
"BERHENTI!!?" Bentak Viena dari kejauhan.
"jangan sentuh saudaraku dengan tanganmu itu" teriak viena lagi yang tiba-tiba sudah didekat Tomy dan Garel.
ya setelah memesan Viena kembali menyusul Tomy yang belum juga kelihatan.
Sesampainya diluar restorant Viena saksikan Tomy dan Garel berkelahi lebih tepatnya Garel hendak memukul Tomy.
Hati Viena hancur, bagaimana ayah dari anaknya memukul saudara kembarnya Viena.
Mata Garel membulat sempurna mendengar penuturan Viena barusan.
"saudara?" tanya Garel tidak percaya.
Viena sungguh tidak menggubris Garel dan menarik tangan Tomy menuju mobil, mood Viena hilang untuk makan direstoran itu.
Garel langsung mengejar mengejar Tomy dan Viena.
"aku mohon, maafkanku" ucap Garel lirih penuh sesal.
"maaf, maaf" ucap Garel lagi, Garel tidak tahu harus berucap apa untuk mengungkapi kesalahannya selain kata mengatakan maaf.
Sungguh Garel bingung harus melakukan apa, sekarang ia malah menambah kesalahan dengan memukul Tomy yang ternyata saudara kembar Viena, ia sudah salah faham.
"Maaf..." ucap Garel memohon
Viena tidak memperdulikan Garel, ia terus membawa Tomy sampai mobil dan mengajak Tomy meninggalkan tempat itu.
Permohonan Garel semakin tidak berguna saja, bahkan sekarang Viena mengabaikanya.
Mata Garel menatap lurus kearah mobil yang melaju cepat itu.
Garel melupakan sesuatu, terlalu larut dalam kesedihan mebuat ia yang sudah pernah melihat tomy, tak terpikirkan olehnya untuk menggali informasi tentang siapa Tomy.
Sekarang perbuatannya malah akan membuat semuanya semakin keruh.
Garel hanya bisa mencambak rambutnya frustasi, apa yang harus ia lakukan mulai sekarang.
Apa harapan sudah sirna sejak lama atau memang ia hancurkan barusan.
Melihat perut buncit Viena barusan, Garel semakin dihantui dimana ia mencengram lengan Viena dengan kasar, ia begitu menyakiti istrinya itu.
"maafkan aku, maaf" ucap Garel lirih.
Air mata Garel meluncur deras tak kuasa menahannya betapa ia menyesali semua yang ia lakukan selama ini.
Garel sadar diri apa yangbia rasakan ini belum apa apa, bahkan perjuangannya untuk mendapatkan maaf Viena, belum seberapa.
Didalam mobil, Viena membawa Tomy dengan mobilnya dengan tatapan lurus.
__ADS_1
Meski Tomy merasa sakit dipipinya, tapi Tomy tahu Viena lebih sakit didalam hati sana.
keduanya saling diam, hingga mobil yang dikemudi Viena berhenti ditepi jalan raya yang sepi, sehingga tidak masalah bagi mereka berhenti disana.
Air mata dipipi Viena pun akhirnga luruh deras membasahi pipi mulusnya.
Tomy langsung meraih tubuh saudari kembarnya itu masuk ke dalam pelukannya.
Vienapun menangis didekapan Tomy, cukup lama Viena menangis di sana hingga suara isakan tangis Viena tidak lagi terdengar ditelinga Tomy.
"Fana?" sapa Tomy merasa aneh, rasanya tidak mungkin saudari kembarnya itu tertidur.
"Fan?" sapa Tomy lagi dengan lembut untuk kedua kalinya.
Tidak mendapatkam sahutan dari Viena. Tomypun melepas pelukannya dilihat nya mata Viena terpejam.
Alangkah paniknya Tomy, saat tangannya tidak sengaja menyentuh pipi Viena, sepertiny Saudarinya pingsan.
Pipi yang sembab dan kulit yang sangat panas.
Tentu keadaan seperti ini membuat Tomy panik, akal sehatnya menjadi tak berpungsi, mau membawa mobil melaju tahu sendiri jika Tomy tidak bisa mengemudi mobil.
Berselang beberpaa menit untung saja terdengar suara nada panggil masuk dari ponsel milik Viena, segera Tomy meraih ponsel yang berada di dalam tas Viena itu.
📱"Tolonglah, tolong, aku tidak bisa membawanya" ucap Tomy panik ia tidal melihat siapa yang menelpon ia hanya meminta pertolongan karena itu yang sekarang ia butuhkan.
📱"apapun yang terjadi kirim alamatnya, aku akan kesana" ucap Agelia, tidak mau berbasa basi dalam kepanikan, pasti ada sesuatu dengan Tomy pikirnya.
📱" baiklah" sahut Tomy sedikit lebih lega, ia baru menyadari kenapa tidak sedari tadi menghubungi orang atau keluarganya untuk membantu mereka.
Tomy mengirim alamat pada Agelia, diseberangan sana Agelia langsung pergi meninggalkan perusahaan tempat ia bekerja, ia tidak peduli lagi dengan Deffan akan marah padanya toh biasanya juga Deffan hanya menasehati saja.
Agelia melajukan mobilnya dengan cepat ke lokasi yang dikirim Tomy.
Tibanya di lokasi, Agelia langsung turun dan mengahmbiri mobil yang di sana ada Tomy dan Viena.
"apa yang terjadi?" tanya Agelia
"fana, pingsan" sahut Tomy masih panik, Tomy sangat panik dengan keadaan viena yang hamil itu.
"apa? kenapa kau tidak membawanya kerumah sakit?" tanya Agelia
"aku "ucap Tomy tidak selesai, ia bingung mengutarakan bagaimana ia mmebawa Viena.
"alangkah baiknya aku saja membawa mobilnya" tawar Agelia melihat posisi Viena di tempat mengemudi membuat Agelia menebak jika saudara kembar sahabatnya itu tidak bisa menggunakan mobil.
"ia,... bantu aku memindakan posisi Fana" pinta Tomy, Ageliapun langsung menuruti apa maksud Tomy
Merekapun menuju rumah sakit.
__ADS_1
"kabari om Andrian dan kak Merel" perintah Agelia pada Tomy, Agelia tetap fokus ke depan.
Tomy tidak menjawab permintaan Agelia tapi ia tetap melakukannya, ia segera menghubungi kak Metelvin, ia tidak mungkin menghubungi papa Andrian yang sedang di Negara C.
Panggilanpun tersmbung pada kak Merelvin
📱"ada apa, apa Fana memintamu untuk tidak bekerja?" tanya Merelvin cepat membuat Tomy tidak ada kesempatan untuk berucap
📱"segera ke rumah sakit kak, sekarang kita ke rumah sakit, Fana pingsan" tukas Tomy mencela sebelum kak Merelvin kembali berbicara.
Mendengar Viena pingsan, Merelvin tidak lagi memperdulikan apakah panggilannya dengan Tomy masih terhubung atau tidak lagi.
ia segera meraih kunci mobilnya dan meninggalkan ruangannya dan perusahaan.
Dengan kecepatan diatas rata-rata, Merelvin melaju cepat tanpa memperdulikan mobil-mobil yang lain.
Dari dulu Merelvin selalu khawatir pada sang adik perempuannya itu pingsan, Merelvin ingat saat Viena sering sakit saat mama pergi meninggalkan mereka sehingga Merelvin mengikuti nasehat sang papa jika mama sudah ke surga, itulah mereka menganggap mam mereka telah tiada meski tidak ada jasadnya.
Mobil yang dibawa Merelvin dan Agelia berpasan sampai dirubah sakit.
Pihak rumah sakit dengan cepat membawa Viena untuk memastikan keadaan, disitu tidak hanya dokter irawan, sang dokter keluarga Az-zardan saja yang menangani Viena tapi juga dokter Nanda yang merupakan dokter kandungan.
Suhu tubuh Viena semakin meningkat, Merelvin menjadi diam seribu bahasa ia sangat takut apa yang terjadi dengan Viena.
Memory masa lalu saat Viena mengalami hal yang sama seperti hari ini, Viena mengalami panas tinggi yang mengkhwatirkan dan itu beberapa kali kambuh.
Untung waktu itu kedatangan Gebriel kecil yang mampu membuat Viena tersenyum kembali dan kembali seperti semula dan tidak pernah lagi mengalami panas tinggi.
"maafkan aku kak" ucap Tomy merasa bersalah, andai ia tidak datang pada keluarganya ini. mungkin saja hari ini tidak semakin rumit seperti ini batin Tomy.
"Tidak" ucap Merelvin lirih "kau tidak salah apa-apa Vezan, adikku. kakak beruntung kau kemabli" ucap Merelvin sembari menepuk pundak adiknya yang selisih 5 tahun dengannya itu.
Menepuk pundak adik laki lakinya itu dengan lembut, saling memberi leluatan, ia tidak akan menyalahkan adiknya disituasi seperti ini.
Kakek Zirdan, Papa Bram dan Mama Falisya datang, setelah mendapatkan kabar dari dokter Irwan, keluarga Az-zardan bergegas kerumah sakit.
"apa yang terjadi dengan Fana, cucukku" tanya kakek Zirdan khawatir.
"Nona Fana sudah ditangani, sekarang akan kami pidahkan ke ruang pasien" sahut dokteri irwan keluar dari ruang UGD.
"Ada yang terjadi dengan adik say?" tanya Merelvin
"untuk keadaan nona Fana, silahkan ikut saya ke ruang saya, tuan" pinta dokter irwan hormat.
Merelvinpun mengikuti dokter Irwan, tidak ada sang papa, Merelvinlah sebagai anak tertua mewakili keluarga Andrian yang seharusnya sudah menjdi tanggung jawab Garel sebagai suami.
Merelvin mengabaikan keluarga az-zardan dan mengikuti dokter irwan, tanpa berpamitan pada keluarga besan papanya itu.
Langkah kaki Merelvin gemetar saat melihat efresi diwajah dokter irwan.
__ADS_1