Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
49 Jika Membenciku Bisa Membuatmu Bahagia


__ADS_3

Dengan mata yang berkaca kaca Viena melihat lembaran surat cerai yang ia ajukan beberapa bulan lalu relah ditangannya yang akan ditanda tangani oleh suaminya setelah ia melahirkan.


"aku akan datang disaat anak kita lahir, maka tolong beri aku kesempatan sampai hari itu, jangan khawatir aku akan menanda tanganinya" ucap Garel masih dalam tangisan lalu membalikan badannya hendak meninggalkan Viena.


Ia lepas tangan Viena perlahan tanpa menoleh lagi, mungkin ia harus belajar untuk menerima kenyataan dari hasil apa yang telah ia perbuat.


Dada Garel terasa sesak, ngilu menahan rasa sakit, begitupun Viena dadanya sesak mendengar ucapan Garel yang ingin melepaskannya.


kaki Viena berat tidak bisa bergerak untuk mengejar Garel dan begitupun bibir Viena terkunci rapat tidak bisa mengeluarkan kata apa-apa, apalagi mencegah Garel pergi.


"jangan pergi" batin Viena lalu ia melemaskan tubuhnya duduk di atas tanah disertai deraian air mata yang deras.


Bibir Viena tidak mampu mengucapkan itu pada sosok yang melangkah meninggalkannya itu, ia memukul-mukuli dadanya dengan tangan terkepal yang sudah mengepal surat cerai tadi.


Tomy yang baru saja selesai dengan urusan toilet ia melihat punggung Garel meninggali saudari kembarnya, dengan perasaan panik ia berlari kearah Viena lalu memeluk Viena yang masih diposisi duduk itu.


" Dia pergi dan dia ingin melepaskan ku" lirih Viena dalam isakannya.


"apa aku tidak sebaik Anasya yang pantas diperjuangkan? apa dia bilang menyesali semuanya hanya bohong? lalu kenapa dia membuat aku seperti ini?" tanya Viena seraya berusaha memukul mukuli Tomy.


Setidak pantaskah dirinya untuk diperjuangkan, hingga dengan mudah Garel melepaskannya.


Tomy membiarkan Viena melampiasakan pada dirinya itu


"kenapa kau diam? apa benar aku tidak pantas diperjuangkan?" tanya Viena pada Tomy, merasa ditanya Tomy melepas pelukan itu lalu berucap.


"bukan begitu, kau harus tahu dia melepaskanmu karena ia ingin kau bahagia" sahut Tomy, apa adanya akal jernihnya yang biasanya memunculkan seribu satu cara kini hanya berucap apa adanya.


"tapi aku tidak, Vezan. aku tidak bahagia" oceh Viena sedih, ia mengutarakan dirinya tidak bahagia berpisah dengan Garel seperti ini tapi mengapa proa yang ia harapkan itu seakan tidak peduli dengannya bahkan rasanya penyesalan pria yang ia harpakan itu tidak berarti apa apa.


"jika kau tidak ingin ia pergi katakan padanya" bujuk Tomy, setidaknya dari keduanya harus ada yang mengalah dan menurunkan rasa ego didiri mereka,


Tomy menyadari jika saudari kembarnya dan garel sudah saling mencintai.


Tinggal bagaimana mereka saling menyatukan hati keduanya agar bersatu.


"jangan biarkan dia pergi, eeemh" ucap Tomy lembut, Viena menggeleng kepalanya seakan menandakan dia tidak bisa, ia takut.


"percayalah, suamimu itu sama halnya denganmu, dia tidak ingin kau pergi darinya" jelas Tomy pelan-pelan agar Viena bisa mengerti dangan hati yang terbuka.


Viena diam mencerna ucapan Tomy dengan berusaha menenangkan pikirannya, ia memperhatikan perut buncitnya sesaat.


"kita pulang" ajak Viena kemudian, lalu beranjak dari tempat duduknya.


Tomy mengikuti Viena dengan raut wajah heran


"apa Ibu hamil suka berubah-ubah" batin Tomy tak habis pikir, ia melihat Viena begitu terpuruj namun tiba tiba terlihat datar.


Selama ini Tomy tidak hanya dibuat khawatir saja oleh Viena tapi Tomy juga kerap kali dibuat bingun oleh sikap Viena yang diluar espektasinya.


Diperjalanan pulang Viena tidak mengatakan apa-apa tapi wajah wajah sembab sisa air matanya terlihat baik-baik saja ulah datar Viena.


Tibanya Tomy dan Viena dikediaman Andrian, Viena meminta Tomy untuk turun dari mobilnya.


Dengan wajah plongoknya Tomy menurut namun setibanya ia di luar mobik, mobik Viena sudah melaju meninggalkan pekarangan kediaman Andrian.

__ADS_1


"kenapa kau tidak mengikuti, Fana?" tanya Merelvin yang hendak keluar rumah.


Tomy mengangkat kedua tanganya dan bahunya menandai jika ia juga tidak tahu.


"ya sudah, mungkin dia butuh waktu sendiri" jelas Merelvin tidak ingin adik laki lakinya itu merasa bersalah dan mungkin pikirnya Viena membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya.


"oouh ya lihatlah, apakah kau suka?" tanya Merelvin seraya menunjuk kearah motor import.


Merelvin sengaja membelikan Tomy motor, ia tahu jika di desa Scarla Tomy kerap kali menggunakan motor.


Jadi Merelvin mengira tomy lebih suka menggunakan motor ketimbang mobil pemberian papa Andrian saat dihari ulang tahunnya adik kembarnya, yang nyatanya belum digunakan oleh Tomy sama sekali.


Maka dari itu, amerelvin memberikan motor itu sebagai bentuk kasih sayang pada adiknya itu.


Meski bertemu di usia yang sudaj cukuo dewasa tidak menjadi penghalang bagi Merelvin memanjakan adik adiknya dengan membelikan dan memberikan seperti motor begitu.


"untukku?" tanya Tomy menautkan alisnya, pasalnya motor itu sangat mahal dan itu motor import.


"iya, kakak rasa kau menyukai motor" ucap Merelvin.


Sebenarnya Merelvin tahu jika adiknya itu, memikiki elimitid Credit cart yang bisa membeli lebih dari tiga mobil imoport darinya, ia tahu papanya sudah memberikan kartu itu pada Tomy.


Tapi melihat Tomy yang enggan banyak mengeluarkan uang untuk keperluan pribdinya membuat Merelvin membelinya, jika menunggu Tomy tidak akan tahu kapan akan terjadi.


bisa dibilang Tomy memang tidak menggunakan uang pemberikan papa Andrian yang ada di cart itu.


Di kediaman Garel pukul 04:30 sore.


Viena ternyata mendatangkan tempat yang sudah 8 bulan ia tinggalkan itu.


"Fana, jika kau tidak ingin dia pergi kau harus buktikan sendiri jika dia menginginkanmu" ucap Viena dalam hati menyemangati dirinya sendiri.


"Nyonya apakah itu nyonya" sapa bibi ina tidak percaya, mata bibi ina sudah berkaca-kaca, bibi ina sungguh merindukan nyonyanya itu, nyonya yang paling baik ditemui bibi ina selama hidupnya.


Sekarang bibi ina dilema antara mimpi dan nyata.


Mendengar suara yang tidak asing memanggilnya, Viena menoleh kearah suara.


"Bi ina" sapa Viena mendekat bi ina.


bi ina langsung memeluk Viena dari samping, saat ia sadar jika ia benar-benar melihat nyonyanya itu.


"Nyonya, kenapa nyonya lama sekali? apa nyonya datang untuk menetap? bibi mohon nyonya jangan pergi lagi" pinta bibi ina memohon lalu melepas pelukan itu menatap Viena lekat.


"tergantung tuan, bi" ujar Viena.


"maksud Nyonya, jika tuan bisa membuat nyonya tinggal maka nyonyaa akan tinggal?" tanya bibi ina memastikan lalu Viena menganggukan kecil.


Setelah melepas rindu dengan Bibi Ina, Viena melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya, perlahan ia menaiki anak tangga itu hingga sampai didepan pintu kamarnya.


cklek


Viena membuka kamar yang dulu pernah ia tepati, ternyata tidak teekunci sama sekakli seperti ia meninggalkan kamar itu dalam keadaan tidak terkunci pula.


Viena membawa langkah kakinya memasuki kamarnya itu, ternyata tidak semudah itu untuk berjuang dan melupakan perbuatan Garel, seiring langkahnya memasuki kamar itu semua yang diawali dari kamar itu terngiang dipikiran Viena.

__ADS_1


Air mata Viena kembali terjatuh membasah pipinya, ternyata tidak sekuat tekadnya datang kerumah itu,


Setelah mendengarkan ucapan Tomy yang mengatakan jika ia tidak ingin Gare pergi maka jangan biarkan Garel pergi itu mampu membawa Viena kekediaman yang sudah lama ia tinggali itu.


Tapi tidak semudah itu, sekarang Viena kembali menahan gejolak yang menyesakkan dihatinyan itu.


Kini ia melihat Garel berbaring di atas lantai memeluk lututnya sendiri.


"Apa kau kira kau saja yang terskaiti? sarkas Viena berat menahan rasa dihatinya.


Garel mendengar suara yang sudah 3 bulan ini tidak ia dengar sama sekali beranjak dari baringnya lalu menoleh kearah Viena.


Ternyata benar Viena, istrinya itu datang sendiri ke rumah, garel langaung turun dan berlutut didepan Viena memohon.


"maaf... " Pinta Garel lirih


"apa kau pikir dengan permintaan maafmu itu, aku bisa menghapus cinta ini" ucap Viena sama lirihnya dan melemparkan surat yang sedari tadi sudah bergumpal.


"lalu apa surat itu, apa kau bahagia membuat aku menderita" lanjut Viena tapi Garel tidak bisa berkata apa-apa selain permintaan maaf.


Semua Viena salahkan pada Garel, atas rasa sakit dan cinta yang ia rasakan pada pria berstatus suaminya ith.


"maaf" ulang Garel


"jika aku memaafkanmu, apa sakit yang kau berikan akan hilang? apa kau akan memberikan aku kebahagiaan?" bentak Viena dengan tangisan yang menghiasi ucapannya.


"maaf, aku akan mengikhlaskanmu untuk bahagia" ucap Garel beusaha mengkhilaskan Viena dalam arti melepaskan Viena yang bertimbang terbalik dengan apa yang dimaksud Viena, ia marah seperti itu agar Garel mengerti jika ia tidak ingin berpisah tapi mengaoa Garel sama sekali tidak memahamj itu.


"apa kau tahu apa yang bisa membuat aku bahagia sekarang?" tanya Viena masih berdiri didepan Garel.


Garel diam, ia tidak tahu harus apa selain menerima kelutusan Viena.


"kau jahat, kau jahat, bagaimana kau bisa memohon permintamaafan dariku tapi kau tidak tahu apa yang bisa membaut aku bahgaia" protes viena menangis pilu.


"aku mohon Fana, jangan menangis lagi, jika membenciku bisa membuat mu bahagia, aku tidak akan meminta maaf lagi" ujar Garel yang belum mengerti maksud Viena, sunggug penerus keluarga Az Zardan ter populer itu ternyata sangat bodoh jika berhadapan dengan perasaan.


ia mendekat perlahan dan memberi tempat unuk Viena menangis dan bersender dipundaknya.


"bagaimana aku membencimu, bagaimana?" lirih viena


"meski kau menyakitiku, aku tidak bisa membencimu, dihatiku ada cintaku untukmu yang memgalahkan itu semua" ucap viena seraya mengisi kepalanya dipundak Garel, air mata Viena membasahi pakaian Garel.


sekarang Garel baru memgerti maksud kemarahan Viena tadi sungguh dirinya pria tidak peka.


"aku juga mencintaimu, maafkan aku lambat menyadarinya" ucap Garel ikut memgutarakan cintangnya pada sosok istri yang telah diabaikannya itu.


Viena berhenti menangi, dengan lembut Garel memposisikan tubuh isteinya itu agar saling bertatapan.


"percayalah, aku tidak akan menyia-nyiakamu lagi, maka beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya" ujar Garel menatap dalam pada mata Viena.


Viena juga mantap pada mata garel hingga kedua pasang mata itu saling berbobroka, dilihatnya tidak ada sedikitpun kebohongan sama sekali didalamnya.


Akhirnya viena mengangguk, menyatakan jika ia memberi kesempatan untuk Garel.


" terima kasih, istriku" ucap grel lalu "Cup"

__ADS_1


__ADS_2