Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
26 Pendengaran Tomy


__ADS_3

Dimeja makan Marlind dan Vola masih menunggu Tomy untuk makan malam bersama.


Betapa senangnya Vola mendengarkan kabar dari sang ibu jika kakaknya akan makan bersama.


"ibu, kemana kak Tomy? bukankah kakak akan makan malam bersama?" tanya Vola sembari mengelus-elus perutnya kelaparan.


"ya sudah lebih baik kita makan dulu, tadi kakakmu seperti sedang terburu-buru" jelas Marlind pada putri bungsunya itu.


keduanyapun makan malam berdua dengan perasaan sendiri, termasuk Vola raut wajahnya terlihat sangat kecut karna merasa kecewa dengan sang kakak.


Vola sedari dulu sangat senang jika bisa makan bersama tomy, ia seakan merasakan keluarga lengkap.


apalagi malam ini vola terlihat lebih senang dari biasanya mendengar kakak akan makan bersama tapi sudahlah mungkin kebahagiaan vola harus ditunda.


Bedahalnya diperjalanan kerumah sakit, Dengan kekhawatirkan penuh dalam hati tomy mengenai kehamilan viena, hati Tomy kacau membuat ia berpikir tidak tidak akan kandungan viena kenapa, ia sungguh marah dan kesal pada arland jika terjadi apa apa pada Viena.


Dan sialnya juga bidan satu-satunya didesa terpecil mereka itu sedang sakit dan sedang dirawat dirumah sakit, itu wajar saja karna bidan juga manusia, namun rasanya tidak tepat saja.


Maka terpaksa viena harus dibawa kekota yang membuatuhkan waktu 2 jam diperjalanan, bukankah waktu itu cukup bahaya bagi keadaan kandungan viena sekarang.


arland dengan wajah babak belur ia juga ikut bersama tomy dan viena, karna ia harus mengemudi mobil.


Tomy tidak bisa mengendarai mobil jadi marah dan kesannya ia tahan demi keselamatan viena, sehingga ia memaksa Arland untuk membawa mobil.


mungkin jika tomy bisa mengendarai mobil ia tidak sudi meminta tolong pada arland teman bajingannya itu.


sekuat tenaga tomy menahan rasa marahnya itu, karna bukan waktu yang tepat sekarang selama di perjalanan ia hanya perlu mendukung dan meyakinkan Viena bahwa semuanya akan baik baik saja.


Samahalnya dengan keadaan dirumah luas cucu tunggal keluarga Az-Zardan.


Raffa panik bukan kepayang saat bangun ia melihat tubuh sahabatnya garel gemetar hebat dalam keadaan tidur disoffa yang bersebelahan dengannya.


Raffa sudah memanggil dokter irwan ke rumah untuk memeriksa keadaan garel secara langsung tapi dokter irwan memerintahkan untuk membawa garel kerumah sakit dan dirawat disana.


Keadaan garel beberapa hari ini berdampak besae pada kondisi kesehatan dan rasa sakit di kepala garel yang diakibatkan kecelakaan mobil sebelumnya itu seakan kembali menguski kesehatanya.


Tidak menunda waktu Raffa ikut membantu dokter irwan membawa garel kemobil tanpa harus menunggu persetujuan pihak kelluarga besar Az Zardan.


Dirumah sakit dokter irwan sendiri yang menagani keadaan garel dengan peralatan lengakap rumah sakit dan obat-obatan yang bisa membantu pengingotrol tubuh garel.


Jam 9 malam Arland sudah sampai membawa mobil ke rumah sakit, tomy menggendong tubuh viena yang masih dalam keadaan pingsan.

__ADS_1


Diruang USD, dokter Nanda langsung mengani viena secara langsung saat melihat yang dibawa keruang USD adalah viena cucu menantu keluarga Az-Zardan.


"Kenapa kedua pasangan suami istri ini, sakit bersamaan" ucap dokter nanda dalam hati, ia tahu jika sekarang garel dirawat dirumah sakit karna prustasi menanti kepulangan sang istri.


"tapi siapa yang membawa nyonya Fana" sambung dokter nanda dalam hatinya rasa tidak percaya jika tomy orang pekerja dirumah Garel Gebriel Az-Zardan.


Sangat tidak cocok jika melihat stell tomy yang lebih cocok menjadi preman itu.


Tapi dokter nanda tidak mau memikirkan itu berlebihan ia terus melakukan tuganya sebagai dokter kehamilan maka viena ia lah yang akan menangani.


Tomy merasa ada yang berbeda dengan dokter nanda saat menyambut kedatangan mereka diawal masuk tadi bahkan dokter nanda tidak ada basa-basi menanyai apa yang terjadi dengan pasien, seakan sudah tahu.


"apa Fana berasal dari kota ini?" tanya tomy dalam hatinya "aaah sudahlah, andai persembunyianmu diketahui maafkan aku" timpal tomy dalam hati merasa sia-sia persembunyian viena akan diketahui jika ini kota yang tidak asing bagi viena.


"Dok bagaimana kondisinya?" tanya tomy saat melihat dokter nanda.


"Untung saja tuan bisa membawa nyonya fana lebih cepat, andai saja tuan terlambat sedikit saja akan sangat fatal dan akan mengakibatkan kecacatan pada janin nyonyaa fana" jelas dokter banda menyayangi kondisi sekarang, sementara Tomy menyeritkan dahinya pasalnya tadi ia tidak menyebut nama Vuena bahkan data data tentmag viena pun belum ia urus, tapi sudhalah yang penting selamat.


"tapi bagaimana sekarang?" tanya tomy kemudian.


"nona fana sudah dipindahkan keruang pasien VVIP, tuan" ujar dokter nanda tanpa meminta pendapat tomy mengenai ruang yang harus ditempati viena.


"VVIP?" tanya tomy tak percaya, bagaimana bisa dokter melakukannya tanpa bertanya terlebih dahulu padanya, VVIP bukan lah ruang yang murah, bukan ia tidak ingin megeluarkan uang untuk biaya rumah sakit Voena tapi jika harus ruang VVIP itu mana mungkin cukup.


andai saja viena diisi diruang kalangan biasa, bisa saja rumah sakit mendapat masalah telah mengisi cucu menantu kesayangan keluarga Az-Zardan, Karna rumah sakit itu milik keluarga Az Zardan.


Diruang inap viena, tomy dibikin bingung oleh dokter nanda


"kau tunggu didepan" titah tomy pada arland yang senantiasa mengikuti tomy itu.


Meski tomy menatap arland dengan tatapan tajam, arland menuruti perintah Tomy tanpa ada bantahan sedikitpuna atau bersikap marah pada tomy.


"siapa kau sebenarnya fana? kenapa kau harus pergi dari suamimu? apa suami kejam, jika ia aku akan menjagamu dari suami kejam mu itu" ucap Tomy sembari memegangi tangan viena dengan lembut, sedangkan viena masih dalam keadaan terpejam.


Setelah puas memandangi viena, tomypun keluar dari ruang VVIp itu.


bruk, plaakkk, brakak


Tak sungkan tomy menghajar temannya itu didepan ruang VVIp sampai arland tersungkur, wajah arland yang sedari tadi memang sudah babak belur kini semakin bertambah dengan pukulan tomy yang bertubi-tubi.


merasa kesal arlandpun membalas pukukan tomy dengan bokaman dipipi kiri tomy, darah segar mengalir disudut bibir tomy.

__ADS_1


kedua teman itu masih saja beradu tinju dan bangku hantam satu sama lain.


sedangkan diruang lain yang juga ruang VVIp, Raffapun bingung harus memberi kabar kekeluarga Az-Zardan istrinya garel, viena dengan cara apa.


Raffa tidak memiliki nomor keluarga Az-Zardan maupun viena istrinya, Garel.


Sampai Raffapun teringat ada satu nomor yang bisa ia hubungi yaitu sekretaris sekaligus asisten pribadi Garel Gebriel Az-Zardan.


📞"Hallo ton, cepat kerumah sakit" titah Raffa kepada asisten pribadi garel.


📞"ada apa tuan?" tanya asisten pribadi garel yang belum tahu tentang keadaan tuan mudanya.


karena beberapa hari ini asisten pribadi garel disibukkan dengan pekerjaan tuan mudanya yang sudah beberapa hari tidak masuk kerja dan tidak hanya itu saja garel juga menyuruh asistennya tetap mencari keberadaan viena, istrinya.


"cepat datang, tuan mudamu sakit" sahut raffa di sambungan panggilan suara itu.


"baik tuan raffa, saya akan segera kesana" ujarnya lalu pergegas keluar dari urusan pekerjaannya setelah panggilan berakhir.


Dengan perasaan panik akan kondisi tuan mudanya, dari kantor menuju rumah sakit ia cukup mengendarai mobilnya dengan cepat, sesampainya tony berjalan kerang VVIp yang ada dilantai atas tentunya, ruang tuannya berada.


Saat asisten pribadi garel keluar dari lift ia terkejut dengan pemandangan didepannya dua pria yang tidak asing sedang berkelahi.


Wajah asisten pribadi garel berubah menjadi merah padam saat melihat orang yang tidak asing itu adalah adik laki-lakinya, Tomy Amarsyan.


iya Tomy Amarsyan dan Tony Amarsyan adik beradik selama ini, meski wajah, kulit dan kepribadian bahkan ketampanan keduanya nyaris tidak berkaitan sama sekali.


Tony Amarsyan sang kakak berdarah asli negara kelahiran jika dipandang dari wajahnya tapi Tomy Amarsyan seperti bule keblasteran jika dilihat dari ketampananya.


Tony memang tidak pernah senang dengan adiknya, Tomy itu.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!" bentak Tony pada arland dan tomy, ia menatap nyalang kearah arland dan tomy, sampai tony lupa jika ia datang kerumah sakit ingin mendatangi tuan mudanya yang sedang berada diruang VVIp sebelah.


Bentakan tony menghentikan aksi dua teman itu


"Kak Tony.?" ucap tomy terkejut ternyata kakaknya selama ini bekerja dikota ini, oh Tomy tidak tahu ith yang ia tahu kakaknya itu bekerja dikota tapi ia tidak tahu menahu mengenai kota mana dan ia juga tidak tahu jika kakaknya itu bekerja untuk keluarga Az zardan.


"apa yang kaian lakukan?" ulang tony dengan sorotan tajam pada sang adik. meski tony selalu berprilaku sopan dan penurut pada majikannya tapi tidak dengan adiknya yang satu ini ia selalu membenci tomy dan itu selalu.


Apalagi melihat tomy dan temannya hanya bisa bikin ulah di rumah sakit membuat Tony naik pitam akn adiknya itu.


"tidak ada kak, kita tersesat jadi kita berantam" bohong Tomy pada sang kakak lalu menarik Arland keluar dari area VVIp itu.

__ADS_1


Bukan maksud apa tomy tidak jujur pada tony, tapi selama ini tony selalu iri dengan apa yang dimiliki tomy dan yang ditakuti tomy jika kakaknya akan melakukan yang tidak-tidak pada viena jika ia jujur untuk membuat reprutasi tomy semakin hancur.


Namun dokter nanda yang ada urusan dengan pasiennya, viena. memasuki area Ruang VVIP dan dimana tony saling bersitatap dengan dokter nanda saat medengar sekilas nama yang dicari tuan mudanya keluar dari mulut dokter nanda.


__ADS_2