Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
19 Mengawali dan Mengakhiri


__ADS_3

......********......


pagi hari Jam 3 pagi viena sudah memantapkan diri untuk pergi meninggalkan kediaman yang disebut hadiah pernikahannya dengan garel.


ia perhatikan seisi kamarnya yang penuh dengan bunga hiasan, kamar yang menjadi saksi diaman viena mengawali dan mengakhiri kisah yang amat pahit baginya itu.


viena sengaja tidak memberi tahukan siapapun selain bi ina. itu saja viena tidak mengatakn jika ia kan bernagkat pagi ini, tepatnya jam 3 pagi.


Viena tidak ingin orang mencegahnyan pergi, maka dari itu ia juga harus pergi tanpa ada yang tahu termasuk sahabatnya agelia.


Sebelum viena meninggalkan kamar luas itu, viena sengaja meninggalkan selembar surat dan rekaman beserta amplop coklat untuk garel.


Walau viena tahu garel tidak akan pernah masuk kedalam kamarnya, karna selama ini garel memang tidak pernah lagi kemarnya setelah hari dimana viena pura-pura tidur waktu itu.


seperti itu realitanya kehidupan viena selama menyandang status istri dari pewaris tunggal, Garel Gebriel Az-Zardan.


Viena tidak tahu entah kapan surat dan rekaman beserta amplop coklat akan samapai pada tangan garel.


Tapi viena berharap jika garel menemukannya sendiri sebelum penyesalan kedua datang kepada garel.


Hari ini hari minggu dimana hari kebanyakan orang berlibur termasuk garel sipewaris tunggal.


tapi tidak bagi bi ina ia akan terus bekerja melayani majikannya itu.


Bi ina yang biasanya dibantu oleh viena, ia mulai tak enak, petasaannnya berpikir yang tidak tidak, karena viena belum juga keluar dari kamarnya.


"apa nyonya sakit? ataukah nyonyaa kelelahan? atau... "ucap bi ina membatin, tapi saat pikirannya mulai berpikir yang tidak ia berhenti dari pikiran itu.


karena kemaren pagi nyonyanya itu bilang belum tahu kapan akan pergi.


Bi ina menjadi lemas mengenang perkataan nyonyanya itu, Tapi bi ina harus menuruti janji yang terpaksa ia sepakati dengan viena untuk terus menjaga tuannya Garel Gebriel Az-Zardan.


Kalau bisa memilih bi ina tidak sudi lagi tinggal dirumah ini jika tidak ada yang viena.


TapTap


langkah kaki menuruni anak tangga, antusias bi ina menoleh kesumber suara tapi bi ina kecewa ternyata yang turun bukan viena melainkan garel.


Mata garel melihat kearah dapur tapi tidak ada sosok yang biasnaya menemani bibi ina memasak.


ia menjatuhkan tubuhnya diatasi soffa dibuang tamu sembari menunggu bi ina menyelesaikan tugas memasaknya.


anasya yang ditunggu garel juga tidak datang

__ADS_1


karena beralasan kakak sepupunya datang, ia sebelum garel turun kamar anasya sudah mengirimkan pesan seperti itu.


Garelpun mengindahkan maksud anasya tak datang karena harus menemani saudara sepupunya itu.


"Tuan, sarapannya sudah selesai" sapa bi ina setelah semuanya siap.


"iya" sahut garel lalu beranjak kemeja makan.


saat garel memasukkan sesuap nasi kemulutnya garel langsung berkomentar kepada bibi ina.


"Kenapa masakannya tidak seperti biasa?" tanya garel dengan nada ketus.


"maaf tuan, biasanya nyonya yang memasak" ungkap bibi ina jujur.


iya selama ini sebenarnya bukan viena yang membantu bibi ina memasak tapi lebih tepatnya bibi ina lah yang membantu viena memasak.


jadi sudah pasti rasanya berbeda, sedangkan lidah garel sudah terbiasa menerima makan yang dimasak viena.


meski rasa masakan bibi ina enak tapi lebih jauh enak aja masakan viena.


"apa?" tanya garel


"iya tuan, yang saya sampaikan kebenarannya. nyonya fana selalu memasak khusus untuk tuan dari awal tuan sakit" ujar bibi ina menceritakan sedikit cerita ketulusan viena pada tuannya itu.


"nyonya masih diatasi tuan, belum keluar kamar sedari tadi" ucap bi ina sesuai yang ia ketahui.


"iya sudah sana" usir garel pada bi ina lalu melanjutkan sarapnnya dengan raut terpaksa menelan nasi yang sudah ada diatas piringnya itu.


sudah hampir siang tapi viena belum juga muncul, garel merasa khawatir dengan kondisi viena yang belum sarapan bahkan sekarang sudah mau siang.


"bi, bi!!? " teriak garel memanggil manggil bibi ina


"iya tuan" sahut bi ina sembari berlari kecil kearah sumber suara yang memanggil-manggilnya.


"cepat lihat kamar fana, kenapa dia belum keluar kamar juga" perintah garel pada bi ina.


"baik tuan"


sebelum bi ina masuk kekamar bi ina membuka kecil pintu kamar lalu mengetuk pintu.


Tik tok tok


"nyonya, ini saya bi ina" ujar bi ina

__ADS_1


"nyonya fana" sapa bi ina tapi tak juga ada respons dari dalam.


bi inapun membuka lebih lebar lagi pintu kamar itu lalu masuk.


bi ina terisak disana melihat kamar sudah tertata rapi dan nakas milik nyonyanya sudah kosong selain yang ditinggalkan viena untuk garel tapi bi ina tidak memperhatikan itu dan tidak itu saja meja make up nyonyana sudah bersih, lemari pakaian yang teransfaran yang terbuat dari kaca itu sudah tidak ada lagi pakaian tergelantungan didalam sana.


"Nyonya, kenapa nyonya pergi begitu saja" ujar bi ina dalam isak tangisannya.


lalu bi ina cepat menghapus jejak tangisan-nya, karena bi ina tidak mau tauannya itu tahu jika nyonyanya pergi selama-lamanya, jika ia menangis sudah pasti garel akan tahu.


bi ina akan biarkan niat nyonya pergi agar tuannya akan menyesal karena penyesalan pertama yang akan dirasakan garel adalah kehilangan Viena Andriana Saffana.


"ada apa dengannya bi? " tanah garel yang melihat bi ina sudah berjalan kearahnya.


"nyonya pergi tuan" ucap bi ina.


"kenapa belum kembali? apa dia pernah cerita ke bibi kalau dia mulai bekerja lagi?" tanya garel


"tidak tuan, mungkin nyonya keluar bersama nyonya agelia" sahut bi ina berkilah, biar sendiri tuannya itu yang menyadari.


Di villa Merelvin Andrianada


Agelia menangis histris, bagaimana bisa sahabatnya pergi tanpa berpamitan kepadanya itu hanya viena kirim melalu pesan yang dikirim jam 3 pagi tadi.


📥"Agelia Andrin, terimakasih untuk pertemuan kita selama ini, Aku akan pergi keluar negri bersama calon bayiku, ketika kelak ia sudah pandai berjalan aku akan berkunjung padamu dan memperkenalkannya padamu, asalkan tempat dan alamatmu masih sama.


maafkan aku tidak berpamitan langsung padamu, karena aku tidak mau melihatmu menangis, karena itu akan membatalkan kepergianku.


Aku harap kepergianku ini jangan kau sampaikan kekeluargaan ku begitupun kak Merel, biarkan mereka tahu sendiri.


dan jangan lupa carilah sahabat yang tidak irit bicara sepertiku yang bisa menemanimu, Agelia Andrin.


Mungkin ini pesan terewel dari ku yang bisa jadi yang terakhir dariku,bkarena setelah kau balas pesanku nomor ini sudah tidak berfungsi lagi.


sekali lagi terimakasih telah hadir menjadi sahabat ku dan maafkan aku.


by: Viena Andriana Saffana.


"Jahat kau, jahat viena andriana saffana" ujar agelia dengan isak tangis yang mebasahi pipinya.


"kenapa kau pergi sendiri, kenapa tidak membawaku bersamamu, kau tahu aku tidak bisa jauh darimu, vi" agelia menangis sejadi jadinya.


Bagaimana bisa orang yang selama ini menjadi penyemangat, penyelamat sekaligus sahabat baginya malah pergi.

__ADS_1


bukankah semuanya sama kembali ketahun tahun yang lalu, mati karena harus hidup seorang diri.


__ADS_2