah?!!".
"Aku tidak mencari mati senior, aku hanya ingin melihat kemampuan senior Xiao saja" jawab Xiao Shen.
"Ciihhh akanku perlihatkan padamu kekuatanku yang sebenarnya padamu bocah!!!".
"Bukankah dari tadi senior mengatakan ingin menggunakan kekuatan dan jurus terhebat senior?, tetapi kenapa baru mengenaiku saat aku lengah tadi?" tanya Xiao Shen yang tentu saja membuat Mo Xiao tambah marah.
"Ka... Kau... Kau beraninya berkata seperti itu sialan!!!!!" Mo Xiao tetusuk langsung tepat di dadanya mendengar perkataan Xiao Shen.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya senior mau bagaimana lagi" Xiao Shen mengangkat bahunya.
"Benar-benar cari mati rupanya, kali ini aku tidak akab berbelas kasihan lagi padamu!!!!".
"Ah sungguh membosankan".
"Bocah kenapa kau sepertinya dengan sengaja memancing amarah pemuda gila itu, apa kau ingin terluka oleh pasukan roh kematian pedang giok darah huuhh?" Zhu Que bingung melihat apa yang dilakukan Xiao Shen.
"Kau kau tidak perlu kuatir Zhu Que, aku memiliki rencanaku sendiri untuk mengatasinya" jawab Xiao Shen.
"Ciihh siapa yang kuatir pada keselamatanmu bocah, aku hanya tidak ingin mencari tubuh baru dan menunggu lagi untuk balas dendamku".
"Baiklah kalau begitu".
"Kau berhati-hatilah menghadapinya jangan sampai mati, aku tidak ingin memulai dari awal lagi".
__ADS_1
"Serahkan padaku semuannya".