
Merelvin sudah mengabarkan berita bahagia pada sang papa Andrian.
Jika pertemuan dengan adiknya Vezan di Scarla berjalan dengan mulus, bahwasanya tidak ada drama-drama seperti diflm yang ditonton Merelvin, yang mana sering ia tonton disela sela istirahat kerjanya.
Bahwa difilm yang Merelvin tonton biasanya sering kali jika saudara yang terpisah akan sulit diajak bicara tapi tidak dengan Tomy yaitu Vezan, ia tidak mempermasalahkan sama sekali.
Pada intinya Merelvin sudah bahagia jika keputusannya menemui sang adik Vezan dengan terburu-buru tidak sia-sia..
"Pa, Vezan mau ikut tinggal bersama kita" ucap Merelvin bahagia.
"benarkah? mana dia?" tanya Papa Andriantak kalah bahagia dan semangat.
"Tapi, Vezan akan pulang seiringan dengan Fana kembali Pa" ujar merelvin mematahkan semangatnya dan papanya Andrian.
"Tidak apa-apa, dia juga perlu waktu. dia tidak mungkin meninggalkan Fana disana sendirian" ucap Papa Andrian lesu memikirkan nasip kedua anak kembarnya itu tapi masih bijaksana di depan putra tertuanya, Merelvin Andrianada.
"Baiklah pa, Merel mau istirahat dan papa juga harus istirahat agar bisa melihat kedua kembaran milik papa" Goda Merelvin dengan efresi seenaknya.
"Dasar, sepertinya kamu memang anak papa yang berbeda sendiri" ucap papa Andrian geregtan sama Merelvin, iya Merelvin memiliki sikap humoris jika di depan sang Papa.
"hehhehe" kekehan Metelvin lalu meninggalkan papa yang masih disoffa ruang tamu.
Sembari melangkah kekamarnya, Merelvin memikirkan tentang Vezan yang ternyata sangat mirip dengan Papanya.
khusunya cara berpikir Vezan dan papa Andrian sangat sama dan lebih tenang Vezan saat melakukan sesuatu seperti papa Andrian dari pada Merelvin yang kalau marah pasti gempar tanpa berpikir panjang, itulah Merelvin.
Di atas kasur empuknya Merelvin tidak bisa tidur, ia kepikir acara yang telah direncanakannya untuk besok, Merelvin terasa tak sabaran menunggu hari esok yang akan terlihat lebih berbeda dari sebelumnya.
Berbeda situasi di Villa Merelvin, ya disitulah Agelia yang dibuat oleh Merelvin menunggu dan menunggu.
Setelah hari di mana Merelvin dan Agelia makan bersama, Merelvin tidak pernah muncul di depan Agelia sama sekali dan Merelvin juga tidak datang kevillanya.
"Sungguh pecundang" oceh Agelia pada Merlevin yang sudah dipastikan Metelvin tidak mendengarkannya.
Setiap malam Agelia berpikir Viena sahabatnya sekaligus kakak dari sahabatnya.
Tapi kedua-dua orang yang dipikirkan oleh Agelia bagaikan debu diterpa angin kencang.
jika mengingat Viena, Agelia menjadi sedih berterus-terusan tapi jika mengingat Merelvin, Agelia dibuat kesal.
Bagaimana tidak, Agelia menajadi baper sendiri dibuat Merelvin berprilaku manis saat makan bersama waktu itu, ya Agelia sudah menaruh hatinya pada Merelvin Andrianada dan tidak lagi untuk Deffan Oskar, sang pemimpin perusahan tempat Agelia bekerja.
Tapi Tidak dengan Merelvin ia tidak ada waktu untuk memikirkan Agelia setelah pertemuanya dengan Agelia waktu itu, karena ia disibukan dengan pikiran mengenai tentang adik kembaranya, khususnya Viena yang sedang hamil tinggal sendiri itu.
__ADS_1
Tidak ada niat Merelvin mengabaikan Agelia, sebenarnya Merelvin sudah jauh lebih dulu menyimpan rasa pada Agelia saat Viena sering mengatakan jika adiknya itu memiliki sahabat yang baik yaitu Agelia, kebetulan Metelvin melihat secara langsung rupa dan pribadi yang diceritakan Viena pada Merelvin Mengenai Agelia.
Di Mana Merelvin meminta Agelia membawkaan viena nasi goreng, itu hanya alasan Merel saja biar bisa melihat berbicara dengan Agelia, kalau dipikir Merevin bisa sendiri mengantarnya pada Viena.
Hari itu adalah hari pertama bagi Merelvin dan Agelia bertemu, dan untuk saling menyimpan kontak panggilan itu atas saran Viena pada Agelia dan Merelvin bisa leluasa saling membahas sesuatu yang penting berkaitan dengan Villa Merelvin tanpa harus melalui Viena.
Agelia baik Merelvin sudah tidur akibat pikiran masing-masing yang mereka ciptakan sendiri.
tlingg...
Bagaikan secerah ingatan untuk Merelvin dan secerah harapa bagi Agelia.
Tiba-tiba Merelvin teringat sahabat adiknya, yaitu Agelia Andrin.
"Astaga, bagaimana bisa aku lupa dengannya" gumam Merelvin.
📤"bisa temani aku, besok?" pesan pun terkirim ke Agelia.
Secerah harapan itu untuk Agelia, yang ia harap Merelvin mengirimkan pesan seperti ini.
📥"Kemana, kak?" tanya Agelia melalui pesan yang ia kirim seperti biasa saja, padahal di balik sana Agelia sudah senyum jumawa.
📤"besok akan aku katakan" balas Merelvin tidak ingin mengatakannya, ia ingin memberi kejutan untuk Agelia, karna kejutan yang paling berharga sekarang bagi Agelia adalah pertemuanya dengan Viena. itulah yang dipikirkan Merelvin.
Rasanya ia digantung lagi
Agelia menjadi kesal dan tidak lagi membalas pesan pada Merelvin.
Siujung sana Merelvin menunggu balasan Agelia tapi tidak kunjung ada balasanya juga.
📤"aku akan menjumputmu besok pagi, jam 05:00" Merelvin kembali mengirim pesan agar Agelai bisa bersiap-siap berangat besok pagi dan menganggal serius ajakannya itu.
Di tempat Tomy ia sudah sering menghabiskan waktu di rumah bersama ibu marlind dan adiknya Vola semenjak kejadianya dengan Arland, ia hanya bermain sebentar sebenatar saja di Markas.
Seperti malam ini Tomy memilih dirumah saja bersama Marlind dan Vola meski kedua temanya sudah berkali-kali mengajak Tomy ke Markas karena biasanya mereka akan merayakan malam sebelum ulang tahun antara merka tapi Tomy menolak dengan sebaik mungkin agar tidak menyinggung kedua temannya dan Tomy malah mengajak Arland dan Benny keacara ulang tahun Viena dan dirinya sendiri besok harinya.
Begitupun Viena tidak hanya menyuruh Tomy mengajak masyarakat saja tapi Viena menyuruh Tomy secara khusus mengundang Arland dan Benny datang, karena bagi Viena teman dari Tomy harus diundang dan lupakan segala masa yang berlalu asal tidak mengulanginya lagi.
Dan semenkak itu tidak pernah lagi Arland muncul didepan Viena, entah apa yang dikatakan Tomy pada Arland dan Benny.
Malam ini sebenarnya Tomy ingin menagtakan pada Vola dan ibu Marlind tentang ia akan tinggal bersama keluarga kandungnya seiringan dengan Viena kembali.
Karma bagaimanapun ibu Marlindlah yang merawat dan menjaga Tomy menajdi sedewasa sekarang.
__ADS_1
Mesik Tomy dijuluki bajingan dan dikatai bejad dan pria berdosa, tapi ibu Marlind selalu memandang Tomy putranya sendiri dan memandang Tomy seperti Tomy tidak berubah layaknya Tomy yang dulu semasa umurnya belasan.
Maka Tomy sangat menghormati Marlind sebagai ibunya sendiri.
"ibu, Tomy ingin bicara pada ibu dan Vola" ujar Tomy menghampir Vola dan Marlind
"ada apa kak?" tanya Vola ikut serius saat melihat raut wajah Tomy sangat serius.
"Maafkan Tomy bu, Tomy entah kapan akan ikut bersama keluarga kandung Tomy, maafkan Tomy bu" ucap tomy duduk di delan Marlind tertunduk, kedua tangannya meraih kedua tangan Marlind dengan kelembutan.
"dan maafkan Tomy, selama Tomy ikut mereka Tomy harus menggantikan identitas Tomy, Tapi Tomy janji jika bersama ibu dan Vola, Tomy akan menjadi Tomy untuk selamanya, aka seperti ini" ujar tomy manatap mata ibu Marlind yang sudwh menjadi ibu kandungnya sendiri.
Marlind dan Vola saling diam, mereka tidak bisa berkata apa-apa untuk menanggapi ucapan tomy.
karena saat Tomy dan keluarga kandung Tomy saling mengetahui maka hal ini akan terjadi dan Marlind harus rela melepaskan Tomy dari ikatan keluarganya.
Namuj disisi lain Marlind tidak ingin berjauhan dengan Tomy yang sudah seperti putranya sendiri bahkan kasih sayang Marlind pada Tomy melebihi kasih sayangnya pada Vola putri kandungnya sendiri.
"ibu, Vola, katakan sesuatu untuk anak bajinganmu ini bu dan untuk kakakmu yang berengsek ini, vola" ucap Tomy menjadi pria yang paling cengeng sejagat raya, ia meraih Vola dan Marlind..
Tomy peluk erat tubuh itu seakan ia juga tidak ingin merubah semuanya seperti yang dikatakan kakaknya Merelvin jika dirinya sekarang adalah Vezan Andrianada Saffran.
Ibu Marlind yang diam membuat Tomy merasa bersalah pada ibu yang telah merawat dan menjaganya sampai sekarang.
Jika nama itu sudah sah kemabli padanya, maka secara otomatis semuanya akan berubah untuk kehidupan Tomy kedepanya.
hal itu Tomy menyadari begitupun Marlind sangat menyadari.
Hiks Hiks Hiks "katakan sesuatu bu, vola" pinta Tomy terisak hingga kesegukan dan itu pertama kali tomy menagis seperi bayi itu, saat melihat ibu Marlind masih memilih diam.
Melihat Tomy menangis untuk pertama kali, Marlind dan Vola ikut menangis.
Ingin rasanya avola mengatakan jangan pergi pada sang kakak, tapi diusia Vola ia juga sudah bisa mengerti jika itu tidak harus ia katakan.
ia tidak boleh egois dan menahan kakaknya selalu disisinya, bagaimanapun Tomy juga menginginkan keluarga utuh.
Vola yang amat menyayangi Tomy dan selalu berharap bisa bersama dengan kakak baik diam duka dan bahagia tapi apa yang Vola takutkan sang kakak semakin jauh dan itu semakin lebih jarang bertemu.
"kakak" ucap Vola hanya bisa memanggil kakaknya saja, mungkin kerinduannya pada sang kakak selama ini semakin membengkak dan tidak akan terobati oleh jarak.
Marlind hanya diam dalam tangisanya sembari mengelus kedua punggung putra putrinya tak ingin melepas pelukan itu.
......******......
__ADS_1