Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
56 Tawa Viena Dan Tomy


__ADS_3

"seharusnya aku tidak membuat Casya semakin marah, maka tidak mungkin baginya melakukan hal yang membuatku khawatir sperti ini" batin Tomy berbicara pada dirinya sendiri.


Cukup lama Tomy di rumah ibu Marlindnya.


Pikiran Tomy menjadi teringat di desa Scarla, di mana ia sangat curiga dengan hubungan papa Andrianya dengan ibu Marlindnya itu.


"bu boleh, Tomy bertanya?" tanya Tomy.


"jangan sungkan seperti itu, Tomy. kau putraku jadi kau boleh bertanya apa yang ingin kau tanya" tegur Marlind memperhatikan epresi Tomy merasa sungkan untuk bertanya padanya.


Tomy berusaha bertanya yang tidak menyinggung ibunya meski ia akan bertanya langsung tetang papanya dengan cara yang terkesan unik.


"apa papa pernah datang pada ibu? mungkin memberi penghargaan pada ibu karena merawat putranya?" tanya Tomy menjadi kikuk, begitulah Tomy memulai pertannyaan agar tidak dicuriga ibu yang telah menjaga dan menyayanginya seperti putranya sendiri itu.


Tomy memang bisa mengunakan seribu satu cara, meski dengan cara yang seunik itu.


"Hahaha, kau lucu sekali Tomy, ibu tidak akan menerima apapun sebagai imbalan dari anak orang kaya seperti papa Andrian mu, karena bagiku kau tetap putraku sekalipun kau lahir dari orang yang lebih kaya dari papamu itu" tawa Marlind membuat Tomy terasa aneh, selama ini Tomy melihat dari pertama papa dan ibunya itu bertemu keduanya saling memberi tatapan yang terkesan tidak baik.


Namun saat ibunya menjawab pertannyaannya, ibunya itu seperti baik baiks aja tanpa ada permaslahan dimasa lalu.


Ibbu Marlindnya itu begitu tulus padanya, jika Tomy tahu sebenarnya ia lahir dari seorang mama yang telah disayangi ibu Marlindnya itu seperti saudara kemabrnya sendiri dan dari pria yang merupakan mantan kekasih ibu mmarlindnya itu, apakah Tomy akan percaya jika ibu Marlindnya seorang yang terluka.


Tetap menjaga Tomy dengan baik sekalipun Tomy itu sendiri adalah luka untuk ibu Marlind, yang selalu mengingat marlind pernah bertemu dengan Emearlin shenes vens dan Andrian begitupun thomas.


"aku serius bu" protes Tomy lesu


"apa lagi ibu, Tomy" sahut marlind dengan senyuman recehnya.


Sepertinya harus mengajak ibunya itu bertemu dengan papanya agar lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"apa ibu ada waktu untuk bertemu papa?" tanya Tomy


"tidak, aku tidak ingin papamu memberi imbalan apapun yang kau maksud tadi Tomy" kilah Marlind agar Tomy tidak mencurigainya.


Marlind cukup pintar membalas ucapan Tomy sepontas itu,. ya memang sebenarnya Marlind bukanlah wanita bodoh hanya saja Marlind wanita yang terlalu baik hati tidak ada duanya.


"kak Tomy" pekik Vola yang baru pulang dan menghampiri Tomy yang sedang berbicara dengan ibu Marlindnya.


"kau sudah pulang?" tanya tomy melirik kearah vola.

__ADS_1


Vola tersenyum melihat kakaknya yang membuatnya kesal pagi ini masih menunggu di rumah dengan setia.


Vola mengira Tomy, tidak akan berlama-lama di rumah di mana Vola tinggal bersama ibunya itu.


Maka dari itu Vola juga menerima ajakan Maren.


Untung saja Vola dan Maren hanya berkeliling kota dan setelah berhenti di warung es Degan serta menikmatinya. kedua teman itu kembali ke kediaman masing-masing.


"kakak masih di sini?" tanya Vola girang dan berjalan mendekat ibu Marlind dan Tomy.


"ke mana saja kau?" tanya Tomy memastikan jika alasan Vola tidak kunjung pulang tadi bukan ulah Casya dan matanya memperhatikan Vola dengan seksama.


Vola menyadari cara kakaknya memperhatikannya sedikit berlebihan sehingga ia teringat pertannya Maren yang mengatakan dirinya suka pada Tomy, yang sudah menjadi kakaknya selama ini.


"tidak mungkin" ucap Vola kecil tapi masih terdengar oleh Tomy, Vola sungguh memikirkan ucapan temannya itu begitu ia juga meingat cara kakaknya memperhatikannya membuat Vola bahagia, tapi untuk cinta wanita dan pria rasanya ia bergidik ngeri.


"apanya yang tidak mungkin?" tanya Tomy, yang menurut Tomy jawaban Vola tidak nyambung dengan pertannyannya.


Tomy menatap aneh pada Vola, ia mencurigai jika Casya mungkin sudah berbuat sesuatu pada Vola, adiknya itu. meski belum dapat dipastikan apa itu.


"hehhehe, maksudku aku tidak mungkin aku menceritakan sebab temanku mengajak ku berkeliling" ucap Vola setengah berbohong dan tidak lupa raut wajah cengengesan.


Meski Andaian tidak tahu jika ia masih menyukaiarlind atau tidak, yang ia tahu dalam pikirannya sekarang ia harus bertemu dengan Marlind dan segera meminta maaf.


Andrian juga ingat betapa indahnya senyuman Marlind saat bersamanya dahulu.


Tidak ada kata-kata yang membuat Marlind menjelekan Eme saudari tirinya dimata Andrian.


Marlind begitu menyayangi Eme layaknya saudari kembar yang sesungguhnya.


sehingga Andrian juga menganggap Eme adalah wanita yang sangat baik dan pada titik yang seharusnya pernikahannya dengan Marlind menjadi pernikahanya dengan Ehe tidak Andrian sadari jika semua itu rencana yang ditata Eme dengan mulus demi menyakiti Marlind seorang.


Andrian mengingat betapa ia mengabaikan Marlind yang sedang memohon padanya.


dengan kasar Andrian mengusap kepalanya dan mengacak-acak rambutnya.


Sememtara Tomy sekarang sudah di tempat yang berbeda.


"apa yang kau lakukan, disore hari?" tanya Tomy datang tiba-tiba ke kediaman Garel.

__ADS_1


Memang sepulang dari rumah ibu Marlind dan memikirkan Vola yang terlihat membunyikan sesuatu tapi Tomy tidak lupa mendatangi saudari kembarannya yang sejak semalam tinggal dikediaman Garel, suaminya dari Viena.


Mendengar suara yang tidak asing, Viena menoleh kesumber suara.


"Vezan, kapan kau sampai disini?" tanya Viena yang memang tidak menyadari Tomy datang.


"sebegitu bahagianya kau, sampai telingamu tidak mendengarkan motorku masuk ke area rumahmu?" goda Tomy.


"apa kau tidak menyukainya?" tanya Viena menyelidik tapi menahan senyum.


Begitulah Viena didekat Tomy, ada sikap dan prilaku yang tidak dapat dilihat bersama orang lain tapi bersama Tomy itu ada.


"tentu aku menyukainya, tapi kau sangat kejam padaku" ujar Tomy dengan kekehan kecil.


"bukan kah lebih kejam kau? membiarkan saudari kembarmu merawat bunga ini seorang diri?" ucap Viena dan dengan sengaja memayunkan bibirnya.


Tomy tertawa kecil melihat epresi Viena yang suka berubah-ubah dalam waktu singkat.


"sepertinya untuk mengilangkan rasa rinduku, aku akan sering berkunjung ke sini" ujar Tomy lalu mengambil gunting yang ada ditangan Viena untuk memotong ranting dan daun bunga yang rusak.


"tunggu, kau bilang tadi kau datang menggunakan motor? di mana motormu?" tanya Viena lalu melirik ke arah Tomy menunjuk.


"motor baru?" tanya Viena dianggukkan Tomy.


"yups, kak Merel yang beli" sahut Tomy


"apa kak Merel sudah tahu kau tidak bisa menggunakan mobil?" tanya Viena


"sepertinya saudari kembar ku ini sangat cerewet" ujar Tomy lalu keduanya tertawa bersama, appaun yang tidak lucu terasa lucu jika mereka berdua berbicara.


Tomy dan Viena sungguh kembaran yang serasi, meski mereka dipertemukan diusia yang cukup dewasa keduanya seperti sudah cukup lama mengenal.


Tawa dan canda kedua saudara kembar itu diperhatikan oleh mata yang sangat tajam, kebencian yang sedari dulu ia berkan tidak pernah pudar sama sekali.


tak tahan melihat kebahagiaan yang terpancar diwajah tomy, orang itu mendekat.


lalu


brak

__ADS_1


Orang itu menonjok tomy, hingga tersungkur kebunga-bunga karena Tomy tidak bisa menyeimbangi tubuhnya dengan serangan tiba-tiba itu.


__ADS_2