Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
35 Malam Yang Panjang Part II


__ADS_3

Masih dalam pelukan ibu marlind, sekan Tomy tidak ingin lepas dari pelukan hangat itu begitupun Vola ikut serta dalam pelukan hangat itu, ia juga tidak ingin jauh dari kakaknya.


Air mata Vola deras bagaikan kincir air, kemaren ia harus menerima jika Tomy yang selama ini menjadi kakaknya malah mempunyai saudari kembar, bukankah berarti kasih sayang kakaknya itu akan terbagi bahkan ia bisa jadi tidak mendapatkannya lagi karena pada kenyataanya Vola dan tomy bukanlah saudara kandung.


Lalu dengan pernyataan Tomy sekarang, Vola semakin menangis kesegukkan dalam pelukan kakak dan ibu Marlind.


Pernyataan jika Tomy akan ikut dengan keluarganya, meski itu belum tahu kapan tapi Vola sulit menerimanya itu lebih sulit dari kenyatan jika Tomy bukan saudara kandungnya.


Mereka akan semakin. jarang bertemu bukan?


Sedangkan ibu Marlind masih dalam mode diam tidak bisa berkata-kata apapun, semuanya kelu.


Ia selalu ingin anak-anaknya selalu bersama dengannya termasuk Tony Amarsyan, anak pertamanya yang selalu sibuk bekerja di kota dan selalu saja mempermasalahkan Tomy Amarsyan anak keduanya, yang dianggap Tony menjadi penyebab meninggalnya ayah mereka.


Sifat Tony selalu tidak sopan pada Marlind berbeda dengan Tomy yang dijuluki b*jingan tapi ia tidak lah sebajingan Tony saat berhadapan dengan orang tua khususnya Ibu Marlind ibu yang sudah mengasuh dan menjaganya selama ini.


Tapi sekarang Tomy Amarsyan juga akan pergi darinya dan meninggalkan nama Tomy Amarsyan yang selama ini disandang oleh Tomy.


Usai dari peluk, tangis duka, Vola lebih dulu meninggalkan Marlind dan Tomy, saat mendengarkan Tomy mengajak untuk datang dihari ulang tahun Viena dan dirinya sendiri besok.


Tomy tidak marah dengan sikap Vola seperti itu, ia memaklumi semua karena Vola menyayanginya.


Mereka ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat dan menenangkan pikiran masing-masing.


Di dalam kamar, Tomy menjadi dilema oleh pikiranya yang akan dipilihnya nanti.


Rasanya berat jika untuk berpisah tempat tinggal dengan Marlind dan Vola, akan tetapi Tomy juga menginginkan keluarga utuhnya sedari dulu.


Disuatu sisi


Jam satu malam semua orang sudah terlelap dalam tidur dan bermimpi indah. tapi itu tidak untuk Viena, ia tiba-tiba terbangun dari tidurnya hanya untuk melihat foto Garel seorang.


"apa ayahmu saja yang kau rindukan, sayang?" ucap Viena pada perut buncitnya yang tidak lupa ia usap-usap seakan ia berintraksi langsung dengan anaknya disana.


"apa ayahmu akan datang diulang tahun bunda besok? bunda harap ayahmu akan datang" ucap Viena sedih


"tidak, bunda tidak mengizinkannya datang" sambung Viena kemudian seakan bimbang dengan pikirannya sendiri.


Air mata yang tidak pernah ia undang itu, bercucuran membasahi pipinya, kehamilan Viena memang membuat Viena kerap kali sensitif tentang hubungannya dan Garel hingga hal itu membuat Viena menangis tiba-tiba.

__ADS_1


Viena selalu menolak apa yang sebenarnya ia rasakan, Ia kembali memandang lekat wajah yang ada difoto itu kadang Viena juga ikut tersenyum manis tapi itu hanya sementara.


"Udah ya sayang, bunda lelah" begitulah ucapan Viena pada sang anak di dalam perutnya saat ia sudah tidak tahan untuk melihat wajah Garel.


Viena kembali mengambil posisi tidur, tapi ia tidak kunjung memejamkan mata, padahal sekarnag sudah jam 3 pagi ia belum kunjung tidur.


...**********...


Di Kota


Jam 04:00 pagi, iya sepagi itu Merelvin sudah selesai dengan urusan mandi, ia tinggal memilih pakai apa yang cocok hari ini untuk dikenakannya.


Dan se-jam lagi, Merelvin akan menjemput Agelia Andrin di villa.


Tentu pakaian yang Merelvin kenakan harus bagus dimata Agelia itulah yang dipikirkan Merelvin saat melihat koleksian pakaiannya dilemari pakaian.


Selain ingin terlihat bagus dimata Agelia, ia ingin berpenampilan memukau di acara ulang tahun kedua adik kembarnya.


Merelvin begitu bahagia, ia tidak sabaran melihat kebahagiaan Agelia yang akan bertemu sahabat Agelia yaitu adiknya sendiri dan mmerelvin juga tak sabaran memberi kejutan untuk adik kembarannya.


Dengan stell yang sudah rapi ditubuh tegap Merelvin, pakaian itu lebih terlihat stellis dan mempersona untuk pria berusia 31 tahun.


"Maren, Apa Papa sudah bangun?" tanya Merelvin pada putri dari bibi sarah, saat hendak menuruni anak tangga.


"kenapa?" tanya Papa Andrian tiba-tiba dari ruang kerjanya. Maren dan Merelpun langsung menoleh kearah sumber suara.


"kenapa Papa dari sana?" Merelvin mengabaikan pertanyaan Papa dan malah bertanya balik soalnya Merelvin merasa heran saja dengan sang papa, pagi-pagi sudah dari ruang kerja saja.


"Merel, jawab papa dulu. kenapa Merel tanya papa? dan pakaian itu mau kemana sepagi gini?" tanya Andrian menyelidik putra tertuanya sudah rapi saja.


"nah itu Pa, Merel cari Papa biar nanti berangkat ke desa Scarla papa berangkat sama sopir Papa saja, Merel ada urusan penting" ucap Merelvin dan tidak mengatakan jika ia akan berangkat bersama Agelia, nanti juga papanya akan tahu jika Merelvin berangkat dengan siapa.


"lalu kenapa Papa dari ruang kerja?" tanya Merelvin lagi


"Papa tidak bisa tidur aja Merel, semalaman" ucap Andrian pada putra tuanya itu, Andrian memang lebih terbuka pada Merel yang mana Merelvin juga lebih terbuka pada sang Papanya itu.


"apa papa takut, sini biar aku peluk" ujar Merelvin diujungi candanya pada sang Papa, agar tidak terlalu takut.


"dasar, anak kurang ajar" sahut Andrian kesal dengan putranya yang sering kali mengejeknya saat dalam keadaan seperti ini.

__ADS_1


"ya udah, mmerel berangkat dulu Pa" pamit Merel setelah melihat reaksi kesal sang Papa.


Rasanya ingin mentertawai Papa tapi ia usahakan untuk menahannya, bagaimanapun Merelvin tahu apa yang membuat Papa Andrian takut.


"iya" jawab Andrian singkat.


Diperjalanan menuju Villa, Merelvin menikmati perjalananya dengan alunan musik seraya bersiul siul ria.


Dengan wajah berseri-seri Merelvinpun akhirnya sampai divilla.


ia memasuki Villa itu seperti biasa tanpa mengetuk terlebih dahulu atau semacamnya.


"kak Merel!!!" pekik Agelia terkejut saat ia keluar dari ruang sebelah kamarnya ada Merelvin tepat di depannya.


Malu, ya malu sekali rasanya Agelia saat ketahuan masuk ruang yang sebelumnya tidak diizinkan Merelvin memasukinya.


Dan ia memang sudah membuka kunci pintu sedari tadi, sehingga Merelvin masuk tadi tanpa meminta Agelia membuka untuknya.


Glegek


Merelvin menelan ludahnya dengan susah payah, bukan karna ia marah pada Agelia tidak menepati peraturan yang telah Merelvin sampaikan melainkan Merelvin diberi suguhan yang begitu menggoda dipagi hari.


Agelia hanya bisa mematung dan menundukkan kepalanya saat Merelvin juga diam yang dikira Agelia, kakak dari sahabatnya itu akan marah padanya.


Mata Merelvin tergeliur saat melihat kulit mulus Agelia yang hanya mengenakan handuk sebatas setengah paha.


Sebagai pria normal, Merelvin akan tergoda dengan pemandangan seperti yang Agelia tampilakan padanya pagi ini.


Mengikuti nalurinya yang membawa langkah kakinya mendekat kearah Agelia, Agelia mulai gemetar ketakutan dengan reaksi Merelvin padanya.


"Matilah aku, apa kak Merel akan menghukumku" Batin Agelia menerka nerka.


"Apa kau mengodaku?" tanya Metelvin tepat disamping telinga Agelia atau lebih tepatnya Merlvin berbisik ditelinga Agelia.


"bagaimana ini? kenapa aku tidak bisa berkata apa-apa?batin Agelia gelisah ia bagaikan patung tidak bisa bergerak atau bicara.


"eeeem?, apa kau benar-benar menggodaku? tanya Merelvin sekali lagi seraya menatap wajah Agelia dengan jarak dekat.


Jantung Agelia dag dig dug, tak bisa berdetak normal.

__ADS_1


"jantung gila, kenapa kau tidak berdetak normal saat melihat wajah tampan kak Merel" ujar Agelia dalam hati, wajahnya sudah memerah ia belum memahami apa yang dikatakan Merlvin padanya, yang ia pikirkan adalah kemarahan Merelvjn serta diketakutannya itu ia disuguhkan wajah tampan Merelvin dengan jarak begitu dekat.


"Heiii.... "


__ADS_2