
...*********...
Seperti hari-hari biasanya viena senantiasa membantu bibi ina didapur setelah urusan kamarnya selesai.
serta merapikan dan membantu bi ina meletakan nasi dan lauk-lauk dimeja dengan rapi sebelum bi ina memanggil garel untuk sarapan.
Tapi pagi ini kebahagiaan sekaligus kesedihan viena tiba lebih cepat dari biasanya, anasya pagi ini sudah berkunjung dan menerobos masuk kerumah mewah itu.
Disambut hangat oleh garel dengan senyum manis yang tulus diwajahnya.
Aaah bahagianya viena melihat senyum itu, seiring itu juga hati viena terasa disayat-sayat, prih, ngilu dan nyesak viena rasakan secara serentak.
melihat kemesraan anasya dengan garel suaminya, mungkin sudah menjadi makan sehari-harinya, tapi kali ini terlalu pagi untuk dirasakan viena.
Begini sekali rasa hati Viena
Mungkin sudah hilang sudah kebahagiaan Viena, tak tersemat lagi kebahagiaan untuknya di dunia ini.
"Sayang, belum makan kan? Aku mau sarapan bareng kamu" ucap anasya mengelayut manja dilengan garel, aksi itu disaksikan viena dengan jelas.
"belum sayang, ayo kita makan" sahut garel lembut
Cepat viena meninggal kan dapur, tak sanggup jika berlamaan menonton kemesraan garel dengan kekasihnya itu. Keduanya sama-sama tidak memperdulikan keberadaan viena.
Hati viena bagaikan diremas-remas dengan tangan yang besar lalu dibanting kesembarang arah
Kali ini viena pergi meninggalkan rumah mewah itu tanpa menyelesaikan aktivitas sehari-harinya.
Mobil kebanggaan viena melesat melaju dijalan raya dengan kelajuan cepat hingga viena tiba di Dapur pesona.
📤" li, bisa nemenin aku sarapan di tempat biasa, sebelum kamu ngantor?" tanya viena melalui pesan Yang dikirim ke agelia.
Tling (pesan masuk dari agelia)
📥"bisa banget, aku juga belum sarapan nih" balas agelia cepat.
📤" mau dipesan apa? " tanya veina
📥" biasa aja vi, menu pagi" balas agelia.
📤"okeh" jawab viena lalu mengakhiri pesan dan memesan 2 porsi yang sama.
Tidak perlu menunggu lama agelia sudah di Dapur Pesona, tempat tertama bagi mereka berdua.
"Pagi Vi?" sapa agelia setibanya ditempat viena menunggu.
"pagi" sahut viena melirik kearah sahabatnya yang sudah duduk didepannya dengan stelan rapi.
"kemaren kak merel ke vila, terus dia nanyain kamu" ucap agelia sembari memperhatikan sahabat itu.
"tanya apa?"
"kak merel tanya hubungan kamu sama suamimu" jawab agelia merasa bersalah karena akhir-akhir ini viena tidak mau membahas garel saat berada diluar jadi cukup dirumah saja nama itu ada.
Agelia menunduk takut viena akan marah padanya, tapi agelia harus menceritakan kecurigaan kak Marelvin
"terus kamu bilang apa?" tanya viena santai sebenarnya ia keluar hari ini karna ingin menghindar dari orang yang barusan disebut sahabatnya itu tapi melihat agelia merasa bersalah sekaligus takut, viena menepis keegoisannya berusaha sesantai mungkin.
"kamu enggak marah, vi? Aku bahas dia?" tanya agelia memastikan
"heemm"
"aku bilang ke kak merel, hubungan kalian baik-baik aja, sesuai permintaanmu. Tapi kayaknya kak merel enggak percaya semudah itu" jelas agelia.
"enggak apa-apa li, terus gimana ayah kamu enggak marah-marah lagi" tanya balik viena dengan mengalihkan topik pembicaraan dan memang sudah lama viena ingin bertanya langsung kepada selia pasca pertemuan kakak tiri dan adik tiri itu.
__ADS_1
viena tahu dengan jelas jika ayahnya agelia murka karna agelia tidak hormat kepada kakak tirinya dan tidak menginap dirumah pasca pertemuan saudara tiri itu.
"enggak lagi, makasih ya. Kamu memang sahabat terbaik. Malah ayah minta aku buktiin kalau aku bisa mandiri yaaa meski hanya bekerja di perusahaan orang lain" ujar Agelia tak lupa ia sematkan ucapan untuk mengucapkan terima kasihnya kepada viena.
Viena dari dulu sampai sekarang salalu memberikan solusi dan kekuatan untuk agelia, tapi ternyata orang yang kuat untuk memberi kekuatan bagi orang lain belum tentu ia mampu memberi kekuatan pada dirinya sendiri.
Seperti yang dirasakan oleh viena sekarang, ia sungguh tidak mampu menguatkan dirinya sendiri malah ia berusaha merelakan dirinya terluka seorang diri.
Pesanan mereka berduapun tiba, keduanya menyudahi pembicaraan serius itu dengan mebicarakan yang lucu-lucu sehingga keduanya saling canda ria melupakan beban sesaat sembari melahap nasi hingga habis tidak tersisa sebutirpun.
Tawa mereka berdua membuat pelayan dapur pesona menjadi semangat bekerja, sudah cantik, baik dan sederhana itulah pendpaat bara pelayan di sana menilai kedua sahabat itu.
Mata mereka yang menyaksikan kedua sahabat itu dengan ria menjadi semangat kerja bagi mereka, tidak perlu jadi artis viena dan agelia sudah menjadi idola khususnya pelayan dapur pesona dan pelanggan tetap disana.
Berbeda dengan keadaan di rumah mewah kediaman viena dan garel. Meski anasya datang dipagi hari menemani pagi garel sebelum berangkat kekantor.
Garel merasa kecewa, saat matanya tidak melihat viena ditaman bunga sebelum bernagkat kekantor.
Namun sikap garel dan raut wajahnya masih terlihat biasa-biasa saja dan rasa kecewa tidak melihat viena pagi itu ditaman bunga tidak mengurangi kemesraannya dengan anasya.
Setelah sarapan bersama agelia, viena menyempatkan untuk berkunjung kerumah ayahnya lalu berkunjung kekediaman kakek zirdan.
Dikediaman keluarga Az-Zirdan, kakek meminta viena beristirat sebentar dikamar garel agar mengurangi lelah karena perjalanan dari kediaman Andrian ke kediaman Az-Zardan menempuh dua jam.
Rasa lelah yang dirasakan viena membuat viena tak menolak dan menurut saja. toh itu juga untuk keamanan bayinya, viena yang harus mau diajak berististirahat sejenak.
Ini pertama kali viena memasuki kamar garel tapi tidak ada yang istimewa didalamnya jadi viena memilih memejamkan mata diatas ranjang milik garel.
Berselang 2 jam viena terlelap diatas ranjang empuk milik garel.
Vienapun membukakan matanya perlahan.
Karena tidak membawa pakaian ganti, ia hanya mencuci muka saja dikamar mandi tanpa membersihkan diri.
Viena menuruni anak tangga dari lantai 3 kearah ruang tamu, yang disana sudah ada kakek menunggunya.
"hheheh sudah kek" viena terkekeh kecil akibat malu.
"Falisya? Panggil Bram, Menantumu sudah bangun. Ayo makan bersama" pinta kakek Zirdan kepada menantunya, mamanya garel.
"iya pa" sahut mama Falisya pada ayah mertuanya lalu beranjak kekamarnya dengan ayahnya garel.
"Ayo kemeja makan, sudah waktunya makan" ajak kakek zirdan ke viena.
"iya kek"sahut veina dengan anda bersalah saat melihat jam diponsel miliknya sudah lewat 1 jam dari jadwal makan siang.
"kenapa dengan wajahmu itu sayang?" tanya Mama Falisya tiba tiba dari belakang yang diiringi Bram ayahnya garel.
"Maafkan fana ma, pa, kek, gara-gara fana makan siangnya jadi tertunda" ucap viena masih dengan wajah tertunduk.
"waduh ternyata menantu papa ini masih tidak enakan? Santai papa, mama sama kakek tidak akan memarahi kamu" sahut papa Bram lalu menepuk pundak viena lembut.
"benar itu sayang" tambah mama Falisya.
"ayo kita makan, apa kau ingin membuat cacing diperut kakekmu ini kelaparan" ucap kakek zirdan diringi tawa kecil yang mebuat semuanya ikut tertawa termasuk viena.
Rasa hati viena menghangat, meski suaminya sendiri tidak pernah memberikan kehangatan padanya tapi keluarga Az-zardan sangat menyayangi viena dan memprilakukan viena dengan tulus.
"Fana sayang, ada yang pengen kakek perlihatkan tentang foto kecil suamimu" ucap kakek zirdan setelah makan.
Karena dari dulu memang kakek zirdanlah yang lebih tahu perjalanan masa kecil garel yang selalu ditinggal mama dan padanya yang sementara waktu harus tinggal dinegara asal mamanya garel untuk urusan bisnis.
"ayo ikut kakek" ajak kakek zirdan menuju soffa yang ada diruang tamu dan viena hanya mengekor saja.
Perlahan kakek zirdan memperlihatkan album yang hanya isinya foto masa kecil garel saja.
__ADS_1
Viena hanya mendengarkan apa yang disampaikan kakek tentang satu satu foto masa kecil garel.
Dari semua foto dan cerita itu hanya satu yang membuat viena penasaran dan ingin bertanya langsung dengan kakek zirdan.
"kakek, fana Boleh tanya? " ucap viena ragu-ragu.
"tentu, kakek akan menjawabnya" jawab kakek zirdan dengan antusias karena memang berada didekat viena selalu membuat kakek zirdan bahagia.
Maka dari itu lah kakek ingin sekali viena menjadi cucu menantunya sampai ide mengancam garel untuk menikahkan garel dengan viena dengan menggunakan harta warisan. yang merupakan kelemahan garel selama ini.
"kakek, kenapa foto-foto kecil kak garel selalu ada bunganya?" tanya viena penasaran dan wajah suaminya di masa kecil terasa tidak asing di mata Viena.
"gebriel kecil sangat menyukai bunga" kakek zirdan mulai menceritakan kisah kecil garel dengan sebutan gebriel.
Deg
Nama itu tidak asing ditelinga viena saat kakek zirdan yang menyebutnya.
Viena ingat pertemuan singkat viena dengan pria kecil bernama gebriel itu berakhir karena kedatangan kakek.
"gebriel? Kenapa kakek menyebut kak garel dengan sebutan gebriel? bukankah selama ini kakek juga memanggil kak garel dengan sebutan garel?" tanya viena memastikan jika prasangkanya tidak ada benarnya.
viena masih belum bisa menerima gebriel yang membuat ia semandiri sekarang adalah suaminya yang malah membuat viena sekarang hampir hancur.
"huuuufss" kakek zirdan menghembuskan nafas panjang sebelum menjelaskan masa lalu garel "dulu kakek suka memanggil garel dengan sebutan gebriel, dia pria kecil baik, penurut dan suka dengan bunga. Tapi anak seusia dengannya membenci gebriel kecil yang suka dengan bunga.
Teman teman sekelas bilang pria yang suka dengan bunga itu pria lemah. sehingga orang yang sebaya dengan gebriel kecil menjauh.
Namun suatu hari gebriel kecil bertemu dengan gadis kecil yang sedang menangis ditaman. Gebriel kecil memberanikan diri dengan memberikan bunga mawar putih yang ada ditangannya kepada gadis itu. Hati gebriel kecil menghangat saat gadis kecil itu menerima bunga dari tanganya kala itu" jelas kakek zirdan sesuai yang ia dengar sendiri dari gebriel kecil.
"apa kakek mengenal gadis kecil itu?" Tanya viena diiringi air mata yang mengalir tak diundang dipipinya.
"tidak, kalau kakek mengenalnya akan kakek cari, tapi untung ada kamu maka kakek tidak perlu lagi mencari keberadan gadis kecil itu" ucap kakek zirdan pernah berharap gadis kecil itulah yang terbaik untuk garel sekarang.
"kenapa kau menangis cucu kakek tersayang? " tanya kakek zirdan saat melihat butiran bening membasahi pipi viena.
"aaa, maafkan fana kek, terharu" ujar viena.
"Jika itu mengganggu mu, kita lanjutkan dilain waktu saja" ucap kakek zirdan tak tega dan takut jika cucu menatunya tersinggung saat membawa gadis kecil dalam masa lalu gebriel kecil, ia takut cucu menantunya itu cemburu.
"tidak kek, aku menyukainya"
"baiklah kakek akan melanjutkannya"
"yang sangat lucu dan langka gebriel dan gadis kecil itu bertukaran surat selama 2 tahun setelah pertemuan pertama dan terakhir mereka. Hingga gebriel kecil frustasi harus pergi keluar negri secara tiba-tiba tanpa bisa mengirimkan surat kabar kepergiannya keluar negri pada gadis kecil itu.
Tapi gebriel kecil tidak punya pilihan saat mamanya meninggalkannya untuk selama-lamanya" cerita kakek zirdan sungguh filu mengingat gebriel kecilnya terluka kala itu.
"maksud kakek? " tanya viena tidak mengerti.
"mama kandung gebriel sudah meninggal ditahun itu dan mama Falisya itu adalah kemabaran mama Faliciya, mamanya gebriel. Namun saat kembali kenegara ini gebriel malah semakin terluka karna gadis kecil yang sudah mengisi hari-harinya selama dua tahun itu juga tidak lagi berbagi pesan dengannya, tapi gebriel kecil tahu itu kesalahnnya" jelas kakek zirdan semakin membuat viena terisak.
Namun viena berusaha tak bersuara didalam isakan tangannya.
Ada banyak pertanyaan yang ingin ditanya viena termasuk hubungan mama Falisya dan papa Bam.
Apakah mama falisya menikah dengan papa bram hanya demi kebahagiaan garel seorang? Dan apakah demi bayi yang ia kandung ini, viena harus berkorban untuk terluka terluka selama-lamanya hanya demi kehidupan lengkap bagi anaknya kelak? seperti pengorbanan mama Falisya? itulah yang sekarang viena pikirkan.
Rasa penasaran itu membaut viena ingin manyakan itu, mungkin berkesan ikut campur.
"kakek, apakah mama Falisya mencintai papa Bram?" tanya viena memberanikan diri.
"awalnya tidak, tapi seiring waktu mereka saling menyukai karena sering bertemu dan merawat gebriel kecil, wajah mama Faliciya mama kandung gebriel kecil amat mirip dengan mama Falisya sehingga bersama dengan mama Falisya membuat gebriel kecil mulai bisa menerima mama kandungnya sudah tiada.
kebetulan mama Falisya dan papa Bram sudah saling suka sehingga memantapkan diri untuk kejenjang pernikahan" ujar kakek zirdan yang mungkin sangat sedih mengingat masa lalu itu.
__ADS_1
Sehingga pada keputusan yang mungkin terdengar aneh jika satu pria menikahi adik kemabaran dari istrinya sendiri yang sudah meninggal.
"sepertinya aku harus membiarkan mu bahagia kak, dengan kepergianku kau akan bahagia. Karen Masa lalu kita memang tak lagi penting" Gumam viena dalam hatinya.