Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
48 Pasrah


__ADS_3

Raffa tidak menggubris ucapan Garel, yang sekarang Raffa lakukan adalah membuat sahabatnya itu beristirahat dengan baik, meski hanya 1 -2 jam saja.


Tapi sepertinya mustahil, sepertinya Garel makin hari makin kacau saja, itu akan menguras waktu tidur.


"Raffa, apakah Fana dan bayiku akan baik-baik saja tanpaku?" tanya Garel lirih.


sungguh, Raffa tidak tahu harus menjawab dengan kata apa.


ia bingung dengan pertanyaan itu, jika ia berkata tidak, apakah itu bisa membuat Garel semangat? jika ia berkata iya, apakah itu bisa membuat Garel menyerah dan mengikhlaskan Fana dan bayinya bersama penyesalan Garel seumur hidupnya.


"Garel, bisakah kau menunggu dengan sabar? berikan waktu untuknya" Raffapun akhirnya berucapnseadanya.


Garel tersenyum kecut mendengar penuturan sahabatnya itu.


"kau harus kuat demi anakmu. apapun yang tetjadi kau harus menerimanya " lanjut Raffa menasehati.


Setelah tersenyum kecut, Garel mengabaikan Raffa dengan membelakanginya Raffa.


Raffapun keluar dari kamar itu, alangkah baiknya Garel memang menenangkan diri sendiri.


Berbeda di kediaman Andrian, Viena dan Merelvin sudah kembali.


papa Andrian dan Merelvin menceritakan semua tentang Viena pada Tomy, agar suatu terjadi lagi Tomy bisa bertindak dengan tepat.


Tomy hanya mendengar dengan baik, ia sungguh menyayangi nasip yang dialami oleh saudari kembarnya.


Tidak sampai disana saja cerita Viena yang papa Andrian dan Merelvin sampaikan kepada Tomy tapi juga cara menghadapi Viena sekarang yaitu dengan kerap banyak menururinya atau bersikap lembut.


Sekalipun yang membahayakan Viena, tidak dikenankan untuk membentaknya, menolak pun jika memang harus gunakan bahasa yang tepat.


Meski tomy tidak pernah ada didekat Viena selama ini, tapi dengan mendengrkan cerita apa yang Viena alami membuat Tomy terasa di 15 tahun lalu.


"Vezan, ajak Fana makan siang bersama. kita tunggu" pinta papa Andrian menyudahi cerita masa lalu yang dialami viena, Tomy yang dipanggil Vezan itu menuruti permintaan papa Andrian.


"iya pa" sahut tomy patuh.


Tomy bergegas kekamar Viena, ia lihat Viena berdiri didepannya saat ia hendak membuka pintu Viena, ternyata viena lebih dulu membuka pintu kamarnya sehingga berpasan.


"Vezan, apa kau ingin berangkat denganku?" tanya Viena lebih awal berucap dari Tomy.


"apa kau ingin pergi?" tanya Tomy lembut.


"Emmh" deheman Viena menyatakan jika ia ingin pergi.


Seperti yang dipesan papa Andrian, Tomy menuruti keinginan Viena.


Belum sehari, Viena sudah banyak meminta berpergi.


Akhirnya Merelvin dan Papa Andrian harus makan berdua, sementara Tomy harus menuruti keinginan Viena.


karena tidak bisa mengemudi terpaksa Tomy membiarkan Viena sendiri yang mengemudi.


Awalnya Tomy meminta sopir papa Andrian untuk membawa perjalanan mereka, tapi Viena menolak. ia hanya ingin dia dan tomy saja yang akan pergi.


Tomy tidak mau banyak bertanya kemana Viena akan membawanya, sehingga sampainya di sebuah Villa mobil yang dikendarai Viena berhenti.


Viena mengajak Tomy keluar dari mobil mendekat kearah pintu Villa.


Pintu tidak dikunci, Viena memasuki villa itu lalu berteriak memanggil sahabatnya.


"Li.? kau ada" sapa Viena lalu masuk kevilla Merelvin yang ditepati Agelia.

__ADS_1


"Vi.... " agelia menyapa viena dengan wajah terkejut jika sahabatnya berkunjung dijam yang seharusnya ia bekerja tapi karena semenjak Viena dirumah sakit Agelia sekalian hari ini tidak bekerja.


"ayo duduk" ajak Agelia, kasihan pada Viena kalau terlalu lama berdiri.


Viena dan Tony pun duduk


"Terima kasih" ucap Viena dan Tomy serentak.


Viena tersenyum melihat kekompakan ia dan Tomy, dan ia tidak tahu jika Tomy dan Agelia mengkhawatirkannya sehingga senyum saja dipaksa.


"kalian sudah makan? makanlah bersamaku" ajak Agelia tahu jika sekarang sudah jamnya makan siang.


"tidak" tolak Viena


"iya" ucap Tomy berlawanan dengan viena.


Agelia menatap bingung kepada kedua saudara kembar itu.


"apa kau lapar?" tanya Viena.


"Fana, Kau harus makan, kasihan dia" nasehat tomy menunjuk kearah perut viena lalu mengisyaratkan agelia jika mereka berdua akan makan bersama dengan agelia.


perubahan wajah Viena sangat ketara membuat Agelia bingung harus menuruti keinginan Viena atau Tomy, melihat situasi seperti ini mana ada yang bisa tenang Viena akan memberontak jika cara pengatasannya tidak tepat.


Tidak hanya Agelia yang menyadari perbahan Viena, denagn terpaksa iapun menurut Viena mungkin ia perlu menunggu beberapa menit lagi untuk membujuk Viena makan.


"Baiklah, kita tidaka akan makan" bujuk Tomy dengan lembut.


"kita harus makan" ucap Viena tidak setuju dengan ucapan Tomy.


"iya" sahut Tomy lembut, ia harus sabar jika tidak ia akan sulit mengatasi kemauan Viena yang labil seperti ini.


Di rumah selesai makan, Anrian kembali memikirkan Marlind yang entah kemana pergi.


...************...


3 bulan lamanya, Garel benar-benar tidak pernah lagi mendatangi Viena semenjak di mana Viena pingsan.


Garel mendengarkan nasehat sahabatnya Raffa utuk bersabar menunggu dan kuat demi semuanya.


Tapi selalu menunggu dan berusaha kuat selama 3 bulan ini semakin membuat Garel terluka, rasa cintanya semakin bertumbuh namun disisi lain Garel sangat bersalah telah mengabaikan Viena sebelumnya.


kini Garel sudah mulai merelakan semuanya meski itu berat tapi Garel berpikir jika ia tidak boleh egois dengan mengikat Viena sebagai istrinya.


sekarang kandungan Viena sudah masuk 8 bulan, alangkah baiknya Garel belajar merelakan Viena.


Garel tatap lembaran yang dulu ditinggalkan Viena untuknya yang sudah dibumbui tanda tangan viena disana.


Tinggal Garel sendiri yang akan menandatangani maka secara hukum keduanya sah bercerai.


Iya selama surat cerai itu berada ditangannya, Garel tidak pernah menandatanganinya, sekarang ia berpikir akan membumbui tanda tangannya setelah kelahiran bayi yang dilahirkan Viena, ia harus rela.


"ya tuhan, berat sekali rasanya melepaskannya" batin Garel seraya memegangi polpen.


Garel berencana menandatangani sekarang tapi menyerahkannya saat kelahiran Viena.


Tapi Garel sungguh tidak kuat menerima semuanya, Garel teringat di mana Viena benar-benar peduli padanya termasuk di rumah sakit, tak lama ini Garel sengaja mendatangi pihak rumah sakit untuk melihat rekaman Cctv di mana Garel dulu dirawat.


Semua isi CCtV itu, tiada hari dimana Viena meninggalakn Garel sendirian dirumah sakit.


Viena selalu menjaga dan merawatnya dengan hati yang tulus.

__ADS_1


Garel semakin tidak sanggup untuk itu tapi Garel tidak mungkin mengikat Viena menjadi istrinya sedangkan mereka sudah 8 bulan tidak tinggal serumah dan hati Viena belum membuka maaf untuknya, mamaksapun percuma.


"tidak, aku tidak bisa" ucap Garel lalu keluar dari kamarnya dengan membawa selembar surat cerai itu beserta dengan polpen itu bersama dengannya.


Tanpa tujuan Garel membawa mobilnya menyelusuri jalan dengan pikiran iya atau tidak.


Disisi lain sama halnya dengan Viena, selama 3 bulan pula, Viena tidak melihat Garel ia terlihat kacau jika sendiri.


Viena banyak menghabiskan waktunya dengan keinginan pergi kesana sini ditemani Tomy.


yaa tomy dibebaskan dari urusan perusahaan untuk menemani Viena selama 3 bulan ini.


Viena selalu meminta berpergian tanpa tujuan, ia terlihat tidak memikirkan Garel sama sekali padahal tiada hari dimana viena tidak rindu dengan garel.


ternyata meski garel tidak pernah lembut dengannya dan selalu membuat viena terluka itu membuat viena semakin sedih karena tidak ada garel yang datang padanya.


hari ini viena juga mengajak tomy berpergian, tapi kali ini viena mengajak tomy ketaman bunga dimana dia dan gebriel kecil pernah bertemu, yaa selama ini viena tidak pernah mengajak tomy ketaman bunga apalagi ketempat dimana ia bertemu gebriel kecil itu.


"Indah bukan?" tanya viena pada tomy lalu mendapat anggukan dari Tomy.


"apa kau tidak menyukainya?" tanya viena lagi, tidak biasanya tomy hanya menganggukan kepalanya saat berucap padanya.


"dimana toilet? tanya tomy seraya memegangi perutnya, sedari tadi ia menahan ingin kencing, tapi perjalanan ketempat tujuan ternyata cukup jauh.


Tomy kira tidak sejauh ini,


"hahhaha, kenapa kau menahnnya, kita bisa berhenti ditempat lain?" tawa viena membuat semu perhatian orang kerah mereka berdua.


"hentikan tawamu, aku sudah tidak tahan lagi" ucap Tomy berat namun tetap terdengar lembut mana mungkin ia berani membentak Viena dan tidak akan ka lakukan juga.


Viena masih btertawa seraya menunjuk kearah timur, tanpa ba bi bu tomy berlari kecil kearah timur.


Sepeninggalan tomy, viena menghentikan tawanya dan kembali kemood semula.


viena berjalan kecil melihat-lihat tempat yang dulu pernah ia kunjungi, sudah banyak berubah dari tempat itu tapi satu yang berubah disana tempat dimana gebriel kecil memberikannya setangaki bunga mawar putih itu masih memiliki tempat duduk yang sama, hanya saja sudah lebih bagus lagi.


viena tersenyum mana kala ia teringat itu merupakan hari dimana pertama kali bagi viena menyukai bunga, ya itu bunga yang diberikan Gebriel.


Tanpa sadar viena menjatuhkan air matanya tak sengaja pula disana viena bertatap dengan orang yang sangat dirindukannya itu. ya itu garel.


viena terkejut setelah 3 bulan lamanya, baru kali ini viena melihat garel bahkan dari kejauhan tidak sekalipun itu terjadi.


kini mereka berhadapan, tidak ada diantara keduanya berucap.


garel juga terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa, sedangkan surat cerai itu masih ditanganya.


garel merasa berat untuk menanda tangani surat itu sehingga tanpa tujuan garel mendatangi tempat dimana sekarang entah menjadi terakhir? bagi mereka berdua?


"Fana.."sapa garel lirih setelah melihat viena membalikan badannya.


Viena takut, jika ini akan menjadi terakhir kali untuknya.


Viena diam ditempat tanpa menoleh lagi, garel tidak bersuara, diam saja, garel melangkah mendekat viena.


"fana kau akan mejadi bunda yang hebat nantinya, teruslah menjadi bunda seperti itu untuk selamanya" ucap garel berjalan mendejat seraya memegangi tangan viena dengan tangan kirinya.


Viena tidak menjawab ucapan garel tapi kali ini viena tidak menolak tangan garel menyentuh tangannya itu.


"maafkan aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anak kita" lanjut garel dengan deraian air mata.


"Mulai sekarang, aku akan melepaskanmu seperti yang kau minta. tapi kau tahu itu bisa terjadi saat anak kita lahir" ucap garel seraya memberi selembar surat cerai yang ditinggal viena untuk garel.

__ADS_1


Derai air mata Viena tidak bisa di tahan lagi,...pipi mulusnya basah dan memerah.


Rasanya lebih menyakitkan mendengar Garel menyerah memperjuangkannya, ternyata hanya dia saja yang mencintai Garel, selama ini Garel hanya menyesal tanpa ada cinta di dalamnya.


__ADS_2