
Tang Shen telah menebak kalau ketua bandit harimau merah pasti akan menyerang desa Vendesilua, ketua bandit itu pasti marah setelah mendengar kabar tentang kematian anak buahnya. Tetapi Tang Shen tau kalau para bandit tidak akan menyerang saat itu juga, jadi Tang Shen masih memilili kesempatan menyusun rencana untuk menjebak para bandit itu di dalam desa Vendesilua.
"Tuan muda aku sarankan kau tidak perlu menghadapi mereka, mereka itu adalah bandit yang sangat ganas dan haus darah. Aku kuatir kalau mereka akan ke sini untuk membalaskan dendam anak buahnya yang telah kau bunuh itu, sebaiknya kau pergi dari desa ini kami akan menahan mereka untukmu sementara di sini" saran kepala desa pada Tang Shen, menurutnya Tang Shen masih terlalu muda untuk menghadapi masalah seperti ini.
"Bapak tidak perlu kuatir, aku memiliki caraku sendiri untuk menghadapi mereka" jawab Tang Shen agar si bapak tidak kuatir.
"Nak kau masih terlalu muda, jalanmu masih panjang sebaiknya kau turuti kata-kataku saja dan pergi dari sini".
"Tidak pak aku sudah bertekad akan menghentikan para bandit itu, apapun resikonya aku akan menghadapinya".
"Nak aku tahu niatmu sungguh sangat baik, tapi aku tidak ingin kau mati hanya karna desa yang hampir mati ini" ujar kepala desa sambil menepuk-nepuk pundak Tang Shen
"Tidak pak aku tulus membantu".
"Jadi apa rencanamu dan juga apa yang bisa aku lakukan untukmu?.
"Bapak tidak perlu kuatir, aku hanya minta satu permintaan padamu".
"Apa itu nak? Aku akan menuruti permintaanmu dengan sepenuh hati, asalkan itu berada di kemampuanku".
"Aku minta pada bapak dan seluruh penduduk desa Vendesilua untuk mengungsi ke tempat aman dulu malam ini, aku akan memberi kode pada kalian kalau aku sudah berhasil mengalahkan para bandit itu".
"Lalu kau sendiri bagaimana?".
"Aku akan menunggu mereka di desa ini sendiri, jadi aku tidak ingin memiliki beban dengan harus melindungi kalian juga di sisiku".
"Nak apa kau yakin?" kepala desa Vendesilua sadar, dengan adanya keberadaan mereka akan menambah beban Tang Shen saat melawan bandit-bandit.
"Ya pak aku yakin rencanaku kali ini akan berhasil".
"Baiklah kalau memang itu keputusanmu anak muda, aku hanya bisa mendoakanmu semoga kau berhasil dan baik-baik saja".
"Terima kasih pak, aku mohon malam ini juga seluruh penduduk segera mengungsi dari desa ini sebelum para bandit itu tiba".
"Baik anak muda akan ku laksanakan hal itu segera".
"Terima kasih atas bantuan bapak".
"Kau tidak perlu mengucapkan terima kasih, seharusnya kami yang mengucapkan terima kasih padamu, yang telah mau membasmi para bandit itu dari desa kami ini".
"Bapak tidak perlu sungkan ini adalah kewajibanku sebagai salah satu pendekar aliran putih".
__ADS_1
"Baiklah pendekar, aku mohon undur diri untuk memberitahukan hal ini pada warga. Dan segera mengajak mereka mengungsi secepatnya dari desa ini" ujar kepala desa undur diri.
"Baik pak aku harap setelah besok pagi desa ini benar-benar telah kosong, dan ingatkan pada mereka jangan ada yang keluar dari tempat persembunyian sebelum mendapat tanda dariku" ingat Tang Shen.
"Baik pendekar".
Lalu kepala desa berlalu dari hadapan Tang Shen, untuk memberitahukan informasi itu pada warga.
Tang Shen menatap punggung kepala desa Vendesilua dengan tatap nanar, dia harap rencananya berjalan lancar tanpa menimbulkan korban jiwa dari pihak penduduk desa Vendesilua.
"Hey bocah kenapa kau tidak langsung ke markas para bandit itu saja?" tiba-tiba phoenix surgawi berbicara di pikiran Tang Shen.
"Aku sudah memiliki rencanaku sendiri, aku tidak ingin keberadaan kalian semua di ketahui oleh orang lain".
"Terserah katamu saja".
"Hmhm... "
--
--
--
Senja mulai memudar tergantikan pekat bertabur bintang bertemakan temaram sinar rembulan
Malam hari di desa Vendesilua...
Malam itu ditemani oleh cahaya bulan purnama, desa Vendesilua sibuk melakukan perpindahan penduduk ke bukit belakang desa, para ibu, anak-anak dan lansia di masukan ke dalam kereta kuda karna hari sudah malam, sedangkan para pria menuntun jalan dari sisi kiri, kanan, depan dan belakang kereta yang jumlahnya puluhan itu.
Walaupun desa Vendesilua terbilang miskin dalam hal ekonomi, tetapi hampir setiap kepala keluarga memelihara kuda. Selain untuk mempermudah proses panen mereka, kuda juga untuk mempermudah mereka menempuh perjalanan jarak jauh mereka.
Proses pengungsian mereka diawasi langsung oleh kepala desa dan juga Tang Shen, Tang Shen mengantar mereka hingga ke perbatasan desa bagian belakang.
Tidak lupa Tang Shen berpesan pada mereka semua jangan sekali-kali keluar dari bukit, sebelum mendapat tanda darinya untuk keluar. Hal ini agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan olehnya, Tang Shen berusaha menghindari pertumpahan darah antara penduduk dan juga para bandit.
"Pendekar muda seluruh penduduk desa sudah keluar dari desa, sisanya kami serahkan padamu aku harap kau berhasil membasmi mereka" ujar kepala desa Vendesilua sebelum berpisah dengan Tang Shen di perbatasan desa belakang.
"Kalian tenang saja aku akan baik-baik saja, tunggu kabar baik dariku" jawab Tang Shen sambil tersenyum di bawah terangnya bulan purnama malam itu.
"Nak aku bangga padamu" ujar kepala desa menepuk-nepuk pundak Tang Shen.
__ADS_1
"Terima kasih pak, sebaiknya kalian cepat pergi karna sebentar lagi pagi hari akan tiba. Aku tidak ingin para bandit itu mengendus kepergian kalian, ku mohon bapak jaga penduduk desa untukku" pesan Tang Shen.
"Itu pasti, tanpa kau suruh pun pasti akan ku jaga mereka semua. Sebagai kepala desa Vendesilua, aku memiliki tanggung jawab atas keselamatan seluruh penduduk desa Vendesilua".
"Bagus kalau begitu kita berpisah dulu di sini".
"Baiklah pendekar, kami pamit dulu. Jaga dirimu baik-baik" sebenarnya kepala desa Vendesilua tidak tega meninggalkan Tang Shen sendirian di desa sendirian, tetapi hal ini semua adalah permintaan Tang shen sendiri jadi mau tidak mau dia harus menurutinya.
"Baiklah ketua desa kalian juga hati-hati di jalan".
Akhirnya seluruh penduduk desa pergi mengungsi ke belakang bukit di desa Vendesilua, Tang Shen lalu melesat kembali masuk ke desa yang sepi itu, desa Vendesilua bak sebuah desa mati tanpa penghuni sama sekali.
"Lalu Tang Shen apa rencana kita?" Tanya Zhu Que.
"Aku ingin iblis ilusi menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu".
"Tugas apa yang kau berikan padanya?".
"Kau akan tau nanti".
"Pelit sekali kau memberitahu ku rencanmu saja".
"Hey kau akan kagum pada rencanaku nanti".
"Oh ya, aku rasa rencanamu akan gagal".
"Tidak akan".
"Terserah kau saja mau bilang apa".
"Kita lihat saja".
"Ayo".
"Siapa takut".
"kau kira aku takut".
"Sudahlah Tang Shen jangan ladeni Zhu Que, kau sebaiknya fokus pada rencanamu" lerai Xuan Wu yang akhirnya angkat bicara.
"Baiklah".
__ADS_1
Tang Shen lalu masuk dalam rumah salah satu penduduk yang tidak jauh dari gerbang desa, di dalam rumah itu Tang Shen bersemedi sambil menunggu pagi tiba.