Tuan 4 Dewa Mata Angin

Tuan 4 Dewa Mata Angin
Ch.69 Kakek Tua misterius


__ADS_3

"Selamat datang saudara-saudaraku" sambut ketua bandit Harimau loreng di depan gerbang markas besarnya, hari ini adalah hari yang amat penting bagi kelompok bandit harimau karna sekutu mereka dari sekte kelopak mata iblis dan kaum dari bangsa iblis berkunjung ke markas mereka. Kerja sama ini tidaklah lain untuk menghancurkan kekuatan para pendekar aliran hitam, selain itu keuntungan bagi kaum iblis juga akan membuat mereka semakin kuat saat menghadapi musuh yang kuat seperti pasuka dewa.


"Saudaraku sudah lama kita tidak bertemu, Lembah tebing Elang ini tidak berubah sama sekali" ketua bandit harimau putih bersalaman lalu berpelukan dengan ketua bandit harimau loreng. "Bagaimana kabarmu? Kau terlihat sedang tidak enak hati sepertinya sekarang?, ada masalah apa gerangan?" tebak ketua bandit harimau putih.


"Sebaiknya kita tidak membuat tamuku ini menunggu dengan obrolan kita,mari semuanya masuk ke dalam dan kita akan membahasnya di dalam sambil menikmati suguhan yang aku sediakan" jawab ketua bandit harimau loreng, ia sadar bahwa tamu-tamunya ini adalah orang penting dan tidak boleh membuat mereka menunggu apalagi tersinggung.


"Kau benar saudaraku, mari tetua Bian Hau dan juga jenderal iblis Ley silahkan masuk dan mohon maafkan kekurangan nyaman tadi" ujar ketua bandit harimau putih.


"Baiklah ketua lupakan saja" jawab tetua Bian Hau tidak peduli.


"Hmhmhm" gumam jenderal iblis Ley sambil melangkah mengikuti tetua Bian Hau.


"Hiau Feng makhluk sedingin es darimana yang kau bawa ini, mereka sama sekali tidak menggap kita ada?" tetua bandit harimau loreng bertanya dengan kesal.


"Zou Lee kau sebaiknya jaga ucapanmu, ketua harimau agung sangat menjaga persaudaraan dengan mereka. Mereka adalah aset penting kekuatan kita saat ini jadi aku mohon kau bersabar, mereka memang begitu congkak karna kekuatan di belakang mereka begitu kuat" jelas ketua Hiau Feng.


"Kita semua sama-sama di tingkatan pendekar sucu terhormat, berani-beraninya mereka tidak menghargai kita berdua. Aku benar-benar tidak terima akan hal itu" jawab ketua Zou Lee masih memendam amarahnya.


"Sudahlah bodoh, apakah kau ingin ketua besar harimau agung membunuhmu?" peringat ketua Hiau Feng.


"Baiklah terserah kau saja" ujar tetua Zou Lee mendengus kesal sambil berlalu meninggalkan ketua Hiau Feng menyusul 2 orang sekutunya ke ruang pertemuan.


"Orang ini sifat cepat marah dan kecerobohannya tidak pernah berubah dari dulu" gumam ketua Hiau Feng sambil mengeleng-geleng kepalanya dan langsung mengikuti ketua Zou Lee.


***


Ruang pertemuan kelompok bandit harimau loreng malam ini begitu meriah, terdengar musik mengalun indah dan bertalu-bertalu mengiringi tarian gadis-gadis desa yang mereka tangkap dan mereka jadikan gadis peliharaan. Makanan enak tersaji begitu banyak dan juga arak di sediakan bertong-tong dengan kualitas terbaik, malam itu ketua Zou Lee ingin membuat semua orang yang hadir puas dengan jamuan darinya.


"Hahaha kau benar saudaraku kita sudah tidak lama tidak duduk dan minum arak bersama seperti ini".


"Bagaimana dengan keadaan kelompokmu apakah ada masalah?" ketua Hiau Feng bertanya hingga membuat gelak tawa ketua Zou Lee padam seketika.


"Ada apa saudaraku apakah ada masalah yang tidak bisa kau selesai sendiri?" tetua Hiau Feng langsung menyadari perubahan sikap dari saudaranya itu.


"Itulah yang ingin kubahas dengan kalian semua saudaraku, tetapi sebelumnya aku ingin kita pindah ke ruang pertemuan rahasia agar pembicaraan kita ini tidak terganggu" saran ketua Zou Lee.


"Bagaimana tetua dan juga jenderal?" ketua Hiau Feng menatap kedua sekutu mereka yang sedari tadi diam sambil menikmati jamuan malam itu.

__ADS_1


"Hmhmhm baiklah" jawab keduanya serempak dan singkat.


"Baiklah mari ikuti aku ke ruang Pertemuan rahasia" ketua Zou Lee bangkit berdiri dari posisi duduknya lalu melangkah ke arah ruangan gelap gulita.


"hmhm".


Mereka baru berjalan beberapa langkah menuju ruang pertemuan rahasia milik kelompok bandit harimau loreng, namun langkah mereka terhenti karna tiba-tiba di luar markas besar bandit harimau loreng terdengar ledakan yang sangat besar hingga membuat tanah sekitar bergetar dengan hebat.


"Ada apa ini? Apakah ada orang yang menyerang tengah malam begini?" tetua Bian Hau sambil menatap ketua Zou Lee yang terlihat kebingungan juga.


"Itu mustahil tetua, markas ku ini berdiri sangat rahasia dan juga telah kupasang segel penyamaran sehingga tidak mudah untuk di temukan oleh orang-orang dari aliran putih, walaupun mereka setingkat pendekar suci terhormat mereka akan tersesat di hutan ini. Hutan ini adalah daerah kekuasann ku dan dengan bantuan hewan spiritual ku Laba-laba ilusi hitam, aku sudah menciptakan ilusi labiran tak berujung di hutan ini. Hanya orang-orangku saja yang bisa keluar dari labirin ilusi itu, mustahil adalah pendekar aliran putih bisa kesini dengan mudah" jelas ketua Zou Lee yakin.


"Tapi ledakan ini tidak mungkin dilakukan oleh anak buahmu sendiri bukan?" sangah tetua Bian Hau.


"Ini... Aku tidak... "


"Sudahlah tetua kita harus melihatnya sendiri daripada kita hanya menebak-nebaknya saja, kalaupun itu benar-benar pendekar dari aliran putih maka kita habisi dengan kekuatan kita, mereka terlalu naif berani menyerang secara terang-terangan di saat seperti ini" lerai ketua Hiau Feng menengahi keduannya.


"Kau benar saudaraku tidak ada gunanya berdebat di sini" ujar ketua Zou Lee membenarkan perkataan ketua Hiau Feng.


"Cih ternyata baru memasuki tingkat pendekar suci terhormat saja sudah begitu sombong, dasar tua bangka bau tanah bahkan dengan setengah kekuatan dari pendekar suci terhormatku ini aku yakin kau akan mati" gerutu ketua Zou Lee.


"Baiklah ayo kita lihat siapa mereka semua" ketua Hiau Feng mengikuti langkah tetua Bian Hau, lalu diikuti oleh ketua Zou Lee dan juga jenderal iblis Ley.


***


Di depan gerbang markas harimau loreng berdiri seorang kakek sepuh dengan pakain jubah panjang serba berwarna putih, ditambah rambut putih dan jengot panjangnya yang juga putih kakek itu semakin terlihat rentan namun penuh semangat. Ia tidak henti hentinya mengeluarkan bola-bola cahaya putih penuh tenaga dalam untuk menyerang tembok pertahan markas harimau loreng. Akibat dari hal yang dilakukannya itu membuat ledakan sering terjadi, suasan hutan yang tadinya sepi kini penuh dengan suara-suara ledakan besar, bahkan hutan itu kini bergetar dengan hebat karna benturan cahaya dengan tembok markas itu, beruntung tembok markas harimau loreng terbuat dari Baja Setengah Wadah Dewa jadi masih bertahan dengan serangan beruntun itu.


"Keluar kau ketua atau patriark atau apalah itu aku tidak peduli hadapi aku, kalian berani beraninya melukai muridku maka aku akan menuntut balas" teriak kakek tua itu dengan suara bergema, ia seperti orang tidak waras yang sedang marah-marah di depan markas itu.


"Keluar kalau tidak akan ku ratakan tempat ini dengan tanah, aku tidak peduli dewa menentangku" teriaknya lagi.


Para penjaga gerbang markas harimau loreng hanya bisa melonggo melihat aksi gila kakek tua itu, mereka semua menjaga jarak aman dan memantau sang kakek dari atas tembok dengan jarak yang cukup jauh, mereka semua takut kalau terkena serangan nyasar dari kakek yang terlihat tidak waras itu.


"Apaan kakek ini sudah tidak waras berani mencari masalah ke mari, lagi pula siapa muridnya yang telah kelompok kita lukai. Kalau pun itu benar ia hanya mengantar nyawa dengan datang kemari" ujar para penjaga gerbang sambil berbicara pada temannya, mata mereka tetap awas memperhatikan gerak gerik kakek tua yang terlihat sudah tidak waras itu.


"Kau benar kelompok kita adalah kelompok yang kuat, ketua kita adalah seorang pendekar pilih tanding yang sudah mencapai tingkat pendekar suci terhormat, lagi pula saat ini ada tamu istimewa yang sedang berkunjung, aku pikir kakek ini tidak akan selamat akan amarah ketua" jawab teman sambil mengeleng-geleng kepalanya.

__ADS_1


"Sungguh disayangkan kakek tua rentan sepertinya harus mengakhiri masa tuanya di tempat seperti ini, dan dia juga akan mati mengenaskan di tangan ketua kita yang terkenal amat kejam itu" jawab yang lainnya menyayangkan nasib sang kakek tua itu nanti.


"Kau benar sugguh tragis nasibnya".


"Sudahlah kalian diam, lihat ketua dan tamu-tamunya keluar sendiri untuk menghabisi kakek tua itu" peringat teman lainnya sambil menunjuk kehadiran ketua mereka disertai para tamunya.


"Kakek ini benar-benar tidak akan selamat" gumam mereka.


"Buka pintu gerbang aku ingin lihat siapa yang berani mencari masalah di markasku di saat ada tamu penting seperti ini!!" perintah ketua Zou Lee.


"Siap ketua".


Suara rantai besar berbunyi nyaring menandakan gerbang raksasa akan segera terbuka, begitu gerbang terbuka di hadapan para sekutu aliran hitam itu berdiri seorang kakek tua sepuh yang misterius sambil tersenyum manis.


"Heyy dari kalian berempat siapa yang bertanggung jawab atas penderitaan yang dialami murid kesayanganku?" teriak sang kakek tiba-tiba begitu keempat hendak melangkah mendekatinya.


"Apaan kakek tua ini" batin mereka.


"Hey orang tua bau tanah!! Apa kau sudah tidak waras?!, berani sekali seorang diri mencari masalah ke markas besarku?!" ketua Zou Lee tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Hehehe... Tidak waras kau bilang? Justru karna aku waras makanya aku kemari" jawab sang kakek itu sambil terkekeh.


"Kakek ini benar-benar sudah tidak waras".


"Kakek tua sinting mati saja kau!!" ketua Zou Lee tiba-tiba melompat begitu tinggi dan menyerang sang kakek dengan kekuatan yang tidak main-main, sang kakek hanya berdiri tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh ketua Zou Lee.


"Kakek ini benar-benar tidak takut mati" batin ketua Zou Lee.


"Hiaaaaaa pukulan Rattan Pasak Bumi gerakan pertama".


Buuummmmmmm....


Duarrkkkkkkkk...


Uakkhhhhh....


"Apaan?!!".

__ADS_1


__ADS_2