
Yaa pemilik sepasang mata itu Merelvin Andrianada yang sudah kembali dari toilet.
Sebelum ia sampai pada kekasihnya, ia menghentikan langkahnya saat ada pria yang tidak asing bagi Merelvin mendekat kekasihnya itu, yaitu pemimpin perusahaan tempat kekasihnya bekerja, tentu Merelvin tahu karna adiknya juga pernah menjadi karyawan disana karna tidak ingin kerja di perusahaan kekuarga sendiri.
Sesama pengusaha muda, Merelvin mengenal Deffan Oskar.
Tapi siapa sangka, Merelvin menjadi cemburu mana kala Deffan memberikan kotak seperti kado pada Agelia, bahkan kekasihnyanitu menerima begitu saja dengan tersenyum manis.
Ingin rasanya Merelvin marah, tapi Merelvin usahakan untuk menahannya kali ini.
Merelvin berusaha untuk mengontrol emosinya yang selalu tidak stabil, itu hanya demi hubungannya dengan Agelia yang baru dimulai beberapa menit yang lalu.
Sebisa mungkin Merelvin untuk tidak menghampiri Agelia dulu sebelum ia mereda emosinya.
Behitulah Merelvin dibalik sikap serius dalam bekerja, tapi juga sangat suka menggoda orang-orangnya dan memiliki kebiasaan sering emosi pada sesuatu yang menyakitkan baginya.
Agelia duduk kembali kesoffa saat Deffan pergi, seraya menoleh kearah toilet dibagian ujung untuk mencari keberadaan Merelvin, yang ia perkirakan Merelvin sudah cukup lama berada ditoilet.
yaa Merelvin sengaja bersembunyi agar Agelia tidak mengetahuinya, saat ia memperhatikan gerak Agelia mencari keberadaannya.
Tak lama setelah itu barulah Merelvin muncul dan duduk disebelah Agelia.
"kau cantik sayang" ucap Merelvin dengan senyum paksaan.
Agelia menyadari ada perubahan dari sikap Merelvin.
"Kak Merel kenapa?" tanya Agelia penuh penyelidikan
"kamu lapar? mau makan apa? nanti kita akan menempuh perjalanan 2 jam. jadi kita harus makan, sayang" Merelvin mencecarkan pertannyaan pada Agelia tanpa menggubris pertanyaan aagelia sama sekali.
Agelia mengangkat sebelah alisnya, semakin yakin jika kekasihnya itu ada sesuatu yang membuat ia bersikap berbeda, tapi Agelia tidak bisa menebak nebak apa itu.
"Ayo" ajak Merelvin meninggalkan tempat busana dengan memegangi tangan Agelia erat seakan tidak ingin Agelia pergi.
Agelia menghentikan langkahnya dan menatap lekat wajah Merelvin, meski Merelvin memberi senyuman padanya, Agelia dapat merasakan jika ada yang berbeda.
Benar sekali di dalam hati Merelvin sangat berbeda, rasa cemburunya semain memuncak mana kala ia terus melihat Agelia memegangi kotak kado dari Deffan oskar.
"kenapa sayang?, untuk pembayarannya aku bayar lewat ini" Merelvin mengangkat ponselnya "untuk dressnya, mereka akan mengantarnya kevilla" jelas Merelvin berpura-pura mengalihkan pertanyaan Agelia.
Agelia tidak bisa berkata-kata, sepertinya Merelvin memang tidak mau mebahas apa-apa padanya. toh Agelia juga tidak tahu apa yang membuat kekasihnya seperti itu, mengingat hubungan mereka baru saja terjalin membuat Agelia mengurungkan niat untuk bertanya lebih banyak lagi.
Jadi Agelia diam saja dan membiarkan mmerelvin memberes segala isi kepalanya sendiri, Ageliapun tidak mau terlalu ikut campur tentang Merelvin jika Merelvin belum mau berkata jujur padanya.
__ADS_1
Bukankah terlalu cepat jika Agelia ingin tahu banyak tentang Merelvin saat hubungan mereka baru dimulai
Sampainya di depan mobil, Merlvin membukakan pintu mobil untuk Agelia seperti yang ia lakukan saat keluar dari mobil sebelumnya.
Agelia mengikutinya saja, hingga Agelia dan Merelvin sampai direstoran yang super mewah.
Bahkan Agelia yang juga dari kalangan anak orang kaya saja tidak pernah datang keterstoran itu.
Selama ini tempat favorit Agelia dan Ciena hanya Dapur Pesona saja, sehingga keduanya enggak berkunjung ketempat lain apa lagi ke restoran mahal.
"suka?" tanya Merelvin mulai melupakan kecemburuan dihatinya saat Agelia terlihat terharu.
Agelia menganggukkan kepalanya, ia sangat menyukainya.
Agelia dan Merelvinpun menikmati hidangan yang ada direstoran dengan wajah berseri-seri.
Selesai dengan urusan makan Merelvin dan Agelia meninggalkan restoran itu.
Merelvin membawa Agelia ke desa Scarla tanpa memberi tahu Agelia kemana mereka akan pergi, begitupun Agelia tidak mempertanyakannya. ia pikir Merelvin memang tidak mau mengatakan padanya.
"apa kau ngantuk? tidurlah perjalannanya cukup melelahkan" ucap Merelvin lembut pada Agelia, yang hanya dibalas anggukkan oleh Agelia.
jam 11 siang mobil yang dikenadari Merelvinpun sudah sampai ditempat tujuan.
Tidak menunggu lama, perlahan Agelia membukakan kedua matanya.
"apa kita sudah sampai kak?" tanya Agelia seraya melihat tempat yang asing baginya tapi disitu semuanya sudah berubah menjadi tempat pesta yang dipersiapkan untuk perayaan ulang tahun sikembar.
"iya, tidurlah jika masih mengantuk" ujar Merelvin lembut.
"tidak, ayo kita keluar" ajak Agelia tidak mau membuat Merelvin menunggu lebih lama lagi.
Merelpun mengiyakan ajakkan Agelia yang mau keluar dari mobil, sebelum itu Merelvin merapikan rambut Agelia yang sedikit berantak.
"manis sekali" batin Agelia baper
Merelvin keluar lebih dulu dari Agelia lalu membuka pintu untuk Agelia, ternyata aksi Merelvin dilihat oleh sang Papa Andrian.
"dasar anak itu, ternyata itu yang membuat dia belum Sampai dari tadi, ternyata dia sudah punya kekasih" gumam Papa Andrian melihat putranya yang bertingkah sok romatis menurutnya.
Papa Andrian tidak tahu jika gadis yang dibawa putranya itu Agelia, sahabat putrinya Viena.
Karna penampilan Agelia sangat berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Merelvin menjadi kikuk saat ia tahu ternyata sang Papa sedang memperhatikan tindakannya pada Agelia.
"Agelia"panggil Papa Andrian terkejut ternyata Agelialah yang diprilakukan seromantis itu oleh putranya.
"iya om, apa kabar?" sapa Agelia malu-malu seperti keciduk saja.
"apa kalian berdua pacaran? sejak kapan?" tanya Papa Andrian namun nadanya seakan menggoda putra dan sahabat putrinya itu.
"iya pa, udah pa jangan goda Agelia gitu" sahut merelvin tahu jika sang Papa akan menggodanya dan Agelia, kalau enggak dicegah, kasihan juga Agelia jika digoda oleh Papanya yang mungkin sifatnya belum sepenuhnya diketahui Agelia.
"hehe, iya iya besok saja Papa godain kalian berdua" sahut Papa Andrian terkekeh geli dengan putranya.
"kak Merel? kenapa semuanya ada disini?" tanya Agelia melihat disitu tidak hanya dia dan Merelvin ataupun papa Andrian saja yang ada diacara itu tapi juga ada Papa Bram dan tidak lupa ada Mama Falisya.
"lihat saja nanti, sayang" ucap Merelvin lalu membawa Agelia masuk kedalam aula acara dan memasuki rumah kecil milik viena.
Mata Agelia membulat saking terkejutnya, ia mematung ditempat saat matanya bertemu langsung dengan mata yang sangat ia rindukan.
"Li," Sapa Viena langsung menghamburkan pelukan kearah Agelia.
"Maafkan aku, Li" ucap Viena merasa bersalah pada Qgelia dan Viena tahu betul jika Agelia kecewa padanya karena telah pergi tanpa berpamitan pada Agelia secara langsung.
"kamu jahat Vi, kamu jahat" Seru Agelia seraya memukul-mukuli punggung Viena dalam pelukan mereka berdua.
"Maafkan aku, mulai sekarang aku tidak akan pergi jauh darimu lagi" ucap Viena semua disana mendengar pernyataan Viena.
"Benarkah? janji?" tanya Agelia lalu mengancungkan jari kelingkingnya kehadapan Viena.
Merelvin melihat tingkah manja Agelia pada Viena, adiknya jadi terseyum sendiri.
"janji" ucap Viena singkat.
"Berarti kamu akan pulang kekota?" tanya Agelia, Viena hanya diam saja. ia bingung harus menanggapi apa disisi lain Viena belum ingin kembali kekota dan perkataannya barusan, Viena hanya tidak akan pergi jauh lagi bukan berarti kembali.
"Vi?"
"i,.. i, ya" ucap viena kikuk
"menantu hebat" batin Papa Andrian memuji Agelia tanpa berjuang lebih Agelia sudah direstui oleh Papa Andrian, apalagi bisa membuat Viena putrinya itu secara tidak langsung akan kembali ke kota.
Andai saja Merelvin tahu jika Papa memuji Agelia, Merelvin pasti terbang keangkasa yang tidak berujung.
"Tapi...."
__ADS_1