
Bukkkk....
"Uhhhhkkk"
Sekali lagi Mo Xiao terkena pukulan Xiao Shen telak, Kali ini Mo Xiao tidak menyadari serangan Xiao Shen karna menggunakan langkah seribu api.
'Uuhhhhhkkk sial... Bagaimana mungkin ia terus bisa memukulku, sedangkan seranganku sama sekali tidak ada yang dapat mengenainya" batin Mo Xiao geram, selama pertarung ia sama sekali tidak bisa menyentuh secuil pun baju atau rambut Xiao Shen. sedangkan Xiao Shen selalu bisa memberinya pukulan yang telak padanya, bahkan beberapa kali ia tertipu dengan gerakan Xiao Shen yang sangat sulit dibaca.
"Bagaimana senior Xiao? Apakah masih bisa diteruskan latihan ini, aku lihat tenaga dalam senior sudah mulai terkuras habis" Xiao Shen menatap musuhnya dengan senyum tipis.
"Sialan kau, aku masih sanggup menghadapimu" nafas Mo Xiao mulai memburuh tidak teratur akibat dari pertarungannya dengan Xiao Shen, tenaga dalam Mo Xiao hampir karena menggunakan pedang giok darah.
"Kalau itu kehendak senior aku hanya akan menemani".
"Cihh aku akan mengeluarkan seluruh kemampuanku kali ini, aku tidak akan sungkan dan menyembunyikannya lagi" Mo Xiao semakin marah melihat Xiao Shen yang tidak terluka sama sekali.
"Apa maksudnya" batin Xiao Shen bingung.
"Kali ini aku harus menggunakan jurus itu, aku tidak boleh kalah dari bocah ini. Bagaimanapun aku adalah jenius dari sekte pedang giok hijau, bagaimana aku menanggung malu kalah dari anak berusia 16 tahun" Mo Xiao berpikir keras untuk mempertahankan ketenarannya sebagai jenius sekte.
"Aku mulai bersiaplah" Mo Xiao memberi aba-aba.
"Pedang Giok Haus Darah, Pedang Roh Kematian Haus Darah".
"Uuhhhhkkkkk perasaan ini? Ini adalah hawa kematian dan kebencian, bahkan kemarahan ini membuatku merinding kuat sekali" orang-orang yang sudah menjauh dari lapangan latih tanding, tetap saja terkena dampak dari kekuatan pedang giok darah.
Hawa kematian ini berasal dari para arwah yang sudah mati oleh pedang giok darah, selama ini mereka disegel di dalam Pedang giok darah untuk digunakan sewaktu-waktu untuk petermpuran.
"apaan pedang itu, aku pertama kali merasakan hawa kebencian seperti ini" gumam Xiao Shen.
"Bocah berhati-hatilah, itu adalah jurus puncak dari pedang giok darah. Nama jurus itu adalah Pedang Roh Kematian Haus Darah, jurus itu amat berbahaya sekali, biarpun kau sudah mencapai tingkat pendekar suci terhormat. Kau harus tetap berhati-hati menghadapi jurus ini, bagaimanapun mungkin saja ada Roh kematian dengan tingkat pendekar suci terhormat di dalam pedang itu" Zhu Que memperingati Xiao Shen.
"Roh kematian? Apa maksudmu Roh kematian" Xioa Shen mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Roh kematian adalah pasukan paling mengerikan selain pasukan dewa iblis dan kaisar dewa surga".
"Biar aku saja yang menjelaskan" tiba-tiba Xuan Wu angkat bicara, ia jengah mendengar Zhu Que terlalu bertele-tele menjelaskan tentang roh kematian.
"Baiklah biarlan suadara Wu saja yang menjelaskannya".
"Maksud dengan memiliki para roh kematian itu kau bagaikan memiliki pasukan abadi yang sangat kuat. Kekuatan roh kematian itu setara dengan kekuatan mereka sewaktu hidup dulu, para roh kematian yang terkurung di pedang giok darah akan mengamuk apabila sekali saja dikeluarkan. Oleh karna itu orang yang menggunakan jurus pedang giok darah dan mengeluarkan jurus pamungkas, harus memiliki daya tahan tubuh yang kuat dan tenaga dalam yang sangat banyak. Ia harus mampu mengontrol para roh kematian yang haus akan darah, karna para roh kematian yang tersegel tidak peduli itu pemiliknya atau pun lawan dari tuannya, mereka akan menyerang siapa pun yang berada di sekitarnya apabila lepas kendali".
"Kenapa roh kematian menyerang pemilik pedang giok darah?, bukankah seharusnya mereka mengikuti perintah si empu pedang" Xiao Shen makin bingung.
"Itu tidak semudah yang kau pikirkan, para roh kematian begitu murka karna selama ini tidak diperbolehkan berinkarnasi, jadi tidak salah mereka sangat membenci pemilik pedang giok darah yang telah menyegel roh mereka di dalam pedang. Parahnya lagi para roh kematian yang sudah tidak dapat berinkarnasi itu dibuat menjadi pasukan untuk bertempur kembali, padahal saat mereka hidup mereka menjalani hidup penuh pertempuran dan kesusahan perang. Sudah mati pun tidak tenang masih saja bertarung habis-habisan, tapi perbedaannya ini bukan kehendak mereka sendiri melainkan pemilik pedang giok darah" jelas Xuan Wu panjang lebar.
"Sungguh pedang yang kejam" gumam Xiao Shem mengepal tangannya menahan amarah.
"Bocah kurang ajar, musuh di depanmu berani-beraninya kamu mengabaikanku. Hari ini aku akan memberimu pelajaran, orang sepertimu memang pantas mati" Mo Xiao makin murka melihat Xiao Shen melamun seperti sedang berpikir dan berbicara dengan seseorang, bahkan Mo Xiao tambah heran karna Xiao Shen tidak terganggu sama sekali dengan hawa pedangnya. Ia melihat Xiao Shen berdiri dengan tenang tanpa bergetar atau berkeringat sedikit pun, Mo Xiao sendiri bergetar hebat dan berkeringat merasakan hawa pedangnya sendiri, hal ini karna ini masih pertama kali menggunakan jurus puncak pedang giok darah.
"Maaf senior ini adalah latih tanding, kenapa senior mengincar nyawaku" Xiao Shen segera tersadar dari lamunannya.
"Senior benar keterlaluan, apakah seperti ini didikan para guru di sekte ini?" Xiao Shen menggeleng kepalanya, ia tetap tenang di bawah tekanan hawa pedang giok darah.
"Aku tidak peduli dengan itu... Kau pikir kau akan selama kali ini?, ciihh jangan harap".
"Senior benar-benar sudah dikendalikan oleh nafsu, cepat sadar senior sebelumnya semuanya terlambat" peringat Xiao Shen yang sudah mulai waspada tetapi masih dalam postur tenang.
"Hahaha anak kecil sepertimu ingin mengajariku, tunggu 10 tahun lagi bocah. Itupun kalau kau selamat hari dari pedangkuh ini, matilah kauuuu..."
Syuuuttttttyyyyy.....
Duaaarrrrrr....
"Sial lagi-lagi meleset, sebenarnya gerakan apa yang digunakan bocah ini" Mo Xiao tambah murka, matanya benar-benar sudah digelapkan oleh nafsu membunuh yang amat kuat.
"Huuuhhsss hampir saja" Xiao Shen bernafas lega.
__ADS_1
"Ayah apakah ayah merasakan hawa ini?, ini sungguh berbahaya untuk anak itu. Bagaimana kalau dia mati di pedang giok darah?" tetua Liu Bin kuatir melihat kesengitan pertempuran keduanya.
"Aku juga merasakannya, huuuhhhss kita tidak bisa menghentikan latihan ini. Apa kau lupa bahwa latih tanding tanpa membunuh itu hanya berlaku bagi murid sekte, sedangkan anak ini adalah orang asing yang entah dari mana asalnya" patriark Liu Youfu mengeleng-geleng kepalnya sambil mengelus jengot putihnya.
"Tapi itu..."
"Aku tidak bisa menghentikan pertarungan ini, pertarungan hanya bisa dihentikan apabila salah satu dari keduanya ingin berhenti. Dan kau lihat anak itu dapat dengan mudah menghindari serangan pedang giok darah, aku rasa anak itu masih memiliki trik tersembunyi karna sampai sekarang ia tidak menyatakan menyerang sama sekali".
"Tapi ayah itu tetap saja berbahaya" sebenarnya tetua Liu Bin tidak ingin Xiao Shen kenapa-kenapa, selain karna bakat dan kejeniusan Xiao Shen ia ingin putrinya tetap tertawa bahagia seperti tadi bersama pemuda itu, walaupun tidak bersamanya tetua Liu Bin sudah puas menyaksikan kebahagiaan putrinya.
"Kau tenang saja, ayah yakin dia masih memiliki sesuatu yang ia sembunyikan" patriark Liu Youfu sebenarnya kuatir juga dengan perkelahian ini, tetapi ia ingin melihat kemampuan Xiao Shen yang sebenarnya terlebih dahulu. Walaupun ia tau kalau Xiao Shen bukan tandingan Mo Xiao sama sekali, selain tidak bisa menggunakan seni pedang atau senjata lainnya. Tingkat kultivasi Xiao Shen juga tertinggal jauh di belakang Mo Xiao, hanya satu keunggulan Xiao Shen di mata semua orang yaitu kecepatannya yang luar biasa.
"Terserah kata ayah saja, tetapi aku meminta pada ayah agar segera menghentikan perkelahian itu nanti ketika anak muda itu terpojok. Bagaimanapun hanya ayah pendekar suci terhormat di sini, dan juga hanya ayah yang bisa menghentikan pedang giok darah yang sedang mengamuk itu" pinta tetua Liu Bin yang kembali fokus ke arena latih tanding.
"Hmhmhm kau tenang saja" walaupun Patriark Liu Youfu yakin Xiao Shen masih menyembunyikan kemampuannya.
"Jangan hanya bisa menghindar kau bocah, kalau kau berani hadapi pedangku ini" Mo Xiao berusaha terlihat masih kuat, padahal nafasnya sudah gos-gosan dan tenaga dalamnya tinggal sedikit. Entah apakah ia sanggup mengendalikan para roh kematian nantinya?, atau ia akan terkena efek dari serangan roh kematian pedangnya sendiri.
"Senior tidak perlu memaksakan diri, aku tau tenaga dalam senior sekarang tersisa sedikit, sebaiknya kita sudahi pertengkaran ini, aku tidak ada niat untuk melukai atau mengambil ketenaran senior di sini" Xiao Shen berusaha menjelaskan pada Mo Xiao yang sebenarnya, tetapi itu terdengar bukan seperti sebuah penjelasan bagi Mo Xiao, tetapi lebih terdengar sebagai ejekan karna dirinya lebih lemah dari Xiao Shen, darah Mo Xiao makin mendidih mendengar ucapan Xiao Shen.
"Bocah sepertinya kau harus pandai mengatur ucapanmu lagi ke depannya" Tiba-tiba Zhu Que angkat bicara.
"Maksudmu apa?".
"Lihat itu".
"Apa yang kau.... "
"Hiyyyyaaaa.... "
Buuuaakkkkkkkk....
Uuhhhkkkkkkk....
__ADS_1