
Viena menatap tatapan Garel penuh hasrat itu, dan Viena juga memperhatikan jika ada keringat yang mengalir dipelipis Garel.
"apa yang kau pikirkan?" tanya Viena dengan nada dingin.
Mendengar suara Viena seperti itu membuat nyali Garel semakin menciut saja.
"aah tidak, apa yang membuatmu lama?" kilah Garel dan menahan perasaan gejolak di sana.
"aku tidak membawa pakaian" sahut Viena malu-malu dan pakaian Viena di kamar itupun tidak tersisa satu helaipun saat ia pergi dulu dan begitupun ia datang kembali hanya membawa pakaian yang ia kenakan.
"maafkan aku, aku tidak menyediakannya" ucap Garel lirih.
Garel langsung membuka lemari pakaian yang berisi pakaianya sendiri.
ia pilah mana pakaian yang bisa dikenakan Viena untuk sementara dan juga nyaman untuk keadaan Viena yang sedang hamil besar.
Akhirnya Garel menemukan kemeja yang besar berwarna biru muda.
"coba lah ini" titah Garel lalu menyodorkan kemeja biru muda itu pada Viena.
"memakai ini?" tanya Viena tak yakin.
"iya, aku akan menyuruh Tony segera membawa pakaianmu kesini" ucap Garel "agar kau tidak kedingian" lanjut Garel.
Viena mengkerutkan kenungnya tak percaya, bagaiman ia hanya menggunakan kemeja berwarna biru muda yang hanya menutupi setengah badannya, sedangkan Viena juga tidak memikiki bra dan celana segitiganya.
"baiklah" ucap Viena pasrah lalu mengenakan kemeja itu.
viena terasa risih, tapi bukan karena kemejanya tapi karena viena tidak menutupi bagian bawahnya dengan alat pengaman segi tiga.
"kenapa?" tanya Garel cemas pada kegelisahan Viena
"kapan Tony datang?" tanya Viena tak sabaran lagi untuk mengenakan pengamannya itu.
"segera" ucap Garel yang memang sudah mengirim pesan pada Tony.
Viena bergelenjut lesu seraya duduk diatas soffa yang ada di kamar itu.
Garel masih sama, ia menelan udahnya dengan susah payah.
Meski Virna dalam keadaan perut besar, itu semakin membuat Garel tergoda.
Tapi ia tidak mau gegabah lagi, ia ingin atas dasar keinginan satu sama lain atau lebih tepatnya izin dari istrinya itu.
Garel berpikir jika ia gegabah dan membuat Viena tersakiti lagi mungkin tidak hanya 8 bulan Viena pergi darinya melainkan selamanya.
"kau pasti sudah lapar?" tanya Garel mendekat Viena "aku akan turun mengambilkan makanan untukmu,... tunggulah disini jangan kemana-mana" ucap Garel lalu mendapatkan anggukan dari Viena., Garelpun beranjak melangkah menuju keluar.
Viena menatap Garel haru, ia betapa mensyukuri hari yang baru ini, Garel begitu perhatian padanya.
"kak Gebriel" sapa Viena lalu Garel membalikan tubuhnya menoleh kearah Viena saat kakinya hendak meninggalkan kamar itu.
Tapi Garel menghentikan langkahnya dan melangkah kearah Viena lagi.
Garel sangat menyayangi masa yang ia lupakan itu, di mana Viena dan orang-orangnya dimasa lalu memanggilnya dengan sebutan Gebriel.
__ADS_1
"Fana," ucap Garel lalu duduk menatap dalam mata Viena dengan penuh perasaan.
"Fana, maaf aku tidak mengenalmu selama ini" ujar Garel sedih
"dan maafkan aku, waktu itu mama pergi" lanjut Garel lalu tertunduk, ia begitu sedih mengingat masa kecilnya yang harus kehilangan mama tercinta dan ujungnya ia juga harus berpisah dengan cinta masa kecilnya yang sekarang menjadi istrinya sendiri.
Ternyata ia sudah kedua kalinya meninggalkan wanita satu-satunya yang tulus padanya, yaitu Viena Andrianada Saffana.
"tidak apa-apa" ucap Viena lalu turun dari soffa dan memegangi tangan Garel dan mengecup tangan itu.
Ia akan belajar melupakan masa lalu dan memaafkan semua kesalahan suaminya itu.
"jangan lepaskan ku lagi kak, aku mohon kak Gebriel akan selalu ada untuk kita" ucap viena seraya mengelus perutnya.
"iya, aku tidak akan" ucap Garel lalu mengecup perut buncit Viena.
Sementara Tony dikediaman Andrian ia dicecar dengan banyak pertannyaan.
"kau asisten pribadi Garel?"
"apa Garel membuat Fanaku pergi lagi?"
"apa Fana ku terluka?"
"jika tuan mudamu itu berani menyakiti Fanaku, aku tidak akan tinggal diam" ujar Andrian dengan raut wajah memerah menahan amarah, ia bertanya banyak membuat Tiny asisten Garel itu tidak ada kesempatan menjawab satu pertannyaan dari mertua tuan mudanya itu.
"Papa,..." sapa Merelvin agar papanya lebih tenang
"ada apa kau kemari?" tanya Merelvin pada Tony itu.
"masuklah, dan tunggu" ucap Merelvin dan Tonypun patuh memasuki rumah itu tapi ia tidak duduk disoffa meski sudah dipersilahkan oleh pemilik rumah.
Merelvin menyuruh bibi Sarah untuk memasukkan sebagian pakaian milik Viena ke dalam tas.
Mau bagaimanapun, tidak mungkin Merelvin melakukannya sendiri karena ia seorang laki-laki sedangkan Viena seorang wanita.
Meski saudara kandung, Merelvin tahu batas privasi antar saudara laki-laki dan perempuan.
bibi Sarah mematuhi ucapan Merelvin sedangkan Maren sudah bersiap-siap ke kampus.
Hari ini Maren ada kelas lebih awal jadi ia juga berangkat lebih awal dari jamnya agar tidak terlambat.
bibi sarah menyerahkan tas yang berisikan pakaian nona mudanya pada Merelvin.
"ini tuan" ucap bibi sarah menyodorkan tas itu ke Merelvin
"terimakasih bi" ucap Merelvin sopan, meski sebagai pembantu di rumah keluarganya, tak luput dari rasa sopan itu Merelvin memperlakukan bibi Sarah dengan baik dan kepada orang yang lebih tua darinya begitupun Viena juga melakukan hal yang sama.
sama-sama menghormati orang yang lebih tua meski status lebih rendah darinya.
Merelvinpun langsung menyerahkan tas itu kepada Tony tanpa ada yang basa basi apapun lagi.
Merelvin berpikir ia tidak perlu berbasa basi pada Rony yang disusurh duduk saja tidak mau.
"baiklah tuan, saya akan pergi" pamit Tony lalu mendapatkan anggukan dari Merelvin dan papa Andrian yang sempat salah faham tadi.
__ADS_1
Berbeda kondisi dengan Tomy ia nampak kesulitan menemukan alamat ibu Marlind dan Vola di kota V itu, karena selama ia tinggal dikediaman Andrian ia disibukkan dengan keseharian Viena yang perlu ada dirinya disana.
Jadi Tomy belum sempat berkunjung ke rumah baru Ibu Marlind meski alamatnya sudah Vola berikan padanya sejak lama.
"kenapa rumit sekali? jika begini Casya tidak akan bisa menemukan Vola. itu lebih bagus" gumam Tomy kecil tapi masih terdengar oleh orang lain.
"apanya yang lebih bagus?" tanya seseorang yang terdengar tidak asing bagi Tomy.
Tomy menoleh kebelakang ternyata seseorang itu adalah Vola, sang adik yang selalu merindukan kedatanganya.
"Vola" sapa Tomy.
"apa begitu menyenangkan di sana?" tanya Vola kecewa sekaligus bahagia dengan kedatangan sang kakak yang sudah lama tak ia jumpai itu.
"aku akan sering mengunjungimu dan ibu ke depannya, bukankah kau akan ke kampus?" kilah Tomy, yang terpenting ia lega karena Vola baik-baik saja.
Sebenarnya sudah dari semalam ia ingin memastikan Vola tidak apa-apa. tapi kejadian Fana semalam membuat ia melupakan tentang Vola sesaat.
Meski begitu, Tomy sangat menyayangi Vola seperti dulu di mana ia tetap menjadi kakak bagi Vola walau Tomy sendiri sudah tahu semenjak lama jika ia dan Vola bukan saudara kandung.
"iya, tapi sepertinya, Vola malas ke kampus" ujar Vola kesal
"kenapa?" tanya Tomy heran
"kakak mau berkunjungkan, dan biarkan hari ini Vola bersama kakak dan ibu juga sudah menunggu kakak" sahut vola
"tidak, kau harus ke kampus. jika tidak ini yang terakhir kali kakak datang" ancam Tomy tentu hal itu mampu membuat Vola menurut meski Tomy tahu jika Vola sangat terpaksa.
Tapi Tomy selalu menggunakan seribu satu alasan untuk apapun apalagi hal yang menurutnya baik jadi ia terpaksa mengancam Vola agar tetap pergi ke kampus.
Dengan menggerutu tak jelas, Vola meninggalkan Tomy dan Tomypun lupa jika sedari tadi ia mencari di mana gedung yang ditepati ibu Marlind dan Vola.
Atau lebih tepatnya, Tomy lupa menanyakan pada Vola.
Vola dengan kesalnya menggunakan motor kesayangannya menuju kampus.
wajahnya tampak cemberut dan kusut hal itu mendapat perhatian dari teman sejursan dengannya yang selama ini dekat dengan Vola.
Karena mereka berdua bisa dibilang dari kalangan orang yang sama. sama-sama sederhana.
"Vola, kenapa dengan wajah kusutmu itu?" tanya gadis berambut ikal itu pada Vola
"aku sangat kesal dengan kakakku, apa kau masih ingat jika kakak yang aku ceritakan waktu lalu mengancamku agar ke kampus" ujar Vola menceritakan kekesalannya
"itu karena dia ingin kau ke kampus, vola" sahut gadis berambut ikal itu dengan kekehan kecil.
Ia tidak habis pikir dengan temannya itu yang biasanya sangat mendambakkan kakaknya yang ternyata bukan kakak kandungnya.
"aku tahu, Maren Maharana" ucap vola masih kesal dan menyebut nama lengkap temannya itu.
iya Maren Maharana adalah Maren sang anak dari bibi sarah.
"tapi dia baru berkunjung, aku sangat merindukannya" ujar Vola lalu tertunduk lesu.
"aku tidak mengerti denganmu, vola.... bukankah katamu dia hanya kakak angkat tapi mengapa kau sangat menyayanginya bahkan kepada kak Tonymu saja kau tidak peduli" ujar Maren penasaran.
__ADS_1
"apa kau mencintainya?"