
Namun mata Maren membulat sempurna.
Saat melihat tuan muda Tomy sudah berada di depannya.
Maren sempat ingin menghindar tapi Tomy sudah duluan mencegahnya
"temani aku makan di luar?" ajak Tomy seraya menarik tangan Maren agar tidak meninggalnya seperti di dapur tadi terutama agar gadis itu tidak menolak ajakannya.
"maaf,?aaa?" tanya Maren terkejut, Maren menatap lekat putra majikan sang ibu.
"apa dia diabaikan orang di rumah ini, tapi semuanya tampak baik-baik saja" batin Maren.
"apa yang kau pikirkan? tanya Tomy ia tahu sekarang Maren sedang memikirkan sesuatu.
"kau tidak perlu menjawabnya, sekarang naiklah. ini perintah" ucap Tomy berubah menjadi serius, baru kali ini ia menggunakan sttus tuan mudanya demi apa yang ia inginkan selama 3 bulan tinggal di kediaman Andrian.
Itu tomy lakukan demi Maren yang belum sarapan, entah kenapa memikirkan Maren belum makan saja membuat Tomy obsessif sendiri akan.kesehatan gadis yang ada didekatnya itu.
Maren naik kemotor itu dengan wajah terpaksa, baginya dekat dengan tuan muda Tomynya itu sangat tidak menyenangkan.
Dan baginya Tomy orang aneh, sungguh aneh yang pernah Maren temukan.
Tomy mengabaikan betapa kesalnya Maren padanya, itu tidak membuat Tomy merasa tidak nyaman ketimbang Maren tidak sarapan karenanya.
Seharusnya Tomylah yang marah karena Marenlah celananya basah.
Tapi itu berbeda bagi Tomy bahkan Tomy tidak lagi menyadari celananya yang basah tadi yang mulai kering perlahan akibat terpaan angin selama diperjalanan.
Diperjalanan hening, baik Maren maupun Tomy tidak ada yang mengeluarkan kata-kata.
Tomy fokus pada perjalanan dan menyetir sedangkan Maren kesal dengan tuannya itu.
Disebuah restoran yang terkesan mewah, entah kenapa berubahan sikap ini dapat Tomy rasakan saat bersamaaren.
selama ini Tomy selalu sungkan untuk berpoya-poya dari hasil keringat papa Andrian, apalagi ia belum bekerja diperusahaan keluarga Andaian selain mempelajari dokumen dokumen yang disuruh sang kakak.
Beda untuk pagi ini, Tomy merasa tidak pantas baginya mengajak Maren Maharana untuk makan ditempat yang biasa-biasa saja.
"Kenapa?" tanya Tomy pada Maren saat melihat perubahan wajah dari kesal menjadi semakin kesal alias marah yang memuncak.
"tuan, apa tuan sengaja membawa saya kemasalah pribadi tuan?" tanya Maren mengira jika Tomy sekarang sengaja membawanya untuk makan bersama hanya demi memutuskan wanitanya.
__ADS_1
Tak lain semuanya ada alasan mengapa Maren berpikir ke sana.
Iya di sana ada wanita yang seusia Tomy menatap dengan nyalang ke arah Tomy dan Maren, yang tentunya disadari olwh Maren.
Sementara itu tidak disadari Tomy sama sekali, karena Tomy terlalu fokus memperhatikan wajah Maren bukan tatapan mata gadis itu.
"Hei Maren, aku hanya mengkhawatirkan mu yang tidak jadi makan memakanmh tadi" jelas Tomy jujur-jujur saja, sepertinya bicara pada orang seperti Maren tidak perlu bertele-tele.
"tidak perlu" tolak Maren kesal namun jangan sebut Tomy Amarsyan nama yang pernah ia sandang selama 24 tahun belakangan jika tidak bisa membuat Maren patuh padanya.
"Jangan membantah" ucap Tomy lembut tapi sorot matanya menandakan tidak ada penolakan.
"akkg, dasar pria aneh. apa aku harus memakinya atau memelas?" grutu Maren dalam hati.
"tuan Vezan, aku mohon" ucap Maren akhirnya memohon pada Tomy karena tidak mungkin ia memaki makii tuannya itu yang notabene nya pria aneh dimatanya.
Jika itu terjadi Maren akan membaut masalah pada ibunya ulah pria aneh didepannya itu, itu bisa jadi pikir Maren karena tuannya itu begitu aneh sangat berbeda dengan Tuan Merelvin.
"Ayolah Maren, bukankah kau bilang akan telat?" tanya Tomy dengan nada sensual.
"lalu bagaimana dengan wanita itu?" tanya Maren tidak menjawab pertannyaan Tomy.
Karena ada benarnya jika ia tidak menurut saja akan membuat ia telat ke kampus tapi rasa penasaran akan wanita yang menatap nyalang ke arah mereka berdua membuat Maren ingin bertanya.
iya Casya masih kesal ulah Tomy terakhir kali, meski tidak ada masalah besar, tapi rasa tidak ketertarikan Tomy akan dirinya membuat ia marah dan dipermukan
Dan seperti yang dikatakan Tomy terakhir kali padanya. jika melaporkan kepolisi yang akan malu dirinya sendiri, tidak hanya itu mungkin tentang keseharuannya yang membutuhkan belaian dan kehangatan pria-pria diluar sana akan terpublikasikan di dunia jika itu dirinya.
Mata Casya dan Tomy bertemu satu sama lain, Tomy masih tidak menapakan wajah yang sebenarnya Tomy cukup mengenal Casya dengan baik, yang berani nekad demi apa yang ia mau, itu membuat perasaan takut itu pada Vola sekarang beralih pada Maren.
Tomy takut Casya akan berbuat sesuatu padaaren setelah Casya melihat Tomy membawa Gadis laim.
"Apa kau mengenal wanita itu?" tanya Tomy dengan lembut dan nada sensual.
Tomy sengaja berpura-pura tidak tahu siapa Casya di depan maren.
"ya sudah kalau tuan tidak kenal wanita itu" ucap Maren pasrah bukan karena nada Tomy yang sensual itu tapi memang nyatanya Msren lapar.
Tomypun mengajak Maren duduk dikursi dan meja yang masih kosong lalu memanggil pelayan restoran itu.
Tomy mengangkat tangannya pada pelayan tanpa mengeluarkan suara.
__ADS_1
pelayanpun menghampiri Tomy dan Maren dengan membawa buku menu, tapi sayangnya pelayan yang membawa buku menu itu tersandung kearah Maren.
Dengan sigapnya Tomy menghalang pelayan itu agar tidak tersentuh sedikipun kekulit Maren. sehingga pelayan itu bukan jatuh ke Maren tapi ke Tomy.
Ridak sampai di sana, tanpa diduga tangan Tomy tidak sengaja menyentuh salah satu milik Maren bagian kiri, yang awalnya tersentuh sedikit tapi dengan tekanan yang tidak sengaja dari pelayan di belakang tubuh Tomy menjadi lebih terasa.
Dapat Tomy rasakan benda kenyal itu tiba-tiba membuat seketika badannya merem*ng begitupun Maren ia terkejut.
Tomy segera menarik tangan nakalnya lalu berusaha berucap pada Maren agar tidak terlalu lama diposisi canggung.
"Maaf, aa kau baik-baik saja?" tanya Tomy memecahkan keheningan sesaat.
"A. a... aku baik-baik saja, aku rasa makannya tidak jadi" sahut Maren terbata-bata, Maren merasa ada yang aneh saat tangan Tomy tidak sengaja menyentuhnya salah satu benda kemb*rnya.
Badan maret merem*ng seketika dan tidak sengaja juga kulit kakinya tersentuh dengan pusaka Tomy yang tersembunyi dibalik cel*na itu sudah meneg*ng.
Wajah Maren bersemh merah bukan menahan marah tapi perasaan yang lainlah membuatnya seperti itu.
Tak tahan dengan situasi seperti itu Maren langsung melepas Tomy dari dirinya setelah berucap lalu berlari kencang keluar dari restoran.
Tomy hanya menatap punggung Maren yang mulai menghilang, karena Tomy sadar miliknya sudah One saja.
"kenapa?" ucap Tomy kecil masih terdengar oleh Casya di sana.
Tomy sungguh tidak menyangka, karena selama ini digoda oleh Casya ia hanya merasakan desir-desiran kebotakan saja tapi tidak sampai one seperti kali ini.
setelah Tomy merengut dan menyakiti kekasihnya diusia 16 tahun lalu Tomy hanya bermesraan dengan orang yang terlihat menggoda tanpa menyentuh lebih karena miliknya tidak tertarik lagi alias tidak one time.
dan terus ini sudah menjadi awal bagi Tomy merasakan miliknya ingin mencoba memasuki setelah pernah memasuki milik kekasihnya dulu.
"maaf tuan" sahut pelayan pria itu.
iya karena pelayan itu pria lah yang membuat Tomy menjadi posessif tidak ingin pelayan pria itu mendekatkan kulitnya padaaren.
hal posessif itu belum tomy sadari pada dirinya.
Casya langsung menarik tangan tomy, saat tomy ingin meninggalkan pelayan itu.
iya pelayan itu jatuh ulah casya.
casya tersenyum nakal pada tomy.
__ADS_1
"sayang tunggulah, bukankah sekarang punyamu sudah tak sabaran?" sindir casya dengan bertanya sedangkan matanya melirik licik ke bawah cel*na Tomy.
"sayang tunggulah, bukankah sekarang punyamu sudah tak sabaran lagi?" sindir Casya lagi dengan bertanya sedangkan matanya melirik licik kebawah celana tomy.