Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
12 Keberuntungan Anasya


__ADS_3

Alangkah beruntungnya Anasya dihari pertama ia mengunjungi Garel, tuhan berpihak padanya membantu membangunkan Garel dari koma, tepat diruangan itu hanya ada Anasya saja.


Yaa meski terlambat 7 menitan dari kedatangan Anasya mata Garel sudah menyelusuri seisi ruang seorang diri tanpa ditemani siapapun.


Namun Anasya datang membuat Garel tersenyum bahagia ternyata kekasihnya datang disaat ia kesepian.


Dalam hati Anasya kesempatan yang sempurna, sangat sempurna untuk melancarkan aksinya menutupi jika ia tidak pernah mengunjung Garel apalagi merawatnya dalam keadan koma selam tiga minggu ini.


Anasya hanya perlu meracuni pikiran Garel sekakan ialah yang merawat Garel selama ini secara diam-diam, ia merasa beruntung saat ia masuk keruang Garel tidak ada yang menyadirinya sehingga tidak ada yang menghalanginya.


"Sayang....itukah kamu? tanya Garel pada Anasya.


"apalah masih sakit?, aku akan memanggil dokter untukmu. Tapi kamu tahu jika aku memanggil dokter, keluargamu akan datang. berarti aku tidak bisa bersamamu" ucap Anasya basa basi penuh penekanann diakhiri kalimatnya dengan nada dibuat buat sedih


Tangan Garel ingin meraih tangan Anasya, dengan sigap Anasya menyerahkan tangannya untuk diraih Garel


"yesss.. Kena kau" ujar Anasya dalam hatinya kegirangan


"sayang jangan panggil dokter dulu, 7menit saja" ucap Garel lalu menarik Anasya kedalam pelukannya


dibalik dada bidang Garel, Anasya tersenyum licik sembari mendekatkan pelukannya.


Tapi tidak dengan perempuan yang berdiri di arah pintu mematung tidak bisa berbuat apa-apa. Toh dia hanya istri yang tidak dinginkan apalagi tidak memungkinkan bagi Viena mebuat keributan dihari-hari yang ditunggu-tunggu ini.


Melihat pemandang pria yang ditunggu tunggu berpelukan mesraa dengan wanita lain sungguh memilukan hati, apalagi Viena sudah menumbuhkan rasa dihatinya meski tidak ada perilaku Garel yang seharusnya membuat Viena bisa mencintai Garel, yang sedang koma dalam 3 minggu ini.


Agelia yang juga menyaksikan itu hanya memperhatikan reaksi sahabatnya.


Ia tatap wajah sahabatnya itu. Namun Viena tersenyum manis seperti biasanya saat kedua mata kedua sahabat itu bertemu satu sama lain.


"aku panggil dokter" ucap Viena lalu meninggalkan Agelia menuju ruang dokter dengan langkah yang mungkin dapat dilihat jika kakinya tidak sanggup lagi manapung tubuhnya.


Sebenarnya tidak perlu memanggil dokter keruangan dokter, tinggal menekan bel saja yang ada diruangan itu...tapi karna pikiran kacau Viena dan tidak ingin mendekat ranjang itu Viena hanya berkiri mendatangi ruang dokter saja.


Mata Agelia tidak berpaling menatap kearah kepergian Viena. Agelia tahu jika hati Viena akan terluka tidak sekuat parasnya.


Aedikit banyak Viena sudah cerita pada Agelia tentang perasaannya selama ini yang sudah menerima kehadiran Garel dalam hati, sahabaynya itu

__ADS_1


Kedua orang yang masih berpelukan tidak menyadari keberadaan orang sampai tibanya dokter Irwan


keduanya saling melepas pelukan yang tadinya erat.


Anasya mengisyaratkan pada Garel bahwa dia harus pergi, Garel paham akan itu dan menganggukan kepalalnya menandakan ia menyetujuinya.


Betapa terkejutnya Agelia melihat wanita yang sedang berpelukan dengan suami sahabatnya itu adalah Anasya si pelakor


Tapi hati Anasya lagi baik jadi ia tidak menghiraukan keberadaan Agelia dan melewati Agelia begitu saja, malah sebaliknya Anasya melemparkan senyumannya pada Agelia.


Dokter Irwan langsung mengecek kondisi Garel sesuai prosedur yang ditetapkan untuk kelanjutan kesehatan Garel.


"kemana kamu, Vi?" tanya Agelia prustasi mana kala matanya belum menemukan orang yang dicari sedangkan dokter Irwan sudah memasuki ruang pasien.


Viena melangkahkan kakinya sedikit berat rasanya untuk melangkah menuju ruang dimana keberadaan Garel.


"apa yang aku harapkan dari pernikahan ini? Apakah ini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan?" ujar Viena dalam hatinya.


"VI!!! "teriak Agelia berlari kearah Viena lalu menghamburkan pelukan kearah Viena, tangan Agelia menepuk bungging yang rapuh itu dengan lembut, memberi kekuatan.


"aku baik" ucap Viena lalu meleraikan pelukan hangat yang diberikan sahabat sejatinya itu.


"aku menelpon yang lain" ucap Viena yang memang mengabari 2 pihak keluarga tentang Garel bangun dari komanya.


Diruang Garel


"mau minum?" tanya Viena membuka pembicaraan namun Garel hanya diam saja lalu menatap sekilas kearah Viena.


Tidak mendapat balasan, Viena meletakkan kembali segelas air putih yang tadinya ada ditangannya.


Apa yang Viena katakan tidak ada sama sekali respons yang diberikan Garel.


"aku tahu , kalau pita suaramu baik baik saja" Viena hanya berkata dalam hatinya tidak mau mempermasalahkan pada orang yang baru bangun dari komanya itu.


Berbeda dengan Agelia, rasa geram dia melihat Garel mengahkan Viena tapi apa yang bisa ia lakukan selain diam menerima kepahitan yang dirasakan oleh sahabatnya.


Seiring waktu, kakek Zirdan, mama Garel, papa Garel, papa Viena dan kak Merel datang bersamaan.

__ADS_1


Mama Garel mengahmburkan pelukan kepada putra sematawayangnya, menangis haru mana kala 3 minggu ini tidak ada harapan Garel untuk sadar secepat ini.


"ma lepas, berat tahu" ujar Garel membuka suara sembari meleraikan pelukan sang mama.


Degg


"apa sebenci itukah?" lagi lagi Viena hanya bertanya pada dirinya sendiri dari tadi ia bicara tapi Garel tidak satu katapun Garel ingin membalasnya ucapannya.


Namun diraut wajah yang lain tersenyum melihat tingkah laku ibu dan anak.


Viena yang tidak mau terlihat sedih dimata orang lain memilih pergi dari ruangan itu membawa Agelia bersamanya tanpa ada yang tahu.


Semuanya asyik memperhatikan Garel termasuk papa Viena dan kak Merel.


"ke villa?" ajak Viena yang pada Agelia saat sudah berada di parkiran mobil rumah sakit


Agelia tidak mau ambil pusing mengiyakan sahabatnya itu dengan anggukan.


Divilla kak Merel yang sekarang ditepati Agelia, Viena tidak melakukan apapun ia hanya mendiamkan diri.


Bahkan ia tidak meperdulikan Agelia lagi, ia diam seribu bahasa, tapi wajahnya tidak memperlihatkan bahwa dirinya terpuruk sama sekali.


Niat hati Agelia ingin menceritakan Anasyalah wanita yang berpelukan dengan suaminya sahabatnya itu tapi Agelia urung untuk sementara waktu samapi waktu yang tepat.


"Anasya, dulu aku sekarang Viena. Apakah satu pria saja tidak cukup?" geram Agelia dalam hati apalagi mengingat Anasyalah yang telah mengancurkan hubungannya dengan Reonal yang sekarang berubah menjadi saudara tirinya.


Bahkan keduanya juga berperan dalam membantu mama Reonal menghancurkan keluarga Agelia hingga Agelia harus kehilangan sang bunda untuk selama-lamanya.


frustasi rasanya Agelia mengingat betapa menyesalnya ia harus bertemu dengan Anasya dan Reonal dalam hidupnya.


Sementara Kebahgaiaan yang berpihak pada Anasya membuat suasana hatinya juga membaik, ia bersorak ria diapertement bernuansa putih abu abu bersama sang suami


Ia menceritakan keberuntuangannya datang mengunjungi Garel hari ini


"sayang sepertinya aku ada rencana baru" ujar Anasya pada suaminya


"rencana apa?"

__ADS_1


"iya"


Kelicikan dua pasang suami istri itu tidak pernah ada habis-habisnya, bahkan hati keduanya entah terbuat dari apa tidak sedikitpun dari perbuatan dan perkataan keduanya yang berperasaan dan merasa bersalah.


__ADS_2