
...*********...
Keesokkan harinya, semua kembali keaktivitas masing-masing dan bepergi sesuai tujuan masing-masing pula.
Andrian sudah ke rumah sakit, berusaha membujuk Daddy Marjones, begitupun Tomy ia juga sudah di rumah sakit tapi bedahalnya dengan papanya, Tomy datang untuk melihat kondisi ibu Marlind.
Merelvin yang belum juga tahu beberapa hari ini adik dan papanya pergi ke mana, hanya melakukan lativitas biasanya yaitu Merelvin berangkat pagi sekali keperusahaan.
Mendapatkan kabar jika ia harus memeriksa banyak dokumen dan perlu ia sendiri yang memeriksanya tanpa harus ada campur tangan sekretarisnya, iapun bergegas.
yang mana dokumen penting itu juga harus segera ia tanda tangani.
Bibi sarah disibukkan untuk bersih-bersih kediaman Andrian sedangkan putrinya harus merawat bunga-bunga kesayangan putri Andrian, Viena Andriana Saffana.
Begitulah jika putri semata wayang itu tidak ada di rumah atau tidak ada waktu merawatnya sendiri maka Marenlah yang harus turun tangan merawatnya.
Biasanya Maren dengan senang hati merawat bunga-bunga itu dan menyiramnya.
Tapi berbeda untuk kali ini, pikiran Maren masih saja tak karuan selalu teringat kejadian di restoran.
Maren sungguh malu antar kesal sendiri, apalagi sekarang ia belum bertemu dengan Tomy semenjak kejadian kemaren.
Maren tidak tahu bagaimana bersikap, di.keluarga Andrian itu terutama Tuan muda Tomy.
Namun setiap kali rasa kesal Maren pada Tomy muncul akan ada rasa yang menyangkalnya entah perasaan apa, Maren sendiri bingung akan hal itu.
Di Villa Merelvin.
Agelia masih bersiap-siap untuk ke perusahaan Oskar nanti.
Namun di tengah kegiatan ritual mandinya, ponsel Agelia beberapa kali berdering.
tentu hal itu tidak diketahui oleh Agelia, karena ia menutup rapat kamar mandinya.
Agelia merendam dirinya dibath up kamar mandinya begitu lama.
Isi kepalanya masih diracuni akan pasangan hot yang ia saksikan kemaren.
Sehingga Agelia lupa jika jam terus berjalan melewati jam masuk kerjanya.
Dengan santainya Agelia membaluti busa ketubuhnya serta mengusapnya lembut.
Merasa sudah puas, Ageliapun mengakhiri ritual mandinya itu.
Dengan balutan handuk, Agelia melangkah keluar kamarnya betapa terkejutnya Agelia melihat jam digital yang ada di kamarnya itu.
iya,.sekarang sudah jam 8 pagi, sedangkan Agelia memsuki kamar mandi jam 6 tadi.
berarti Agelia sudah berendam selama 2 jam
"GILA... "pekik Agelia tidak bisa berkata apa-apa selain mengatakan kata GILA, mengapa ia bisa menghabiskan waktu sebegitu lama tapi terasa singkat.
Dengan sigap Agelia berlari ke arah lemari pakaiannya, meraih setalan yang cocok untuk keprusahaan hari ini.
__ADS_1
Agelia tidak lagi memoleskan bedak diwajahnya, ia hanya memoleskan sedikit lipstik dibibirnya agar tidak terlihat pucat.
"Mati sudah,."ucap Agelia merutuki dirinya sendiri seraya keluar dari Villa itu.
Akhir-akhir ini Agelia sering kali menghilang tiba-tiba dari kantor dan sekarang apa? Agelia malah terlambat.
Diperusahaan Oskar, Deffan sering mendapatkan kabar jika karyawannya satu ini kerap kali hilang dari pekerjaannya dan sekarang Deffan mendapatkan kabar lagi jika karyawannya itu terlambat. siapa lagi kalau bukan Agelia Andrin.
Sedangkan aagelia baru saja dipindahkan keadministrasi keuangan selama 2 bulan ini.
Deffan merasa jengah dengan Agelia yang bersikap tidak profesional belakangan ini, apalagi sekarang Deffa ada perlu dengan Agelia sebagai administrasi keuangan perusahan Oskar itu.
Bagaikan Balap Profesional, Ageliapun sampai di perusahaan Oskar dalam waktu 15 menit.
Dengan langkah terburu-buru Agelia berlari menuju lift karena ruangnya ada dilantai 2.
Tibanya dilift, aagelia mengatur nafasnya agar tidak gugup, iya sudah sangat yakin jika ia akan dipanggil keruang pimpinan, kemaren juga agelia tidak kembali lagi kekantor.
Dengan gaya alami Agelia keluar dari lif menuju ruangnya tanpa efresi gugup sedikitpun, padahal jangan ditanya hati Agelia begitu beerdebar selain lelah karena berlalri , Agelia juga merasa gugup akan kemarahan sang pimpinan yang akan berujung lembur.
Sebenarnya lembur tidaklah masalah bagi Agelia, yang masalah baginya yaitu dioceh Oleh Sang pimpinan Oskar atau potongan gaji, itulah yang membuat Agelia frustasi sendiri.
Belum sampai ruangannya Agelia sudah dipanggil
"Agelia Andrin, ke kantor saya sekarang" ucap Deffan tegas.
Tentu dia pimpinan yang baik tapi ia sangat tegas akan karyawannya. hal itu sendiri sudah Agelia ketahui karena sudah hampir dua tahun ia bekerja di sana.
"Haissh,... Siallll" umpat Agelia dalam hati entah pada dirinya sendiri atau pada sang pemimpin.
Agelia mengikuti Deffan dibelakang seperti anak ayam tapi Agelia masih memperlihatkan gaya tenangnya, seakan ia tidak membuat kesalahan apapun.
"Kenapa setelah jam makan siang, tidak bekerja?" tanya Deffan tegas
"Hah?"
"Ee ehe, saya sakit perut pak" bohong Agelia, tidak mungkin Agelia mengatakan alasan ia tidak datang bekerja setelah jam makan siang dengan alasan menyaksikan adegan romansek sahabatnya Pada Deffan.
"sakit perut?" ulang Deffan.
" iya pak, maafkan saya tidak meminta izin terlebih dahulu" ucap Agelia
"Baiklah, akan saya lupakan, tapi kenapa hari ini terlambat?" tanya Deffan menyelusuri Agelia yang tampak berbeda dengan hari hari sebelumnya.
"aah saya kesiangan pak,. iya saya kesiangan" kilah Agelia agar tidak membahas apa yang menjadi alasan ia terlambat karena tak jauh beda alasannya pikiranya masih diracuni.
"Kamu tahu jika terlambat akan mendapatkan apa?" tanya Deffan.
"Astagaa, kenapa pak Deff, bertele tele sekali" oceh agelia dalam hatinya.
"Emm?"
"heheehe lembur saja pak" pinta Agelia dengan wajah cengengesnya, kali ini Agelia harus menjatuhkan martabatnya didepan pimpinannya sendiri, bersikap cengengesan tapi itu Agelia tidak mau dihukum dengan hukuman lain selain lembur.
__ADS_1
Sementara diperusahaan Andrian, Merelvin jadi kesal ulah Agelia yang tak kunjung mengangat panggilannya, sedangkan dirinya diperusahaan ditumpukkan oleh dokumen pentig yang tidak bisa ia abaikan.
"Agelia,n kenapa kau tidak angkat panggilanku?" gumam Merelvin dengan perasan gundah,.ia menghubungi kekasihnya semenjak sebelum jadwal kerja sang kekasih sehinggan ia menjadi khawatir.
Jika itu dokumen tidak penting, sudah dipastikan Merelvin akan tinggalkan saja pekerjaannya itu, sayangnya dokumen penting itu diperlukan hari ini semua.
Di rumah sakit, Vola selalu berada disamping Marlind. sedangkan tangan Vola seakan tidak mau lepas dari tangan ibunya itu.
ia gengnggam erat tangan ibunya itu, air matanya berderai mengalir dipipi mulusnya.
Rasanya Vola tidak rela berjauhan dengan ibu tercinta, tapi Vola sepertinya tidak bisa membantah apa yang dikatakan Daddy Marjones. itupun demi kesembuhan Marlind.
Tony dan tomy, ikut menjaga Marlind disana, keduanya hanya diam satu sama lain.
Meski beberapa hari ini keduanya sama-sama peduli dengan perawatan Marlind tapi keduanya masih tidak bicara semenjak perkelahian itu.
Mereka bertiga setia mejaga Marlind, seperti yang dikatakan Daddy Mararjones sisa waktu mereka masih 5 hari untuk bersama dengan ibu mereka.
Sedangkan diluar ruangan Marlind, Andrian berbicara dengan Daddy Marjones.
jika ia sendiri yang akan membawa Marlind berobat keluar Negri.
"Andrian, aku tegaskan lagi padamu, Jangan pernah datang dan mencari Marlind lagi" Sarkas Daddy Marjones dengan intonasi dinginnya.
"saya mohon Daddy. " pinta Andrian penuh permohonan
"aku akan menjaganya" lanjut Andrian tapi Daddy Marjones tidak mau lagi mendengar alasan apapun dari Andrian.
Ia tetap kukuh dengan pilihannya, yaitu membawa Andrian bersamanya.
ia meninggalkan Andrian begitu saja.
*******
Lima hari bersama ibu terncintapun, sudah berlalu, sekarang sudah waktunya Vola merelakan ibunya dibawa oleh Daddy Marjones.
"sukseslah, maka temui ibumu jika sudah menghujutkannya" ucap Daddy Marjones dengan menepuk pundak Vola lembut.
"Grenfa" lirih Vola
"Grenfa tidak bisa lama" potong Daddy Marjones. dan ia membawa Marlind begitu saja menggunakan kursi roda.
"Kenapa Granfa sangat baik pada ibu, tapi sangat kejam pada ku" ujar vola saat melihat punggung Daddy Marjones mulai hilang bersama ibu marlind.
"Vola, ada kakak. kau harus buktikan pada Granfa" ucap Tomy menyemangatu Vola lalu memeluk vola dan memberi kekuatan.
"Apa kak Tony dan kak Tomy akan diam seperti ini terus?" tanya vola seraya meleraikan pelukannya dengan Tomy dengan kasar.
Tomy dan Tony hanya melemparkan pandangan, tidak tahu harus berkata apa-apa
"puas kalian, buat ibu pergi dan sekarang kenapa kalian tidak tinggalkan Vola juga" sarkasVola pada dua kakaknya itu
"Tidak akan" jawab Tomy dan Tony serentak.
__ADS_1