Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
27 Ruang VIP


__ADS_3

"apa katamu dok?" tanah Tony namun tiba-tiba Raffapun muncul dari ruang VVip garel.


"Tony," sapa Raffa membuat Dokter nanda tak jadi menjawab pertanyaan sementara tony langsung beralih Raffa dan teringat ia harus menemui tuanya.


"iya tuan, bagaikan kabar tuan muda?" tanya tony ke raffa sahabat tuan mudanya itu lalu ikuti masuk kedalaman ruang VVIP di belakang Raffa.


"sepertinya kondisi Garel sedang tidak baik, jadi kabarkan istri dan keluarga yang lain" pinta Raffa khawatir dengan sahabatnya yang sedang keadaan masih terpejam.


"baik tuan" ucap tony lalu mengambil ponsel miliknya disaku celana kanannya.


"jangan lakukan" sahut garel tiba-tiba berucap untuk mencegah tony menghubungi keluarganya.


"Apa kau masih keras kepala, setidaknya kabari istrimu. Jika tidak ia akan khawatir" jelas Raffa yang belum tahu keadaan sebenarnya dalam hubungan pernikahan sahabatnya itu yang ia tahu viena adalah gadis peka dan penyayang maka akan dipastikan viena akan khawatir dengan kondisi garel sekarang.


"Dia tidak akan khawatir fa, Fana kabur dari rumah dan tidak akan kembali." jelas garel yang masih diposisi rebahan diatas ranjang pasien.


"apa tuan mudamu serius?" tanya Raffa melirik kearah Tony untuk memastikan.


"iya tuan" ucap tony


"aku tahu aku yang salah, aku tahu" ujar garel sebelum Raffa berkomntar sembari meraih kepalanya yang masih sangat sakit.


"Garel kau tidak apa-apa?" tanya raffa tidak tega melihat garel memegangi kepalanya yang terlihat menyiksa sahabatnya itu.


Dengan keadaan garel kesakitan itu ia mengurung niatnya ingin memarahi sahabatnya telah menyia-nyialan gadis sebaik viena, apapun alasan Viena kabur ia sudah dapat menyimpulkan sendiri jika itu salah Garel.sepenuhnya.


"kepalaku terasa sakit fa" sahut garel masih meletakkan tanganya diatas kepala lalu bertanya kepada asistennya, ia tetap bersikukuh menayakan keberadaan Viena meski dlaam situasi seperti ini.


"apa ada kabar ton?" tanyanya kemudian


"Maaf tuan muda, kita belum mendapatkan informasi apa-apa. sepertinya nona fana memang tidak meninggalkan negara ini" Jelas Tony mengenai informasi yang ia dapatkan dari anak buahnya.


"apa kau yakin ton?" tanya garel ragu, soalnya garel mendengarkan sendiri jika agelia mengatakan jika viena pergi keluar negri, ia pikri tidak mungkin viena membohongi sahabatnya itu.


"iya tuan muda, saya sangat yakin. tidak ada data-data yang bisa membuktikan jika nona fana meninggalkan negara kita" ulang Toni dengan sangat yakin.


"kerahkan anak buahmu kesemua kota dinegara ini, temukan keberadaannya tapi jangan sapai ia tahu keberadaanya diketahui oleh anak buahmu" perintah garel pada toni, garel takut jika viena menyadari ada yang tahu keberadananya viena malah akan semakin pergi jauh dna kabur lagi.


Sebelum itu terjadi garel harus bisa memenangkan hati viena dan meminta maaf kepada viena.


itu salah satu cara viena tidak semakin jauh darinya.


kekhawatiran garel samapi ia tidak sadar jika kondisinya sekarang jauh lebih buruk dari viena yang sebenarnya juga dalam masa perjuangan diatas ranjang rumah sakit.


Garel tidak menimapli kondidinya sendiri ia malah memikirkan kondisi viena yang sedang hamil muda sangat berbahaya bagi viena tinggal sendirian.


garel berharap ia dapat menemukan dimana pun viena berada, sebelum kandungan Viena membesar.


Untuk mau atau tidak viena kembali bersamanya lagi, garel tahu itu tidak akan mudah setelah apa yang garel lakukan kepada viena selama ini.

__ADS_1


"baik tuan"


"aku harap kalian lebih teliti lagi, jika kalian menemukan keberadanya selama 3 hari ini akan aku kasih bonus tiga kali lipat dari pada biasanya" ucap garel dengan serius.


"dan jangan lupa bekukan semua credit card yang ditangan anasya dan semua fasilitasnya" titah garel dengan wajah kesal dan sesal selama ini ia bodoh telah menghidupkan sepasang suami istri selama 3 tahun lamanya bahkan penghianat didekatnya saja Garel tidak menyadari.


"Baik tuan" ucap tony hormat lalu pergi mwninggalkan ruang tuan mudanya itu setelah mendapat isyarat tangan dari garel.


Pagi hari


Diapertemen berwarna putih abu-abu, anasya dan reonal ketaketir. sepasang suami istri itu kesal tidak hanya rencana yang gagal tapi garel menarik semua fasilitas seperti credit card yang dipegang anasya selama 3 tahun ini.


Hidup dibawah penghasilan orang lain membuat anasya dan reonal tidak memiliki pekerjaan dan hidup bergantungan akan kekayaan garel.


"Sayang bagaimana ini?" tanya anasya pada reonal, suami tercintanya.


Ia sangat malu memgingat kejadian memalukan semalam yang mana ia bersama suaminya mendatangi Mall tadi malam namun saat ingin membayar belanjaan menggunakan kartu yang diberikan Garel tiba tiba tidak bisa digunakan lagi hingga ia mengoceh kasir seakan tidak bisa menggunakan kartu itu.


kejadian semalam


"Bagaimana ini? Tanya anasya mulai panik


"mau bagaimana, kita tidak bawa uang chest" ujur reonal


"maksudmu, mengembalikan semua belanjaanku?. aku tidak mau, malu sayang" gurutu anasya kesal.


"tidak, balikin" ucap anasya dengan kesal ia terpaksa mengembalikan belanjaannya dan menahan rasa malu.


Berbeda situasi didesa terpencil, Marlind melihat kesudut rumah yang biasa tempat tomy bersantai jika berada dirumah itu.


"ibu, apa kak tomy belum kembali? tanya Vola


"Belum nak" Ujar Marlind ke putri bungsunya itu.


"ibu jangan khawatir, kan biasanya kak tomy jarang pulang juga. nanti vola marahin kak tomy bikin ibu sama vola menunggu semalam" oceh vola seakan pada kakaknha untuk menghibur ibunya agar tidak terlalu memgkhawtirkan kakaknya itu.


Pada hal jika sudah berhadapan dengan tomy mentalnya hilang entah kemana arahnya.


Marlind mendengar vola mengoceh jadi terkekeh sendiri


"kenapa ibu tertawa?"


"kamu ada-ada aja, ibu tidak mempermasalahkan tentang makan malam semalam, tapi ibu khawatir kakakmu itu pergi dengan wajah panik" jelas Marlind pada vola,.


Vola tidak menggubris lagi apa yang dijelaskan ibunya, karena ia harus pergi kuliah kekota, terpaksa ia meninggalkan ibu sendirian dalam keadaan kaput oleh pikiran.


setelah menyalami marlind, vola beralih pada sang jagoan, motor meatic kesayanganya.


Vola hari ini harus kuliah siang, tapi karena perjalanan dari desa ke kota V membutuhkan waktu 2 jam atau bisa 1 jam setengah kalau dalam keadaan mengemudi cepat, namun ia sering dinasehati ibunya untuk bernagkat lebih awal agar bisa mengendarai motor lebih pelan dari pada biasanya.

__ADS_1


Vola sengaja pulang pergi dari desa ke kota untuk kuliah, ia tidak mau ngcost atau sewa rumah dikota.


Tidak hanya biaya yang menjadi pertimbangan vola tapi juga kasihan pada sang ibu yang sering sendirian dirumah.


kak tony yang sibuk bekerja dikota bahkan vola sendiri tidak tahu kota mana tempat tony bekerja, tony jarang mengunjungi mereka didesa.


Vola dan kakaknya tony tidak bisa bersatu karna vola tidak menyukai sifat kakaknya itu yang selalu mau terlihat unggul dari Tomy dengan cara apapun.


begipun dengan tomy kadang tidak dirumah berhari-hari tanpa ada kabar, kadang juga kalau dirumah ibunya Vola dan kakaknya tomy saling tak berbicara.


maka vola tidak tega meninggalakan ibunya sendirian dirumah.


diperjalanan kekota suara dering ponsel vola berbunyi, vola berdecak kesal dengan panggilan masuk itu, vola merasa perjalanannya terganggu dan ia harus berhenti jika ingin mengangkat panggilan masuk itu agar terhindar dari namanya kecelakaan.


"kakak" gumam vola lalu menggeserkan tombol hijauan panggilanpun tersambung.


📱"hallo kak?" sapa vola senang jika yang menelpon adalah kakak yang baru saja ia bicarakan dengan ibu dirumah tadi.


📱"udah berangkat kuliah?" tanya tomy diseberang sana.


📱"iya kak, ada apa?" tanya vola dengan nada yang tiba tiba berubah kesal padahal dalam hati vola senang dengan kak tomy yang selalu memperhayltikannya,


meski orang bilang tomy bajingan tapi tomy tidak sebajingan itu dimata vola, vola merasa senang bahkan jadwal vola kuliah saja tomy tahu.


"nanti kalau ibu tanya kakak, kakak enggak bisa pulang. maaf soal semalam kakak ada urusan" ujar tomy lembut jika berhadpaan dengan sang adik kecilnya itu.


"yaudah vola lanjut dulu"


"iya hati-hati" ucap tomy pada vola sang adik.


Diruang VVIp, Tomy tersenyum membayangkan wajah cemberut adiknya jika ia telah membatalkan makan malam bersama semalam, ia tahu jika makan bersama adalah moment yang selalu dinanti adiknya itu sebenarnya Tomy merasa kasihan dengan Vola tapi ia tetap tersenyum nembayangkan wajah cemberut itu.


Kasihan tapi kenapa Tomy memilih jarang untuk mengwujudkan moment itu alasannya karna Tony sang kakak, ia ingin dengan jarnagnya dirinya dirumah kakaknya itu akan selalu datangbkerumah dna menghabiskan waktu bersama ibu dan adiknya namun ternyata pengorbannaya tidak membuah hasil nyatanya tony tetap jarnag pulang.


Sekarang Tomy sudah terbiasa jarang pulang.


"Tomy?" sapa viena perlahan membuka matanya yang sedari semalam terpenjam belum bangin, ya semalam Viena pingsan namun kemudian viena tidur pengaruh oleh obat.


"Bagaimana? apa masih ada yang sakit? tanya tomy lembut.


viena menggeleng kepalanya tersenyum menandakan dia baik-baik saja, tentu tomy tahu itu hanya kebohongan saja ia tahu jika viena tidak ingin membuat ia semakin khawatir dan tak ingin membuat tomy repot.


NamjnTomy merasa senang melihat senyum manis diwajah cantik viena detak jantung tomy merasa berdetak tapi itu bukan saol cinta, tomy merasa ada keanehan sendiri melihat Viena itu lah kenapa Viena masuk dalam list orang yang harus ia jaga.


"aneh?" batin tomy tak mengerti dengan perasannya kepada viena sekarang.


ia merasa nyaman dekat dengan viena, rasa sekan dirinya dengan viena sudah saling kenal semenjak lama bahkan tomy merasa jika ia dan viena harus saling menjaga satu sama lain.


entah perasaan apa itu tapi yang pasti tomy tahu jika perasaan itu bukanlah cinta? lalu apa?

__ADS_1


__ADS_2