
Hantaman mobil menghantam mobil lainnya tidak bisa dihindarkan oleh sebagian mobil, sehingga salah satu mobil sport berwarna biru mengalami incident yang lebih mengenaskan sehingga terjadinya ledakan pada mobil sport tersebut.
Dari ledakan itu juga berdampak pada mobil-mobil lainya.
Tim penyelamat dan para ambulans lainya datang lalu lalang berdatangan kearah lokasi, sebagian ada yang sudah meninggal di tempat dan ada yang masih bisa diselamatkan untuk dilarikan kerumah sakit.
media diKota guncar di penuhi berita ledakan mobil sport berwarna biru, apalagi dalam incindet tersebut terdapat salah satu mobil sport berwarna biru yaitu salah satu mobil pemilik penerus tunggal pemimpin Perusahaan Az-Zardan.
itu menjadi berita Hot terkini.
Dalam kecelakaan itu belum dapat dipastikan jika dari kedua mobil sport berwarna biru yang meledak itu apakah penerus tunggal keluarga Az-Zardan atau bukan.
Namun sudah dapat dipastikan keluarga yang meyaksikan berita dimedia internet sangat khawatir,
apalagi selama ini dikira itu hanya satu dari pemilik mobil sport berwarna biru yang ada dikota yaitu Garel Gebriel Az-Zardan seorang dan untuk keduanya baru kali ini ada yang memiliki mobil sama persis dengan mobil Garel.
Berbeda kondisi ditempat toko bunga, semuanya tampak tenang dan cerah bahkan vviena asyik menyelusuri bunga-bunga yang indah ditemani Agelia beserta pelayan di toko bunga.
berita sudah tersebar diseluruh media internet, hanya saja belum ada dari mereka yang ada ditoko bunga memperhatikan media atau lebih tepatnya mereka lebih sibuk memperhatikan bunga-bunga.
Viena memilih banyak bunga hias untuk dibawa kerumah barunya terkhusus Viena ingin menghiasi kamarnya dengan bunga-bunga pilihanya tak lupa Viena juga memilih bunga asli untuk dihalaman depan rumahnya agar terlihat indah dan tidak kesepian.
"Nanti tolong diantar kekota S rumah no7, ya" pinta Viena kepada pelayan toko bunga.
"Baik nona, akan kami segera antar ketempat yang dimaksud nona" sahut pelayan toko itu.
"Nona, silahkan tulis disini atas nama pengirim dan penerimanya" pinta pelayan itu sopan
"oouh, saya sendiri" ucap Viena singkat ia tidak begitu peduli pelayan itu mengerti atau tidak karena Viena sudah biasa berbicara seperti itu kepekaan toko bunga dan begitupun pelayan toko akan mencerna sendiri apa yang dikatakan Viena dalam kata singkatnya itu.
pelayan toko bunga hanya bisa menulis sesuai perintah yang mana Toko Bunga You Berlins/from:Nona Fana/To:Nona Fana.
Setelah mengurus bunga yang akan diantar kerumah barunya, Viena menghampiri bunga mawar putih, jari lentik milik Viena menyapu kelopak bunga mawar putih itu ada rasa rindu datang padanya apabila ia ingat dengan pria kecil yang mungkin lebih tua 3-4 tahun daringa kala itu.
Di mana waktu kala itu Viena harus kehilangan ibu tercinta, Vjena teringat hari itu adalah hari yang paling terpukul baginya sekaligus hari terindah baginya.
Kala pria sekiranya 14 tahun usianya sedangkan Viena menginjak usia 10 tahun
Pria 14 tahun mendatangi Viena dengan membawa setangkai bunga mawar putih serta diiringi senyum manis diwajah pria kecil waktu itu.
Lalu berucap kepada Vjena "ikhlaskan apa yang kamu alami, karena ada orang yang selau menyayangimu" pria itu berucap dengan tegas kepada Viena kecil mana kala melihat air bening meluncur deras dipipi cantik Viena kecil.
__ADS_1
"kita juga bisa berteman, ambilah" sambung pria itu lalu mendorongkan setangkai bunga mawar putih mendekat kearah Viena.
Viena kecil bukanlah gadis yang menyenangi bunga, melihat setangkai bunga itu Viena hanya bisa berdiam diri ingin menerima atau tidak.
Namun lama Viena kecil menyelusur ke dalam mata pria di depannya kala itu, penuh dengan ketulusan dimata itu membuat Viena memberanikan diri untuk menyambut setangkai bunga mawar putih.
Viena kecil berhenti menangis dan bersedih berganti senyum hangat saat ia dekat dengaan pria itu yang samapai sekarang Viena tidak kenal lagi orangnya seperti apa.
Pertemuan Viena kecil dengan pria itu sangat singkat. Karena kedatangan pria paruh baya yang sedang mencari cucuknya.
"Gebriel....!!!" teriak pria baru baya itu kepada pria di depan Viena kecil.
"iya kek, aku di sini" sahut pria itu dengan teriakan kecil
Lalu pria itu memperkenalkan dirinya kepada Viena secara singkat.
"aah, kita belum berkenalan. Nama ku Gebriel, jika kamu ingin berteman denganku kita bisa bertukaran surat lewat sana" ucap Gebriel menunjuk kearah kotak berukuran rumah yang digunakan untuk bertukaran pesan yang berada ditaman.
Viena mengangguk setuju
"siapa namamu? "tanya Gebriel mana kala Viena hanya menganggukkan kepala tanpa berminat memperkenalkan diri.
"Fana, panggil aku fana" ucap Viena singkat dan jelas.
"Vi, Lihat berita dimedia" ucap Agelia tiba-tiba membuyarkan lamunan Viena sembari mendekatkan layar ponsel miliknya kerah Viena memperlihatkan berita terkini yang tak lain kecelakan mengenaskan di jalan raya yang disebabkan mobil besar (barang-barang) yang mengemudi oleng dengan kecepatan diatasi rata-rata, sehingga menimbulkan kecelakaan.
Mata Viena membulat seketika melihat 2 mobil sport berwarna biru dan yang satunya meledak dengan hebat.
Deg
Jantung Viena berdetak kencang, mana matanya mengenali siapa pemilik dari mobil sport biru yang tak lain suaminya sendiri.
"Li... Garel" tutur viena terbata menyebut nama suaminya, ia sangat terkejut bagaimanapun Viena memiliki hati nurani, meski ia belum mencintai Garel dan masih kesal dengan kejadian pagi tadi Viena pasti tidak ingin ada kecelan yang mengenaskan menimpa suaminya, seperti apa yang ia lihat.
"maksud Su.. " ucap agelia belum sampai
"iya suamiku kecelakaan,..." potong Viena dan segera meninggalkan toko bunga, diiringi Agelia dibelakangnya.
"biar aku yang bawa, Vi" pinta Agelia untuk mengambil alih nengemudi mobil Viena.
Vienapun segera memberikan kunci mobilnya ke Agelia tanpa mengeluarkan suara papun.
__ADS_1
Segera keduanya masuk kedalam mobil
"mau kemana dulu ini, Vi? Kerumah sakit atau ketempat incident?" tanya Agelia karena mereka juga belum mendapatkan kepastian dari kecelakaan itu
"kerumah sakit" sahut Viena khawatir Viena masih berharap dari salah satu mobil sport berwarna biru itu adalah mobil sport suaminyalah yang masih bisa diselamatkan.
Mungkin terdengar kejam jika meminta mobil sport biru yang meledak itu orang lain saja yang sudah dinyatakan meninggal ditempat.
Mau bagaimana lagi perasaan setiap orang pasti sama berharap orang dikenal harus selamat.
Viena menolak dalam hatinya jika mobil sport yang meledak itu milik Garel, jauh dilubuk hatinya Viena tidak bisa menerima jika Garel meninggalkannya setelah menyakiti hatinya.
Tanpa basa basi Agelia langsung tancap gas menyelusuri jalan menuju rumah sakit terdekat dari tempat kecelakaan itu.
Dreet dreet
Suara getaran panggilan masuk milik Viena dengan cepat Viena mencari ponsel miliknya di dalam tas miliknya.
Tertera nama kontak yang tertulis Kakak. tanpa sadar jari Viena bergetar saat ingin menggeser tombol hijau.
Jauh disana perasaan Viena takut jika Garel benar-benar pergi selamanya.
📱"halo k... "
📱"apa kamu sudah tahu, suamimu kecelakaan?" tanya sang kakak memotong ucapan Viena.
📱"iya kak, Apa dia?" tanya Viena sendu saat prasangkanya menjadi nyata.
📱"tidak Fana, Garel sudah dilarikan kerumah saikit sekarang. Datangalah kerumah sakit" sahut kakak Viena mengerti kemana arah kekhawatiran adiknya itu.
Tiba di rumah sakit Viena bergegas keluar dari mobil dan memasuki rumah sakit tanpa menunggu Agelia keluar dari mobil pengemudi.
Tibanya di respsionis Viena mendapatkan berita jika pasien bernama Garel Gebriel Az-Zardan berada di ruang operasi sedang berlawan antar hidup dan mati.
Air mata Viena mengalir seketika entah itu perasaan apa Viena sendiri tidak tahu.
Semua menunggu dan berharap dengan penuh rasa penuh harap oprasi Garel berjalan dengan lancar.
sreeeeett
Pintu oprasi terbuka memperlihatkan dokter Irwan yang sudah menjadi dokter yang akan mengatasi setiap keluarga Az-Zardan membutuhkannya.
__ADS_1
Wajah Viena memucat melihat wajah dokter Irwan yang terlihat lesu, Agelia hanya bisa menepuk lembut pundak Viena agar tetap kuat.