
"apa kalian akan menumpahkan makananku!!!" ucap Viena datar seraya melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
Melihat siapa yang berbicara adalah orang yang mereka cari, Tomy langusng duduk disoffa sudah diyakini pikirannya tadi benar.
Tapi tidak dengan Merelvin dan papa Andran yang menampakkan wajah keterkejutan melihat Viena baik-baik saja bahkan Viena memberi epresi jauh lebih baik dari sebelumnya.
Viena mengambil secangkir gelas berisi air putih ditangan Garel beserta sepiring nasi yang sudah ada lauknya lalu duduk bersebelahan dengan Tomy dengan raut wajah santai.
Viena meminta Tomy untuk menyuapinya makan, tanpa berkomentar apa-apa, Tomy mengambil alih nasi itu lalu menyedokkan nasi dengan lembut.
"aaaaa" Tomy menuntun Viena seperti anak kecil untuk membuka mulut Viena lebar agar menikmati makanan yang diberikan Tomy itu.
Merelvin, papa Andrian dan Garel ikut duduk disoffa tanpa berkomentar sedikitpun sampai makanan yang disuapi Tomy habis tidak tersisa sebutirpun.
Setelah piring kosong, Viena meraih segelas air putih lalu meminumnya hingga tandas.
Semua diam memperhatikan Viena, begitupun Viena tidak memulai pembicaraan hingga terjadinya hening beberapa menit.
"Izinkan saya memperbaiki semuanya" ujar Garel turun dari soffa lalu berlutut didepan papa Andrian, papa mertuanya.
"saya tidak akan menyakiti Fana lagi. tidak akan" lanjut Garel lantang.
papa Andrian menatap Garel lalu bergantian menatap kearah Viena.
Viena menyadari tatapan papanya itu lalu mengangguk, mengisyaratkan jika ia sudah membahas ini bersama Garel dan memberi kesempatan itu.
"jika kau berani menyakiti putriku lagi, jangan harap kau bisa melangkah sepuluh langkah mendekat putriku" ucap papa Andrian penuh penekanan.
"saya janji" ucap Garel seraya menundukan kepalanya penuh permohonan.
...********...
Pagi hari yang cerah dengan suasana pagi yang berbeda tentunya, pagi Viena dan Garel yang penuh kegelisahan belakangan ini, kini suasana berubah menjadi bahagia.
Saat mata Viena membuka, yang pertama kali ia lihat wajah Garel.
Viena melihat ciptaan tuhan yang sangat sempurna itu, dari alis yang tebal, hidung mancung bibir sekshi dan ukiran wajah yang tampan sempurna. hal itu membuat Viena terseyum sendiri melihat Garel berada di depannya.
Vienapun mendekatkan jarinya menyentuh bibir sekshi Garel sehingga Garel membuka matanya perlahan.
"sudah bangun?" tanya Garel dengan suara khas bangun tidurnya
"eemh" sahut Viena hanya dengan deheman.
"apa kau mau mandi sekarang? aku akan menyediakan air panas untukmu" tanya Garel perhatian, Garel sungguh tidak mau jika ia membuat istrinya itu merasa tidak nyaman dan merasa diabaikan lagi.
__ADS_1
"baiklah, aku akan menunggu" sahut Viena tidak menolak kebaikan suaminya, akan ia hargai cara Garel memperbaiki hubungan mereka dan dirinya tidak perlu mempersulitkan itu.
Garelpun segera beranjak dari ranjang empuk itu menuju kamar mandi.
Menyediakan air hangat untuk Viena dengan suhu yang nyaman digunakan untuk mandi.
Setelah mengatur suhu air, Garel mendatangi Viena yang masih berada di atas ranjang
"airnya sudah siap" tutur Garel, mendengar itu Viena langsung menuruni ranjang dan berjalan memasuki kamar mandi.
"kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Viena sebelum ia hendak menutupi pintu kamar mandi.
"bolehkah aku ikut?" tanya Garel ragu-ragu, terasa canggung karena sebelumnya hubungan mereka tidak ada kedekatan hari di mana semuanya baik-baik saja.
"tidak" ucap Viena malu-malu lalu menutup rapat pintu kamar mandi itu.
Di dalam kamar mandi, hati Viena bergemuruh hebat. detak jantuknya berdetak tidak normal saat memikirkan apa maksud dari pertannyaan Garel. yang sama halnya dengan mandi bersama? saling memperhatikan tubuh polos mereka?
"aaakkhh" pekik viena tak percaya, ia menjadi salah tingkah sendiri untungnya ia di ruang yang hanya dirinya sendiri. kalau tidak akan menjadi bahan tawaan orang, ia masih malu untuk mandi bersama.
Sementara di kediaman Andrian, papa Andrian sekarang pikirannya kembali terfokus pada Marlind, yang keberadaanya masih belum ditemukan.
ingin rasanya ia bertanya pada Tomy di mana Marlind berada. tapi niat itu ia urung dalam-dalam.
Andrian tidak mau anak-anaknya tahu masa lalu yang juga berkaitan dengan Eme, mama dari anak-anaknya.
"pagi pa" sapa Merelvin menuruni anak tangga yang diikuti Tomy dari belakang.
"pagi.."sahut papa Andrian lesu, pagi ini ia ingin sekali menyelesaikan kesalah kekeliruannya yang tidak mengenal baik Marlind.
"pa, kak, aku pergi dulu" ucap Tomy seraya tangannya menggenggam ponselnya dengan meletaknya disamping telinganya.
brakk...
Maren putrinya bibi Sarah tidak sengaja menabrak tuan mudanya, Tomy.
"Maaf tuan, saya salah" ucap Maren takut dan menundukkan kepalanya.
Tomy mengangkat sebelah alisnya, ia tidak terbiasa diperlakukan hormat seperti itu meski sudah 3 bulan ia dianggap tuan muda dikediaman Andrian itu.
"Siapa namamu?" tanya Tomy yang memang ia tidak tahu nama Maren selama ini, Tomy terlalu fokus pada Viena saja, sehingga tidak pernah menayakan putri dari bibi Sarah.
Merelvin dan papa Andrian menatap heran pada Tomy yang dikira Tomy akan marah pada Maren begitupun Maren, ia semakin merasa ketakutan saat Tomy bertanya namanya.
"Ma..Maren, tuan muda" sahut Maren gemetaran dan terbata-bata.
__ADS_1
"Heii, kenapa kau seperti itu. aku hanya menanyakan namamu" ujar Tomy dengan nada santai
Mendengar ucapan tuan mudanya itu, Maren langsung mengangkat kepalanya dan menatap lekat Tomy untuk memastikan jika tuan mudanya itu benar-benar tidak marah padanya.
melihat wajah heran Maren tomypun tersenyum lalu berucap "sepertinya kau seumuran dengan Volaku" ujar Tomy yang diperkirakan Maren hanya lebih muda darinya satu tahun saja.
Maren bingung dengan sikap Tomy yang malah tersenyum padanya itu.
Setelah berucap Tomy pergi meninggalkan kediaman Andrian.
sedangkan Merelvin dan papa Andrian hanya menggeleng gengkan kepala melihat tingkah Tomy yang membuat Maren ketakutan itu berubah menjadi tatapan heran.
"dia sangat mirip dengan papa" ujar Merelvin
"iya, Vezan setampan papa masih muda" ucap Papa Andrian percaya diri.
"hahaha, bukan ketampanannya Papa. Tapi kelakuannya pa. Papa kepedean deh" ucap Merelvin terkekeh mengejek papanya itu.
"lah emang nyatanya, kalau Papa tidak tampan, mana mungkin putra Papa tampan" ucap Papa Andrian masih berkomentar baik tentang dirinya, lebih tepatnya tidak mau kalah.
Sementara di kediaman Garel, Viena tak kunjung keluar dari kamar mandi. Garel merasa khawatir dengan keadaan Viiena yang sudah satu jam berdiam dikamar mandi.
Apa lagi Viena sedang hamil, itu menambah kader kekhawatiran dihati Garel.
Tok tok tok.
"Fana" sapa Garel lembut di balik pintu kamar mandi
"iya" sahut Viena dari dalam sana.
"apa kau baik-baik saja?" tanya Garel dengan suara cemas.
"iya aku baik-baik saja, tapi,...apa boleh aku..." ucap Viena tidak selesai.
"bukalah, apa yang kau mau?" tanya Garel masih khawatir karna Vienna tak kunjung membuka pintu.
Viena dapat mendengar suara Garel yang sedang mengkhawatirkannya itu, hati viena menghangat dan akhirnya viena membuka pintu kamar mandi itu memperlihatkan tubuh sekshinya yang hanya berbalut handuk putih.
glkek
Garel menelan ludahnya dengan kasar, melihat tubuh Viena hanya mengenakan handuk mebuat hasrat Garel memuncak.
Tapi sekuat tenaga Garel menahannya, Garel tidak ingin menyakiti Viena lagi seperti yang pernah ia lakukan yang juga terjadi dipagi hari.
apa lagi sekarang didalam perut viena ada calon bayinya yang sudah berusia 8 bulan di sana.
__ADS_1
Jika memaksa Viena melakukan hub*ngan badan sama dengan mengulangi kesalahan yang sama.
Viena menatap tatapan garel penuh hasrat itu, dan viena juga memperhatikan jika ada keringat yang mengalir dipelipis garel.