Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
65 Mata Agelia Ternodai


__ADS_3

Dengan susah payah Agelia mengatur tangannya yang dipenuhi barang bawaan itu kembali mengucak ucak matanya.


Agelia masih tak percaya menyaksikan pemandangan yang bisa menodai matanya itu dan percakapan dua insan yang saling jatuh cinta itu, sungguh membuat Agelia merinding


"Apa ini menyakitkan?" tanya ggarel seraya memegang kaki Viena bengkak sebab kehamilannya, Viena yang duduk diapangkuan Garel menggeleng menadakan ia baik-baik saja.


Jangan tanya hubungan keduanya, selama 3 hari ini keduanya sudah seperti suami istri pada umumnya yang terlihat harmonis dan romantis.


"Sayang, aku sangat menginginkannya. em?" tanya Garel meminta izin dengan nada sensual yang terdengar menggoda dan tangan Garel bergerak nakal merayap ke dalam dress yang dikenakan Viena.


Tidak ada lagi kesungkanan bagi Garel untuk hal yang lebih dari berciuman begitupun Viena tidak mencegah kegialaan suaminya itu.


Tapi kali ini beda, Viena menetang Garel karena mereka sedang berada disoffa ruang tamu.


"Kita sedang tidak di kamar kan, hentikan" protes Viena.


Garel tidak menggubris porte istrinya, ia justru terus melakukan aksi tangan nak*lnya, sehingga tidak menyadari ada sepasang mata menyaksikan aksi keduanya bahakan mata yang sempat suci dari oemandnagan itu kini ternodai oleh aksi n*kal Garel yang terus merayap hingga sudah menyentuh peng*man segitig* milik istrinya.


"Tidak apa-apa, Bi Ima suadah aku suruh pergi dan akan kembali sore" jelas Garel jadi tidak ada siapapun dirumah selain mereka berdua.


Setelah mendengar penutiran Suaminya, Viena tidak lagi mencegah kegiatan suaminya itu, Malah sebaliknua Viena mungkin sudah kecanduan akan sentuh*n Garel, suaminya itu.


Mungkin dulu mala petaka jika mendapatkan sentuhan dari suami yang tidak mencintainya itu, berbeda dengan sekarang, Viena dapat merasakan ketulusan Garel baik dair tatapan, ucapan dan sentuh*n Garel.


Viena yang tidak lagi protes, Garel segera melepaskan peng*m*n itu dan melakukan peman*s*n dengan satu jarinya menyelusup masuk tanpa sungkan lagi.


"aaaah, kenapa kakak suka melakuan itu?" protes Viena berserta des*h*n yang sudah tidak tah*n lagi untuk meminta lebih dari itu, menurut Viena permain*an yang dimainkan Suaminya itu sangat menguji kesabarannya.


"harus sayang, aku harus melakukannya, apa lagi kau sedang hamil. jadi aku tidak memulai dengan kasar" jelas Garel tidak ingin bumil itu berubah menjadi sensitif setelah berucap mengenai penjelasannya, Ia merebakan tubuh istrinya pelan ke atas soffa yang berukuran besar diruang tamu.


Viena tahu apa yang Garel maukan, iya Garel ingin mer*up bibir r*num milik Viena dan tangan satunya tetap mem*inkan jari-jarinya keluar masuk di b*w*h sana.


"segera lakukan kak" pinta Viena memohon disela cium*n dan lum*at*n yang diberikan Garel penuh kelembutan dan intonasi suranya sudah tidak teratur lagi karna menahan h*sr*t yang memuncak itu.


"sabar sayang, tunggu sebentar, kenapa benda kembar ini semakin besar?" tanya Garel dengan tangannya beralih kekancing dress Viena b*gian atas yang sudah dibuka Garel itu, dapat Garel lihat dua kemb*r dengan jelas yang mulai keluar dari sarangnya itu lebih bes*r dari ukuran sebelumnya.

__ADS_1


"itu sebab aku hamil kak dan kakak juga selalu meny*ntuhnya selama aku di sini" jelas Viena.


"benarkah? berarti sudah ada isinya?" tanya ggarel lagi sedangkan Viena hanya mengangguk tak bisa berkata-kata ia sungguh tidak bisa menahan sentuh*n itu.


"boleh aku menyicipnya sebelum calon bayi kita" Viena kembali mengangguk persetujuan darinya.


Garel memend*mk*n kepalanya disela dua kemb*r keny*l itu, seakan ingin berm*in dahulu sebelum ia meng hi s* pnya.


dan tangan satunya Garel gunakan untuk mem*n*skan yang di b*wah sana, bersamaan dengan mulut Garel yang mem*sukkan salah satu bend* keny* l itu, Garel juga memainkan jari-jari n*k*lnya kembali di are* sensitif istrinya.


"aaaahhh" des*h*n kemali keluar dari bibir Viena "kenapa kak garel sengaja membuatku menunggu seperti ini?" tanya Viena tidak bisa lagi menahannya.


"Kau sudah b* sa h, sayang. tunggu" ucap Garel lalu Garel duduk untuk berusaha membuka pakainnya.


Namun sebelum pakaina Garel tertanggal sempurna suara pekikan terdengan kencang sehingga menghentikan aksi keduanya.


"Aaaaaaaaggggkkkkkk" pekik Agelia, ia sungguh dikejutkan dengan pemandangan yang p*n*s. Agelia menyaksikan hubung*n terl*r*ng tapi tidak lagi terl*r*ng bagi sahabatnya itu.


Sudah berkali kali Agelia mengocak ocak matanya tapi masih sama dan akhirnya Agelia tidak lagi menyalahkan matanya itu.


Viena dan Garel begitu panik apalagi yang melihat aksi dari keintim*n mereka berdua sahabatnya Viena.


Garel segera memakaikan kembali pakiannya sedangkan Viena segera menutup dressnya dan meng*ncing dressnya bagian atas dengan cepat.


Rasa malu menyelimuti kedua insan tersebut, tapi untung saja setelah memekik Agelia berucap dan langusng pergi lagi.


"sepertinya aku akan datang dilain hari" ucap Agelia dan tidak lagi memperdulikan bawaan yang sudah ia bawa itu.


Agelia segera membawa mobilnya pergi meninggalkan kediaman sahabatnya itu.


Diperjalanan rasa malu Agelia karena telah menyaksikan keintim*n sahabatnya dengan suami sahabatnya dan entah apa Agelia merasa pan*s sendiri.


Agelia berusaha menghibas-hibas tangan diwajahnya sekakan berusaha menghilangkan rasa pan*s dan ger*h didirinya.


Bahkan Agelia menyalakan Ac mobil, yang tidak lagi terasa nyala bagi Agelia.

__ADS_1


Bagaimana tidak pan*s, Agelia menyaksikannya dengan cukup lama kegilaan sepasang suami istri yang berbuat intim diruang tamu bahkan dengan keadaan pintu terbuka.


Suara er o tis yang keluar dari mulut sahabatnya masih mengiang ditelinga Agelia dan tidak hanya itu, Sgelia melihat dengan jelas tangan nak*l Garel memaju mundurkan jarinya di inti sensitif milik Viena.


"kenapa aku teriak." protes Sgelia pada dirinya sendiri. seharusnya dia pergi saja tanpa mengeluarkan suara apapun.


Dreet dreet


suara ponsel agelia berbunyi dia raih ponselnya itu lalu setelah melihat siapa yang melakukan panggilan suara pada ponselnya itu membaut Agelia terkejut dan langsung membating ponselnya kebelakang.


Tentu Agelia melakukannya tidak pelan dan tidak menetu kemana ia beralih yang penting Agelia melempar ponselnya kemobil bagian belakang.


"Kenapa dia menghubungiku?" tanya Agelia masih merasa tak karuan saja apalagi melihat nama kontak yang panggilan itu.


makin saja, agelia terbayang akan matanya yang sudah ternoda siang ini, ada rasa menyesal bagi Agelia menolak keinginan kekasihnya untuk makan bersama dikantor kekasihnya, Merelvin.


di kediaman sahabatnya itu, Viena dan Harel dibuat malu oleh kelakuan mereka berdua yang membiarkan pintu terbuka saat melakukan kegi*t*n intim.


sepasang suami itu tidak lagi melanjutkan kegi*tan yang sebelum terlaksanakan itu.


Viena merasa tidak enak hati akan sehabatnya, bahkan sahabatnya pergi begitu saja tanpa membawa kembali barang bawaannya.


"lihatlah, ulah kak Garel, Agelia bahkan meninggalkan bawaanya" ucap viena menyalahkan garel


"iya maafkan aku, lain kali aku akan menguncikan pintu rapat-rapat" sahut Garel lesu apa lagi dibawah sana sudah mene gang


"tapi bukankah kau juga menginginkannya,.. sayang"lanjut Garel dengan protesnya.


"lalu bagai mana dengan ini?" tanya viena mengenai makanan yang dibawa agelia dan viena tidak ingin menggubris perotesnya garel.


"kita makan saja, tapi bagaiman kita tuntaskan dulu?" ucap garel memelas dan melirik kearah miliknya meisyaratkan viena jika ia ingin melanjutkannya dan menuntaskan has ra tnya.


Tapi viena menolak dengan tegas....


"tidak.... ayo kita makan sekarang" tolak viena tegas, kebetulan juga kedatang agelia diwaktu makan siang yang mungkin akan dilewati oleh sepasang suami istri itu jika agelia tidak datang tadi.

__ADS_1


dengan wajah malas garel menuruti viena, garel tidak mau memaksa apa yang tidak diinginkan istrinya apalagi garel sudah berucap dengan baik jika viena masih menolak maka garel usahakan untuk tidak memaksa meski ia sendiri sangat menginginkan.


__ADS_2