
"Terima kasih, Tomy" Ucap viena tertunduk sedih, andai tidak ada tomy semalam Viena tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya beserta kandungannya.
"Aku yang terimakasih, Fana. kau perempuan kuat" ujar Tomy dan tangan tomy mendarat halus dikepala viena, mengusap lembut.
Tapi dalam hati Tomy, tomy tidak sanggup membayangkan kesedihan diwajah perempuan didepannya apabila yang dikatakan dokter semalam menjadi kenyataan.
Betapa terlukannya viena dan merasa bersalah dengan bayinya sendiri. itulah yang dipikirkan Tomy
Deg
Jantung viena berdetak kencang, "Tapi itu apa?" ujar viena dalam hati. sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh Tomy, senang tapi itu rasa saling ingin selalu dekat namun berbeda dengan rasa suka atau cinta dengan lawan jenis, entah rasa keduanya itu tidak bisa kedua artikan.
Viena merasa senang dan tidak risih dengan tangan Tomy yang mengelus keplanya lembut itu.
"Tomy? apa kita berada dikota V?" tanya viena tersadar jika ruang pasien tempatnya berada itu tidak asing.
"Jangan khawatir, aku...." ucap tomy terpotong.
"Ayo kita pergi" potong viena dan beranjak dari ranjang pasien dengan wajah panik.
"kenapa? kau belum sembuh total, fana" sahut tomy sembari menahan lengan viena agar kembali ketempat semula.
"Tidak bisa!!!" ketus viena dengan tangan kiri meraih tangan tomy yang sedang memegangi lengan kirinya dan menyingkirkan tangan itu dengan kasar.
Viena tahu jika sekarang ia beradadiruang VVIP rumah sakit kota V dan tidak perlu Tomy selesaikan dokter sengaja tidak menarik uang bayaran pasien VVIP.
karena rumah sakit itu milik keluarga Az-Zardan.
Maka orang akan tahu jika dia berada dirubah sakit.
Sebelum keluarganya datang Viena harus segera pergi, Tomy mengejar langkah viena yang terus berjalan memasuki lift, sebelum lift tertutup tomy sudah duluan masuk.
"Fana, ayolah, kau harus banyak istirahat" bujuk tomy dengan nada lembut sembari merangkul viena dalam dekapnya saat mata viena mulai berair.
"aku tidak mau kembali, hiks hiks hiks" ucap viena beserta isakan tangisanya yang membasahi baju tomy.
Tangan tomy membelai punggung Viena lembut, rasanya hangat yang dirasakan viena ada rasa belaian ibu yang mungkin viena juga belum pernah rasakan lagi selama ini, pelukan itu seperti pelukan ibunya.
Viena membunyikan wajahnya didada Tomy.
"kau harus istirahat, ya?" bujuk tomy lagi setelah suara tangisan viena berhenti.
Viena menggelengkan kepalanya, seakan ia bermanja dengan saudaranya sendiri.
"Apa kau mau bayimu disana terluka? semalam dia sudah sangat terluka, fana" jelas tomy lalu meleraikan pelukannya dengan viena, ia tatap wajah sembab itu dengan kasih sayang.
"lihat aku," " jika kau tidak ingin kembali maka kau tidak akan kembali. sampai kapanpun aku akan menjagamu" ucap tomy dengan keseriusan hatinya.
Viena melihat netra itu ia tidak ada kebohongan sama sekali disana.
"Janji?" tanya viena pada tomy seraya mengacungkan jari kelingking kearah Tomy, dengan sikap manjanya, mungkin ini hal yang langka dilihat oleh keluarga besar Viena bahkan agelia sahabtnya saja tidak pernah melihat sikap manka Viena namun kali ini viena bersikap manja pada tomy.
aah mungkin tomy orang yang pertama kali melihat sikap manja viena entah itu hormon kehamilan atau viena memang lebih nyaman dengan tomy ketimbang siapapun bahkan papa Ardian dan kakak Merelvin.
"janji" ucap tomy seraya menautkan jari kelingking viena dengan jarinya.
Viena tersenyum manis dan mengikuti tomy kembali kerang VVIP sebelumnya.
Begitupun dengan garil bersikukuh ingin meninggal rumah sakit, raffa hanya bisa menghembuskan nafas panjang dengan isi kepala sahabatnya itu tidak mau mendengarkan nasehatnya sama sekali.
Namun sebelum garel keluar dari ruang pasien, dokter irwan sudah berada dipintu sedangkan viena dan tomy baru samapai diarea VVIP hendak measuki ruang pasien yang ditepati viena tadi.
__ADS_1
Mungkin jika tidak ada dokter irwan sudah dipastikan suami istri itu akan bertemu satu sama lain.
"Tuan muda garel, tuan muda harus dirawat untuk sementara waktu" ujar dokter irwan dengan tegas saat melihat garel berdiri dan bahkan sudah melepas alat rumah sakit yang awalnya melekat diangan garel dan kepalanya.
Garel jadi jengkel sendiri jika sudah berhadapan dengan dokter irwan yang selalu bersikap tegas padanya,.
dengan wajah yang kusam garel kembali ketempat semula.
Dokter irwan memasang kembali alat-alat yang seharusnya pada garel begitupun dengan dokter nanda yang mendapat kabar dari tomy langsung bergegas dan melakukan tugasnya segera pada viena.
"Dok, apakah Administrasi Ruang ini?" tanya viena ragu
"belum Nyonya, apa nona lupa ini rumah sakit milik keluarga Azzardan. jadi nona jangan khawatir" ujar dokter nanda pada viena seraya terswnyum ramah.
"Biar saya sendiri yang akan membayarnya, dok" sambung viena tak mau kesempatan ini bisa diketahui dua belah pihak jika itu terjadi maka orang akan tahu jika ia pergi selama ini.
viena dapat melihat dari reaksi dokter nanda jika tidak ada yang tahu kepergiannya selama ini.
"aaaa, saya tidak ingin yang lainnya khawatir dok, maka dokter jangan sampai mereka tahu jika aku sakit " kilah viena agar dokter nanda tidak curiga, tomy yang mendengar kedua orang yang sedang bicara itu berusaha mencerna apa yang mereka bicarakan tanpa berkomentar sedikitpun.
"baiklah" sahut dokter nanda patuh dan tersenyum.
dokter nandapun berpaimtan meninggalkan. ruang VVIP itu, dalam pikirnya viena benar benar tidak mau mengganggu kesehatan garel yang sekarang sedang dirawat diruang sebelah.
"lucu, terharu, sweet" batin dokter nanda memikirkan sepasang suami istri terpandang itu.
aaah sepeninggalan dokter viena jadi malu sendiri mengingat betapa manjanya dia pada tomy tadi dan itu juga pertama kali bagi viena bermanjaan pada orang.
Keduanya hening, viena malu semalu malunya sedangkan tomy sibuk dengan pikirannya sendiri.
......*******......
Kembali pada hari-hari dimana keduanya kembali kekediaman masing-masing
Satu persatu dari keluraga dua belah pihak hanya menayakan keadaan viena pada garel.
"kenapa fana tidak ikut bersama mu Garel?" tanya kakek zirdan kepada cucu yang baru memasuki kediaman Az-Zirdan itu.
"fana kerja kek" ia itu hanya kebohongan yang viena katakan dalam surat untuk garel.
Garel berusaha setenang mungkin jika nama itu disebut hatinya mulai terkoyak ingin disembuhi oleh pemilik nama itu sendiri, bukan orang yang menyakan viena saja yang khawatir dengan viena tapi juga dengan garel.
"Anak itu sangat rajin dan mandiri, kau sangat beruntung" ucap kakek zirdan sembari menepuk pundak cucunya itu yang sudah duduk bersebelahan dengannya.
Garel hanya bisa menelan kebohongan dengan cara mentah-mentah dan untuk keberuntungan seharusnya garel memang beruntung.
Dan keberuntungan itu hilang oleh kebodohan garel sendiri.
"sayang, dimakan mama buatkan cemilan kesukaanmu" ucap mama falisya lalu meletakkan sepiring cemilan dan 2 cangkir kopi untuk kakek zirdan dan garel.
"terima kasih ma" sahut garel lembut dan tulus, ia menganggap Falisya seperti mama kandungnya sendiri tidak menjadi mama tiri apalagi tantenya.
"sama-sama sayang" sahut Mama Falisya tak kalah tulusnya.
Falisya memang sangat menyayangi keponakannya itu seperti anaknya sendiri.
Apalagi pernikahannya dengan papa bram belum dikaruniai anak sampai sekarang jadi hanya garel satu satunya anak bagi Falisya dan Bram.
"Oh ya sayang, Fana enggak bisa dihubungin, padahal mama mau ajak menantu mama itu ke Mall" ujar Falisya dengan wajah sedikit kecewa.
"Fana sibuk ma, nanti garel kasih tahu" ucap garel lagi-lagi berbohong.
__ADS_1
"eeh ada anak papa, loh kok enggak bareng Fana?" tanya papa bram ikut bergabung dan juga bertanya viena.
"maafkan garel kek, ma, pa" dalam hati garel, garel sengaja menuruti isi surat viena untuk tidak menceritakan kepergian viena, garel ingin masalah ini ia sendiri yang menangani tanpa ada bantuan dua belah pihak keluarga andrian dan az-zardan.
Namun sepertiannya sulit, keberadan viena didalam keluarga az-zardan jauh lebih berarti dari garel si pewaris tunggal itu sendiri.
"Kata garel, Fananya kerja pa" sahut mama falisya setidaknya membuat garel lega tidak menjawab pertanyaan yang hampir sama dalam hitung menit.
"aaaakhk, fana dimana kamu? Bagaimana cara aku bisa bawa kamu kembali lagi? " ucap garel dalam hati
"kek, ma, pa... Garel pulang dulu" pikir garel lebih baik ia cepat cabut dari rumah itu, lama-lama akan banyak pertanyaan lain jika ia berlamaan disana.
"Kenapa buru-buru?" tanya papa Bram
"ada yang harus diselesaikan pa" jawab garel
"Sayang, cemilannya belum dimakan lo" tampal Falisya pada putranya itu yang sedari tadi juga memperhatikan putranya hanya menegukkkan seteguk kopi dan belum sempat menicipi camilan yang sengaja Falisya bikin untuk garel.
"Garel bawa aja ya ma, garel ada urusan penting" kilah garel dan berusaha tidak membuat mamanya itu kecewa.
"oke, mama bungkus dulu" mama Falisya pun bergeges kedapur dan membukuskan cemilan kesukaan garel itu
Namun pertanyaan yang hampir sama itu tidak bisa garel hindar dengan bergegas pergi dari kediaman azzardan saja
Tapi papa mertuanya juga menelpon garel hanya untuk menyakan viena pada garel.
📱"hallo pa?" sapa garel sopan kepada papa andrian, papanya viena.
📱"itu, fana baik-baik saja kan?" tanya papa andrian
📱" fana baik-baik saja pa, ada yang papa khawatirkan?" tanya garel lalu bertanya pada papa mertuanya itu dengan mempertahankan ketenangan dalam suaranya.
📱"enggak apa-apa garel, tapi hanya saja papa heran fana enggak biasanya enggak telpon balik papa" ujar papa andrian pada menantunya itu.
Garel hanya bisa diam, haruskah dia berkata akan menyuruh viena menelpon balik papa mertua.
📱"sepertinya kamu diperjalanan? Kita ngobrolnya nanti-nanti saja. hati-hati dijalan" pesan papa Ardian pada menantunya.
Percakapan singkat anatar mertua dan menantu nitupun berakhir.
Dalam waktu singkat garel sudah beberapa kali berbohong dan terus berbohong sampai ia akan menemukan keberadaan viena serta akan membujuk sekaligus memohon agar viena ikut bersamanya lagi
Di Vila Merelvin Andrianada
Agelia juga didatangi pemilik vila yang tak lain kak merel kakaknya viena.
Kedatangan merelvin memang sengaja mendatangi agelia untuk bertanya lagi tentnag adik sematawayangnya.
"kak merel? Apa kakak tidak kerja? " basa basi agelia agar merelvin tidak memberikannya banyak pertanyaan tentang viena maka agelia lebih memilih bertanya dulu.
agelia sudah tahu jika merelvin datang pasti akan bertanya tentang viena.
"iya, karena kak merel mau bertanya kekamu" ucap merelvin santai.
"orang pinter emang suka gampang" agelia membatin.
Niat hati agelia bertanya agar mendapat mendapatkan jawaban dan bertanya lagi melalui jawaban yang ia dengar lagi dari kak merelvin. bukan seperti ini, malah ia yang ditanya balik.
"kak merel mau tanya apa?" agelia berusaha tenang dan tidak menghindari pertanyaan apa kali ini.
Meski agelia tidak rela ditinggal viena, tapi agelia masih menutup-nutupi kepergian viena seperti yang diminta viena kepada agelia.
__ADS_1
"Kemana Fana? kamu pasti tahu?