
Tapi Viena menolak dengan tegas,
"tidak, ayo kita makan sekarang" tolak Viena tegas, kebetulan juga kedatang Agelia diwaktu makan siang yang mungkin akan dilewati oleh sepasang suami istri itu jika Agelia tidak datang tadi.
Dengan wajah malas Garel menuruti keinginan istrinya, Garel tidak mau memaksa apa yang tidak diinginkan istrinya apalagi Garel sudah berucap dengan baik jika Viena masih menolak maka Garel usahakan untuk tidak memaksa meski ia sendiri sangat menginginkannya.
Namun seuntai senyum terlihat disudut bibir Garel saat memikirkan rencana nakalnya yang hanya dia seorang tahu bahkan senyum nakalnya itu tidak terlihat oleh Viena.
Mata Viena terlalu fokus dengan makanan yang dibawakan Agelia, Viena dapat mengenal dari mana Agelia memesan makan itu dari sekali lihat saja, ya itu dari dapur pesona tempat langganan ia dan Agelia makan.
Sudah lama sekali Viena tidak mendatangi tempat favoritnya itu. ia menjadi bersalah akan sahabatnya, Agelia jika mengingat semenjak ia ke desa Scarla bahkan sudah kembali kekota V, viena tidak banyak menghabiskan waktu bersama Agelia.
Dihari Agelia datang untuknya kerumah, malah Agelia menyaksikan yang tidak seharusnya Agelia lihat.
Namun sudahlah, nanti Viena bicarakan baik-baik pada sahabatnya itu atau tidak sama sekali, jika mengingat ingat yang malu di sini seharusnya viena sendiri jika harus dibahas ulang.
Garel dan terus Viena melahap makanan yang dibawa Agelia dengan lahap, namun pikiran keduanya bertimbang terbalik satu kesal akan aksi tadi satunya lagi berencana akan lanjutkannya.
"sudah kenyang?" tanya gGarel pada Viena, yang tampak menyelesaikan makanannya.
"sudah" jawab viena singkat
"tidak mau mamah lagi, bi ina sudah menyediakan makan siang buat kita" ujar garel yang tidak mau juga viena menahan lapar jika memang masih lapar.
"tidak, aku ingin ke kamar dulu, vietaminku ada di atas" ucap viena menolak lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya, dikamar ia mengambil vitamin yang ia maksud.
masalah vitamin yang ia maksud itu sudah resep dari dokteri Nanda, jadi tidak ada rasa takut untuk kehamilannya.
tapi sering kali garel berusaha untuk membiaskan viena selalu tenang agar viena tidak mengalami frustasi akut.
namun kali ini, garel membiarkan viena meminum vitamin itu mengingat pasti viena memikirkan sahabatnya, agelia pergi begitu saja setelah melihat kelakuan mereka berdua.
Sedangkan garel masih menikmati makannaya, bahkan ia menambah satu porsi dari nasi dan lauk yang sudah disediakan bibi ina sebelum pergi entah kenapa yang penting garel sudah menyuruh bibi ina kembali sore saja.
garel makan dengan santai harap meberi waktu istirahat untuk istrinya selama ia masih makan.
Garel makan banyak bukan karena ia terlalu lapar melainkan garel ingin menambah energinya, akan melakukan aksi dari niat nakalnya tentu ia perlu tenaga lebih. π
Viena melihat layar ponselnya, yang tidak ada balasan dari sahabatnya, iya tadi vienalah yang menghubungi agelia.
karena sudah masuk jam kerja lagi, vienapun mengira jika agelia sudah samapai diperusahaan Oskar.
Cklek.
pintu kamar terbuka, ia lihat viena sedang duduk didepan ditepi ranjang.
"Lagi apa?" tanya garel vienapun melihat kearah garel yang hendak memasuki kamar.
__ADS_1
"tidak apa-apa" sahut viena lalu tersenyum
garel menyambut senyum Viena dengan penuh kebahagiaan, istrinya yang dulu dianggap wanita planet ternyata tidaklah seburuk yang ia kira dan sekaku yang garel bayangkan dulu.
garel duduk disebelah viena, ia mengelus perut viena lalu berucap.
"anak ayah sudah makan?" ucap garel menirukan suara anak-anak berusaha berkomunikasi pada calon bayinya itu.
Viena terkekeh mendengar garel menirukan anak-anak kecil dalam ucapannya.
Namun viena juga menirukan suara anak kecil untuk menjawab pertannyaan ayah dari calon anaknya.
"sudah ayah, dede makan bersama bunda" ucap viena tidak kalah imut, lalu keduanya tertawa ulah reaksi keduanya pula.
Namun seperti niat awal garel ia sekarang menginginkan istrinya untuk menuntaskan miliknya yang one seketika saat melihat viena tertawa dengan bibir ranum miliknya.
"Fanaa, "sapa garel lembut nan sensual. viena tahu maksud dari panggilan itu, ia berusaha untuk beranjak meninggalkan garel.
akan tetapi tangan garel dengan cepat meraih tubuh viena yang sulit garel peluk meski dari belakang karena perut viena sudah 8 bulan tentunya.
"ayolah sayang, apa kau mau milikku akan loyo selamanya? Jika tidak dimanjakan dengan milikmu, punyaku tidak akan berpungsi lagi" ucap garel ngwur tentunya.
itu hanya kebohoga belaka yang ia ciptakan sendiri.
mata viena memincing lalu melirik kearah milik garel, dapat viena lihat jika milik suaminya itu sudah one lagi.
"itu bohongmu saja, nanti juga setelah lahiran kita tidak bisa melakukannya, jadi harus belajar" tukas viena.
"karena itu sayang, apa kau ingin aku berpuasa dari sekarang. aaargk itu menyiksakan" ucap garel beralasan lalu mengusap wajahnya dengan kasar saat membayakan begitu lama ia harus menahan hasrat nantinya.
Otak Pintar viena tiba-tiba bleng saat memikirkan garel frustasi menahan hasrat apa lagi tangan nakal garel ternyata sudah mulai kembali nakal dengan merayap dibalik dres viena yang ternyata sudah garel lepaskan disoffa tadi dan belum sempat viena pakai kembali.
merasa mudah menajangkau bagi garel ia segera menarik viena pelan ke atas ranjang.
ia merebahkan pelan-pelan tubuh istri tercintanya itu dan ia mulai menanggalkan pakaian yang tadinya gagal ia lepas dari tubuhnya dan terlempar kesembaragan arah.
viena dibuat terlena lagi oleh sentuhan garel, ia tatap wajah tampan ayah dari anaknya nanti.
Garel manatap kemata viena jika di sana juga terlihat jika viena menginginkan yang lebih dari sentuhan itu.
garel membuka perlahan dres viena agar tidak mengganggu viena yang sedang hamil besar itu.
viena begitu pasrah saat pakainnya sudah terlepas sempurna.
garel bermain dengan lembut dan tidak merasa terganggu dengan prut besar viena,
malah garel begitu perhatian agar bayi nya di dalam sana tidak tersakiti.
__ADS_1
garel menurni kepalnya dan menyelusuri setiap inci yang ada di bawah sana, ia mebenamkan kepalanya disana hendak mengulurkan lidahnya dikepemilikan istrinya.
lindanya bermain lincah di sana membuat des*kan keluar sangat nikm*t dari bibir viena.
mendengar suara erotis dari bibir sang istri membuat garel tidak tahan memanjakan miliknya tapi berusaha garel tahan, karena ia masih ingin memainkan mikik viena dengan lidahnya.
cairan p*naspun memenuhi bibir garel tapi garel berubah lebih nakal ingin memberikan rasa yang iarasakan dari mikik viena kepada meilikinya.
garel beralih ke atas dan ******* bibir viena dengan keadaan bibirnya masih basah karena cairan viena.
viena membelak terkejut ulah garel
"milikmu sayang., begitu nik*mt. kau harus merasakannya" ujar garel tapi viena tidak bisa berkata apa-apa selain merasakan apa yang dirasakan suaminya itu.
"aku segara melakukannya, jika terasa sakit katakan" ucap garel yang tentunya memikirkan bayi yang sedang dikandung viena.
viena hanya menagngguk setuju, tak perlu lama garel melepas celannaya yang masih membalut bagian baw*hnya kesembarangan arah.
Tubuh garel tidak lagi menggunakan pengahalang apapun sehingga viena dapat melihat jelas jika milik garel sudah teg*k lurus.
saat garel hendak menghuj*m istrinya suara dering ponsel Garel berdering.
"siapa?" tanya viena.
"aku tidak tahu."ucap garel berat bagaimana bisa istrinya menahan percint*an yang akan dilakukannya yang tinggal sesenti lagi masuk pada s*rangnya.
"lebih baik kita abaikan saja"pinta garel.
"lihat dulu siapa? siapa tahu penting" ucap viena tidak mau dibantah.
terpaksa garel meraih ponselnya di atas nakas.
lalu garel memperlihatkan layar ponselnya kepada viena
"Mama, angkat"perintah viena lagi-lagi garel menurut
π"hallo ma " sapa garel masih dengan suara berat.
π"apa yang sedang kau lakukan?" tanya mama falisya yang medengarkan suara berat putranya.
ia tak tahu saja garel sudah berusaha menahan h*sr*tnya yang sebenarnya akan ia tuntaskan.
π"Apalagi ma, garel....." ucap garel terpotong.
π"mama sudah dirumah kalian, diaman menantu mama?" tanya mama falisya memotong ucapan garel.
dengan sigap, viena berlari kekamar mandi untuk membesihkan diri tanpa memperdulikan garel.
__ADS_1