
Tepat di perbatasan kota Songjiang tepatnya di Hutan Vendes, terlihat seorang anak muda yang kira-kira masih berumur 15 tahunan berjalan sendiri ke arah barat. Pemuda itu adalah Tang Shen, kini penampilannya terlihat cukup menawan, dengan pupil mata biru muda dan rambut hitam setengah putih setengah. Tang Shen pergi ke arah barat atas saran dari Xuan Xu, walaupun ia tidak tau apa maksud dari Xuan Xu memintanya berjalan ke arah barat, tetapi Tang Shen tetap menurutinya toh dia juga tidak memiliki tujuan lain saat ini.
"Xuan Xu kenapa kita harus berjalan ke arah barat?".
"Tang Shen kau akan mengerti ketika kau tiba di tujuan kita nanti?" jawab Xuan Wu di pikiran Tang Shen.
"Hmhm Baiklah".
"Bocah apakah kau takut untuk berjalan ke arah barat? Jujur saja di sana akan banyak rintangan yang menghadang jalanmu" Zhu Que tiba-tiba angkat bicara.
"Aku tidak pernah takut sedikit pun, bukankah aku memang terlahir untuk hal itu?" jawab Tang Shen yang masih berjalan menikmati hijaunya hutan Vendes.
"Master memang hebat tidak takut akan suatu apapun" puji Nangong yang juga muncul di pikiran Tang Shen.
"Hey iblis jelek kau tidak diizinkan berbicara disini" dengus Zhu Que.
"Ma... Maafkan aku tuan dewa yang telah lancang ini" jawab Nangong ketakutan.
"Hey Zhu Que kau tidak boleh menekan Nangong seperti itu, bagaimana pun ia itu sudah menjadi makhluk yang baik" tang Shen sudah jenuh mendengarkan hal seperti ini semenjak seminggu yang lalu, seminggu yang lalu setelah Tang Shen dan Xuan Wu membuat janji darah Tang Shen tersadar dari tidur panjangnya, tetapi Tang Sheb bukan berada di ruang pusaka lagi melainkan berada di kamar murid sekte seledang bulan merah. Saat ia tersadar di sampingnya terdapat tetua Zuo Xi yang setia merawatnya atas permintaan matriakr Qing Gong, tetua Zou Xi menceritakan kalau dirinya dibawa matriark Qing Gong 1 bulan 2 minggu yang lalu dari ruang pusaka sekte dengan kondisi tidak sadarkan diri. Matriark Qing Gong mengatakan dirinya tidak tahu kenapa Tang Shen sampai bisa tidak sadarkan diri, tetapi yang pasti dirinya tidak sadarkan diri setelah menyentuh patung kura-kura peninggalan leluhur di tengah altar ruang penyimpanan pusaka.
"Huuh kau selalu membelanya".
"Hey Zhu Que aku tidak membelanya, aku hanya ingin kita akur karna tugas kita masih banyak" jawab Tang Shen.
"Ya terserah apa katamu".
"Zhu Que bukankah sudah berjanji tidak akan menekannya lagi?".
Diam senyap tanpa jawaban...
Tang Shen yang asik mengobrol dengan Zhu Que, tidak menyadari dirinya sudah dekat dengan desa yang bernama Vendesilua. Karna hari sudah sudah mulai sore dan Tang Shen ingin mengisi perut dan juga perbekalannya, akhirnya memutuskan untuk singgah sebentar dan mencari penginapan di desa itu.
--
--
__ADS_1
--
"Tuan ampuni aku tuan!!! Jangan bawa anak gadis kami!" pintang seorang bapak tua rentan berusaha mempertahankan putri tunggalnya.
"Benar tuan kami akan memberi 10 keping perak ini sebagai ganti anak gadisku" rengek seorang ibu lagi dengan nada memelas sambil mengeluarkan uang dari sakunya.
"Cihhh... Memangnya 10 keping perak bisa buat beli apa?!!, kau seharusnya bersyukur kalau anakmu ini kami bawa untuk melayani tuan besar" maki salah satu dari tiga bandit.
"Benar kata saudaraku kalian seharusnya bersyukur, boss besar masih mengampuni nyawa kalian berdua dan hanya mengambil anak gadis kalian yang manis ini" tambah salah satu bandit lagi.
"Lepaskan aku bandit sialan!!! Aku lebih baik mati daripada harus melayani nafsu bejat boss kalian itu" sumpah serapah gadis yang kira-kira berusia 16 tahun marah, yang kini dirinya ditahan di tangan salah satu bandit hidung belang itu.
"Gadis cantik, kau makin manis saja kalau kau marah" rayu seorang bandit sambil menyentuh pipih si gadis lembut, sementara lidahnya menjilat-jilat keluar bibirnya seperti orang yang sangat suka akan sesuatu.
"Kurang ajar lepaskan aku bandit sialan" maki si gadis tidak terima diperlakukan seperti itu.
"Tuan tolong kasihani lah kami, lepaskan anak gadia kami hiks... " sang ibu makin iba melihat anaknya.
"Aku ingin mencicipimu sekarang sayang" bandit itu tambah bernafsu.
"Ah ini selau tidak adil bagiku, kenapa selalu boss besar yang menikmatinya terlebih dahulu, aku juga ingin menikmatinya lebih dahulu" ujar si bandit hidung belang makin tidak sabaran.
"Hey sayangi nyawamu sialan" ingat teman bandit jengah dengan sifat gegabah temannya ini.
"Aku tidak peduli lagi, pokoknya aku ingin menikmati tubuh gadis ini terlebih dahulu, toh kita masih bisa mencari gadis lain untuk boss besar"jawab si bandit yang sedang menatap gadis remaja di depannya dengan penuh nafsu, otaknya sudah tidak bisa berpikir normal lagi semenjak terbawa hawa nafsu.
"Sialan kau ini".
"Sayang datanglah padaku" si bandit berniat memeluk gadia remaja tersebut dengan beringas, liurnya menetes membayangkan sensasi bermain bersama gadis remaja yang manis itu.
Syuuuyyyyyttttt...
Buukkkkkkk...
Ukkkhhhh... Akhhhhhh....
__ADS_1
Sebuah batu kerikil melesat dengan kecepatan tinggi yang mengarah ke bandit tepat mengenai tekuknya.
"Uhkk siapa itu yang berani beraninya menyerangku secara diam-diam!!" teriak bandit itu marah besar sembari menahan rasa sakit, saat dirinya hendak memeluk gadis remaja itu, ia diserang oleh batu kerikil sebesar ibu jari orang dewasa. Alhasil batu itu tepat mengenai tekuknya, hingga akhirnya dirinya jatuh tersungkur di hadapan gadis muda yang ketakutan karnanya.
"Hey keluar kau!!! Kalau kau masih sayang nyawamu" teriak teman bandit yang terjatuh itu meningkatkan kewaspadaannya.
"Hey pengecut kau tidak tau berhadapan dengan siapa huh?!!! " teriak bandit yang satunya lagi.
"Uhhkk orang ini sepertinya bukan sembarangan, batu kecil saja bisa menjadi senjata mematikan seperti ini" batin bandit yang tersungkur ke tanah tadi, dirinya cepat menggunakan tenaga dalam untuk menutup lukanya dan menghentikan pendarahan.
"Keluar dasar pengecut!!!".
"Akhir-akhir ini aku merasa para penjahat sering mengomel tidak jelas, kalian tau aku muak mendengarnya" tiba-tiba seorang pemuda menawan tersenyum ke arah para bandit, pemuda dengan pupil mata biru dan rambut hitam putih mendekati para bandit sambil berjalan santai.
"Siapa kau?".
"Apa aku harus memberitahukan jati diriku pada orang yang yang sebentar lagi akan mati" jawab Tang Shen sambil menyeringai tersenyum mengejek.
"Ciihh... Hanya tuan muda yang sombong, kau pikir dengan penampilanmu kami akan takut padamu".
"Oh ya? Kalau begitu majulah bersama-sama, jangan sungkan, keluarkan jurus terbaik dan senjata terbaik kalian" tantang Tang Shen sambil tersenyum.
"Sialan... Ayo saudaraku kita serang dia bersama-sama, aku ingin merobek mulut sombongnya itu".
"Baik saudaraku ayo maju sama-sama!! ".
"hiyaaaa".
"Huhhhh dasar sampah" Tang Shen hanya tersenyum kecil melihat mereka semua menyerangnya dengan pisau sederhana yang rapuh.
"Mati kau bocah sombong".
"Akan ku cincang-cincang badanmu nanti, dan akan ku berikan pada hewan spiritual boss besar".
"Mati kau bocah".
__ADS_1
"Ciihh coba saja kalau kalian bisa!".