Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
16 Aktivitas Sehari-hari


__ADS_3

Semenjak kejadian siang itu Viena disibukan dengan kehidupannya sendiri, begitupun Garel ia sudah kembali bekerja diperusahan seperti sebelumnya di perusahaan keuarga Az-Zardan.


...*********...


Dari kejadiam sore itu viena kembali seperti dulu, tidak banyak bicara alias irit bicara bahkan pada bi ina sekalipun.


Tapi viena selalu melakukan aktivitas sehari-harinya dirumah mewah itu, seperti sediakala. membantu bi ina memasak, membersihkan meja makan, merapikan pakaiannya sendiri dan merawat bunga didepan rumah, sudah menjadi hal biasa bagi viena.


Terlahir dikeluarga kaya bukan menjadi penghalang Viena menjadi perempuan mandiri


Viena sudah terbiasa dengan aktivitas seperti itu semenjak mamanya tiada. Viena kecil suka mencari kesibukan untuk mengalihkan kesedihannya akan kehilangan mama tercinta.


Hal itu viena dapatkan dari pria yang datang dengan setangkai bunga mawar putih sehingga viena menjadi terbiasa mandiri seperti sekarang.


Meski terlahir dikeluarga kaya, tidak membuat viena ingin diprilakukan seperti putri raja.


Viena selalu mengandalkan dirinya sendiri dalam melakukan hal sekecil apapun sampai hal yang besar sekaligus.


Menurut viena kecil yang boleh menjadikannya putri hanya satu dari orang didunia yaitu pasangannya kelak ketika ia dewasa.


Tapi hal itu tidak berlaku bagi viena sekarang, Viena mungkin harus belajar lebih sabar lagi dan perlu memperkuatkan diri. Apa yang ada dipikirannya viena kecil hanya ada didunia buku-buku dongeng saja.


Tapi Viena sudah cukup kuat dan sabar selama ini. Viena selalu memprilakukan garel dengan tulus, sabar bahkan ikhlas yang selalu viena coba dalam menghadapi garel suaminya.


Tentang ketulusan hati viena sudah viena pasrahkan bagaimana garel menanggapi dan kemana garel membalasnya.


Viena juga sudah tidak memperdulikannya jika kasih tulusnya, garel berikan kepada anasya yang hanya ingin kekayaan garel semata.


Meski sudah dihina viena, anasya masih sediakala datang kerumah mereka tanpa malu sama sekali.


Begitupun garel tidak memperdulikan perasaan viena dan tidak menggap serius ucapan viena terakhir kali.


Kalau sekali ia teriak tak juga mengerti maka tak perlu lagi. begitulah yang viena pilih, yaitu membiarkannya


...********...


Pagi yang cerah, secerah kulit viena dan seindah wajah viena. pagi pagi Vieba selalu bangun awal meski ia tidak lagi bekerja diperusahaan Oskar.

__ADS_1


Viena sengaja tidak bekerja dulu padahal agelia sering mengabari viena jika Deffan pemimpin Perusahaan Oskar tempat viena bekerja dulu, sering sekali menyuruh agelia mengajak viena untuk bekerja lagi menjadi sekretaris Deffan.


Namun viena menolak dengan halus, ia masih ingin bersantai dirumah tanpa bekerja untuk minggu-minggu ini, menghilangkan rasa penat.


Tapi tidak ada yang tahu alasan sebenarnya viena menolak dikarenakan viena ingin berpergian setelah menghabiskan waktu yang panjang dirumah hadiah pernikahannya ini.


Dengan sisa waktu itu Viena habiskan dirumah


Maka viena menolak karena pada akhirnya akan membuat orang kecewa saja.


Rencana kepergian viena masih menunggu waktu yang tepat atau memang tidak ada waktu yang tepat karena bawaan kehamilan viena kali ini ingin melihat garel tersenyum meski bukan padanya.


Dalam prihal itu viena tidak mau ambil pusing viena hanya perlu melakukan aktivitasnya dengan bangun lebih awal agar bisa membantu bibi ina memasak didapur agar dapat menyiapkan sarapan pagi.


Bi ina sudah terbiasa dengan nyonyanya yang sangat lincah didapur.


Tapi bi ina menjadi tidak tenang dibuat oleh sikap viena seperti awal ia bekerja dengan nyonya nya itu.


Viena tak banyak bicara bahkan tidak bicara sama sekali selama mereka bekerja sama didapur.


Tidak hanya memasak saja viena juga membantu bi ina menyiapkan nasi dan lauk-laku diatasi meja dengan rapi.


sebagai mana pesan awal nyonya nya itu, bi ina tidak perlu lagi disurih untuk memanggil tuannya kemeja makan setelah semuanya beres, maka ia harus berpikir sendiri.


Tok tok tok


"Taun, waktunya sarapan" sapa bi ina kepada tuannya yang sekarang sudah berada dikamar atas yang berdampingan dengan kamar viena.


"iya" sahut garel lalu keluar dengan setelan kantor miliknya.


Dengan tangan dimasukan kedalaman saku, garel menuruni anak tangga menuju meja makan.


Seperti biasa, garel melahap sarapan paginya seorang diri tidak ada lagi viena yang akan menyiapkan makanan kepiring garel dan menyuruh garel makan, bahkan viena tidak makan satu meja makan denganya lagi.


Berbeda? itulah yang dirasakan garel setelah kemarahan viena, tidak hanya dimeja makan, dan rumah saja yang terasa berbeda tapi sikap viena juga semakin berbeda. garel tidak pernah sekalipun mendengar viena berbicara bahkan kepada bibi ina.


Apa itu karena garel sudah mulai kerja? atau garel memang tidak pernah memperhatikan viena? atau memang viena menjadi sikutub utara yang tidak bicara selama 24 jam?.

__ADS_1


selesai dengan urusan makan garel berangkat kerja seperti biasa dijemput oleh asisten pribadi sekaligus sekretaris garel dikantor, yaitu Toni Amarsyan. ya semenjak kecelakaan itu garel memilih diantar jemput asistennya.


mana kala garel hendak keluar rumah bukan mobil yang ia lihatnya dulu, melainkan pagi harinya ia melihay viena yang selalu menghindar makan bersama dengannya dengan mengurus bunga-bunga kesayangannya.


sewaktu viena menyiram bungalah waktu bagi garel bisa melihat viena dengan lekat, meski itu entah dari samping, depan, bahkan belakang yang nerkarak.


Ada rasa bersalah saat garel melihat kearah viena karena telah menampar viena waktu itu, tapi garel masih gensi untuk mengaku kesalahannya apalagi meminta maaf kepada wanita yang belum disadari garel mulai mengusik hatinya.


Usai mobil yang dikemudi Toni asistenya suaminya beserta garel didalamnya mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah, viena menyudahi urusan bunga-bunganya karena memang seharusnya sudah selesai sedari tadi.


Tapi Enggan viena untuk melihat wajah garel yang tidak tersenyum padanya jadi bawaan ngidam yang dialami viena hanya ingin melihat garel tersenyum dan itu hanya bisa viena dapatkan saat garel bersama anasya dalam keadaan itu lah bahagia sekaligus terluka yang viena rasakan.


Viena berusaha kuat dan selalu kuat karena ada bayi didalam rahimnya yang harus viena jaga maka viena harus senantiasa menjaga dirinya agar tidak melukai kehadiran buah hati didalam perutnya, ia sudah viena terima dengan ikhlas akan buah hati.


Dimeja makan viena makan sendiri tanpa ditemani bi ina, karena viena lebih nyaman sendiri semenjak hatinya menetap untuk berencana pergi.


Maka selama beberapa minggu ini viena manfaatkan untuk memuaskan dirinya dalam memenuhi keinginan sikecil didalam sana, yang selalu ingin melihat senyum sang ayah.


Viena membersihkan sendiri sisa makanannya dan itu sengaja viena lakukan, tidak membiarkan bibi ina mengganggu aktivitasnya itu.


Bi ina hanya disuruh memanggil garel ketika waktunya makan dan minum serta menyuruh dua pengawal untuk makan tepat waktu yang mungkin kehadiran dua pengawal itu hanya jadi pajangan rumah saja.


Seusai makan dan beres-beres dapur viena mendatangi kak Marel di kantor, karena kantor milik keluarganya jadi tidak ada yang bisa melarang viena keluar masuk kantor malah viena disambut hangat oleh karyawan karyawan dimana.


Kak Marelvin tidak heran lagi dengan kedatangan viena, sang adik. yang suka datang tiba-tiba bahkan viena datang kekantor hanya untuk duduk-duduk saja lalu mengeserkan layar ponsel miliknya melihat koleksi-koleksi bunga yang ada diinternet.


kak merelvin, sudah hafal dengan sifat adiknya itu, yang bahkan betah tidak ngomong selama 12 jam diruang pribadi Merelvin.


Datang tak berbunyi pulangpun menghilang. mungkin itu kata yang tepat untuk viena.


Itulah viena dari kecil banyak diam, untung saja tubuhnya enggak matung kayak patung. mungkin kalau itu terjadi nasip orang sungguh nasib yang bisa dapetin adiknya itu pikir Merelvin.


"fana, kak Merel tinggal meeting dulu ya" ucap Merelvin berpamitan ke adiknya tapi hanya diangguk saja oleh viena yang selalu enggan bicara.


kadang Merelvin geleng-geleng kepala sendiri melihat tingkah adiknya semata wayangnya itu yang akhir-akhir ini malah semakin diam.


Sebenarnya Merelvin merasa ada yang aneh dengan adiknya itu tapi mengingat adiknya yang memang seperti itu ia memaklumkan dan menepis pikirannya.

__ADS_1


Tidak mendapatkan gubrisan dari viena, Merelvin meninggalkan adiknya itu seorang diri diruang pribadinya itu menuju ruang meeting yang sudah ditunggu sekretarisnya dan yang lainnya.


__ADS_2