Tumbuh Cinta

Tumbuh Cinta
55 Maren Maharani Sesungguhnya


__ADS_3

"apa kau gila?,mana mungkin aku mencintai kakak ku sendiri" kesal Vola dituduh mencintai Tomy, yang selama ini menjadi kakak baginya.


"heiiii sadar, Vola. dia hanya kakak yang diasuh ibumu. jika kau mencintainya itu wajar saja" protes Maren gemas pada temannya itu, menurutnya temannya itu sudah posesef akut pada anak asuh ibunya sendiri.


"aaakh, mana aku tahu" cetus Vola masih kesal dan ditambah kesal dengan pernyataan temannya itu.


"lupakan tuh kakakmu itu, sekarang masuk" ajak Maren yang bentar lagi sudah ada kelas dengan dosen saraf.


Yaa Vola dan Maren berteman semenjak mendaftar kuliah dikejurusan yang sama yaitu jurusan kedokteran bagian saraf.


Vola tidak lagi menggubris ucapan Maren akan tetapi langkahnya tetap menuju ruang di mana akan menjadi kelas pertemuan dengan dosen saraf.


Di dalam kelas itu, dijadwalkan jika mereka praktek, Vola tentu girang jika bertemu dengan dosen yang selalu menerapkan praktek dari pada penyampaian teori dan teori tanpa ada penerapan sama sekali.


untung saja tadi ia diancam Tomy kekampus, kalau tidak ia akan menyesal melewatkan kelas praktek hari ini.


"lupakan kekesalanmu, hari ini kita akan praktek" ujar Maren pada Vola, karena hanya Maren teman Vola selama kuliah jadi Vola banyak becerita pada Maren salah satunya keluh kesah dalam pribadi vola sendiri.


"tentu" sahut Vola girang,....


Keduanya melangkah dengan kaki semangat memasuki kelas praktek.


Di kelas praktek Vola baik Maren mengikuti presedur yang telah ditentukan dosen dalam mengikuti kelas tersebut.


Tidak ada prosedur yang dilewati Vola dan Maren, keduanya sangat cekataan sehingga bisa diakui dosen saraf. jika Vola dan Maren merupakan mahasiswi yang berprestasi di kelas yang ia ajarkan itu.


Vola dan Maren sering kali menjadi panutan teman-teman sekelas, meski nilai mereka berdua saling beriringan tapi keduanya tidak pernah bersaing malah sebaliknya mereka berdua saling melengkapi apa yang belum mereka ketahui atau yang tidak mereka bisa hingga belajar bersama bahkan tidak hanya itu saja.


Vola dan Maren sering kali didatangi teman-teman lain untuk menanyai sesuatu yang diketaui Vola dan Maren tapi yang tidak diketahui orang lain.


kelas praktekpun berakhir, dimana wajah Vola dan Maren sama-sama masam.


bukan karena mereka tidak bisa melakukannya tapi terlalu mudah bagi keduanya sehingga tidak menantang bagi kedua teman itu.


"aku sangat kesal" ujar Maren saat Maren dan Vola meninggalakn ruang praktek


"sama halnya denganku" sahut Vola, Vola tahu jika temannya itu kesal seperti apa yang ia rasakan.


"bagimana kita pergi?" ajak maren menatap vola agar segera mengiyakan ajakanya.


"pergi kemana?" tanya vola ingin tahu ke mana temannya itu mengajaknya pergi.

__ADS_1


"keliling kota, menggunakan motormu" ujar Maren yang memang ia tidak banyak keluar selain membantu ibunya dikediaman Andrian.


itu membuat Maren merasa terlalu sempit dalam kehidupannya, meski keluarga Andrian tidak pernah bersikap kasar pada bawahannya, Maren selalu ditekankan oleh ucapan ibunya yang memintanya harus bersikap hormat pada keluarga Andrian.


Sebenarnya Maren bukanlah gadis yang mudah di atur-atur oleh orang asing sekaligus itu majikan ibunya tapi ia sangat patuh pada ibu dan takut ibunya akan dipecat.


Seperti yang ia alamai dipagi hari, ia malah bertabrakan dengan tuan muda keluarga Andrian yang baru muncul sekian lama tahunnya.


Maren memang menunduk hormat dan meminta maaf, itu ia lakukan demi ibunya.


Jika ibunya dipecat bukankah sama artinya ia akan dipecat apalagi kuliahnya juga ditanggung oleh keluarga Andrian, rasa terima kasih itu ada.


Itu lah Maren takuti jika mengkaitkan semuanya dengan ibu tercinta.


Jadi Maren tidak mau mengecewakan ibunya dengan sikap Maren yang sesungguhnya.


Tidak suka dengan peraturan yang begitu sempit seperti menghormati orang terlalu berlebihan.


Dan Maren juga merasa heran dengan tuan mudanya yang bersikap aneh menurutnya tadi.


Tapi sudahlah, menurut Maren sekarang ia ingin berseru dengan pemandangan luar.


"Baiklah, kita sangat jarang bersama" tutur Vola mengindahkan keinginan temannya itu.


"kau memang yang terbaik" puji Maren


Vola dan Marenpun mengelilingi kota dengan menggunakan jagoan milik Vola, mereka berdua melupakan masalah pagi mereka berdua dan melupakan betapa kurang puasnya mereka dengan praktek yang tidak menantang itu.


Mereka berdua bersenang-senang menikmati perjalanan mereka berdua sehingga Vola dan Maren sama-sama merasa kehausan.


Vola sedari tadi memanggil Maren, tapi hal itu tidak disadari Maren. meski kehausan Maren sangat menikmati perjalan itu.


"Maren Maharana!!!!" pekik Vola sedari tadi memanggil-manggil Maren tapi tidak menerima tanggapan apa-apa.


"bisakah kau tidak mengganggu ku" kesal Maren


"apa kau tidak haus, Maren Maharana?" tanya Vola seraya tetap fokus dengan perjalanan karena ia yang mengemudi motornya itu.


"hehhehe, aku sangat haus" sahut Maren cengengesan.


"kau mau berhenti di mana?" tanya Vola berusha sabar menyikapi temannya yang berubah cengengesan itu.

__ADS_1


"terserah, asal pas untuk bajat kita" ucap Maren jujur dan ia tidak perlu membunyikan sttusnya di hadapan Vola.


Vola sudah tahu itu semua karena sikap keterbukaan Vola padanya membuat iapun begitu.


"okeh" ucap Vola lalu menepikan motornya di warung pinggiran jalan yang tertuliskan Es Degan.


Bersamaan Vola dan Maren turun dari motor lalu berjalan ke warung Es Degan itu.


"es degan, 2pak... minum disini" pesan Maren pada bapak-bapak penjual es degan itu.


"baik non, silahkan ditunggu" sahut pak es degan itu sopan.


Maren dan Volapun menunggu dengan tenang sampai giliran es degan mereka datang kehadapan mereka berdua.


Sementara di kediaman Garel, Viena duduk di soffa dengan senyum indah karena menatap wajah Garel yang sangat ia rindukan itu secara bebas.


Begitupun Garel menatap Viena dengan rasa penuh bahagia.


Garel menatap Viena yang selalu terlihat stayles meski sekarang sedang mengndung.


Jangan ditanya soal Viena memakai pakaian apa, iaa sudah menggantikan kemeja biru muda milik Garel dengan pakaian yang dibawakan Tony, asistennya Garel.


Dengan itu garel semakin mendambakkan sosok Viena yang begitu sempurna, bahkan berpakain saja viena selalu terlihat sempurna meski dengan pakaian sederhana karena viena memang sangat terkenal sebagai primadona fasionable dikampusnya dulu.


siapa yang tidak kenal dengan viena yang selalu memiliki ciri khas yang memukau saat mengenakan pakaian kelas bawah sampai kelas atas, ditambah lagi viena sangat berprestasi di kejurusannya selama kuliah dikejurusan Sastra Bahasa dengan berbagai bahasa luar negri.


Soal pekerjaan viena yang bisa menjadi sekretaris di perusahaan Oskar itu semua berkat kepintaran dan kecekatan viena yang selalu hidup mandiri.


bagitulah yang sekarang Garel dambakkan dari viena, garel mungkin bisa gila jika lebih lama lagi menunggu viena kembali padanya yang sudah ia sia-siakan itu.


tapi kini garel harus berusaha menahan viena agar tidak lagi pergi meninggalkan dirinya bersama penyesalan seperti sebelumnya.


sedangkan ditempat ibu Marlind, Tomy masih menunggu vola pulang dari kampus, yang dikatakan ibu marlind pada tomy.


Jika vola hari ini tidak full masuk kuliahnya.


Vola yang tidak kunjung pulang, membuat Tomy tidak tenang namun di depan Ibu Marlind, Tomy sebisa mungkin berusaha tenang dan tidak memikirkan aneh-aneh tentang vola.


ia tetap menunggu vola di rumah ibuarlind itu sekaligus memang ia sudah lama tidak bertemu ibu Marlind, ibu yang telah menjaganya selama ini.


"Dimana kau, Vila" ucap Tomy dalam batinnya, ia takut jika Casya benar-benar berulah pada Vola.

__ADS_1


__ADS_2