Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
14. Aku Hamil Bi


__ADS_3

Sudah 3 jamAanasya berada didalam kamar Garel begitupun Viena sudah 3 jam pula ia berada di dalam kamarnya dalam keadaan tergeletak diatas lantai.


Bibi ina merasa khawatir dengan nyonyanya yang belum juga muncul, biasanya Viena akan kedapur untuk mempersiapkan makanan untuk Garel, apalagi hari ini Viena sudah menyuruh bibi ina menyerahkan tugas memasak untuk Garel dalam 3 jam sekali pada dirinya sendiri.


Bibi ina takut kalau Viena mengurungkan diri dan berbuat nekat.


Bibi ina bingung apakah ia harus memasak untuk tuannya atau menunggu nonyanya turun sendiri untuk memasak.


Tapi waktu makan tuannya sebentar lagi.


"apakah saya perlu bertanya pada nyknya? Tapi sepertinya nonya ingin sendiri?" bi ina membatin, ia bingung harus bagai mana.


"aaakh" pekik bi ina kecil, lalu bi ina akhirnya memasak karena memang seharusnya tugas bibi ina melayani kedua majikannya itu.


Usai masak bi ina mengantarkan sepiring nasi beserta lauk-lauk nya kekamar tuannya.


Tok tok tok


"tuan? Ini saya bi ina" ucap bi ina dibalik pintu kamar


"masuk" ujar Garel dari dalam dengan suara kesal merasa diganggu oleh bi ina.


Bi ina pun masuk kemar itu lalu berucap


"tuan, silahkan dimakan. Semoga tuan cepat sembuh" ujar bi mina lalu meninggalkan kamar itu tanpa disuruhpun.


Bi ina tidak ingin berlama lama disana, sungguh pemandangan yang tidak sedap melihat kemesraan majikannya dengan wanita lain.


Apalagi melihat Anasya bergelayut manja, membuat bibi ina merasa jijik dan kesal.


Tapi Bi ina hanya bisa menggelengkan kepalanya, ingin rasanya bi ina menjambak rambut Anasya menggantikan nyonyanya tapi itu tidak mungkin karena bi ina hanyalah pembantu di rumah itu.


Sedangkan bi ina sangat membutuhkan pekerjaan untuk kelangsungan anak-anak bibi ina diperdesaan.


Mata bi ina berkaca-kaca memikirkan nasip nyonyannya sembari memperhatikan pintu kamar di lantai atas yang masih tertutup rapat dan belum menadakan ada kehidupan di kamar yang bibi ina perhatikan itu.


"Nyonya Fna, nona harus kuat" ujar bi ina dalam hati terus menatap kearah pintu lantai atas.


Namun hati bi ina semaki. Diliputi oleh rasa kekhawatiran akan majikannya itu. karena sendari tadi Viena belum juga turun.


Dengan tekat bi ina menaiki tangga kamar nuknyanha lalu mengetuk pintu itu perlahan.


Tok tok tok


Bi ina mengetuk berkali kali dan bi ina juga memanggil-manggil Viena berkali kali tapi belum ada juga balasan dari dalam bahkan tidak ada tanda kehidupan dari dalam sana.


"aaah, kan kamar nyonya Fana kedap suara" bi ina merasa frustasi dengan tingkah konyolnya sedari tadi, yang mana bi ina memanggil-manggil tidak ada yang menjawab dari dalam itu karena ruang kamar yang ditepati Viena kedap suara jadi wajar tidak ada yang menggubris dari dalam sana.


Dengan perlahan bi ina memegang gagang pintu ternyata pintu kamar Viena tidak terkunci.


Merasa bersalah masuk kamar majikannya tanpa izin tapi bi ina lebih khawatir dengan majikannya itu maka memberanikan diri untuk mengintip kamar majikannya meski terkesan tidak sopan.

__ADS_1


Dilihat bi ina tidak ada Viena diatas ranjang milik viena, samapai mata bi ina terarah kearah pintu kamar mandi yang ada dikamar itu.


Betapa terkejutnya bi ina melihat Viena terkapar diatas lantai.


Tubuh yang terkapar itu terlihat pucat dan sangat dingin


"astaga nyonya, Aku harus membawa nyonya keatas kasur dulu" ujar bi ina berlari kerah Viena.


Berusaha dengan sekuat tenaganya sendiri bi ina mengangkat tubuh Viena keatasa kasur dan tak lupa menghubungi dokter untuk datang kerumah.


Dirumah sakit seorang dokter yang dihubungi oleh bi ina mendapatkan kabar jika keluarga Az-Zardan sedang pingsan maka cepat melaporkan ke dokter Irwan selaku dokter pribadi yang dikhususkan melayani keluarga Az-Zardan.


Mendengar kabar itu dokter Irwan langsung menuju alamat yang dimaksud.


Dirumah Viena dan Garel


"silahkan masuk dok" pinta bi ina yang sudah menunggu kedatangan dokter irwan.


"terima kasih, dimana ruangannya?" tanya dokter irwan dengan panik


"diatas dok, ayo dok, Akan saya antar keatas" sahut bi ina namun respons dokter irwan hanya dengan cara menyipitkan matanya.


Kenapa harus dilantai atas? Namun dokter irwan tidak protes appaun karena protes bukanlah waktu yanh tepat.


"baiklah" sahut dokter irwan mengikuti langkah bi ina dari belakang.


Sesampainya dikamar viena, dokter irwan tidak melihat sosok yang bikin ia panik malah melihat viena diatas ranjang dalam keadaan terpejam.


"silahkan diperiksa nyonya Fana, dok" pinta bi ina sopan


"apa yang pingsan, nyonya Fana? " tanya dokter irwan memastikannya, dikiran dokter irwan sedari tadi Gar lah yang pingsan makanya dokter irwan panik bukan main. dokter irwan takut jika pingsan kali ini akan membuat Garel koma lagia atau berakibat fatal.


"iya dok" sahut Bibi ina


"baiklah, saya akan memeriksa keadaan nyonya Fana" dokter irwan memeriksa kondisi viena dengan diawali mengecek melalui nadi ditangan viena, dilihatnya Viena memnag terlihat pucat.


"apa nyonya Fana Pingsannya diatas lantai? " tebak dokter irwan setelah mengecek kondisi viena dan rasa kulitnya dingin sangat dingin.


"iya dok, nyonya Fana sepertinya pingsan cukup lama diatas lantai" sahut bi ina merasa bersalah karena tidak menjaga nyonyanya dengan baik lalu menundukkan kepalanya.


"jangan khawatir, nona Fana baik-baik saja. Tapi untuk memastikanya saya akan menyuruh dokter Nanda datang kemari untuk melihat secara langsung apakah benar nona fana sedang mengandung" jelas dokter irwan.


mendengar penuturan dokter irwan, bi ina langsung mengangkat kepalanya dengan mata yang sudah membulat sempurna.


"Mengandung?"


"tapi kita harus memastikan, karna saya tidak ahli di bidang ini, jadi saya sendiri akan menyuruh dokter nanda datang kemari" ujar dokter irwan sekali lagi.


Karena dokter irwan merupakan dokter yang sangat penting, ia pun meinggalkan kediaman viena dan garel setelah tugasnya selesai tanpa melihat kondisi garel sama sekali.


Tidak lama berselang kepergian dokter irwan, dokter nanda sudah tiba dengan mobil berwarn hitam.

__ADS_1


bibi ina yang menunggu dokter nanda seperti ia menunggu dokter irwan tadi lalu mempersilahkan dokter nanda masuk mengikutinya kekamar viena.


"nyonya , nyonya sudah sadar?" tanya bi ina senang saat melihat Viena sudah sadar dari pingsannya.


"kenapa dengan saya bi, tadi saya." ucap viena terpotong oleh bi ina.


"tadi nyonya Fana pingsan, sekarang dokter nanda akan memeriksa keadan nyonya" ucap bi ina memotong ucapan Viena karena tak sabar mendengar apa hasil dari pemeriksaan dokter nanda.


"baiklah nyonya saya akan memeriksa kondisi nyonya dulu" ucap dokter nanda sopan hendak meraih tangan viena


"tunggu" sahut viena meminta dokter nanda menunggu terlebih dahulu karna ada yang lebih dikhawatirkan viena dari pada kondisinya sendiri.


"sekarang jam berpa bi? Apa tuan sudah makan?" viena malah mengkawatirkan kondisi orang lain yang sama sekali tidak peduli dengan diri viena bahkan orang yang di khawatirkan saja sedang ayik berpacaran dikamar tamu.


"sudah nyonya" sahut bi ina


Sedangkan Dokter nanda tersem-sem melihat nyonya muda Az-Zardan yang begitu menghawatirkan suaminya.


Tapi tidak dengan bi ina ia yang lebih kesal ketimbang dan merasa iba pada Viena.


Geram hati bi ina melihat tuannya tidak pernah sedikitpun membuka mata untuk nyonyanya, padahal selama ini vienalah yang senantiasa merawat dan menjaga garel tanpa memandang lelah.


"apa saya sudah bisa memeriksa keadan nyonya?" dokter nanda bertanya lagi sebelum ia benar-benar memeriksa kondisi viena, viena hanya mengangguk sebagai isyarat ia menyetujui serta memeprsilahkan dokter nanda melakukan tugasnya sebagai dokter.


Dokter nandapun mulai melakukan tugasnya dalam pemeriksaan yang sederhana.


"nyonya, bisa ikut saya kekamar mandi? " pinta dokter nanda sopan.


Meski bingung kenapa harus kekamar mandi viena menurut saja apa yang dikatakan dokter nanda.


Didalam kamar mandi ternyata dokter nanda menyuruh viena untuk mengecek kehamilan melalui testpeck yang dibawa dokter nanda.


Entah bahagia atau duka saat mata viena menyaksikan sendiri dua garis merah yang menandakan dirinya sedang hamil.


"aku hamil bi" ujar viena kepada viena kepada bibi ina setelah kepergian dokter banda.


"selamat nyonya, boleh saya memeluk nyonya? " ucap bibi ina, lalu bertanya. bi ina tahu apa yang ditakuti Viena itu.


Viena langsung tersenyum manis mana kala bi ina ingin berpelukan dengannya


"apa yang harus aku lakukan bi? "tanya viena kepada bibi ina yang sedang memeluknya erat itu.


Bi ina hanya diam, bibi ina hanya bisa meneteskan air matanya, sungguh bi ina merasa iba dengan nasip majikannya itu.


"apa yang harus aku lakukan bi?" Tanya viena lagi semabri memukul punggung bi ina dengan tenaga kecil.


Bik ina tidak bergeming, jika memang nyonyanya akan sedikit lega dengan memukuli punggungnya itu, bi ina rela dipukuli.


Viena terisak didalam dekapan bibi ina, Ia tidak bisa lagi menahan segala gejolak didalam hatinya.


ternyata pagi hari itu membuat viena sampai disini padahal bisa dibilang waktu itu dapat dikatan belum tuntas penyembuahan pada dirinya malah selalu Garel goreskan dengan sekian luka yang baru.

__ADS_1


Ini ia harus menerima kenyataan jika ia Hamil, ia tidak tahu harus bahagia atau sedih, tapi Viena takut anaknya tak diakui oleh Garel.


__ADS_2