Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
20 Penyesalan


__ADS_3

Sudah dua hari kepergian viena, agelia banyak menghabiskan waktu untuk memperhatikan ponselnya, menunggu kabar sahabatnya akan kah viena mengabarinya lagi. Tapi itu mustahil.


Berkali-kali agelia menghubungi nomor viena, tapi tak kunjung ada kabar adapun yang ada setiap kali agelia menghubungi nomor itu selalu mendengar jawaban yang sudah populer (Mohon maaf, nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi)


Frustasi rasanya agelia menunggu jawaban pada benda yang tidak lagi berfungsi.


"aaaahhkkk," pekik agelia kesal


"bi ina, iya bi ina" ujar agelia masih ada sedikit harapan.


Dalam pikiran agelia tidak ada lagi tempat ia akan bertanya kemana viena pergi selain Bibi ina, yang senantiasa menemani viena selama tinggal diruamah.


ageliapun mengambil kunci mobilnya melaju kealamat rumah viena dan garel.


Dikediaman mewah garel dan viena


seperti pagi-pagi anasya sudah datang untuk menemani garel sarapan dimeja makan yang besar itu.


Namun Garel sering terbawa emosi, karena masakan dua hari ini bi ina yang memasak sendiri untuk garel.


Selera makan garel menjadi tinggi karna selama ini menerima asupan yang dikhususkan dari viena untuk garel sehingga masakan bibi ina saja tak dapat menggugah selera garel.


setiap kali garel bertanya tentang kenapa viena tidak memasak, bibi ina hanya menjawab Nyonya fana pergi/keluar sampai garel kesal sendiri mendengar jawaban dari bi ina itu.


"apa bibi tidak bisa katakan padanya, sebelum pergi masak untukku dulu" gerutu garel kesal.


garel sungguh bodoh atau pura-pura tidak tahu, garel sampai tidak menyadari jika viena pergi dari dua hari yang lalu dan belum kembali sama sekali.


"Maaf tuan, Nonyaa fana meminta saya memasak untuk tuan" sahut bi ina sesuai pesan nyonya vienanya.


"Sampai kapan dia pergi dan tidak memasak seperti ini?" kesal garel


"maaf tuan, saya tidak tahu" ucap bi ina yang enggan jujur pada tuannya itu.


Bagi bi ina itu belum apa-apanya ketimbang apa yang dirasakan viena.


"Udah sayang, dimakan saja" kesal anasya dari tadi hanya menyebut-nyebut viena dan viena.


"Bi , bi ina!!!," sapa agelia yang sudah dikediaman sahabatnya itu dengan wajah sudah kusut, ia bahkan tidak kekantor selama dua hari ini.


"iya, nona agelia. ada yang bisa saya bantu?" tanya bi ina langsung hampiri agelia.

__ADS_1


"Bi, katakan padaku kemana fana, Viena Andriana Saffana pergi? aku mohon bi" ucap agelia langsung tersungkur didepan bibi ina. agelia mungkin gila bersujud didepan pembantu sahabatnya itu tapi itu agelia lakukan hanya demi viena semata.


Agelia tidak tahu jika berjauhan dengan sahabatnya itu.


"jangan seperti ini nona" ucap bi ina sembari menngangkat tubuh agellia. tapi apa agelia sungguh frustasi dan memohon pada bibi ina agar mau mengatakan dimana keberadaan viena.


"aku tidak akan berhenti memohon, sampai bibi memberi tahu saya" sahut agelia dengan deraian air mata.


"Apa maksudmu?" tanya garel tidak mengerti dengan intraski bibi ina dengan sahabat istrinya.


wajah agelia seketika memerah dan raut wajahnya berubah garang lalu menghampiri garel


"Jangan bilang kau tidak tahu, Viena Andriana Saffana istrimu sudah pergi dari rumah ini untuk selamanya" ucap agelia dengan nada tinggi dan matanya melotot kearah garel.


Bi ina hanya bisa memejamkan matanya


"apa yang dikatakannya, benar bi?" tanya garel ke bibi ina.


"JAWAB, Bi" bentak garel


"i.. iya tuan" sahut bi ina terbatas bata.


"aaaakkh" teriak garel sembari mencekram rambutnya dengan kasar, sedangkan anasya hanya senyum penuh kemenangan.


"kau kalah fana, kau kalah sebelum berperang" anasya beteriak hore dalam hatinya.


"Aku mohon bi, negara mana yang ia tinggal?" tanya agelia kembali memohon ke bi ina.


"aku mohon bi" agelia sungguh tidak memiliki cara lagi selain memohon dan ia juga melupakan dulu tentang kemarahannya pada garel.


"nona jangan seperti ini, nyonya fana tidak mengatakan pada saya" ujar bi ina sesal.


mendengar penuturan bi ina agelia terduduk lemas diatas lantai, hanya air mata semakin deras mengalir tapi suara agelia membeku di tenggorokan.


berkali-kali ia memukul dadanya. sesak sangat sesak apalagi viena sedang hamil.


apakah dia baik-baik saja dinegara lain.


Hening rumah itu, garel mematung menyadari selama ini ia sudah bertindak seenaknya dan tidak pernah memikirkan perasaan viena istrinya.


Rapuh rasanya garel tak kuat lagi menapung tubuhnya sendiri tapi garel kembali berkata mana saat tangan anasya menyentuh lengannya

__ADS_1


"pulanglah, aku akan menghubungimu" pinta garel pada anasya. anasyapun menurut, ia juga tidak ingin ikut-ikutan dalam drama bibi ina, agelia dan garel.


"tunggu" ucapan agelia menghentikan langkah anasya


"aku sungguh tidak menyangka orang sepertimu sangat bodoh selama ini, kau hanya dimanfaatkan saja oleh pelakor ini" tunjuk agelia kearah anasya, namun matanya dan arah bicaranya mengarah pada garel.


"sayang, kamu jangan mendengarkan perkataannya" anasya berusaha menanggapi dengan tenang agar pembelaanya tidak diragukan garel.


"Aku punya buktinya, karna dia istri kakak tiriku" ujar agelia menatap kerah garel, dalam hati agelia ini kesempatannya membalas perbuatan garel dan anasya.


jika sahabatnya tidak bahagia maka orang yang telah menyakiti sahabatnya juga tidak pantas bahagia.


Agelia mengotak atik ponselnya dengan menggeser layar sebagian galeri mencari foto lalu menyerahkan kegarel.


Namun belum sempat garel melihat foto yang ada di ponsel agelia, anasya sudah dulu meraihnya


sehingga terjadinya aksi antar anasya dan agelia rebut-rebutan ponsel.


meski dengan aksi rebut-rebutan, keinginan agelia terhujud sendiri. karena ponsel itu terbanting sendiri kearah garel tepat didepannya.


perlahan garel membungkukkan tubuhnya dan meraih benda itu wajah garel berubah semu saat melihat sepasang pengantin menggunakan gaun dan jas pengantin yang sangat serasi dan mesra itu.


"apa ini?" tanya garel


"itu hanya foto masa lalu, aku sudah lama cerai dengannya" protes anasya tentu sudah dipastikan bohongan belaka.


"Hahahaha, aku sangat kasihan padamu tuan Gatel Gebriel Az-Zardan, demi makhluk lak nat seperti dia kau menutup mata mu sebaik Fana kau campakkan" ucap agelia kali ini kata katanya penuh pengejelan.


Sedangkan bi ina bingung harus ikut atau diam saja.


"akan aku buat kau menyesal tuan terutama kau juga" tunjuk agelia kearah garel lalu bergantian kearah anasya kemudian bergegas meninggalkan rumah itu dan tidak lupa ia meraih ponselnyan ditangan garel.


"sayang, itu hanya foto masa lalu" ucap anasya memelas kepada garel.


"PERGi!!!" Bentak garel pada anasya mampu membuat jantung bi ina copot.


Garel tidak bisa lagi berkata apa-apa, apa yang dikatakan agelia memang ada benarnya dan semuanya dimulai kesalahannya sendiri.


Anasya pergi dengan wajah kesal, marah tentunya. sebelum rencananya tercapai ia malah jatuh kelubang yang ia buat sendiri.


Bi inapun meninggalkan tuannya sendiri

__ADS_1


"Fana maafkan aku" penyesalan yang amat terlambat bagi garel karena viena sudah benar-benar pergi


__ADS_2