Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
24 Kekacauan Garel


__ADS_3

"Bibi membenci saya?" tanya garel ditengah-tengah keterpurukannya.


Tidak perlu dipertanyakan lagi pasti jawabannya iya, bibi ina sangat membenci tuannya itu.


selama ia bekerja dirumah luas itu tidak sekalipun bi ina melihat dan mendengar taun mudanya itu berperilaku baik ataupun menganggap nyonya viena ada.


Tidak ada, mungkin viena tidak mampu membenci suaminya sendiri karena cinta semakin tumbuh dihatinya tapi itu tidak dengan bibi ina, bi ina setiap hari menumbuhkan rasa benci dan kekesalannya pada majikannyan itu.


Bi ina tidak menggubris pertanyaan tuannya itu, bi ina memilih diam saja yang perlu bi ina lakukan dirumah luas itu hanya menjaga tuannya sesuai janji yang dibuat nyonyanya sendiri.


"Bibi bisa berhenti, Saya tidak layak mendapatkan perhtian apapun" ucap garel dengan suara berat yang diringi penyesalan.


"Tidak tuan, saya akan selalu bekerja disini. dan memenuhi perintah nyonya" seru bibi ina dengan tegas


Mungkin jika viena tidak memohon-mohon pada bi ina untuk selalu menjaga garel. bibi ina sudah lama pergi seiring nyonyanya pergi.


"apa dia sengaja membuat ku semakin menyesal? haaah?" teriak garel penuh penyesalan.


"Tuan harus menanggungnya dan saya tidak akan pergi" sahut bi ina lalu meninggalkan ruang tuannya menuju kamar pribadinya dirumah majikannya itu.


semenjak nyonyanya pergi bi ina memang sudah mulai berani menyahut setiap ucapan garel tapi bi ina bersikukuh untuk tetap tinggal rumah yang menjadi saksi bisu kisah ketulusan nyonyanya dan akan memenuhi permohonan nyonya vienanya.


"aaaakhh., Kenapa Fana? kenapa? kau tidak membunuhku saja, aku tidak sekuatmu Fana. aku mohon Fana, aku mohon Fana. kembalilah" kesal garel pada dirinya disertai rasa amat rindu bersatu dalam penyesalan dan penyesalan yang tidak ada habis-habis.


...******...


"Ada tuan mudamu?" tanya Raffa pada resepsionis di perusahaan keluarga Az-Zardan.


"maaf tuan, tuan muda sudah beberapa hari ini tidak masuk kerja" jawab resepsionis dengan sopan dan ia juga mengenal Raffa dengan baik.


"Ada masalah apa?" tanya Raffa tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan.


Setahunya, Garel Gebriel Az-Zardan tidak bisa meningglkan pekerjaan selama beberapa hari palingan hanya sehari, karena itu tuntutan bagi Garel, ya semenjak garel ingin cepat warisan diserahkan kepadanya seutuhnya garel akan selalu datang kekantor, sebenarnya Garel bukan haus akan harta hanya saja itu sudah terbiasa dnegan bergelimangan harta jika harta belum sepenuhnya di serahkan padanya maka ia akan selalu dibawah aturan sang kakek, sebenarnya kakeknya selalu baik padanya dan itu garel tahu hanya sjaa garel tidak suka diatur entah sekecil apapun.


Sehinggga semangatnya garel kekantor dikethaui oleh sahabatnya Raffa yang menjadi tempat berkeluh kesah ternyamannya.


"Maaf tuan, jika memang tuan ingin lebih tahu bisa ditanyakan asisten tuan muda, tuan Toni Amarsyan" jelas resepsionis karena ia tidak tahu mengenai urusan pribadi tuan mudanya.

__ADS_1


"aaa baiklah, terimakasih" ucap Raffa memutar arah keluar.


Raffa ingin sekali bertemu dengan garel untuk menceritakan apa yang tadi ia lihat sebelum ia berangkat kekampus tadi pagi.


Raffa seorang dosen pengganti yang sekarang telah ditetapkan menjadi dosen di tetap dan jadwalnya ditetapkan pagi hari.


kebetulan sekali diperjalanan Raffa menuju kampus ia melihat seorang yang tidak asing. batinnya ia perlu menceritakan apa yang ia lihat kepada sahabatnya, garel itu.


Dan itu pasti jam siang, waktu kepulangannya dari kampus beserta jam istirhat dilantik jadi sekalian ajak sahabatnya makan siang bersama.


tibanya diperusajan eeeh malah orangnya tidak masuk kantor jadi terpaksa Raffa menuju langsung kerumah garel yang belum sama sekali Raffa kunjungi, tapi ia sudah mengetahui alamatnya.


Raffa hanya mendapatkan alamat rumah sahabatnya setelah garel koma, tapi sejauh ini raffa tidak mau berkunjung kerumah itu karena ada viena.


Raffa tidak mau bertemu dengan viena karna takut ia tidak bisa melupakan perasaanya yang telah ditolak viena masa viena masih menjadi mahasiswinya, Apalagi sekarang viena sudah menjadi istri dari sahabanya sendiri.


Tapi hari ini Raffa tidak ingin menunda-nunda apa yang ingin ia sampaikan pada sahabatnya itu, mau tidak mau raffa melaju mobilnya menuju rumah Garel.


saat ingin memasuki area rumah garel, awalnya raffa ragu, karena terasa tidak ada kehidupan, bahkan sapam rumah saja tidak ada, iya garel sudah memecat siapapun yang bekerja dirumahnya selain bi ina sendiri yang masih bersikukuh menjaga garel.


Raffa hanya mengkerutkan dahinya merasa tidak percaya jika rumah yang ia kunjung adalah rumah penerus tunggal keluarga Az-Zardan.


Raffa keluar dari mobilnya berjalan kearah pintu, belum sempat raffa menekan bell rumah pemilik rumah muncul dengan langkah loyo.


"Gaaarel?, apa kau sakit?" tanay raffa khawatir saat melihat kondisi sahabatnya sangat kacau mungkin inilah yang paling kacau dari diri garel selama raffa mengenalnya.


"apa garel sudah mengetahuinya?" Raffa mebatin


"kenapa Fa? apa kau juga datang untuk menambah penyesalanku, apa kau ingin mengejekku" gerutu garel ingat dengan jelas tentang nasehat sahabatnya itu.


Raffapun mengurngkan niatnya untuk menceritakan apa yang ia lihat pagi ini, tapi sudah toh tidak adangunanya, orangnya saja sudah tahu batin raffa.


Mungkin jika raffa tahu bukan anasya yang bikin ia sekacau ini melainkan viena pasti raffa sangat terkejut.


"tadinya aku mau ajak kamu makan bareng diluar, tapi lain waktu saja" bohong raffa sudah tidak berniat lagi membahas anasya.


"aku tidak berselera" jawab garel lemas ia memang tidak berselera makan bahkan minum saja terasa menyakitkan.

__ADS_1


"kenapa denganmu? kau belum menjawabku?" tanya raffa.


"apa fana tidak mengurus garel atau anasya ketahuan selingkuh?" batin Raffa masih ragu-ragu.


Raffa kenal dengan baik fana ornagnya seperti apa, baiknya tiada dua & begitupun raffa rasa sedikit ragu jika garel mengetahui anasya berselingkuh selama ini.


"Fana pergi, Fa" ucap garel sesal.


"palingan sama agelia sahabatnya, toh kamu jangan terlalu ngekang dia juga apalagi kau saja belum bisa ngerelain anasya" gerutu raffa kesal jika mengingat kebodohan garel selama ini hanya gara-gara cinta


"Fana pergi tinggalin aku selamanya, fa. aku nyesel fa. aku nyesel." sahut garel sembari mengacak rambutnya dengan kasar.


"aku enggak ngerti, apa maksudmu?" tanya raffa yang benar-benar enggak ngerti padahal apa yang disampaikan garel cukup jelas.


"Nona fana kabur, tuan" sambung bibi ina


"Hahhahaha. jangan bercanda kalian berdua, aku kenal fana enggak mungkin main kabur-kaburan" protes Raffa masih tidak percaya.


Tidak mau ambil pusing Raffa merebahkan dirinya diatasi soffa dirumah garel lalu terlelap.


...********...


Dijalan raya, agelia yang sedang berada didalam mobil manatap sinis kearah depan. sepasang suami istri berjalan keluar dari caffe dengan senyum terukir disudut bibirnya.


melihat senyum itu membuat agelia jengkel-sejengkelnya. niat jahat agelia meronta-ronta ingin menghancurkam orang yang ada didepannya.


Sudah dikatakan agelia tidak akan tinggal diam dan tidak akan membiarkan kebahagiaan merangkul orang yang telah meyakiti sahabatnya viena.


Namun saat agelia hendak mengatur gas mobil, datang pria tinggi berkulit putih nan tampan yang selalu membuat agelia berdebar antara takut dengan pertanyaannya dan kepesonaannya yang memikat hati siapa lagi kalau bukan Kak Merelvin.


Tik tok tok


Kali ini detak jantung agelia makin kencang bukan karna kak Merelvin makin tampan tapi raut wajah dan tatapan kak Merelvin dari kaca mobil itu terlihat mendominasi seakan kaca mobil akan segera pecah oleh tatapannya, kali ini kak merelvin terlihat menyeramkan bagi agelia.


Dengan penuh ketakutn agelia membukakan kaca mobilnya.


"Sepertinya aku yang tidak bahagia kali ini" batin agelia sembari membuka kaca mobilnya.

__ADS_1


sssreeet


__ADS_2