Tuan 4 Dewa Mata Angin

Tuan 4 Dewa Mata Angin
Ch.40 Tidak Tau Terima Kasih


__ADS_3

Ketika hari sudah menjelang sore dan matahari sudah kembali ke pangkuannya, bulan pun keluar mengantikan sang raja surya.


Tang Shen telah selesai memulihkan tenaga dalamnya seperti sedia kala, sementara itu Nangong juga telah selesai menjalani misinya, yaitu menghapus kembali ilusi Kabut Mata dari desa Vendesilua.


Tang Shen lalu menembakan tanda cahaya ke langit malam, tanda itu hanya kepala desa Vendesilua yang mengetahui artinya. Setelah melihat tanda dari Tang Shen kepala desa segera mengajak seluruh penduduknya kembali, desa Vendesilua yang awalnya sepi bak kota mati kini telah kembali hidup sibuk dengan riuh pikuh para penduduk. Suara tangis anak kecil terdengar bersahutan malam itu karna merasa tidurnya terusik, sementara itu sebagian pria dewasa segera menemui Tang Shen.


"Anak muda terima kasih atas pertolonganmu" ujar salah satu penduduk desa Vendesilua seperti ketakutan pada Tang Shen.


"Be... Benar pendekar kami sangat berterima kasih padamu" ujar kepala desa gugup.


"Kalian tidak perlu sungkan begitu padaku, ini semua adalah kemauan dan juga janjiku pada kepala desa" jawab Tang Shen.


"Tuan, desa kami sudah aman, sebaiknya tuan segera pergi dari desa kami" tiba-tiba seorang pria berumur sekitar 24 tahun angkat bicara, para pria dewasa dan kepala desa seketika itu juga menatap pemuda bujangan itu dengan tatapan tajam.


"Apa kau sudah gila".


"Apakah kau sudah tidak sayang dengan nyawamu lagi hahh!" bentak kepala desa.


"Anu maksudku bukan begitu, aku tidak bermaksud mengusir tuan pendekar dari sini" jawab si pemuda sambil menunduk ketakutan.


"Sudah sudahlah... kakak ini mungkin terlalu lelah, jadi bicara ngelantur" ujar Tang Shen berusaha meluluhkan suasana yang tegang saat ini.


"Aah, mungkin pendekar muda benar".


"Pendekar mari ke rumah saya, istri saya membuat jamuan untuk kita merayakan kemenangan pendekar" tawar kepala desa kepada Tang Shen.


"Ah baiklah pak, aku jadi merepotkan istri bapak".


"Tidak-tidak masalah, malah sebaliknya kami yang merepotkanmu anak muda" jawab kepala desa menggelengkan kepalanya cepat.


"Baiklah... Pak kepala desa tidak perlu sungkan, ini adalah janjiku padamu kan? ".


"Pendekar muda benar, Mari pendekar lewat sini".

__ADS_1


"Baik"


Tang Shen mengikuti langkah kepala desa Vendesilua dari belakang dengan perasaan aneh, apa yang terjadi sebenarnya dengan penduduk desa? Kenapa sikap mereka berubah padanya?.


"Nak kau juga merasakn perubahan sikap para penduduk desa ini?" Zhu Que tiba-tiba bicara pada Tang Shen.


"Ya aku merasakannya? Apakah kau juga Zhu Que?".


"Ya, sepertinya ada suatu hal yang terjadi hingga penduduk desa menjadi dingin padamu" jawab Zhu Que.


"Kira-kira apa itu?".


"Entahlah aku tidak tau pasti itu, yang jelas sekarang mereka berusaha mengusirmu dari desa ini secara halus".


"Sebenarnya apa yang terjadi" batin Tang Shen.


"Pendekar mari lewat sini".


--


--


--


Sementara itu sepeninggal Tang Shen dan kepala desa Vendesilua, para pria dewasa menegur pemuda bujang yang tanpa sengaja tadi berbicara mengusir Tang Shen.


"Kau tadi itu sangat ceroboh, bagaimana kalau pendekar itu tersinggung dengan ucapanmu?" tegur salah satu bapak tua kepada pemuda tadi.


"maafkan aku, aku hanya tidak tahan kalau dia berada di desa kita ini. Dia hanya akan membawa musibah besar, dan juga marabahaya bagi desa kita ini" jawab si pemuda membela diri.


"Aku tau maksudmu, tetapi hal ini kau tidak perlu berkata berterus terang seperti tadi, seandainya pendekar itu tersinggung tadi. Bukan hanya nyawamu yang melayang, tetapi nyawa seluruh penduduk desa ini juga akan ikut terancam" ingat para dewasa itu lagi.


"Aku tau akan hal itu, aku tadi sungguh ceroboh hingga keceplosan bicara di hadapannya".

__ADS_1


"Kau tau anak muda itu adalah pendekar aliran putih yang paling kejam yang pernah aku liat seumur hidupku, caranya membunuh para bandit itu bahkan lebih kejam daripada aliran hitam kebanyakan".


"Ya kau benar, aku saja ingin muntah menyaksikan kejadian tadi siang. Mayat-mayat hancur itu dibiarkannya begitu saja dimakan oleh binatang, sementara dia dengan santainya duduk berkultivasi di dekat tumpukan mayat-mayat itu".


"Bukan hanya itu saja, cara membunuhnya ada cara terkejam yang pernah aku saksikan seumur hidupku".


"Pemuda moster itu harus segera kita usir dari desa ini, sebelum membawa musibah dan marabahaya lagi".


"Kau benar semoga saja kepala desa bisa mengusirnya dengan segera dari desa kita ini".


"semoga saja begitu".


Sementara itu Nangong yang belum kembali ke ke Tang Shen tanpa sengaja mendengar ucapan para penduduk, dirinya tidak habis pikir atas sikap penduduk yang menurutnya sangat aneh. Bukanya mengucapkan terima kasih tetapi malah menghujat masternya dari belakang, manusia manusia tidak tau terima kasih pikir Nangong.


"Jadi itu alasan master dibenci warga desa ini" gumam Nangong yang tanpa sengaja menguping percakaan para penduduk.


"Benar-benar tidak tau terima kasih, sudah di tolong bukannya mengucapkan terima kasih. Ini malah menghujat dan juga menghina master, benar-benar manusia memalukan" guman Nangong marah.


"Aku harus segera kembali ke master dan menceritakan semuanya, aku tidak ingin master di usir secara paksa oleh mereka" batin Nangong.


Lalu Nangong segera pergi menyusul Tang Shen yang telah pergi ke rumah kepala desa, Nangong ingin segera Tang Shen tau berita penting ini.


Sepanjang perjalanan Nangong bingung, memikirkan bagaimana cara terbaik menyampaikan hal ini pada masternya. Dia tidak ingin masternya tersinggung, apalagi sampai kecewa dan juga marah atau sedih. Benar-benar manusia payah dan aneh pikir Nangong, sudah ditolong malah memperlakukan master seperti ini. Di kasih hati malah minta jantung, mungkin itulah kata yang paling tepat untuk kondisi saat ini.


.......


--


--


***Guys author udah crazy up nih hari iniπŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Jadi hargai karya author dengan cara ningalin jejak, author harap kalian masih setia baca PPS*

__ADS_1


__ADS_2