Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
32 Jangan Bujuk Fana


__ADS_3

Malam yang sunyi sendirian ditemani sepinya kehidupan, sepulangnya tomy dari rumahnya, viena langsung mengurung diri dikamar.


viena duduk ditepi ranjang kamarnya. meratap betama menyedihnya hidupnya dan bayinya.


sembari mengelus perutnya dengan lembut viena berucap pada bayinya disana.


"sayang, apa bunda jahat pada ayahmu? apa ayahmu benar-benar menerima kita? apa bunda dan ayah bisa bersatu?" itulah ucapan viena berkali kali pada sang bayi disana.


Viena menajadi bingung dilanda rasa rindu dan kekecewaan diiringi rasa ragu akan sosok ayah dari bayinya itu.


Semsntara Tomy Setelah dari rumah viena, ia pergi kemarkas, karena kedua temannya, arland dan benny menyuruhnya segera datang.


"ada apa? "tanya tomy pada arland dan benny dengan nada malas.


"Heiiii bajingan, apa itu cewek buat kau tidak perduli lagi dengan kita berdua" sahut benny dengan nada dibuat marah sedangkan arland hanay terkekeh kecil mendengar ocehan benny, yang sok sokan marah.


Tapi tomy tidak menggubrisnya ocehan benny malah duduk ditengah atara benny dan arland.


meski kejadian waktu itu tidak membuat tomy semoat marah pada arland, itu tidak mengubah apa apa mengenai pertemanan mereka.


Hanya saja agak terasa kikuk saja jika melihat keduanya tidak semudah seperti dulu jika bicara.


apalagi tomy bukanlah orang yang pendendam, jadi tidak masalah selama tomy sudah puas menghajar arlamd malam itu juga.


namun kekikukan keduanya memang tidak bisa dihindari, tomy yang jarang kemarkas jadi kekikukan itu berjalan dengan waktu yang panjang.


"apa fana baik-baik saja?" tanya benny memecah keheningan khususnya antara arland dan tomy.


"tidak, dia tidak baik-baik saja" sahut tomy tidak ingin banyak cerita tenatang viena namun terlihat jelas diwajah tomy jika ia mengkhawatirkan viena.


"Apa itu karena malam itu? " tanya arland merasa bersalah meski ia bajingan, arland tidak akan mengejar viena menjadi targetnya jika ia tahu viena hamil.


"apa yang kalian maksud?" tanya benny yang sama sekali tidak tahu jika arland telah berbuat sesuatu oada viena dibelakangnya, terlebih di sana hanya dirinya saja yang tahu apa apa.


"jangan bilang, wajah babak belur mu itu ulah Tomy?" tanya benny pada arland, seingat benny jika tomy pernah memperingati arland dan benny untuk tidak macam-macam pada viena.


tomy dan arlandpun saling lempar pandangan


"aakkh, kau ini" ucap arland pada menelisik benny dengan wajah kesal. bagaimana tidak, waktu itu dia yang salah jika ia menceritakannya pada benny bukankah sama dengan menceritakan kekalahannya dan kesalahannya.


Pasti benny akan menertawakannya sendiri.


"Tomy!!!." teriak benny meminta penjelasan tomy yang hanya diam saja itu.


"iya, aku yang memukuli temanmu itu" tunjuk tomy pada arland "dan karena malam itu bayi fana terancam" ujar tomy menjadi sedih, membayangkannya saja tomy tidak sanggup melihat saudari kembarnya itu yang menangis histris seperti tadi.


"hamil?" tanya benny tidak tahu selama ini fana hamil karena fana tidak pernah keluar keman-mana jadi wajar saja jika benny tidak tahu padahal kehamilan viena sudah masuk 5 bulan jadi sudah terlihat membesar dari sebelumnya.


"heeemmm" dehem tomy dan arland bersamaan.


......********......


Pagi yang cerah, perlahan viena membuka matanya entah kapan semalam viena meutup matanya. Dan di pagi hari yang cerah ini viena seakan melupakan kejadian semalam.


Seperti biasa kembali pada aktivitas pagi viena ia mencuci muka lalu memasak didapur untuk sarapanya sendiri.


usai memasak viena membersihkan diri sebelum makan makanan yang sudah disediakannya.


semuanya sudah beres tentang urusan kamar mandi, ia tidak berlama di kamar mandi karena tidak ada yang namanya bathup seperti dikediamannya dikota V dan viena tidak ingin membahayakan dirinya demi bayi yang ia kandung jika terlalu berlama lamaan di kamar mandi.


Selama didesa viena tidak banyak kegiayan selain urusan rumah, bahkan pekerjaan saja viena belum menemukan, ia sangan memilik soal pekerjaan cocok atau tidak bagi dirinya yang sedang dalam keadaan hamil yang sudah mulai masuk 5 bulan, viena harus terus berhati-hati.


Untung perut buncit viena tidak menyusahkan viena sama sekali, jadi viena juga bisa menikmati santai di rumah kecilnya itu tanpa harus mencari makanan khas orang ngidam pada umumnya.


sembari melahap makanan dengan lahap viena mendengar suara ricuh di luar rumah dan itu tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"apa masyarakat ada perlu denganku?" viena bertanya pada dirinya sendiri seraya menyudahi makannya.


Ia beranjak mendekat kearah pintu.


ckreek


Mata viena melihat satu persatu dari orang yang ada di depan rumahnya tersenyum iba kearahnya, siapa lagi kalau bukan keluarga Az-Zardan dan Ardian, sang ayah.


Namun di antara kedua belah pihak itu hanya garel seorang yang tidak ada.


Lagi-lagi kedua belah pihak itu bersamaan seperti kekediaman garel tadinya tanpa membuat janji apapun.


"Sayang apa kau mencari suamimu? mama akan suruh dia kesini jika kamu menginginkannya?" tanya mama Falisya yang tidak tahu jika garel baru saja datang ke rumah kecil Viena itu.


"Tidak" sahut viena dan merelvin bersamaan.


"Baiklah, tapi apakah kakekmu ini akan kamu biarkan berdiri seperti ini?" tanya papa ardian mengalihkan pembicaraan dengan menyeret nama kakek Zirdan Az-Zardan.


Vienapun merasa tidak nyaman telah mendapatkan sindiran dari sang papa


.


vienapun menyuruh masuk dua keluarganya itu masuk ke dalam rumah kecilnya itu.


Kakek terkagum-kagum dengan viena, terlahir sekeluarga kaya raya tapi tidak menjadi penghalang viena untuk menjadi orang sederhana seperti rumah kecil yang kakek lihat sekarang.


itulah mengapa kakek zirdan menyayangi viena dari dulu di mana vienalah yang membantu kakek zirdan yang kambuh akan penyakitnya saat bermain ditaman sebelah villa yang kakek kediami selama berlibur sendirian waktu itu.


Vienalah yang merawat kakek selama 1 minggu di rumah sakit disela-sela waktu jam istirahat kerja viena tentunya.


Berbeda dengan yang lainnya mereka terlihat sedih melihat rumah kecil itu bahkan viena terlihat pucat tidak seperti vien yang mereka kenal selalu terlihat segar penampilannya.


"Sayang lusa ulang tahun kamu, kita pulang, ya. kita rayakan dirumah" bujuk Ardian pada putrinya, sebenarnya ardian tahu bujukan seperti itu tidak bisa mengaruhi apa-apa untuk viena. putri mandirinya itu tidak semudah itu dibujuk apalagi bujukan manja. itu jauh dari keseharian viena.


"apa kalian datang mau bahas ulang tahun, fana?" tanya viena melihat kesemua yang ada dimana satu persatu.


"kak,.jangan bujuk fana. untuk ngerayain ulang tahun dikota. Itu tidak akan terjadi aku tidak ingin pulang"potong viena dengan penuturan tegas.


"Jangan pernah bujuk aku, apa lagi mengumumkan pernikahan ku" ulang viena dengan menambah kalimat lainnya yang ia tidak inginkan lagi.


"kalian memang pasangan suami istri, dan sudah seharusnya orang-orang tahu, fana" sahut Bram lembut.


"tidak, aku dengannya sudah bercerai, bahkan aku sudah menanda tangani surat cerai itu" ujar viena jujur tidak ingin membohongi keluarganya lagi, ia memang sudah menandatangai surat cerai dari pengadilan agama namun viena tidak tahu jika garel sudah menanda tangani apa belum.


"apa!!!!?" ucap kakek zirdan, ardian, bram dan Falisya bersamaan.


bagaiman bisa mereka bisa-bisanya tidak tahu sama sekali.


"Sayang, dengarin kakak dulu, ya?" ucap merelvin menatap kedalam mata viena meyelusuri kedalam bola mata viena.


"kakak harap fana bisa menjadi calon bunda yang bisa membahagiakan keponakan kakak dengan menyenangkannya kelak, pikirkan anakmu jika tidak ada sosok ayah didekatnya itu tidak akan menyenangkan baginya dan untukmu juga sayang." bujuk Merelvin meski ia sangat marah pada garel namun ia tidak punya pilihan melihat cara adiknya pergi sepertinya adiknya itu telah jatuh dalam pesona adik ipar kurang ajarnya itu.


"anakmu nantinya akan butuh ayahnya dan garellah ayah dari anakmu" itu salah satu Merelvin ikut membujuk, bagimanapun sulit bagi seorang pria bisa mencintai anak yang bukan darah dagingnya sendiri.


"Dan yang terpenting sekarang, fana harus memikirkan hati fana, beri kesempatan untuk garel. kakak yakin garel tidak menyetujui perceraian kalian dari awal" jelas Merelvin dari hati ke hati, merelvin memkirkan kehidupan adik kesayangannya dan calon keponakannya kedepan meski ia sangat geram dengan garel tapi hati nurani merelvin tidak bisa menolak garel seutuhnya.


Sedangkan viena diam memikirkan apa yang dikatakan merelvin.


"tidak kak, fana sudah tahu jika surat perceraian itu sudah disetujuinya, bahkan perceraian ini sudaj lama dinantikan semenjak ingin menikahi Anasya" ucap viena jelas bagaikan petir menyambar gendang telinga yang mendengarkannya.


sejauh ini merka tidak tahu apa masalah viena dan garel sehingga viena memilih untuk pergi dan ingin cerai dari garel, mungkin pikir mereka mereka hanya belum slaing mencinta sehingga menimbulkan kemarahan didalam rumah tangga mereka dan itulah pikir mereka alasana kenapa memilih pergi.


"menikah??" beo mereka semua, wajah mereka semua menajdi merah padam menahan marah.


"kita akan pulang, kakak ada urusan. besok akan ada orang yang datang kesini untuk mempersiapkan ulang tahunmu disini" ucap merelvin pada sang adik semabri mengusap lembut rambut adiknya.

__ADS_1


merelvin pun meninggalkan yang lainnya


"Ayo pa?" sapa merelvin pada sang papa


Ardianpun mengikuti merelvin karena ia juga sama halnya dengan apa yang dipikirkan oleh putranya.


namun sebelumnya ardian mencium kening putrinya dengan air mata yang tidak bisa ia cegah, ia begitu cengeng meihat anaknya tersakiti seperti ini.


sebelumnya air matanya bisa membasahi putrinya itu, ia menghentikan air matanya dan berpamitan.


"pa? garel pa" ucap Falisya semakin di bikin sedih saja. meski ia sangat kesal dengan putranya ia juga tidak tega melihat putranya dipukuli habis-habisan.


Falisya mengkhawatirkan garel bukan karena ia membela perbuatan garel tehadap menantu kesyanganya ith tapi falisya juga tahu jika ardian dan merelvin sudah tidak bisa menahan emosi, itu akan membahayakan nyawa putranya yang sedang tidak baik baik saja.


"biarkan saja garel ma" sahut bram sebenarnya juga tidak tega, tapi siapa yang tidak marah jika purti mereka dipermainkan bahkan putri yang mereka kenal sangat baik dan penyayang sangat tidak memungkinkan mendapatkan ketidak perhatian dari suaminya sendiri.


"Kita pulang, biarkan fana istirahat" ucap kakek zirdan"


"kakek maafkan fana" ucap viena sedih, ia sangat menyayangi kakek jauh sebelum ia menikah dengan garel.


begitupun viena sangat menyayangi papa bram dan mama falisya yang kasih sayangnya seperti ibu sendiri yang belum pernah viena rasakan sebelumnya.


Dua jam kemudian, merelvin dan ardian sudah tiba dikediaman garel.


mereka masuk begitu saja ke rumah yang luas itu mencari sosok yang dicari tidak kelihatan batang hidungnya.


"tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya bibi ina khawatir melihat epresi ardian dan merelvin emosi keduanya.


"mana garel?" tanya ardian tidak meliaht garel


"maaf taun, tuan muda tidak ada di rumah" sahut bibi ina seraya menundukan kepalanya.


Tidak lama dari itu, garel muncul dari luar. seharusnya garel sudah lama tiba dikota semenjak tadi tapi garel mendatangi rumah Raffa terdahulu hanya untuk menyakan tentang masa kuliah istrinya, viena.


Mungkin ia bisa mengenali sosok istrinya itu lebih dlaam lagi.


Semua yang garel dengarkan semuanya tentang viena tidak ada sedikitpun yang buruk-buruk, semuanya hal yang dipuji-puji orang lain selain sikap irit biaranya viena.


garel tidak habis pikir, selama ini ia tidak pernah menyadari itu semua selain keiritan viena.


"aaaakh" pekik garel saat masuk kerumahnya itu dan ia belum menyadari jika ada ardian dan merelvin dirumahnya.


mendengar pekikan itu ardian dan merelvin menoleh kebelakang dan mendekat kearah gerel


tanpa aba-aba, merelvinpun melayangkan bokaman keras dipipi garel.


Brakkk


demm


Buugg


Bugg


Garel langsung tersungkur kelantai mendapat pukulan tiba-tiba dari ardian dan merelvin.


karena garel tahu kenapa ipar dan mertuanya itu memukulnya, garel memilih diam tak mengeluarkan suara apapun bahkan ia tidak melawan sedikitpun.


saat Merelvin ingin melayangkan tonjokan lagi, ardian menahan tangan putranya. bagaimanapun jika ini semua kesalahannya yang meminta putrinya menerima putra dari sahabatnya itu yang ardian sendiri tidak tahu bagaimana garel selama ini.


Ia hanya mendengar penuturan sahabatnya mengenai menantunya itu tanpa mencari tahu sendiri, ia terlalu percaya diri.


"kita pulang" ucap ardian datar.


"kau, jangan pernah mendatangi fana. jika hanya menyakitinya saja yang kau bisa" ucap merlvin ketus lalu mengikuti sang papa meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


"aaakhh, jika aku bisa memilih, aku tidak ingin dilahirkan seperti ini yang bisa menyakiti istriku sendiri" gumam garel kecil masih terdengar oleh bibi ina.


__ADS_2