
"Ini gawat" batin Xiao Shen.
"Zhu Que, Xuan Wu, nangong apa kalian bisa membantuku?".
"Master Nangong siap membantu master".
"Aiahhhh baiklah aku akan membantumu kali ini bocah".
"Baik mari kita lakukan ini nak". Sahut Xuan Wu yang terdengar tenang.
"Apa kalian memiliki rencana?".
"Serahkan urusan rencan pada saudara Xuan Wu saja" jawab Zhu Que santai.
"Baiklah kali ini aku akan membuat rencana untuk kita, pertama kita tidak boleh dilihat oleh para manusia-manusia itu. Jadi tugas membuat ilusi pengalang mata adalah bagian Nangong, jadi kita akan aman keluar dan bertempur dengan para roh kematian itu".
"Siap Tuan Dewa Wu aku akan menjalankan tugasku dengan benar" jawab Nangong.
"Nak cepat keluarkan Nangong dari Ruang Jiwa mu ini, dia harus secepatnya membuat ilusi agar kita aman bertarung".
"Ahh baiklah... Nangong aku memamngilmu keluar...! ".
"Master aku pergi dulu menjalankan misiku" Nangong sempat memberi hormat pada Xiao Shen sebelum pergi membuat ilusi.
"Berhati-hatilah... Begitu selesai segera kembali".
"Baik master tenang saja".
Nangong langsung menghilang di udara menggunakan jurus ilusi sehingga tidak ada orang yang melihatnya, sementara itu Xuan Wu kembali melanjutkan pembahasan rencananya.
"Lalu tugasku apa Xuan Wu" Xiao shen bertanya sambil menunjuk dirinya.
"Kau hadapi dulu para roh kematian itu tapi jangan membuat mereka marah, kami berdua akan keluar apabila Nangong menyelesaikan tugasnya" jawab Xuan Wu.
"Baiklah kalau begitu" Xiao Shen maju ke depan menatap ratusan pasukan roh kematian yang menatapnya penuh kebencian".
"Bunuh dia... Jangan kasih amun... Goarrrkkk... "
"Bunuh... Bunuh... Bunuh.... "
"Jangan biarkan siapa pun hidup... Bunuh... "
"Huuuuuhhh... Kalian harus merasakan apa yang kami rasakan selama ini.... Huhuhuhu... Bunuh... Bunuh..."
"Benar-benar roh yang menyedihkan" gumam Xiao Shen.
"Oh iya Xuan Wu apa kau memiliki agar dapat membuat para roh ini terbebas dari pedang giok darah? aku tidak ingin mereka menjadi roh kotor yang dipenuhi kebencian seperti ini" tanya Xiao Shen.
"Hanya ada satu cara".
"Apa itu?".
"Bocah awas!!!".
__ADS_1
Wussshhhhhhh....
"Teknik Indra Api, Langkah Seribu Api"
Setttttssssss...
Jlebbbbbbbbb....
"Huuuuuhhhn hampir saja" Xiao Shen menghembus nafas lega.
"Kau harus tetap waspada bocah" ingat Zhu Que.
"Sebenarnya apa itu tadi, aku tidak melihatnya sama sekali, aku hanya merasakan arah kedatangan yang penuh hawa kematian?" tanya Xiao Shen.
"Itu adalah panah Gaib Alam Kematian, sekali kau terkena panah itu maka jiwamu akan tersegel selamnya. kau tak akan bisa berInkarnasi sebelum panah itu dilepas dengan teknik khusus milik dewa yaman, panah itu adalah senjata para pasukan neraka, aku heran bagaimana mungkin mereka bisa memilikinya" Jelas Zhu Que.
"Astaga jadi itu senjata pasukan neraka?" Xiao Shen bertambah terkejut.
"Benar kau harus berhati-hati seharusnya mereka tidak hanya memiliki satu, mungkin saja Mereka belum menggunakannya".
"Ya aku mengerti".
"Nak gunakan teknik indra api pandangan Mata Membarahmu, agar kau bisa melihat seluruh senjata gaib mereka dan juga serangan mereka nantinya".
"Baiklah".
"Teknik Indra Api, Pandangan Api membarah"
"Gunakan juga Pendengaran Api Suci agar kau mengerti bahasa para roh kematian itu" saran Zhu Que.
"Teknik Indra Api, Pendengaran Api Suci".
"Bagaiman setelah kau menggunakan Teknik Indra Api?" Tanya Zhu Que.
"Ini bagaimana mungkin?" Xiao Shen melonggo dengan apa yang ia lihat.
"Apa yang kau lihat bocah?".
"Sebaiknya kalian berdua melihatnya sendiri dengan mata dewa kalian berdua" jawab Xiao Shen tanpa mengalihkan pandangnya dari apa yang ia lihat.
Sebenarnya apa yang bocah ini lihat? Aku jadi penasaran saja" Zhu Que semakin penasaran.
"Sebaiknya gunakan mata dewamu saja kalau kau memang penasaran saudaraku" saran Xuan Wu.
"Aiihhh buang-buang energi dewaku saja, tapi aku penasaran melihatnya".
"Mata Dewa Phoenix Abadi..."
"Ini..."
--
--
__ADS_1
--
"Perasaan ini?" tiba-tiba seorang kakek sepuh berusia ratusan tahun terbangun dari semedi panjangnya.
"Apakah kau merasakannya juga Harimau Biru Mata tiga dewa?" tanya kakek sepuh itu pada dirinya sendiri.
"Ya aku meraskan kehadiran bangsa alam roh dari neraka, bahkan aku merasakan kekuatan besar lainnya yang ikut muncul secara bersamaan" tiba-tiba ada suara yang menyahut ucapan sang kakek, tetapi itu hanya di pikirannya saja dan hanya ia yang dapat mendengarkannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam kakek. Sepuh sambil mengelus elus jengot panjangnya yang mencapai pusarnya.
"Kekuatan ini berasal dari alam Dewa, bagaiman mungkin mereka ikut campur urusan dunia manusia?".
"entahlah... Aku jadi penasaran ingin melihatnya" jawab sang kakek sepuh sambil menatap langit, tiba-tiba ia teringat dengan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Apakah kau ingin melihatnya?" tanya Harimau Biru Mata tiga dewa lagi pada kakek sepuh yang maaih asik menatap langit.
"Ya aku ingin tau... dari mana para roh kematian ini berasal? Dan juga kenapa alam dewa bisa-bisanya melangar sumpah di hadapan dewa naga kuning dulu?" jawab kakek sepuh sambil mengeleng-geleng kepalanya kepalanya.
"kalau begitu ayo kita lihat bersama-sama, siapa mereka" jawab Harimau Biru Mata tiga dewa di pikiran kakek sepuh.
"Baiklah kita keluar dari hutan ini" jawab sang kakek sepuh sambil bangkit berdiri dari posisi duduk semedinya.
"Kau sudah mencapai tahap akhir dari alam dewa bumi, sebentar lagi kau akan mencapai alam dewa langit awal. Kau harus meninggal dia, apakah kau benar-benar ingin naik ke dunia dewa? Kata-kata Harimau Biru Mata tiga dewa menghentikan langkah kakek sepuh.
"Huuuhhhh itu bisa dipikirkan nanti saja, lagi pula untuk naik ke alam dewa langit sangat sulit. Itu butuh ratusan tahun lamanya, dan aku tidak ingin secepatnya naik ke alam dewa sebelum ramalan itu terwujud" jawab sang kakek sepuh yang terlihat sedih.
"hey aku menyinggung masalah ini agar kau segera membuat keputusan kedepanya, apakah kau ingin dia menjadi murid yang kehilangan gurunya karna naik Ke alam dewa?" tanya Harimau Biru Mata tiga dewa.
"Tidak aku tida menginginkan hal itu terjadi padanya, aku sudah bertekad akan mendidiknya agar menjadi lebih kuat lagi. Aku akan ajarkan kekuatan dewa ini padanya nanti, aku ingin dia memenuhi ramalan itu dengan kekuatan dewa yang kuajarkan padanya".
"Hey kakek tua apa kau sudah lupa, pendekar suci terhormat masih tidak boleh mempelajari banyak jurus dan ilmu dewa. Bagaimana pun itu akan sangat membebani tubuh anak itu, apa kau ingin ia mati meledak karna energi dewa masuk ke dalam tubunnya?" lagi-lagi Harimau Biru Mata tiga dewa membuat pertanyaan yang menyurutkan semangat sang kakek sepuh.
"Apakah kau tidak memiliki kata-kata lain selain kata seperti itu Harimau Biru Mata tiga dewa, kau bukannya memberi solusi tetapi malah sebaliknya" sang kakek sepuh jengah.
"baik biaklah tapi apa kau lupa tubuh anak ini sangat istimewa, bahkan lebih istimewa daripada tubuh para dewa sekalipun" ingat Harimau Biru Mata tiga dewa pada sang kakek sepuh.
"Kau benar kali ini Harimau Biru Mata tiga dewa, aku baru mengingat tubuhnya sangat istimewa" senyum sang kakek merekah mendengar hal itu.
"Baguslah apakah sudah selesai bicaranya kakek tua?" tanya Harimau Biru Mata tiga dewa.
"Kau bahkan lebih tua dari diriku tahu".
"Baik baik aku mengerti, ayo kita melihatnya" Harimau Biru Mata tiga dewa tidak ingin berdebat lebih jauh lagi.
"tentu".
"Maka ayo gunakan jurus portal ruang dan waktumu".
"Aku sudah tau kau tidak perlu memberitahuku tentang hal Itu".
"Jurus Dewa Dimensi, Portal Ruang dang Waktu".
Ssyuutttttt...
__ADS_1
Wusshhhhhhhhh....