Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
63 Membayangkannya


__ADS_3

Tomy tahu maksud Casya hanya saja Tomy malas menggubris ucapan cahaya.


"Tenanglah, bagimana aku yang akan menenangkannya, bukankah sayang sekali sudah bangun tapi tidak dim*njakan" Rayu Casya dengan nada yang sengaja dibuat buat menggoda.


Tomy tetap akan menjadi Tomy, tubuhnya seakan tidak menginginkan apa-apa dari Casya, bahkan yang tadinya sudah one malah kembali pada mode pesawat alias tidak bersinyal.😆


"jika punyamu sudah b*sah ulah punyaku oke, kau ajak dia saja.


Bukankah mengajak seorang pelayan tidak perlu membayar mahal" bisik tomy pada Casya seraya melirik kearah pelayan pria tadi yang masih setia menunduk bersalah.


"kau, "geram Casya tapi Tomy tidak menggubriskan Casya lagi.


Ia pergi meninggalkan restoran itu begitu saja, Tomy begitu puas melihat eprsesi marah nya Casya.


Berrbeda halnya dengan Maren yang berada di dalam taxsi, ia tampak menahan rasa malu pada dirinya sendiri dan pemikiran aneh yang tiba uncul dikepalanya.


Bahkan pemikiran aneh itu membuat Maren melewatkan makan paginya, ia langsung meminta sopir taxsi itu membawanya langsung menuju kampus.


Sesampai di kampus, Maren menghubungi Vola kembali, apakah temannya itu berkabar atau masih belum.


Tanpa Maren sadari ternyata panggilannyapun diangkat oleh Vola, kebetulan Vola memang sudah mengisi batrei ponselnya bahkan milik ibunya juga sudah ia isikan.


"hallo, Marenn?" sapa Vola dengan lemas.


"VOLA!!! akhirnya" teriak Maren


"kau akan memecahkan gendang telingaku" protes Vola tak terima dengan teriakan temannya itu.


"sorry, ke mana saja kau Vola, sudah 3 hari tidak masuk kuliah?" tanya Maren pada inti dari alasan mengapa ia terus menghubungi temannya itu.


"maafkan kau, Mar. nanti aku cerita, sekarang aku sedang diperjalanan ke kampus" ujar Vola lesu.


"baiklah, aku tunggu di depan kampus" sahut Maren lalu mengakhir panggilanya dengan Vkla.


Setelah panggilan berakhir, pikiran Maren kembali pada Tomy di mana salah satu benda kenyalnya disentuh oleh tuannya dan begitupun Maren melihat dengan jelas jika benda yang tidak sengaja tergesek kulitnya sudah one meski dilapisi kain cel*na Tomy.


Maren frustasi membayangkanya saja, kenapa perasaan aneh menghinggap dihatinya dan bayangan wajah tampan Tomy yang blasteran membuat Maren semakin aneh-aneh dibawa melayang.

__ADS_1


Lebih membuat Maren frustasi lagi dengan kejadian aneh itu ia dapatkan dari tuan mudanya sendiri.


"aakkg, bagaimana nanti di rumah" teriak Maren dalam hati, ia tidak mengeluarkan kata-kata tapi hatinya sudah tak karuan lagi.


"apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Vola yang tiba-tiba sudah berada di depan Maren.


"aaah aku tidak tahu, bagaimana kabarmu?" tanya Maren tidak berminat menceritakan masalahnya sebelum ia mengetahui masalah yang dialami temannya itu.


Volapun duduk disamping Maren, karena kebetulan jam masuk mereka berdua belum dimulai, harus menunggu sekitaran 30 menit lagi.


"Ibuku sakit" ucap Vola sendu lalu menundukkan kepalanya.


Maren langsung menepuk tangannya dipundak temannya itu dengan kasih sayang.


"ibumu sakit apa?" tanya Maren


"ibu kecelakaan, dan sekarang saraf otak dan saraf kaki ibu tidak sedang baik-baik" jelas Vola


"dokter bilang, Ibu harus dibawa kedokter handal dan itu ada di luar Negri" lanjut vola lalu menjatuhkan air matanya .


"Aku tidak mungkin menghalangi kepergian ibu" ucapnya lagi dengan tertunduk.


itulah yang bisa ia berikan pada Vola, untuk membantu biaya ia kuliah saja didapatkan dari sang majikan ibu.


Vola menerima pelukan hangat dari temannya itu karena Vola tahu apa yang ada dipikiran Maren, iya sangat mengerti jika temannya juga sedih tapi ekonomi keluarga tidak sebaik Vola bahkan.


Vola mungkin memiliki ibu yang penuh ketersembunyian seperti latar belakang kehidupannya yang tidak diketahui oleh Vola sendiri.


"Apa aku harus pergi bersama ibu dan melupakan kuliahku? ibu tidak punya siapa-siapa selain aku Mar" Tanya Vola lirih yang masih berada dipelukan Maren.


"apa kau sudah mengabari Kakak-kakakmu?" tanya Maren.


"mereka bukan putra kandung ibu, apa aku harus membiarkan ibu bersama meraka sedangkan aku putri kan..." ucap Vola tidak menyelesaikan ucapannya, ia ragu jika mengatakan dirinya putri kandung, karena drama dalam keluarganya sungguh mengganggu isi kepalanya.


Pertannyaan tentang dirinya, apakah dirinya juga bukan putri kandung ibunya.


"kenapa vola, katakan. tidak apa-apa" bujuk Maren.

__ADS_1


"aku juga takut, jika aku juga bukan putri ibu. apalagi dirumah tidak ada satupun foto pernikahan ayah dan ibu" lanjut vola pada akhirnya mengenai selamai ini ia juga tidak mengenali sosok ayahnya itu semakin membuat ia mengira ibunya hanyalah wanita yang ingin menjaga mereka bertiga sebagai anak-anaknya.


"Tidak vola, dia ibumu, dia sangat mirip dengan mu" pendat Maren dan ia juga pernah melihat foto ibunya Vola mirip dengan Vola meski tidak sebagian dari sudut-sudut tertentu.


iya wajah yang vola dapatkan itu lebih dominan pada wajah Thomas Amarsyandes.


"kau harus bahas tentang pengobatan ibumu pada kedua kakakmu dengan baik-baik. bagaimanapun mereka juga putra-putra yang sudah dirawat ibumu dengan kasih sayang" jelas Maren dengan bijak.


Vola melepaskan pelukan itu lalu berpikir sejenak, hatinya membenarkan ucapan temannya itu, selama ini juga kedua kakaknya sama-sama hadir untuk ibunya begitupun Andrian sang papa kak Tomy atau lebih tepatnya mantan kekasih ibunya.


Vola juga belum membahas bersama teman kedua kakaknya, apakah ibu harus dibawa keluar Negri meski pada kenyataan diluar Negri adakah dokter yang bisa menyembuhkan ibunya kembali seperti semula.


dreet dreet


sura ponsel bergetar dari tas Vola, segera Vola membuka tasnya, dilihatnya ternyata bukan ponselnya melaikan ponsel milik ibunya.


Sengaja Vola bawa ikut bersamanya setelah ia melihat dan mengisi daya batrei ponsel milik ibunya itu.


"Ponsel ibuku" gumam Vola lalu memperlihatkan layar ponsel itu pada Maren dan mengangkat alisnya pada Maren untuk memberi isyarat apakah ia perlu mengangkat panggilan masuk dari nama kontak panggilan yang bertuliskan Daddy Marjones.


Merasa ditanya, Maren pun meneguk untuk mengiyakan maksud dari temannya itu.


Volapun mengangkat ponsel itu


"Hallo,... "sapa Vola


Diseberangan sana, mendengar suara itu bukan milik Marlind, tampak terkejut karena baru pertama kali ini Marlind membiarkan ponselnya dipegangnya orang.


Bahkan Marlind tidak pernah mengangkat panggilannya di depan anak-anaknya.


Maka dari itu, daddy juga tidak mengenali suara Vola melainkan foto Tony Tomy dan Vola saja yang daddy Marjones ketahui..


"kenapa ponsel milik Marlind ada ditanganmu?" tanya Daddy Marjones dengan nada dingin, Daddy Marjones mengira jika suara gadis yang mengangkat panggilan itu adalah dalang dari Marlind menghilang 3 hari ini.


Bagi Daddy Marjones, panggilan yang tidak diangkat mmarlind sama halnya dengan Marlind hilang.


"Maaf saya putrinya, bapak siapanya ibu saya?" tanya vola ragu-ragu tapi rasa penasaran Vola lebih besar, sehingga Vola memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


Vola berpikir, jiKa kemungkinan kontak bernama Daddy Marjones itu adalah sebutan untuk ayahnya yang dikatakan sudah meninggal.


Pikir Vola, bisa saja ibunya membunyikan kebenaran tentang ayahnya.


__ADS_2