Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
39 Rahasia Apa?


__ADS_3

"Marlind?" batin Andrian "Bagaimana bisa dia yang menjaga putraku" batin Andrian bertanya-tanya.


"Pa?" sapa Viena pada papa Andrian yang terlihat tidak fokus dengan kue yang ia makan.


"oh ya, putri papa sayang" ucap Andrian tersadar dari pikirannya sendiri.


"Boleh fana tanya?" tanya Viena pada sang papa "tapi nanti, pa" sambung Viena yang tidak mungkin ia menanyakan hal sepenting ini disaat berlangsungnya acara.


"iya, papa akan mengatakan semuanya" sahut Andrian mengeti apa yang ingin ditanyakan Viena dan papa Andrian juga tidak perlu lagi membunyikan tentang Viena dan Tomy berpisah selama ini.


Berbeda dengan Tomy ia lebih penasaran dengan sorot mata ibu Marlind yang mengasuhnya selama ini, matanya memiliki sorot yang berbeda saat mata Marlind bertemu dengan mata papanya Andrian.


Tomy melihat sorotan mata itu dengan jelas yang diberikan ibu Marlind pada Papanya.


Tapi Tomy tidak tahu apa maksud dari sorotan itu, pikir Tomy ia perlu lebih mengenal satu sama lain agar tahu apa yang selama ini terjadi atau ibu Marlind dan Papa Andriannya berkaitan dengan terpisahnya Tomy dari keluaragnya.


Meski penasaran Tomy tetap fokus pada kue yang akan diberikan kepada ibu Marlind.


Tamu undangan yang dihadiri masyaratakat desa Scarla semuanya menikamati acara dengan bahagia, selama di Desa baru kali ini ada acara yang mewah dan besar di Desa mereka, meski bagi keluaraga Andrian dan Az-Zardan itu hanyalah acara kecil.


Acara perayaan ulang tahun Viena dan Tomypun sudah usai dan berjalan dengan lancar.


Semua warga desa Scarla semuanya sudah kembali kerumah masing-masing yang hanya meningalkan keluarga Andrian, Az-Zardan dan Marlind serta Vola.


Marlind dan Vola masih di tempat acara atas permintaan Tomy, menolak bukanlah alasan yang baik bagi Marlind diwaktu seperti ini apa lagi waktu bersama dengan Tomy tidak lagi banyak.


Volapun ingin Marlind tetap meindahkan keinginan Tomy itu, padahal Marlind tidak lagi nyaman jika terus berlama-lama di mana karena Andrian di sana.


"kenapa sayang?" tanya Falisya pada Viena saat melihat Viena seperti sedang mencari seseorang.


"Tidak apa ma" sahut Viena sopan pada mama mertuanya itu, meski ia tidak baik-baik saja dengan Garel tapi Viena pandai bersikap prfesional.


"apa kau mencari papa? papa kemobil" sambung merelvin mengira jika Viena mencari papanya yang baru saja meninggalkan mereka yang masih diaula acara.


"Iya" jawab Viena singakat pada kenyataannya Viena bukan mencari papa Andrian.


Mungkin dari apa yang Viena cari dari tadi hanyalah Tomy yang menyadari jika saudari kembarnya itu mencari apakah Garel datang dihari ulang tanun ini.


Dan dari semua orang yang hadir diacara itu juga hanya Tomy saja yang menyadari Garel datang meski dari jarak jauh.


"saudariku, apa kau tidak bisa mencari pria lain yang bisa membuat mu bahagia. tidak seperti sekarang kau bisa bahagia sekaligus terluka jika terus-terusan memendam perasaanmu yang semakin mendalam tapi disisi lain kau sulit menerimanaya." batin Tomy yang pandangannya tidak luput dari Viena.


Tomy memang kembaran yang ditakdirkan untuk selalu menjaga dan jauh mengerti untuk Viena.


"Tomy" sapa Marlind membangunkan Tomy dari pikirannya itu.


Tomy menoleh kearah Marlind

__ADS_1


"Ada apa bu? apa ibu bisa menunggu sebentar?" tanya Tomy pada Marlind yang dikira Tomy jika ibunya itu memaksa ingin pulang, dan Tomy harap ibunya mau mendengarkannya, ia ingin ibu Marlind diketahui oleh papanya, bagaimanapun tanpa ibu Marlind ia tidak akan tumbuh sedewasa sekarang.


"ibu mau kedepan sebentar, ada yang meminta ibu menelpon" kata marlind bohong tapi Tomy mengindahkan kebohongan ibu Marlindnya itu.


"baiklah bu" ucap Tomy sedangkan Vola juga mengikuti langkah ibunya.


Tomy mengerti jika Vola sendirian bergambung dengan dua keluarga Andrian dan Az-Zardan tanpa ibu Marlind disisinya maka terasa canggung bagi Vola.


Usai kepergian Marlind dan Vola, kakek Zirdan yang sedari tadi diam membuka pembicaraanya dengan hadiah yang akan diberikan kepada cucu menatu kesayangan itu.


"Fana sayang, maafkan kakek tidak bisa memberikan hadiah yang bagus untuk mu" ucap kakek zirdan seraya menyodorkan bunga hiasan yang berwarna keemas-emasan dan juga terbuat dari emas.


"indah sekali kek" ucap Viena berbinar-binar mungkin tadi Viena hampir berbinar binar karena sedih Garel tidak datang tapi sekarang Viena terharu dengan bunga hiasan yang begitu indah.


"apa cucu kakek menyukainya?" tanya kakek merasa senang jika viena benar-benar menyukai hadiah darinya itu.


Viena mengangukkan kepalanya.


"kemarilah" pinta kakek Zirdan pada Viena sekaligus Tomy.


Tomy yang belum tahu siapa kakek Zirdan bagi keluarganya ia hanya menuruti saja keinginakn kakek Zirdan seperti yang dilakukan Viena.


Viena dan Tomy mendekat kearah kakek Zirdan dan kakek Zirdan meraih saudara kembar itu kedalam pelukannya.


"terima kasih cucu kakek" ucap kakek Zirdan.


"dan maafkan kakek cucu Vezan, kakek sungguh mendapatkan kejutan yang istimewa sehingga kakek tidak mempersiapkan kado untukmu" ucap kakek pada Tomy.


"Terima kasih selama didesa ini kau menjaga cucu menantu kakek" lanjut kakek Zirdan


"cucu menantu? kenapa keluarga suami saudariku baik-baik semua. kenapa b*jingan itu tidak memandang saudariku seperti keluarganya" batin Tomy menjadi geram denga Garel yang tidak seperti keluarga Az-Zardan yang ia lihat sangat peduli dan menyayangi Viena.


Begitupun dengan papa Bram dan mama Falisya tidak mau kalah dengan kakek Zirdan mereka juga memberi bunga hiasan yang tak kalah bagus dan mahalnya.


Bahkan sepasang suami istri itu memberikan hiasan bunga impor dari luar negri yang langka dan susah dipasarkan, tapi dengan kekuasaan yang mereka miliki dan demi hadiah untuk menatu tersayang itu bisa dengan mudah mereka dapatkan.


Viena merasa senang sekali mendapatkan bunga-bunga hiasan yang semuanya belum sama sekali Viena miliki.


Sedangkan Tomy hanya mendapatkan hadiah dari sang kakak Merelvin, Tomy mewajarkan itu toh semuanya baru dikethaui hari ini, jika ia saudara kembar Vuena.


Tapi Tomy merasa bahagia bukan karena hadiahnya saja tapi juga kebahgaiaan Viena yang dapat Tomy rasakan.


"Kemana papa, belum kembali?" tanya Viena tentang keberadaan sang papa yang biasanya paling antusias memberi hadiah unruk dirinya saat ulang tahunnya.


Tiba-tiba Tomy terpikirkan ibu Marlindnya yang ingin menlpon setelah sang papa keluar bukan?


batin tomy merasa ada sesuatu yang disembunyikan ibu Marlind dan papa Andrian.

__ADS_1


"apa saling kenal?" batin Tomy


"apa kau tidak sabaran menunggu hadiah dari papa?" goda Merelvin dengan suara yang sengaja dibuat-buat menggoda adik tersayangnya itu.


Agelia yang berdiri bersebelahan dengan Merelvin hanya tertawa kecil melihat epresi Viena malu saat digoda sang kakak.


Tapi bukan Viena kalau tidak bisa mengalihkan topik yang bikin ia malu itu.


"Tom. eh Vez, apa kau tidak memberikanku hadiah?" tanya Viena dengan wajah manjanya.


Semuanya melihat kearah Viena yang bertingkah manja pada Tomy, Merlvin yang melihat Viena bersikap manja auto terkejut karena selama ini Viena dengannya saja tidak pernah manja begitupun yang lain bukankah selama ini Viena sirit bicara apakah bisa bersikap manja seperti barusan?.


"Buaknkah aku juga ulang tahun?" tanya balik Tomy tak membalas pertannyaan Viena.


"tapi kau sudah tahu jika kita saudara kembar bukan? sedangkan aku tidak tahu" protes Vjena yang masih bersikap manja.


kakek Zirdan, papa Bram, mama Falisya, Merelvin dan Agelia memperhatikan si kemabar.


Bagi mereka inilah sikap asli Viena selama ini yang ternyata bersembuyi seiringan Tomy tidak ada disisinya.


"oke -oke, kau mau hadiah dariku?" tanya Tomy dengan wajah yakin.


"emmh" dehem Viena sembari menganggukan kapalanya.


"sini saudariku" pinta Tomy lalu merentangkan tangannya agar Viena masuk kedalam pelukannya.


Viena mengikuti saja apa yang dipinta Tomy lalu masuk kedalam peluk hangat milik kembarnanya.


"Mana hadiahnya?" tanya Viena selama didalam pelukan Tomy.


"bukankah ini peluakan kasih sayang saudara pada saudari manja ku yang paling disenangimu?" tanya Tomy auto dapat pukulan dari Viena serta cubitan, berani sekali ia menggoda Viena.


"aww "pekik Tomy saat perutnya dicubit saudari kemabarannya.


Mereka semua yang menyaksikan Viena dan Tomy menjadi tertawa terbahak bahak melihat mereka berdua bertingkah sangat lucu.


Berbeda diseberang sana, ternyata tadi Garel tidak benar-benar meningglkan tempat itu dan dan malah Garel sekarang menyaksikan jika Viena dan Tomy berppelukan lagi di depan semua keluarganya sekan baik-baik saja.


"Fana, apa aku tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki semuanya?" tanya Garel lirih.


Kali ini Garel bemar-benar maninggalkan tempat itu menuju mobilnya kemabli kekota V.


Berbeda dengan mereka yang masih meyaksikan Viena dan Timy, mereka tertawa bahagia tanpa beban sedikitpun.


Viena dan Tomy meleraikan pelukannya saat mereka mulai merasa aksi mereka ditertawakan.


Pikiran Tomy juga masih terpikirlan dengan papanya dan ibu Marlind apakah sekarang mereka berdua bertemu satu sama lain?.

__ADS_1


"apa yang mereka bicarakan?" batin Tomy.


"Maafkan papa," ucap andrian tiba-tiba dari arah belakang.


__ADS_2