Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
31 Siapa Dia Sebenarnya Part II


__ADS_3

Sesuai yang informasi yang didapatkan garel dari tony, ia menatap rumah kecil dari kejauhan dengan raut wajah sedih, takut dan tak percaya diri.


Tapi garel tidak bisa berlama-lama lagi menunggu untuk bersabar.


Apalagi Garel juga sangat merindu sosok yang selama ini selalu tulus menjaganya tanpa meminta balasan sedikitpun, hingga hati itu memenuhi hatinya dan baru disadari setelah ia kehilangan orang yang tulus padanya.


Namun ketakutan garel memuncak bersamaan dengan langkah kakinya yang hendak mendekat kerumah kecil milik viena itu.


"Fana, apa kau akan memaafkanku?" batin garel selalu bertanya tanya apakah viena akan memaafkannya dan berpikir apakah viena akan kembali bersamanya dengan mudah tentu itu tidak mungkin.


Tepat posisi garel sudah didepan pintu rumah viena, rasanya otot dan sendi-sendi garel mendadak ngilu, Garel tahu apa yang telah ia lakukan tidak mudah untuk dimaafkan oleh viena dan seharusnya memang garel tidak layak dimaafkan tapi hati garel tidak ingin menyerah


Ia berudaha untuk percaya diri dan berharap untuk mendapatkan viena kembali membangun kekeluargaan yang bahagia.


Di dalam rumah sana, viena sedang memperhatikan selembar foto dengan wajah yang datar, tapi air matanya mengalir tak diundang setiap kali viena melihat foto itu.


Di mana foto itu terdapat garel tersenyum manis namun senyuman itu garel berikan pada orang lain yaitu Anasya.


Semenjak kehamilan yang ia alami Viena senang melihat senyum suaminya itu namun rasa senang itu sekaligus menjadi luka viena dapatkan.


Mana ada istri yang tidak terluka jika suaminya bermesraan dengan wanita lain.


Sekarang Viena tetap membawa luka bersamanya ia mengbil foto garel itu yang sedang tersenyum manis pada anasya, ia terpaksa mengambil foto dan membawa bersamanya untuk mengobat rasa rindu akibat bawaan kehamilannya.


Meski viena mencetak foto itu hanya bergambar garel seorang, viena ingat sekali itu untuk kekasih suaminya.


Bahkan viena ingat kapan viena mengambil foto itu diam-diam demi sang bayi didalam perutnya.


Viena memang tidak mengidam apa-apa selain melihat garel tersenyum manis, dan itu iadapatkan ketika kedatangan anasya untuk suaminya.


Namun pada titik di mana viena memilih pergi viena tak sanggup lagi berharap pada yang tidak pasti baginya.


Seperti malam ini, viena hanya memendam sendiri betapa ia merindukan sosok yang membuat ia terluka itu.


Akan tetapi viena tahu kehadirannya tidak berarti mungkin saja kepergiannya adalah kebahagiaan garel, betapa bahagianya garel telah memiliki anasya disisinya tampa ada iming iming keberadaanya.


Pikiran-pikiran seperi itulah yang membuat viena semakin terluka.


Ia sudah cukup berusaha untuk melupakan akan tetapi bayi yang ia kandungkan seakan tidak berpihak dengannya.


Hati Viena terasa diombrak ambrik oleh pikirannya sendiri yang hari ke hari semakin kacau.


Tok TokTok

__ADS_1


Terdengan suara ketukan pintu rumah kecil viena, dilihatnya jam 7 malam, telat dari pada biasanya batin viena tapi tidak masalah karena di Desa terpencil hanya satu orang sumber kebahagiaannya, yaitu keberadaan Tomy.


Dengan cepat viena mengusap sisa-sisa air yang mengalir dipipinya.


Wajah viena berubah berseri-seri, viena sangat senang menuju pintu rumahnya.


Treekkk.


Dengan semangatnya viena membuka pintu, Alangkah terkejutnya viena orang yang dikiranya datang adalah tomy ternyata orang yang baru saja ia lihat dilembaran foto barusan, yaitu garel.


Viena langsung menutup kembali pintunya, namun tangan garel lebih cepat menahan pintu rumah viena agar tidak tertutup.


"Fana maafkan aku," ucap garel lalu berlutut di hadapan viena.


"aku mohon fana, aku tahu aku salah. Aku salah fana" ucap garel disertai isyakannya.


"cukup, Jangan pernah ganggu aku lagi" tegas viena dalam keadaan menahan gejolak rindu dan kesedihan dalam dirinya, viena berusaha kuat dan tidak akan terlihat lemah yang bisa menjatuhkan air mata begitu saja, viena tidak mau itu terjadi.


"Fana, maafkan aku. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi" ucap garel memohon mohon.


"aku mohon fana," berkali kali garel mengucapkan permohonan maaf dari viena tapi viena tidak akan memperlihatkan kelemahannya.


Padahal dalam hati viena, ia sangat ingin meraih tubuh yang sedang memohon itu lalu memeluknya dalam dekapannya.


"Bayi kita butuh kita berdua, maafkan aku dan kembalilah bersama ku, aku akan menembus kesalahanku dana akan membahagiakan kaljan" jelas garel berusaha membujuk viena.


"apa? Bayi kita? Tidak, bayi yang aku kandung bukan bayi mu karena kau tidak pernah menganggapnya ada, dan aku tidak akan pernah bahagia bersamamu. Jangan siksa aku dan bayiku" ucap Viena nanar


" Aku mohon pergi. Pergi. Pergi. Hiksss hikss" lanjut viena terisak dengan deraian air mata, ternyata usahanya untuk terlihat tegar didepan garel tidak membuahi hasil, karena viena tidak tahan untuk tidak menangis bahkan viena sudah kesegukan.


Tangisan itu begitu pilu, ini pertama kali bagi garel melihat viena menangis selama mereka menikah, sungguh tangisan pilu itu begitu menyayat hati Garel.


Ras tidak tega melihat wajah pucat itu menagis tersedu sedu, ingin ia meninggalkan viena jika viena tidak bisa bahagia bila bersamanya.


Namun garel tidak bisa itu, ia tidak ingin kehilangan viena lagi ia ingin memperjuangkan viena untuk istri dan ibu untuk anak anaknya.


Dengan memberanikan diri Garel mendekat dan menarik tubuh rapuh itu dalam dekapannya.


"aku salah fana, aku salah. Maafkan aku" bujuk garel lembut tanpa melepas pelukannya itu meski viena memberontak kecil berusaha melepaskan pelukann itu.


viena tidak mau rasa kehangatan itu semakin melukainya dan semakin menyiksa dirinya karena selalu gagal untuk melupakan garel.


"lepaskan aku, lepaskan dann pergilah..pergi." ucap viena marah dan berderaian air mata, sedih, kecewa dan bahagia menjadi satu.

__ADS_1


Tapi kebahagaiaan yang viena rasakan itu tak mampu membuat viena bisa luluh untuk kali ini, dan itu juga hanya sementara pikir Viena, dimana garel hanya bisa bahagia bersama anasya.


Disisi lain seseorang memperhatikan garel dan viena dari kejauhan, awalnya ia membiyarkan garel dan viena saling berbicara satu sama lain, membiarkan viena melupakan isi hatinya.


Namun melihat reaksi viena semakin histris ia tidak tinggal diam, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga viena apalagi ia sudah mengetahui kebenaran dari ibu Marlind jika viena adalah saudara kembarnya.


Braakk..


Suara bantingan tubuh garel terbanting kekursi yang ada didepan rumah viena, tenaga tomy cukup kuat menarik tomy dan membantingnya.


Diraihnya tubuh rapuh nan gemetar hebat itu dalam dekapannya, ia biarkan viena bersembunyi didalam sana membasahi pakaiannya.


"Jangan pernah melukai fana, jika perlu anda tidak perlu datang kesini lagi" ketus tomy dengan suara dingin sedingin Es.


Mata garel membulat sempurna, saat melihat viena begitu tenang dalam dekapan pria sebaya dengan istrinya itu.


Seketika mata garel teralihkan kesorotan mata tomy yang tersulut emosi itu persis dengan mata viena saat marah setelah ia menampar wajah viena dulu, begitu mirip.


"Biarkan aku bicara dengan istriku" pinta garel kemudian ia lembut didpean pria didepannya itu.


"Bicara? lebih baik anda pergi, itu lebih baik untuk fana" jelas tomy tidak mengatakannya dengan serius hati, tomy dapat melihat viena amat menginginkan suaminya itu.


Tidak ada pilihan bagi tomy, meski ia baru menemukan viena sebagai saudari kembarnya tapi ia tidak akan rela jika viena tersakiti sekalipun viena memaafkan garel, tomy tidak akan membiarkan itu dengan mudah.


Garel harus mendapatkan pelajaran dan merasakan apa yang dirasakan viena, sebenarnya ingin sekali ia menghajar wajah yang telah menyakiti saudari kemabrnya itu tapi rasanya viena lebih membutuhkannya untuk menenangkannya.


kata-kata yang lebih baik untuk viena, membuat garel diam.


Ia membenar apa yang diakatakan tomy, garel lebih baik pergi memberi waktu untuk viena, itulah pikir garel.


Dengan langkah gontai miliknya, garel meninggalkan rumah viena, berat hati untuk meninggalkan desa terpecil itu yang disana viena berada selama ini, ia tidak bisa membawa viena kembali bersamanya.


"Tomy, Garel" isak viena tak mampu melanjutkan kata-katanya, setelah melihat punggung Garel mulai menjauh bahkan sudah meninggalkan desa itu bersama dengan mobil.


Tomy membawa viena masuk ke dalam rumah kecil itu. ia membiyarkan viena menangis, bahkan baju tomy sudh basah beserta ingus vienapun disana.


"Sudah nangisnya? Ingusmu membasahkan bajuku" ucap tomy lembut seraya diiringi kekehan kecil.


"Tomy" pekik viena kesal menyebut nama pria menangkan baginya itu, ia sedang bersedih malah tomy mengejeknya..


Meski kesal dengan ejekan tomy viena tersenyum dibalik wajahnya sembabnya.


cltakk... jari telunjuk tomy mendarat di kening viena.

__ADS_1


"Aaaaww"


__ADS_2