Tuan 4 Dewa Mata Angin

Tuan 4 Dewa Mata Angin
Ch.70 Sekte Ledakan Surgawi


__ADS_3

Buaammmmmm...


Duarrkkkkk...


"Apa yang terjadi?!" semua pertanyaan terlontar dari mulut semua orang yang menyaksikan pertempuran itu.


"Uakhhhhhkk.... Ukhhakk" dari tengah-tengah debu yang berhamburan terdengar batuk seseorang yang sepertinya ia mengalami muntah darah, tebakan semuanya tentu sang kakeklah yang muntah darah itu. Tetapi bagaimana mungkin ia masih hidup dan sanggup menahan pukulan sekuat itu dari seorang pendekar suci terhormat.


Duaaarrkkkk.... Buammmmmm...


Terdengar sekali lagi suara ledakan besar hingga mampu membuat hutan kembali bergetar hebat, debu semakin tebal menyelimuti sang kakek dan ketua Zou Lee saat itu.


"Apaan ini bagaimana mungkin sang kakek masih bisa melawan untuk kedua kalinya?" pertanyaan terlontar dari mulut masing orang yang masih bingung dengan apa yang terjadi di tengah-tengah debu tebal itu.


"Tetua dan jenderal apa yang harus kita lakukan? Apakah kita perlu turun tangan?" ketua Hiau Feng kuatir akan keselamatan saudaranya.


"Tunggu dulu!! Kita lihat apa yang terjadi baru ikut campur" tahan tetua Bian Hau.


"Ba... Baik tetua".


"Uaakkhhh mustahil!!" tiba-tiba terdengar suara ketua Zou Lee dari tengah-tengah debu tebal itu, suaranya seperti menahan rasa sakit dan juga terkejut akan sesuatu.


Wussshhhhh... Syutttttttssss...


Seseorang tiba-tiba melompat keluar dari dalam debu tebal ke arah markas, orang itu tidak lain adalah ketua Zou Lee yang sepertinya mengalami luka yang cukup parah, ia memengai dadanya dan sesekali menyapu ujung bibirnya yang mengeluarkan darah segar.


"Saudaraku apa yang terjadi di sana? Bagaimana mungkin kau yang bisa terluka parah?, kakek itu bagaimana keadaannya" pertanyaan terlontar bertubi-tubi keluar dari mulut ketua Hiau Feng, ia terkejut begitu melihat keadaan saudaranya yang terluka cukup parah.


"uukkhh... Sial kakek tua itu licik sekali, dia sudah melakukan persiapan yang matang dari awal, ia membawa 2 orang bersamanya dengan kekuatan yang tidak kalah dariku" jelas ketua Zou Lee sambil kembali terbatuk dan muntah darah, ia sesekali memegangi dadanya yang terasa sesak dan juga beberapa tulang rusuknya ada yang patah.


"2 orang yang tidak kalah darimu? Berarti setidaknya mereka berada di tingkat pendekar suci terhormat?, siapa kakek tua ini kenapa ia bisa membawa begitu banyak pendekar hebat bersamanya?" ketua Hiau Feng menatap debu yang mulai menghilang karena hembusan angin malam di hutan.


"Berhati-hatilah aku akan memulihkan keadaanku terlebih dahulu, aku minta tolong lindungi aku" pinta ketua Zou Le yang mulai duduk bersemedi untuk memulihkan keadaannya.


"Baiklah kau tenang saja serahkan pada kami" jawab ketua Hiau Feng kembali fokus pada musuh di hadapan mereka kali ini.

__ADS_1


Kini debu tebal itu benar-benar sudah hilang dan kini di sana berdiri 3 sosok orang yang begitu asing bagi mereka semua dari aliran hitam, ketiganya menggunakan pakaian jubah yang berbeda-beda dan dengan wajah dan usia yang berbeda pula.


"Guru tidak apa-apa?" salah satu sosok pemuda tampan dengan kulit putih serta pupil mata biru laut, ditambah dengan rambut panjangnya yang seputih perak hingga bersinar di bawah bulan purnama malam itu, ia menanyakan keadaan kakek sepuh yang kini melonggo melihat penampilannya. Pemuda itu tinggi ramping dan menggunakan jubah bak seorang pangeran dengan balutan kain warna merah api menyala, pada setiap rajutan bajunya begitu indah dan rapi di bagian dadanya terdapat rajutan sayap hewan dewa phoenix api, ia membawa kipas dan pedang bersarung di punggungnya. Lalu pemuda tampan itu berjalan dengan elegannya menghampiri kakek tua yang ia panggil guru itu.


"A... Ak... Aku baik-baik saja muridku terima kasih atas pertolongan kalian" jawab sang kakek sepuh terbata-bata, lalu pandangannya beralih pada salah satu pemuda tampan lainnya yang juga terlihat tidak kalah tampan juga.


Pemuda itu memiliki kulit seputih kapas dengan rambut hitam panjang, pupil matanya berwarna hijau giok dengan alis serta rahang yang tegas, badannya sangat profesional dengan tubuh tinggi semampai, ia mengenakan jubah serba hitam di bagian belakangnya jubah terdapat jahitan gambar senjata dewa trisula mata tiga yang melegenda, ditambah dengan sebuah pedang bersarung hitam bertenger di punggungnya. Pemuda tampan satu ini hanya sekilas melihat sang kakek tatapannya kembali tajam melihat musuh di hadapannya.


"Saudaraku bagaimana keadaan guru?" tanya pemudah jubah hitam itu sambil masih fokus menatap para musuh di depannya.


"Kau tenang saja guru baik-baik saja" jawab pemuda baju merah sambil menuntun gurunya untuk maju sejajar dengan pendekar tampan berjubah hitam.


"Apaan ini kenapa tidak sesuai dengan rencana?" batin sang kakek tua kesal.


"Guru tidak perlu kuatir kami ada disini".


"Hmhm ba... Baiklah" jawab sang kakek tua masih tidak terima dengan kondisi saat ini.


Sementara itu para aliran hitam melonggo melihat ketampanan kedua pemuda yang mengakui kakek tua sepuh itu guru, bagi mereka tidak ada manusia setampan itu di dunia ini bahkan para pangeran dari kekaisaran besarpun belum tentu memiliki seorang pangeran sesempurna itu. Andaikan ada wanita saat itu mungkin mereka sudah mimisan dan jatuh pingsan karna tidak sanggup melihat keduannya, kedua pendekar itu begitu sempurna untuk dijadikan pasangan masa depan bagi wanita alam manusia.


"Kedua pendekar muda itu adalah muridnya? Luar biasa semudah itu sudah mencapai tingkat pendekar suci terhormat, aku tebak umur mereka belum genap 20 tahun dan mereka memiliki guru sehebat kakek itu" batin ketua Hiau Feng kagum.


"Huuhh baru bertindak sopan pada guru saat kami datang, kalian terlalu meremehkan guru kami yang sekaligus patriark sekte kami ini" jawab pendekar berjubah merah dengan sombongnya.


"Sekte? Mereka pasti berasal dari sebuah sekte besar dan tidak berasal dari kekaisaran Zhen ini, ya aku yakin begitu karna bagaimanapum kekuatan muridnya saja sudah sehebat ini apalagi patriark mereka. Lalu apakah muridnya ini sepenting itu hingga sampai patriark mereka sendiri yang turun tangan untuk balas dendam?" batin ketua Hiau Feng.


"Maaf kalau kami boleh tau berasa dari sekte manakah senior ini?".


"Kami berasal dari sekte Ledakan Surgawi" jawab pendekar berbaju merah kembali, ia tidak ingin kakek tua di sampingnya ini menghancurkan semuanya.


"Menyebalkan ia bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk berbicara, dasar burung jelek" batin sang kakek.


"Sekte Ledakan Surgawi? Aku tidak pernah mendengarnya apakah para... "


"Sudah jangan banyak bertanya kalian harus bertanggung jawab karena telah berani melukai muridku di penginapan elang perak" jawab sang kakek sepuh secara spontan, ia jengah mendengar pemudah berbaju merah menceritakan kebohongan yang membosankan.

__ADS_1


"Tung... Tunggu sebentar ketua kami tidak mengerti maksudnya, apakah luka murid ketua itu sangat parah?".


"Jangan banyak bertanya lagi sialan!! Junior kami terluka parah dan mungkin tidak akan bisa berkultivasi lagi selamanya gara-gara ulah kalian" hardik pemuda berjubah merah lagi.


"Apaa... Apakah separah itu?!" mereka semua terkejut mendengarnya, bagaimana mungkin para bandit harimau loreng telah berurusan dengan orang-orang kuat seperti ini.


"Oh juniorku kau sungguh kasihan, nasibmu begitu menyedihkan biarkan senior membalaskan dendammu pada mereka" Pemuda berjubah merah kembali berdrama sebaik mungkin.


"Sialan Zhu Que ini mendoakan aku benar-benar tidak bisa berkultivasi lagi apa?, aku akan memberi kalian pelajaran setelah ini" hardik sang kakek dalam hati kesal melihat tingkah pemuda tampan di sebelahnya ini.


"Sudah saudara Zhu Que kau tidak tidak perlu meratapinya lagi, yang bisa kita lakukan adalah membalaskan dendam junior" tiba-tiba pemuda tampan berjubah hitam satunya ikut berbicara.


"Kau benar saudara Xuan Wu kita harus membalaskannya untuk junior" jawab pemudah itu yabg ternyata adalah perwujudan manusia Phoenix surgawi sembilan ekor.


"Adik junior Nangong bawa kemari senjata guru besar kita" perintah Zhu Que.


"Baik Senior" tiba-tiba terdengar suara mungil dari semak-semak belakang ketiganya, lalu muncul anak kecil yang mungkin berusia 10 tahun dengan kulit putih dengan jubah putih pula, walau pun masih sangat belia tetapi ketampanan bocah ini sudah terpancar sejak dini. Pupil matanya merah menyala dengan rambut panjang yang juga diikat ke belakang, membawa sebilah pedang berwarna hitam keungguan bersamanya, pedang itu lebih panjang dari tubuh bocah itu sendiri hingga membuat terlihat agak kesulitan membawanya.


"Guru ini pedang guru" sodor sang bocah pada kakek tua yang kini semakin melonggo melihat penampilan bocah itu.


"Sialan ini sudah tidak sesuai rencana, bukankah rencana awal kami semua akan menjadi orang tua sepuh dan aku sebagai pemimpin di antar kami semua untuk membela junior kami, lalu kenapa aku yang menjadi sangat tua di antara mereka yang berusia ribuan bahkan jutaan tahun ini. Ini tidak bisa dibiarkan bahkan nangong pun ikut pula mengerjaiku" batin sang kakek sepuh yang ternyata Xiao Shen, ia menyamar menjadi sosok kakek tua atas rencana Xuan Wu. Tapi ia tidak menyangka mereka semua menyamar menjadi manusia tampan dan imut dengan usia yang belum genap 18 tahun.


"Guru kenapa?" tanya Nangong melihat gurunya ngos-ngosan seperti baru selesai lari maraton.


"Ahhh aku tidak papa Nangong" jawab Xiao Shen sambil. Mengeluarkan hawa pembunuh yang kuat.


"hehehehe baiklah guru" Nangong sadar masternya tidak terima karna ini tidak sesuai dengan rencana.


"Guru sudahlah Nangong masih kecil wajar ia kesulitan membawa pedang guru" lerai Zhu Que sebelum penyamar mereka terbongkar.


"Baiklah... baiklah sekarang giliran mereka" jawab Xiao Shen sambil berbalik dengan kini memegang pedang raja 7 Yin.


"Senior tunggu dulu kita bisa... "


"Api Phoenix, serangan bola api ganas.... "

__ADS_1


Duarr... Duarr... Duar... Duar... Duarr....


Buaammmmmmmmmm...


__ADS_2