
Pagi yang cerah Merelvin sudah mendapatkan informasi yang dicarinya atas perintah Ardian, sang papa.
Mata merelvin membulat sempurna, bagaimana bisa nama yang tertera di kertas informasi tentang Verzan Ardianada Saffana, yang hilang selama hapir 25 tahun, dan orang itu besok genap 25 tahun, yang tidak lain tidak bukan kembaran Viena Ardiana Saffana, yaitu Tomy Amarsyan di kehidupan sekarang.
Tanpa mereka ketahui Viena dan Verzan bertemu satu sama lain dan saling menjaga selama pertemuan mereka, bahkan keduanya belum tahu jika mereka berdua terikat darah.
"Dia adikku" batin merelvin segera keluar dari kamarnya dan mendatangi kamar papa artian, ia harus segera melaporkan perihal ini pada sang papa.
"pa, pa..Merel masuk ya" tanpa menunggu jawaban dari papa Ardian, Merel sudah masuk terlebih dahulu.
"ada apa?" tanya Ardian masih mengantuk.
Ditanya Merelvin tidak menjawab pertanyaan dari sang papa, ia malah memeluk Ardian erat sembari memegangi dokumen informasi yang ia lihat barusan.
"kenapa kau tiba-tiba manja padaku?" tanya Ardian heran dengan sikap Merelvin tidak pernah memeluknya seperti ini.
Merelvin masih setia memeluk sang papa sehingga Andrian berpikir anak pertamanya itu lagi ingin di dukungan darinya, bahkan air mata Merelvin membasahi pundaknya, ia elus punggung anak pertamanya itu dengan kasih sayang.
Sudah lama rasanya Merelvin tidak memeluknya seperti, semenjak anak pertamanya itu semakin dewasa.
Setelah berpelukan merelvin merasa malu sendiri saat melihat wajah papanya seperti hendak ingin mengejeknya.
"papa, lihatlah" pinta merelvin seraya menyerahkan dokumen itu pada sang papa.
Andrian yang hendak mengejek putranya itu tak jadi dan memperhatikan dokumen yang Merelvin berikan ladanya.
Tangan ardianpun meraih dokumen itu dan berpikir sejenak seakan enggan membukanya.
"papa lihatlah" ucap Merelvin pada sang papa yang belum kunjung melihat isi dokumen yang diberikannya.
Akhirnya Ardianpun membukanya, efresi Ardian tidak terkejut seperti yang direaksikan merelvin karena ia sudah menduganya, saat awal pertama kali berjumpa dengan Tomy Amarsyan yang tak lain Vezan Andrianada Saffran.
"Bawa dia bersama kita" titah sang papa pada merelvin sang putra sulung.
"apa dia akan menerima kita, pa?" tanya merelvin berhati hati, jujur saja ia merasa tidak sepenuhnya percaya diri.
jika saja ia percaya diri tanpa diminta papapnya itu Merelvin sudah membawa Vezan Ardianada Saffran kembali menjadi keluarga untuh.
Merelvin akan menyayangi Vezan layaknya ia menyayangi viena yang mendapatkan kasih sayangnya sedari kecil.
Ia juga tidak keberatan memberikan perusahaan pada Adiknya nanti, ia akan menembus kesalahannya sehingga adiknya satu itu tidak bersama dengannya.
"kita bicarakan pelan-pelan, Merel. sepertinya dia juga menyayangi Fana" jelas Ardian pada Metelvin, putranya itu.
"Baiklah pa, besok ulang tahun mereka berdua. bukankah waktu yang sangattepat, aku sudah menyuruh orang hari ini ke sana untuk melancarkan acara besok" ujar Merelvin senang.
"Papa akan mengikuti apa yang menurutmu bagus untuk acara ulang tahun" Jelas Ardian mempercayakan pada putra pertamanya itu.
__ADS_1
Di Desa Scarla, tampat tinggal Viena sekarang.
Suruhan Merelvin sudah berada di sana sesuai perintah, membuat konsep perayaan ulang tahun sesuai perintah bos
Sementara Viena hanya memperhatikan suruhan kak Merelvin yang sedang mengerjakan tugas mereka dengan telaten.
"Fana? kau ingin mengadakan acara apa?" tanya tomy yang baru datang pada Viena.
"acara ulang tahunku" ucap viena yang tidak tahu jika Tomy juga ulang tahun.
Tomy memang tidak pernah menceritakan ulang tahunnya pada Viena bahkan tentang mereka berdua kembar saja Tomy masih merahasikan dari Viena.
Tomy merasa setatus dirinya tidak perlu diungkap sekarang, berada dekat saudari kembarnya seperti sekarang sudah membuat Tomy bahagia.
"bisa kau membantu ku, Tomy?" tanya Viena kemudian.
"apa yang harus aku lakukan?" tanya Tomy antusias, bagaimanapun ia bahagia jika Viena bahagia.
"katakan pada warga desa Scarla untuk datang keacara ini besok, bisa?" ucap Viena memelas takut Tomy keberatan.
"kau imut sekalai" ucap tomy mecubit pipi Viena gemes
"aww, sakit" pekik Viena lalu memberi cubitan diperut Tomy, setelahnya keduanyapun terkekeh bersama.
Sepasang mata melihat kebahagiaan Viena dan Tomy dari kejauhan, rasa cemburu dan marah melanda pemilik sepasang mata itu, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Iyaa pemilik sepasang mata itu Garel Gebriel Az-Zardan.
Dikejauhan sana Garel hanya merasakan yang namanya cemburu seperti yang dirasakan Viena dulu bahkan melebih itu jika dibandingkan kedekatan Garel dan Anasyaa kedekatan Viena dan Tomy jauh lebih layak seperti saudara dan teman tidak sekejam Garel dan Anasya.
Reaksi Garel disana diketahui oleh Tomy, tapi Tomy sengaja tidak memberi tahukam Viena agar tidak ada air mata bagi Viena sampai hari kebahagiannya besok bahkan Tomy berharap selamanya Viena akan bahagia.
jika itu perlu dengan cara Garel menghilang selamanya.
Ia tidak masalah menjaga Viena dan keponakannya nanti jika itu bisa membahagian saudari kembarnya itu.
Ditengah-tengah tawa kecil Viena dan Tomy, Merelvin datang menghampiri mereka berdua.
"Tomy Amarsyan?" sapaerelvin pada sang adik, ingin ia meraih tubuh adiknya yang tinggi hampir seukuran dengannya itu kedalam pelakuannya, ia menahan diri agar sedikit lebih nersaabr sampai besok setidaknya.
"iya?" sahut Tomy singkat, rasanya kikuk bagi Tomy berpura-pura tidak tahu jika yang menyapanya kakak kandungnya sendiri
Berbeda saat ia berpura-pura tidak tahu didepan Viena terasa netral saja.
"kakak mencari informasi Tomy?" tanya Viena karena seingat Viena ia tidak pernah menyebut nama lengkap Tomy didepan keluarganya.
"Bisa kita bicara?" tanya Merelvin melirik ke Tomy tanpa menggubris pertanyaan Viena yang sudah pasti jawabannya iya, ia hanya mengelus kepala adiknya sebentar.
__ADS_1
"Bisa,"sahut Tomy, Tomy bisa menyimpulkan jika Merelvin sudaj mengetahui siapa dirinya jika benar Merelvin telah mencari informaai pribadinya.
Merelvin berjalan meninggalkan Viena dan Tomy mengerti jika merelvin tidak ingin viena mendengarkan pembicaraan mereka berdua jadi tomy mengikuti Merelvin dari belakang.
Dikejauhan sana masih sama memperhatikan Viena dan juga meligat Tomy mengikuti Merelvin.
Garel semakin sedikit harapan melihat tomy bisa dekat dengan Merelvin, pikirnya Merelvin akan meminta Tomy untuk mengganti posisinya, sebagai ayah dari anak yanh dikandung Viena.
Merelvin mengajak tomy berbicara empat mata dibalik mobil yang posisinya tidak terlihat dari arah viena.
"Boleh aku memelukmu Vezan Andrianada Saffran?" Tanya Merelvin penuh harap, ia memang sungguh ingin memeluk tomy, adik yang ia anggap sudah tiada lagi, ternyata tumbuh menjadi pria dewasa.
"Ternyata itu namaku" batin Tomy yang tak menggubris pertannyaan Merelvin.
"Boleh?"tanya merelvin lagi.
"Apa kau sangat merindukanku?" ucap Tomy pada Merelvin dengan nada yang sengaja dibuat sok-sokan.
Ia tidak perlu berpura-pura tidak mengerti lagi dihadapkan Merelvin yang sudah jelas tahu mengenai siapa dirinya sebenarnya.
"kau sangat tidak sopan ternyata" sahut Merelvin melangkah maju kerah Tomy dan menarik tomy kedalam pelukannya.
Merelvin memeluk erat tubuh tomy, tomypun membalas pelukan Merelvin seakan melepaskan rindu setelah lama berpisah, untuk alasan kenapa ia bisa berpisah dengan keluarganya tidak perlu ia tanyakan sekarang.
"Aku sangat merindukanmu Vezan, Mulai sekarang menajdilah Vezan untuk selamanya," ucap Merelvin tulus dari hati terdalam lalu meleraikan pelukan dengan tomy.
"Apa kau sudah lama mengetahuinya?" tanya merelvin
"belum lama, aku tahu saat kalian datang kerumah sakit, hari itu aku menyadarinya" jelas tomy santai.
"kau dengan Papa memang sehati, Papa mengenalimu maka papa meminta kakak menjemputmu bersama Fana pulang kerumah di Kota" ujar merelvin tersenyum seraya menatap Tomy penuh harap agar Tomy mau ikut dengan mereka ke kota setelah acara besok.
"Tapi? "
"tidak ada tapi-tapi, saat Fana ingin kembali kekota maka kau juga harus kekota dan lebih baik kau juga ikut besok setelah perayaan ulang tahun kalian berdua, kerumah kita" potong merelvin panjang X lebar.
"tidak aku tidak akan meninggalkan Fana sendirian disini" jelas Tomy dan Tomy juga tidak menolak untuk ikut kerumah yang disana ada keluaraga kandungnya sendiri.
"Jangan beritahu Fana dulu jika kalian beruda kembar" ucap merelvin lalu melanjutkan ucapannya pada tomy dengan berbisik, kebetulan wajah Tomy dan Viena tidak lah identik.
"aa konyol" batin Tomy melihat tingkah kakaknya itu berbisik disaat tidak ada orang lain didekat mereka berdua.
"sekarang temani Fana seperti biasanya dan panggil aku kak Merel, MERELVIN ANDRIANADA oke?" jelas merelvin lebih cerewet.
"hehehe, siap kak Merel" sahut Tomy geli sendiri.
"dan kau Vezan Andrianada Saffran" lanjut merelvin antusias pada adiknya itu.
__ADS_1