Tuan 4 Dewa Mata Angin

Tuan 4 Dewa Mata Angin
Ch.66 Kejadian Di Penginapan Elang Perak (2)


__ADS_3

"Hey pendekar rendah, sebaiknya kalian menyerahkan kamar ukuran besar pada kami kalau kalian tidak ingin mati disini, aku peringatkan pada kalian kami merupakan anggota harimau loreng, dan kalian pasti tau kekuatan kelompok kami" bentak salah satu pria dari anggota harimau loreng begitu sampai di dekat rombongan Xiao Shen.


Bruukkk...


"Kakak benar kalau kalian tidak ingin mati enyahlah dari hadapan kami" tambah salah satu bandit lagi, kakinya ia naikan ke atas meja makan, alhasil semua makanan dan minuman yang belum benar-benar habis itu tumpah dan jatuh terbuang percuma.


"Kenapa masih diam kenapa tidak pergi dari sini, apa kalian berenam buta?!" hardik salah satu bandit lagi.


"Siapa kalian seenaknya mengusir kami? Kamilah yang lebih dulu tiba di sini" tiba-tiba salah satu pendekar sekte pedang giok hijau tidak tahan dan membalas makian para bandit.


"Hahaha rupanya benar-benar bosan hidup ya, kalau begitu akan ku kabulkan permintaan kalian" salah satu bandit langsung mencabut pedang dari pingangnya, ia bermaksud menebas leher pendekar pihak Xiao Shen dengan pedangnya.


Buukkkk...


Bruuukkkk....


Bruk.. Brakk... Gruaakk... Duarkk...


Uhkkk..


Belum sempat pedang itu menyentuh leher pendekar dari pihak Xiao Shen, bandit yang bermaksud menebas leher pendekar sekte pedang giok lebih dulu dipukul dengan sangat keras hingga terlempar puluhan meter, kejadian itu sangat cepat dan para anggota bandit lain bahkan tidak melihat siapa yang memukul temannya, mereka semua menahan nafas melihat temanya itu berlumuran darah dan mati di tempat terhempas tembok rumah makan elang perak.


"Ini?!" mereka semua berkeringat dingin menyaksikan hal itu, bahkan pendekar tingkat petapa agung tahap awal bahkan tidak bisa melakukannya.


"Ap... Apaan itu tadi?!".


"Shen'er bukankah aku memintamu menahan pukulanmu, kau lihat kita bahkan belum sempat bermain-main dengan mereka" tiba-tiba tetua Liau menepuk-nepuk pundak Xiao Shen sambil terkekeh.


"Pak tua bau tanah itu kenapa?" batin para bandit harimau loreng.


"Eh maafkan aku tetua, aku sudah tidak tahan lagi dengan sikap mereka, aku sudah muak dan ingin menghabisi sampah dari kelompok harimau konyol ini" jawab Xiao Shen sambil menatap tajam para anggotan kelompak bandit harimau loreng.


"Kau berani-beraninya kau bocah tengik berkata seperti itu, kau tidak tau sedang berhadapan dengan gunung *** Shan haahh!!" bentak bandit harimau loreng tidak terima.


"Gunung *** Shan apaan sepertian kalian ini, hanya sekumpulan sampah rendahan yang beraninya mengertak orang biasa, bukankah kalian lebih rendah dari gundukan tahi sapi?" celoteh tetua Liau santai sambil duduk tenang, hanya Xiao shen yang kini berdiri menghadapi para bandit harimau loreng.


"Kau... Pak tua bau tanah jaga...!!!"


Buaaakkkkk.....

__ADS_1


"Uaakkkkk... Uhkk... Uhkkk..."


"Kau masih beruntung karna Shen'er tidak mengeluarkan seluruh kekuatannya, kalau seluruh kekuatan Shen'er gunakan maka kau akan bernasib sama seperti temanmu itu" tunjuk tetua Liau sambil meneguk kembali arak dari gelasnya.


"Uhhkk siapa bocah ini, kenapa ia begitu kuat, bahkan aku tidak bisa mengukur basic kultivasinya" batin bandit yang terkena pukulan Xiao Shen.


"Kau jangan menghina paman Liau lagi, atau kalian akan tau akibatnya!" Bentak Xiao Shen sambil mengeluarkan hawa pembunuh yang kuat, Xiao Shen sadar kalau ia menyebut tetua Liau takutnya identitas asli mereka akan terbongkar.


"Uhhhkk ini hawa pembunuh yang kuat siapa sebenarnya mereka" para bandit harimau loreng mulai melangkah mundur merasakan hawa kematian yang dikeluarkan oleh Xiao Shen.


"Hehehe kenapa kalian mundur apa kalian takut pada junior Xiao Shen, ini baru dia yang turun tangan bagaimana dengan diriku" tetua Liau bangkit berdiri dengan linglung karna pengaruh efek alkohol.


"Pak tua ini bagaimana ia begitu santai saat juniornya sedang menghadapi bahaya" batin pelayan rumah makan elang perak.


"Paman... Paman sebaiknya istirahat, biarkan sisanya serahkan padaku" ujar Xiao Shen kuatir, orang tua ini telah sepenuhnya dikuasai oleh alkohol.


"Tidak... Shen'er kau masih terlalu kecil untuk... "


"Hueeekk... Hueekk" tiba-tiba tetua Liau muntah begitu saja di atas meja makan mereka, hal itu membuat orang disekitar menjadi tidak nyaman.


"Para senior tolong bawa paman ke kamar, sisanya serahkan saja padaku" pinta Xiao Shen pada 4 pendekar sekte pedang giok hijau, yang masih berdiri menatap tetua Liau yang masih memuntahkan isi perutnya.


"Senior tidak perlu kuatir cepat urus tetua eh maksudku paham Liau saja".


"Ba... Baiklah" akhirnya para pendekar itu menuruti permintaan Xiao Shen dan membawa tubuh besar dan tinggi tetua liau, jujur apabila tubuh seberat itu di angkat oleh satu atau 2 orang biasa, pasti akan terasa seperti mengangkat seekor gajah, tetapi dengan 4 kultivator maka mereka mampum membawanya dengan mudah ke lantai 2.


Begitu para pendekar sudah naik ke atas lantai 2, Xiao Shen kembali menatap para bandit harimau loreng yang masih gemetar karna aura pembunuh Xiao Shen tanpa henti ia keluarkan. Bahkan ini lebih besar dan kuat dari sebelumnya.


"Anak kecil kau ingin menakuti kami dengan aura pembunuh sepekat ini? Cih jangan harap kami sudah menangani berbagai tipe orang dari aliran putih, tidak mungkin ia mampum mengeluarkan hawa pembunuhan sekuat ini, siapa kau sebenarnya dan kau berani menyinggung kelompok harimau loreng?" salah satu bandit berusaha terlihat tenang di hadapan Xiao Shen, tetapi sebenarnya ia menyembunyikan rasa gugupnya karna hawa kematian yang dikeluarkan oleh Xiao Shen. Bagaimanapun akan ditaruh di mana wajah mereka apabila mereka dikalahkan oleh seorang anak kecil seorang diri.


"Kau ingij tau siapa aku?" tantang Xiao Shen tanpa bergeming.


"Ya siapa kau bocah sombong?".


"Aku... Aku adalah orang yang telah memusnahkan kelompk pendekar harimau merah sampah itu, dan aku juga yang akan menjadi dewa kematian bagi kalian hari ini" jawab Xiao Shen dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.


"Hahaha... Apa kau bilang bocah? Kau yang memusnahkan kelompok bandit harimau merah sendiri?, hahaha lelucon macam apa itu bocah? Wajahmu begitu menawan tetapi sayang mulutmu begitu sombong dan kau akan mati hari ini" perubahan sikap bandit harimau loreng begitu cepat berubah.


"Kita lihat saja siapa yang mati kali ini" jawab Xiao Shen sambil tersenyum. "Nangong sekarang pasang pelindung ilusi" tiba-tiba Xiao Shen berteriak mengangetkan para bandit harimau loreng.

__ADS_1


"Bocah ini apa sudah gila? berteriak pada siapa ia?" Batin para bandit dan juga pelayan rumah makan elang perak, sementara itu bossnya masih bertahan hidup berkat pil yuan penghilang rasa sakit simpanan bossnya untuk berjaga-jaga untuk waktu seperti saat ini.


"Baik master akan aku lakukan" Nangong keluar dari alam spiritual Xiao Shen dan dengan cepat melayang di atas angin memutari para bandit. Ia tidak terlihat sama sekali sehingga dengan mudah berhasil menghiris tipis pipi salah satu bandit menggunakan kukunya yang tajam, irisan kuku jari Nangong setipis irisan kentang untuk digoreng biasanya, dan hal itu begitu saja terjadi tanpa disadari oleh para bandit.


"Aahhhkkkk pipiku!!!" teriak salah satu bandit yang berhasil Nangong iris tipis daging bagian pipinya, ia menjerit kesakitan sambari menutupi pipinya yang sudah hilang sebagian.


"Hey kau kenapa?!!" teman yang lainnya tidak kalah panik melihat darah segar menetes dari wajah yanh ditutupi rekannya.


"Sejak kapan ia melakukannya" batin mereka, yang mereka lihat Xiao Shen hanya berdiri di tempat dan menatap mereka tajam.


"Master perisai ilusi sudah terpasang, oramg diluar tidak akan bisa melihat kejadian di dalam sini" lapor Nangong.


"Kerja bagus Nangong, Pedang Raja 7 Yin saatnya kita beraksi" Xiao Shen mengeluarkan pedang raj 7 Yin dari selongkongan pedangny, ia mengelus pedang itu sebentar lalau tiba-tiba bergerak dengan cepat menggunakan langkah dari teknik indra api.


"Bahaya ia datang!!!" para bandit harimau loreng menjadi waspada melihat kecepatan Xiao Shen.


Zraassss...


Craaarr... Craasss...


"Ini... Kau ib... Iblis... "


Darah segar mencurit keluar dengan deras dari bekas tebasan pedang Xiao Shen, tebasan itu telak mengenai 2 leher anggotan harimau loreng dalam sekali gerakan, kejadian itu terjadi begitu cepat dan sangat singkat, para bandit yang tersisa hanya menyadari 2 kepala yang mengelinding jatuh dari tempatnya ke tempat lain.


"Selanjutnya kalian" ujar Xiao Shen sambil menjilat ujung pedangnya yang terdapat bercak darahnya.


"Tidak aku mohon ampunin kami tuan muda!!!".


"Sudah terlambat!"


Wusshhhh....


Wusshhh... Zrasssss....


Crassss.... Craassss...


***


Oh iya... Kalau kalian ada kesempatan, kunjungi juga karya author yang satunya🙏, judulnya "Sistem Kultivasi Dewa". Jangan lupa ningalin jejak di sana, klik profil author dan jangan lupa follow pasti author follback... Thank😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2