
"kamu... "pekik Agelia seraya menunjuk kearah orang yang tidak sengaja menabraknya itu.
Viena yang menyaksikan ikut membulatkan matanya melihat siapa orang itu.
"Hai... adik tiri" sapa wanita yang sangat dikenal Agelia tentunya, sedang bergandengan mesra dengan pria yang amat Agelia kenal pula.
"cuih" gaya Agelia sekan meludah kerah samping, Agelia merasa jijik bila harus bertemu dengan sepasang orang menjijikan didepanya itu.
"jangan kurang ajar kau, mau bagaimanapun aku kakakmu maka sudah dipastikan kalau dia kakak iparmu" protes pria itu tidak terima menerima perilalu tidak sopan Agelia.
"kakak ku?, kakak iparku?.... Hahahahha" Agelia tertawa terbahak bahak mendengar ucapan yang mengaku dirinya kakak bagi Agelia dan menyuruh Agelia menganggap kakak ipar pada wanita yang beberapa tahun ikut berperan menjadi benalu dalam kehancuran keluarganya.
"Hei,...kalian berdua harus sadar kalau kalian berdua pantas dianggap plakor dan plat motor" sambung Agelia lalu menatap tajam kearah sepasang orang yang amat Agelia benci itu.
"KAU.... " triak waniya yang disebut Agelia plakor sembari melambungkan tangan hendak menampar Agelia namun dengan cepat Viena meraih tangan yang hampir mengenai pipi mulus Agelia.
Agelia membuka matanya perlahan karena tangan yang tadinya hampir tidak bisa dihindarinya itu ternyata tidak mendarat dipipinya.
"singkirkan tangan kotormu, Anasya" ucap Viena tak kalah sinis menatap tajam Anasya dan Viena mengibas tangan Anasya dengan kasar.
Kemudian Viena menarik tangan Agelia meninggalkan sepasang suami istri itu.
"kau,..tu.. " semakin geram Anasya karena ia harus berurusan dengan Viena jika ia berlawanan dengan Agelia, pasti Viena akan hadir untuk membantu Agelia menghadapinya.
"Udah sayang, Orang-orang sedang memperhatikan kita" pria yang mengaku kakak Agelia menghentikan aksi sang istri saat melihat mata menatap kearah mereka.
"kamu gitu terus Reon" wajah Anasya Cemberut sembari menyebut nama suaminya Reonal yang dikenal Reon itu.
"maafin aku sayang, lain wkatu kita kasih pelajaran" ujar Reonal pada sang istri yang sudah mulai marah, itu dapat Reonal hafal jika istrinya marah akan menyebut namanya.
"beneran yang?" tanya Anasya memastikan
"iya... khusunya Agelia, nanti biar mama yang kasih pelajaran" sahut Reonal pada istrinya, berencana ingin mengadukan apa yang terjadi mereka pada sang mama yang mana mama Reonal adalah ibu tiri Agelia.
Senyum jahat diwajah Anasya terlihat puas membayangkan pe deritaan Agelia dan itu menjadi kebahagiannya sensiri, ia sangat senang jika Agelia menderita.
__ADS_1
Meski bukan dirinya sendiri yang akan memberi pelajaran pada Agelia.
"ya udah ayo... aku udah lapar" ujar Anasya manja pada suaminya yang sendari tadi kelaparan.
Tapi kehidupan yang selama ia dapatkan dari Garel membuat ia sombong dan gengsi saat memasuki Dapur Pesona yang sederhana dan tidak berkelas, sehingga sepasang suami istri itu memilih meninggalka. Dapir Pesona.
Sementada kedua sahabat, sekarang sudah duduk dikursi pelanggan, menunggu pesanan yang memang sudah dipesan Viena sebelum Agelia datang.
Viena yang sangat hafal dengan menu pilihan Agelia ia memesan seperti biasanya seperti pesanan Agelia dihari sebelumnya dengan menu siang.
"Makasih, Vi. kalau enggak ditahan kamu tadi mungkin pipiku udah bengkak" ujar Agelia sembari merucutkan bibirnya lesu, Agelia selalu merasa lemah semenjak dulu.
Namun kehadiran Viena menjadikan Agelia sedikit lebih berani dari sebelumnya. setidaknya Agelia tidak mudah ditindas seprti dulu.
"Heemmm" jawab Viena hanya dengan deheman lalu tersenyum.
Agelia tersenyum mendapat respons dari sahabatnya itu yang sanagt irit bicara.
Dimakan mana kebanyakan laki-laki yang irit bicara dan perempuan digadang gadang cerewert tapi tidak untuk Viena.
Tapi Agelia senang dekat dengan Viena yang selalu datang diwaktu yang tepat untuknya.
"Vi...? apa ada yang ingin diceritain?" tanya Agelia sembari menyelusuri wajah sahabatnya itu
"eeemh, Apa ibu tirimu masih seperti dulu?" tanya Viena balik.
"Dasar, ditanya malah tanya balik" protes Agelia lalu ia menundukkan kepala mengisyaratkan jika pertanyaan Viena masih sama halnya dengan dulu.
"Setelah makan aku ceritaiin" jelas Viena
"Mau tinggal divila kak Merel?" tanya Viena dengan tatapan penuh harap agar Agelia kali ini tidak akan menolak tawarannya, agar sahabatnya itu tidak tinggal bersama ibu tirinya.
"Tapi..." ucap Agelia terpotong
"Ageliaa...." Viena mengambil nafas dalam-dalam karna sepertinya ia harus bicara panjang x lebar "aku enggak minta kamu ninggalin ayah kamu, dari pada jadi pelampiasan kemaraham ibu tiri kamu terus. Buktikan pada ayah kamu kalau kamu mandiri dan kamu bisa berkunjung kapan kamu mau kekediaman ayahmu" sambung Viena lalu menJelas pada Agelia dan mengerti akan kekhawatiran sahabatnya itu.
__ADS_1
Meski kedatangan mama Reonal yang menyebabkan keluarga Agelia hancur dan membuat Agelia menjadi sumber segala kemarahan sang ayah atas hasutan ibu tirinya.
Tapi tetap dihati Agelia ia sangat menyanyangi ayahnya dan takut meninggalkan ayahnya seorang diri bersama mamanya Reonal yang hanya ingin harta ayahnya semata.
"Ini pesananya nona Fana, nona Agelia" ucap pelayan yang mengantarkan pesan yang telah dipesan sendarin tadi.
"terimakasih" sahut Viena pada pelayan itu.
"sama-sama, nona" sahut pelayan itu lalu tersenyum manis.
"heemm" jawab Viena dengan deheman lalu membalas senyuman yang diberikan pelayan Dapur Pesona tak kalah manisnya.
"Pikirkan lagi" ujar Viena sembari tangan kananya meyodorkan satu piring yang sama dengannya kehadap Agelia.
Keduanya sahabat itu melahap makanan yang ada didepan mereka tanpa membahas apapun, keduanya bergelut dalam pikiran masing-masing.
Ternyata aksi kedua sahabat itu diperhatikan oleh sebagian pelayan yang ada di rumah makan itu.
"hei... lihat tu" tunjuk salah satu pelayan kearah Viena dan Agelia pada teman yang juga pelayan di Dapur Pesona.
"kenapa?perasaan tadi saya antar pesanan mereka baik-baik saja. apa lagi nona Fana tersenyum manis enggak kayak dia ngomong irit" ucap pelayan satunya lagi sembari mengenang betapa manisnya Viena bila tersenyum kebalikan dan rasa tidak sesuai dengan ucapannya amat irit.
"Li, pa aku enggak diizinin tuhan ya, untuk berbuat jahat lada suami aku sendiri?" tanya Viena memecahkan keheningan setelah menghabiskan makan siang keduanya.
"maksud kamu aku enggak ngerti?" tanya Agelia yang emang enggak mengerti kemana arah ucapan Viena yang tidak biasanya lebay seperti itu.
"hhhhuuh" Viena menghembus nafasnya dengan kasar lalu menceritakan dari awal sampai akhir bagaiman Viena bisa menikah dengan Garel Gebriel Az-Zardan dan sampai pada kejadian sebelum incident yang menimpa sang suami tanpa membunyikan sedikitpun dari Agelia termasuk jika ia akan membuat Garel menyesal dengan pengabaiannya dan niat ia akan kasar melawan Garel.
"Aku enggak tahu, li....ketika aku ingat prilakunya padaku sangay menyakitkan pagi itu. aku rasa ingin membalasnya" sambung Viena panjang kali lebar, Viena memang jarang berbicara banyak tapi bukan tidak pernah.
Hati dan pikiran Viena tidak seirama,
Viena yang selalu bersikap baik tapi rasa tidak dihargai oleh suami sendiri membuat Viena menjadi gusar dan ingin sekali membalas perbuatan suaminya apalagi ia belum mencintai suaminya sama sekali.
Tapi tuhan berkata lain dan tidak beepihak pada Viena dengan membuat Garel koma samapai sekarang dan malah membuat Viena tidak rela jika Garel koma serta ada rasa tidak rela melihat Garel berbaring diatasi ranjang rumah sakit melawan hidup dan mati atau memang hidup terasa mati (tidak akan sadarkan lagi untuk selama-lamamnya).
__ADS_1
"Bukankah suamimu masih koma? jika dia sadar apa kamu akan melanjutkan rencanamu? atau berhenti samapai disini?" tanya Agelia dengan mencecar pertanyaan pada sahabatnya.