
Buugg
"Bang sat" gram Merelvin tak tahan ia jika tidak memmukul wajah garel.
"Cukup," teriak kakek Zirdan
"dan kau garel, apa fana bisa kau bujuk?" suara dingin Kakek Zirdan menghentikan semuanya, bagaimanapun kakek zirdanlah yang tertua disana.
Mama Falisya hanya bisa merangkul garel dalam diam, ingin memarahi putranya tapi melihat kondisi garel ia tidak mampu melakukan itu pada sang putra.
"Garel janji kek, Garel akan bawa fana kembali"
Tling
suara pesan masuk keponsel tony
📥" tuan, nyonya fana berada dirumah sakit" pesan masuk dari suruhan tony.
"apa nona fana juga dirubah sakit saat tomy dirubah sakit waktu itu" batin tony teringat waktu itu namun ponsel milik tony langung digapai Merelvin saat melihat tony seperti berpikir dalam pikirannya sendiri.
Melihat pesan itu merelvin langsung pergi dari rumah itu dan diikuti papa ardian, sang ayah.
"Ma, gerel harus ketemu fana, ma" ucap garel masih dalam tangisannya.
"Sudah Gebriel, biar papa yang kesana bersama mama" uacap bram, sang ayah.
1,2,3 mobil melaju kelokasi yaitu rumah sakit, dirumah sakit memang ada viena dan tomy yang sedang berada diruang periksa bersama dokter nanda.
Merelvin, Papa Artian, Papa Bram dan Mama Falisya sudah berada dirumah sakit.
diperjalanan Mama Falisya sudah menghubungi dokter irwan mengenai viena, dan dokter irwan mengatakan jika viena memang berada di rumah sakit bersama dokter nanda.
Usai urusan pemeriksaan viena dan tomy keluar dengan raut bahagia, karena kondisi kehamilan viena semakin membaik.
viena dan tomy tidak tahu jika sekarang keluarga sedang menghampiri mereka.
"Kak merel" pekik Viena saat bertemu dengan sang kakak.
Merelvin mengabaikan keberadaan papa, tomy dan yang lainnya, iya meraih viena kedalaman pelukannya.
"maafkan kakakmu ini, kakak akan beri pelajaran pada b*jingan yang menyakitimu itu" ucap merelvin masih mendekap tubuh adik kesayangannya.
Tomy hanya diam memperhatikan merelvin memeluk viena.
"Aku baik kak" sahut viena sembari mengelus punggung kakak.
"kau memang gadis yang kuat, fana" ujar tomy dalam hati, melihat bagaiman viena menanggapi sang kakak, tomy merasa terbalik malah merelvin yang terluka.
"Kakak berhenti memelukku, ada papa dan yang lainnya" sambung viena sembari melepas pelukan merelvin.
__ADS_1
"Fana sayang, maafkan putra mama dan maafkan mama sayang" ucap Falisya seraya meraih tangan lentik milik viena.
Mendengar penuturan mama Falisya, viena melepas tangan yang sedang meraih tangannya dan mundur mendekat tomy.
"Tomy bawa aku pulang" pinta viena pada tomy, sekarang ia sadar kalau keluarganya sudah tahu memgenai hubungannya dengab tomy sudah hampir diujung perpisahan.
"Tomy, jangan diam. bukankah kau sudah berjanji padaku" ucap viena sembari menggoyangkan tangan tomy, mata viena mulai berkaca kaca.
Ia tidak ingin kembali pada Garel meski sungguh hatinya ingin melihat pria itu, tapi viena tidak mau kembali jika hanya menambah luka dalam dirinya, lambat laun garel akan menikahi anasya dan itu tidak akan menjadi kebahagiaan viena.
"Baiklah ayo kita pulang" ujar Tomy meraih tangan viena agar mengikutinya, ia menuruti keinginan viena meski sudah jelas disini banyak keluarga viena memandang kearah mereka.
"Tunggu" ucap Papa Ardian.
"Fana sayang, pulanglah bersama papa, ajak temanmu" bujuk Papa Ardian lembut penuh kasih sayang.
Iya papa ardian baru kali ini melihat tingkah viena manja pada orang apa lagi orang itu orang lain dan anehnya papa Ardian merasa tidak asing dengan Tomy.
Maka salah satu membujuk viena dengan membawa tomy bersama viena.
"Om maaf bukannya saya ikut campur, berikan waktu fana ikut bersama saya pulang kedesa. Jika fana ingin kembali nanti saya sendiri yang akan mengantarnya" jelas tomy pada papa Ardian, kedua mata papa artian dan tomy saling bertemu dan masuk dlaam oikiran masing masing yang hanya mereka sendiri tahu apa yang mereka pikirkan.
"kedesa?" tanya papa bram
"iya om, desa scarla didesa terpencil" ucap tomy pada papa Bram.
viena tidak melepaskan tangannya dari genggaman tomy, ia benar-benar tidak akan mau kembali kesisi garel.
Falisya hanya lah mama mertua yang tidak tahu harus bagaimana, dan ia juga tidak tahu betul apa yang membuat viena pergi ia hanya tahu itu karena garel putranya.
Setelah kepergian viena dan tomy, Andrian baru menyadari jika mata yang dilihat dari tatapan tomy itu persis milik istrinya.
"Merel, cari tahu siapa pria itu" perintah Ardian pada putranya Merelvin.
"Kenapa pa?, apa dia ada niat jahat pada fana?" tanya Merelvin.
"Kau akan tahu siapa dia setelah kau mencarinya merel" ujar Ardian dengan tegas, kalau ia tahu mana mungkin ia menyuruh Merelvin mencari tahu.
......*********......
Malam hari yang sunyi semua orang menatap langit-langit kamar masing-masing. begitupun Tomy, ia merasa mata yang ia lihat dirumah sakit mata yang memanggil hatinya, seperti ada ikatan yang tidak bisa ia jelaskan.
Tomy ingat bagaimana ia dan tony tidak pernah saling dekat, tony yang sangat membenci tomy, tomy tahu karena ia pernah mendengarkan ocehan tony pada sang ibu Marlind.
Itulah dimana tomy tahu jika ia bukan anak dari marlind dan bukan juga saudara kandung Tony Amarsyan dan Vola Amarsyan.
Selama ini tomy pura-pura tidak tahu.
Tomy melihat bola matanya sendiri didalam cermin,
__ADS_1
"apakah dia papaku, lalu bagaimana dengan fana. apakah dia saudariku" ujar Tomy kecil saat berada dikamarnya, sungguh tomy penasaran mengenai status dirinya dan apa alasan ia yang bukan anak kandung dari ibu marind yang sudah menjaganya seperti anak sendiri.
"Tomy, ibu dan vola akan menunggu dimeja makan" sapa Marlind membuyarkan pikiran tomy yang kalut itu, ia setelah mengantar viena kerumah kecilnya tomy pulang kerumah ibu marlind.
"iya bu" sahut tomy dari kamar lalu keluar kamar untuk makan bersama dengan vola dan ibu marlind.
"Ibu bisa tomy bicara berdua dengan ibu, setelah makan?" tanya tomy sopan, meski tomy dijuluki b*jingan ia sanagt pandai berprilaku sopan pada orang tertentu terutama ibu marlind yang merawatnya.
"baiklah, sekarang ayo kita makan" ucap Marlind, vola menatap Tomy lekat lantas sang kakak lebih serius dari biasanya.
Marlind dan kedua anaknyapun melahap makanannya yang disediakannya dengan tenang, Marlind tidak berpikir jauh tentang apa yang akan dibicarakan tomy putranya.
"Vola, boleh kak tomy bicara sama ibu dulu" usir tomy secara halus setelah makanan habis tak tersisa diatasi meja.
"iya, iya " sahut vola lalu berangkat dari meja makan dengan wajah cemberut, dalam hati ia sangat ingin berlama dekat dengan sang kakak, sungguh menyebalkan.
"apa yang ingin kamu bicarakan, tomy" tanya Marlind
"Maafkan tomy ibu, bukan tomy tidak menghargai ibu" ucap tomy meraih tangan marlind
"Bu, tomy hanya ingin tahu apakah Om Ardian.."
"iya Ardian papamu, tomy. apa kamu menemukannya?" potong marlind tahu kemana arah bicara putra yang dianggap seperti putranya sendiri itu.
"Lalu fana bu?" tanya tomy
"maksudmu fana anaknya Ardian?"
"iya bu, fana anaknya" ujar tomy
"berarti dia saudari kembarmu" jelas marlind tahu betul.
"kembar?" marind menganggukkan kepalanya
"apa?" pekik Vola tidak bisa menahan keterkejutannya dari tadi, vola sengaja menguping dari kamarnya.
"Enggak mungkin." ucap Vola tidak mau mempercayai itu ia hanya ingin Tomy jadi kakaknya bukan menjadi orang asing
"bu, kak tomy anak ibukan?" tanya vola tak rela jika kakaknya itu bukan kakaknya, marlind menggelengkan kepalanya menyatakan kalau tomy bukan anaknya.
Air matanya menetes deras, tomy menghapiri vola yang sudah menjadi adiknya itu lalu menarik vola kedalaman pelukannya.
"Jangan khawatir, kakak akan menjadi kakakmu selamanya" ujar tomy.
"lalu bagaimana dengan kak Fana?" tanya vola masih berada didekapan tomy
"kalian berdua akan selalu menjadi saudari ku, terutama kamu vola" ucap tomy tulus.
"Benarkah?" tanya vola mengangkat kepalanya dan melihat mata tomy lekat, ia mencari kebohongan disana tapi yang ia dapatkan hanyalah keseriusan.
__ADS_1
"eeem"