Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
25 Kehawatiran Tomy


__ADS_3

"Kak Merel, ada apa kak?" tanya agelia berusah tenang didepan Merelvin kakaknya viena.


"Boleh aku masuk?" tanya Merel lalu masuk kedalam tanpa menunggu jawaban dari agelia.


"kenapa dia harus bertanya, kalau langsung nyongsor masuk gitu" batin agelia makin aneh aja dengan tingkah Merelvin.


"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Merelvin dengan suara yang berubah mendominasi.


"a,.apa maksud kak Merel?" tanya agelia terbata dan tertunduk tidak ingin membalas tatapan merelvin, mendengar suara kak merel saja agelia anget amat dingin iti auto copot jantung apalagi lihat mata tajamnya.


"Fana e... "ucap merelvin terpotong.


"Tunggu" potong agelia


"Sepertinya aku harus jujur sebelum kak merel tahu sendiri tapi gimana vie akan marah padaku dan mungkin dia tidak akan menemuiku saat anaknya besar nanti, aaaaakkh" pikir agelia bimbang dalam pikirannya sendiri lupa jika yang didepannya menatap nanar kearahnya.


"Tunggu, kenapa?" tanya Merelvin masih dengan tatapan sebelumnya.


"hehehe, enggak apa-apa kak, silahkan dilanjut" urung agelia menceritakan apa yang terjadi sebenarnya,


dalam hati agelia, is bisa beretmu dengan sahabatnya lagi itu dengan memberi tahu keluarganya tapi agelia hanya memiliki satu-satunya sahabat yang setia dan baik hati padanya yaitu viena, permintaan sahabatanya itu seakan menjerat hatinya untuk bungkam.


Bahkan viena selalu menjadi pahlawan bagi Agelia, jadi tidak kah kali ini agelia harus menerima keputusan viena sahabatnya itu.


tling tling.


suara pesan masuk, karena tahu itu bunyi dari ponsel miliknya, Merelvin meraih ponselnya yang berada disalam jas kerjanya.


📥"Maaf tuan, klien kita sudah menunggu di ruang meeting, tuan" pesan dari skretaris Merelvin Andrianada.


📤"Baiklah saya akan segera kekantor, sampaikan untuk menunggu 10 menit dan jangan lupa sampaikan maaf saya" balas merelvin kepada sekretarisnya.


📥"baik tuan"


"bisa antar aku kekantor?" tanya Merelvin beralih pada agelia, setelah ia memituskan panggilan dari skertarisnyam


" bisa kak" jawab agelia cepat, lalu melajukan mobilnya kearah kantor Merelvin.


"Untung. Tapi kenapa kak merel tidak bawa mobil?" batin agelia "aah sudahlah yang penting kak Merel enggak jadi tanya" pikir agelia.


keduanya saling diam sampainya ditempat tujuan.


"terima kasih, tumpangannya" ucap Merelvin lalu tersenyum pada agelia.


"sama-sama kak" sahut agelia lalu membalas senyuman Merelvin yang manis itu.


"Manisnyaaaa. mubazir jika disia-siakan" batin agelia, Merelvin tak berbeda dengan viena kalau tersenyum manis dan bikin yang melihat meleh salah satunya agelia setiap kali dekat dengan Merelvin selalu berdebar-berdebar.


yaah kadang berdebarnya, kalau tidak karena sorotan mata merelvin yang tajam jika berkaitan dengan adiknya, viena atau senyumannya terlalu manis ditambah lagi ketampananya yang luar biasa.


Setelah melihat Merelvin memasuki perusahaan keluarga Ardian, ageliapun kembali kevilla Merelvin yang sudah berapa lama ini menjadi tempat ternyaman bagi agelia.


...********...


Dimarkas mereka tiga sekawan itu, arland dan benny terlihat kesal dengan Tomy yang selalu menjadi penghalang rencana mereka berdua dalam menargetkan viena.


Tomy yang selama ini menjadi jalan termudah dalam mendapatkan target sekarang malah sebaliknya.


Bahkan tomy hampir dari kemaren samapi hari ini selalu mendatangi viena dikediamannya, itu menghalangi keduanya.


"Apa tomy menyukainya?" tanya arland pada benny temanya.

__ADS_1


"tidak mungkin, kau tahu sendiri, bajingan satu itu tidak akan pernah menyukai siapaun" protesnya dengan menyebut temanya dengan sebutan bajingan.


"iya juga, hatinya terbuat dari batu granet" timpal arland membenarkan ucap benny.


"mungkin saja dia ingin menikmati sendiri" ucap arland


"Bagaimana nanti malam?" tanya benny


"okeh" sahut arlad dengan senyum penuh maksud yang hanya dia dan benny saja yang tahu.


"hai, sorry telat" ucap tomy yang baru datang, ia datang seakan masalah kemaren sudah dilupakan begitu saja.


"dari mana saja kau?" tanya benny pura-pura tidak tahu. padahal benny dan arland tahu dari kemarin, semalam bahkan tadi tomy mendatangi kediaman viena.


"rumah Fana" sahut tomy jujur, karena tomy tahu jika dua temannya itu tahu pergerakannya, Jadi untuk apa menutup-nutupi sesuatu yang sudah terlihat.


"siapa Fana? apakah gadis itu bernama Fana?" tanya benny yang memang tidak tahu jika gadis viral yang mereka maksud bernama Viena Andriana Saffana.


Tomy yang tidak mau sahabatnya selalu mengingat gadis yang sudah menjadi kewajibannya sendiri untuk menjaga, merasa khawatir dengan kedua temannya itu jadi tomy hanya menjawab benny dengan senyuman saja.


"Jangan bilang kau tidak ikut kekota nanti malam?" tanya arland yang tebakammya mengatakan jika tomy tidak akan pergi kekota.


"Sepertinya, bukankah itu lebih menguntungkan kalian" ujar Tomy pada kenyataannya. jika tomy tidak pergi maka yang diuntungkan arland dan benny.


"aku tidak akan biarkan fana fanamu itu bermain dengan mudah dnegan mu begitu saja" batin arland.


"aku pulang dulu, tadi aku mau nyampaikan kalau kali ini aku tidak bisa ikut" ucap tomy lalu meninggalkan kedua temannya dimarkas mereka bertiga itu.


Dirumah tomy, ibu marlind Amarsyan hanya menggelengkan kepalanya saat melihat putranya yang satu ini, yaitu itu Tomy Amarsyan yang hanya sesuka hatinya dalam berulah.


Namun Marlind merasa ada yang berbeda dengan tomy, biasanya jika malam senin Tomy Amarsyan akan pergi kekota, batin Marlind bertanya tanya.


Tapi tidak dengan sore ini tomy duduk santai dikursi diruang tamu.


Beredar tentang Putranya tomy yang suka memainkan gadis diluar sana sudha menyebar luas di desa mereka, ia sudah meketahui karena sudah menjadi bahan pembicaraan masyarakat desa terpencil itu.


akan tetapi Marlind tahu jika mendengar tentang gosip masyarakat tentang putra itu agak terdengar aneh dari biasanya.


mungkin gadis baru yang dimaksud adalah viena, cukup istimewa bagi Tomy, putranya itu.


Tomy yang menyadari ibunya bersitatap kearahnya tidak menggubris, berpura biasa-biasa saja.


"Hai kak, ibu bilang kakak makin ganteng" ucap Vola Amarsyan tiba-tiba duduk bersebelahan dengan tomy, tentu yang dikatakannya sebuah kebohongan, yang kangen disini ia sendiri.


Vola Amarsyan adalah adik Tomy Amarsyan, meski orang bilang Tomy bajingan, berandalan dan lain-lainnya tidak membuat Vola membenci tomy, ia sangat menyayangi tomy layaknya ibunya yang juga sangat menyayangi tomy.


Baginya tomy akan menjadi tomy kakak yang selalu ada untuknya, begitulah tanggapan vola terhadap kakaknya itu.


Berbeda dengan kakak tertua Vola, ia tidak dekat dengan kakaknya yang satu itu, jarang pulang, tidak pernah perhatian, selalu marah-marah padanya dan tidak menyenangkan seperti Tomy.


Tomy mungkin berprofesi yang tidak baik, tapi ia sangat penyayang dengan adiknya Vola.


"Udah mandi?" tanya Tomy karena sudah mau malam tapi adiknya terlihat kusam alias baru bangun tidur.


"Hehhee, belum kak" sahut Vola jadi malu sendiri jika ditanya soal mandi oleh kakaknya itu.


Ia malu karena setiap ada kakaknya itu dirumah yang selalu ditanya tomy pasti soal mandi dan mandi.


"Mandilah sana, bukankah adik kakak ini ingin berkulit bersih seperti kakak" ucap tomy dengan tangan diatas kepala vola mengusap lembut rambut vola.


itulah yang membuat vola semakin sayang pada kakaknya itu, dimatanya kakak itu tidak ada duanya bahkan kakak pertamanya saja tidak pernah melakukan kasih sayang sederhana seperti yang dilakukan tomy amarsyan, sikap sederhana seperti itu akan menumbuhkan kebahagiaan besar untuk ikatan saudara.

__ADS_1


Volapun beranjak dari suduknya mengikuti perintah tomy dengan senyum bahagia, sederhana sekali kebahagiaan yang vola dapati yaitu mendapatkan prilaku baik dari tomy sang kakak.


Sepeninggalan sang adik, Tomy Kalut dalam pikiran sendiri, ia ingin sekali bisa menjaga viena setiap malam dan setiap hari dari dua temannya yang tidak akan bermain-main tentang apa yang mereka inginkan.


Tomy ingin sekali jika malam ini ia berkunjung kerumah viena, untuk memastikan jika viena baik-baik saja.


jujur saja perasaan tidak enak hati jika terus berkunjung itu ada jika berkaitan dengan viena, tomy tidak mau jika viena merasa tidak nyaman risish jika terus menerus tomy datang berkunjung ke rumah kecil Viena.


"kenapa denganku, apa aku lihat dari kejauhan saja" barin Tomy sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ada apa Tom?" tanya Marlind ibunya Tomy Amarsyan.


"enggak apa-apa bu" ucap tomy meirik sebentar kearah Marlind lalu beralih pada pikiranya lagi.


Marlind hanya pasrah saja dengan Tomy yang tidak mau bercerita tentang pribadinya kepada marlind ibunya tomy.


Semenjak kejadian 9 tahun dan membuat tomy dipenjara selama 5 tahun, diperkirakan usia tomy baru menginjak 16 tahun kala itu.


Tomy menjadi orang yang tidak mempedulikan omongan orang lain dan tidak pernah bercerita masalahnya kepada keluarga khusunya Marlid sang ibu.


Tomy Amarsyam Menjadi julukan pria seribu pesona dan primadona didesa terpecilnya itu.


Wajah tampan ala-ala bule blasteran yang dimiliki dari kecil menjadi kebanggaan desa, namun seiringan waktu julukan Tomy berubah menjadi pria bajingan.


Meski putranya dianggap seperti itu, marlind selalu berusaha menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anaknya.


Apalagi pada tomy yang malah memilih hidup dijalannya sendiri dan selalu menangani masalah sendiri.


"yaudah, tomy mau makan apa?, mumpung ada dirumah maken bareng ibu sama vola" ucap marlind tulus pada putranya itu.


"Tomy keluar dulu bu, nanti tomy bakalan makan siang bareng" ujar tomy lalu meninggalkan rumah.


Rasanya tomy tidak tenang saja jika tidak memastiakan sendiri keadaan viena.


Marlind menggeleng kepalanya dengan pemikiran tomy yang sebenarnya tomy sangat penurut dan baik, tapi marlid menjadi bingung dengam tomy tidak lah seperti putranya sebelum 9 tahun lalu.


Tapi marlind setidaknya senang jika tomy mau makan malam bersamanya dan putrinya vola.


dikejauhan Tomy melihat kearah rumah viena yang pintunya tertutup rapat.


"sepertinya dia baik-baik saja" batin tomy.


meski merasa viena baik-baik saja, tomy tidak semudah itu beralu dari tempatnya itu.


Tomy masih melihat dengan lekat kearah rumah viena dengan rasa khawatir.


brukkkk...


tiba-tiba terdengar suara yang benda hempas keras dari rumah viena.


tubuh tomy menjadi panas dingin karena takut apa yang terjadi dengan viena, langkah kaki tomy melangkah cepat dan mendobrak pintu rumah viena yang terkunci itu.


benar saja apa yang dikhawatirkan tomy, arland sudah berada dirumah viena tapi arland sendiri tanpa ditemani benny.


Tersulut emosi tomy mendekat kearah arland yang mendekati viena, tanpa aba-aba tomy melayangkan tinjuan kewajah arland


Brokk


"Sudah ku katakan, jangan pernah dekati dia" marah tomy pada arland.


karna pukulan tomy bertubi-tubi, arland tidak bisa melawan atau menghindar sedikitpun pukulan tomy.

__ADS_1


Tomy terus memukul arland temannya itu sampai rintihan dan tangisan viena terdengar kesakitan.


"aawww., To..o. my, berhenti. perutku sa sakit" ucap viena terbata bata berusaha menghentikan Tomy karna ia sudah tidak tahan lagi mengenai sakit diperutnya itu lalu setelah berucap viena pingsan dalam keadaan memegangi perutnya.


__ADS_2